Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga sebuah keangkuhan.
Aruna tahu, banyak pria yang lebih baik, lebih stabil, dan tidak se emosional Faisal. Diluar sana mungkin banyak pria yang tidak akan meragukannya karena sentuhan kecil di pipi, Aruna bisa saja mengakhiri ini dan melangkah maju. Tapi..... Ia ingat mengapa ia mencintai Faisal. Ia mencintai bagaimana Faisal yang selalu sinis itu melembut saat menatapnya. Ia mencintai bagaimana Faisal , si trouble maker, diam diam membaca buku yang ia rekomendasikan. Ia mencintai bagaimana Faisal selalu berdiri tegak melindungi saat ada seseorang yang berusaha mengganggunya.
Faisal tidak jahat, dia hanya sedang terluka. Dan sayangnya, lukanya merubahnya menjadi sumber kesalahpahaman yang besar.
Aruna memutuskan untuk tidak kembali pada Faisal, atau setidaknya belum. Menurut Aruna, Faisal harus belajar bahwa kepercayaan adalah pondasi dari sebuah hubungan.
Aruna mengambil surat yang tadi diremasnya, lalu membuangnya ketempat sampah. Dia berjalan menuju ruang OSIS, menarik nafasnya dalam dalam.
" Baiklah, Faisal. " bisik Aruna pada dirinya sendiri. " Aku akan membiarkanmu melihat apa yang hilang darimu, aku akan membiarkanmu menghadapi kemarahanmu sendiri, sementara aku fokus pada diriku sendiri. jika kamu benar benar mencintaiku, kamu akan menyadari kesalahanmu, dan meminta maaf. Tapi jika tidak,...... Aku akan tetap baik baik saja tanpamu."
Aruna membuka pintu ruang OSIS. Sudah waktunya, Aruna kembali fokus dan berhenti membiarkan drama seorang trouble maker menguasai hidupnya. Namun, dibalik tekadnya. Ada hati yang masih berharap Faisal akan datang, tidak dengan amarah tapi dengan rasa penyesalan yang tulus.
--------------
Sudah dua hari Faisal bolos. Bukan bolos ke suatu kafe atau kembali ke markas bersama teman teman lamanya, melainkan mengurung diri di kamar. kamarnya kini dipenuhi abu rokok dan kaleng minuman energi. Namun, keheningan dirumahnya terasa lebih memekakkan telinga dari musik rock manapun.
Pada hari ketiga, Faisal memutuskan untuk kembali ke sekolah. Ia tak kembali karena kerinduannya terhadap pelajaran, tapi karena dorongan rindu yang tak tertahankan pada Aruna. Ia ingin melihat Aruna, walau hanya sekilas.
Faisal tiba terlambat, seperti kebiasaannya dahulu. Langsung bergegas menuju kelasnya lewat tembok belakang sekolah. Faisal menyadari ada yang berbeda dengan suasana sekolah, terasa sangat sunyi dan asing. Warna cerah yang biasa dibawa oleh kehadiran Aruna seolah menghilang.
Saat jam istirahat, Faisal bergegas menuju kantin. Ia duduk di sudut yang sama saat sedang berduaan dengan Aruna, memesan kopi yang sama, tetapi bangku disebelahnya kosong, tak berpenghuni. Faisal melihat sekeliling, Aruna duduk jauh di sebrang kantin. Di meja yang dikelilingi anak anak pintar yang membosankan. Aruna tertawa lepas, Aruna terlihat baik baik saja.
Melihat Aruna yang bisa tertawa lepas tanpa dirinya, tanpa beban kemarahannya, menjadi pukulan keras bagi Faisal. Selama beberapa hari terakhir, Faisal selalu berfikir Aruna akan hancur dan memohon saat Faisal menjauhinya. Tapi kenyataannya, Aruna tampak lebih bersinar. " ternyata dia baik baik saja tanpaku." pikir Faisal pahit. Ia berjalan meninggalkan kantin, menuju tempat persembunyian favoritnya dibelakang sekolah. Saat dia sedang bersandar pada tembok usang di belakang sekolah, ia melihat buku tulis yang hampir terinjak oleh sepatunya. Faisal mengambilnya, itu adalah buku catatan Aruna. Dihalaman sampul, ada coretan pulpen khas Aruna.
A + F - selalu percaya pada keajaiban, terutama pada orang yang suka melanggar aturan.
Dihalaman berikutnya, ada sticky note kecil bertuliskan. Persiapan ulangan.
