Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Setelah seharian menghabiskan waktu di ruang kerjanya, Aurora meregangkan kedua tangannya ke atas. Pegal dan lelah menjadi makanan pertamanya, dia meraih ponsel di atas meja dan melihat jam yang tertera di layar.
Pukul enam sore, pantas saja dia merasa sangat lelah ternyata sudah lama dia duduk di kursi itu. Bahkan saat makan siang, dia meminta Margaret memesankan makanan untuknya karena dia tak bisa meninggalkan kursinya.
"Capek sekali," gumamnya lesu.
Aurora beranjak dari kursinya, meraih tas lalu memasukan ponselnya ke dalam tas tersebut. Dia menapakkan kakinya meninggalkan ruangan, saat keluar dari pintu dia berpapasan dengan asistennya, Margaret.
"Sudah mau pulang, Nyonya?" Tanya