Hubungi Arya untuk buku referensi langka ( selesai, Selasa sore. )
- Meminta bantuan Faisal untuk memahami pola pikir sang pemimpin ( terkendala, Faisal sedang marah. )
Membaca catatan itu, Faisal akhirnya menyadari. Ia menghadapi kebenaran yang kejam, ia bukan hanya salah paham, ia menghalangi impian Aruna untuk menjadi siswi favorit dengan nilai yang bagus.
Bukan hanya pikiran buruk Faisal tentang perselingkuhan yang ia ciptakan di otaknya, tetapi juga fakta bahwa Faisal seharusnya menjadi support system Aruna, dan kini ia malah jadi penghambat. Ego Faisal yang selama ini tebal dan dingin, seakan retak. Ia sadar ia bukan hanya menyakiti Aruna, tapi ia juga telah meremehkan integritas dan dedikasi kekasihnya sendiri.
Faisal termangu dalam pikirannya di belakang sekolah, hingga tak terasa bel pulang berbunyi. Ia menarik nafas dalam dalam, ia harus segera meminta maaf. Tidak peduli seberapa besar egonya, ia tahu ia harus menelannya demi Aruna.
Saat melewati koridor utama, ia mendengar suaranya dipanggil dengan suara yang sudah lama tak ia dengar, suara yang membawa trauma mendalam.
" Faisal! "
itu adalah suara pak Agung, wali kelasnya yang galak dan sangat membenci segala hal yang berbau kenakalan. Namun, suara itu kini terdengar serius, bukan marah. Pak Agung menghampirinya, wajahnya khawatir.
" Faisal, kamu dipanggil ke ruang BP." ia melihat tatapan mata pak Agung yang seakan sangat peduli padanya.
Saat Faisal tiba diruang BP, ia melihat ke arah wanita yang sedang duduk dengan punggung tegak. Wanita itu adalah Bu Yuli, guru BP.
" Ibu perlu bicara denganmu, Faisal." suaranya parau. " Ibu tahu, kamu sedang ada masalah, kamu bolos sekolah dan lari dijam pelajaran. Ibu mengerti, tapi ibu tak bisa membiarkan hal yang salah terus menerus kau ulangi, ibu harap kamu bisa berubah. Demi masa depanmu, Faisal."
Faisal hanya mengangguk.
Faisal keluar dari ruang BP dengan kepala pening. Tentang semua kesalahpahaman nya pada Aruna, tentang semua amarahnya pada Aruna yang tiba tiba runtuh digantikan dengan kesadaran yang sangat menyakitkan. Ia menuduh Aruna berselingkuh karena ia takut Aruna meninggalkannya, persis seperti masa lalunya.
Faisal berlari, ia tak peduli dengan tasnya. Ia hanya berlari menuju tempat parkir, berharap Aruna masih ada disekitar sana.
Diparkiran, motor Arya sudah siap. Aruna berdiri disampingnya, berbincang dengan Arya. Kali ini Faisal melihatnya dengan pikiran yang jernih. Arya menyerahkan sebuah buku rumus tebal. Mereka berjabat tangan, sopan. Arya bahkan membungkuk sedikit, menghormati. Tidak ada sentuhan yang tidak pantas, hanya interaksi profesional.
" Bodoh, aku benar benar bodoh!" makinya pada diri sendiri.
Faisal berteriak.
" ARUNA! "
Aruna menoleh, ekspresi nya datar, tanpa amarah, tetapi juga dingin tanpa kehangatan. ia hanya menatap Faisal, menunggu.
Faisal berjalan kearahnya, ia menatap mata Aruna. Mata yang dulu selalu penuh cinta.
" Aruna, aku ......" Faisal kehabisan kata kata. Dia ingin menjelaskan tentang lukanya, tentang kegilaannya yang sesaat. Tapi Aruna memotongnya , dengan suara yang tenang namun dingin, sebuah suara yang tak pernah Faisal dengar sebelumnya.
" Kamu mau bilang apa? Kamu mau ngaku salah? Aku udah tau. Dan aku udah pernah bilang, aku lelah! "
Aruna menaiki jok belakang motor Arya, suara deru motor melewati Faisal begitu saja.
" ARUNA, TUNGGU! AKU JANJI, AKU BAKAL PERBAIKI INI. AKU MAU PERCAYA SAMA KAMU, AKU BAKAL BUKTIIN KALO AKU BUKAN PENGECUT LAGI! "
Aruna menoleh sekilas dikejauhan. Ia mengangkat tangan, bukan untuk berpamitan, tapi untuk menunjukan sesuatu di pergelangan tangannya.
Aruna melepaskan gelang couple mereka.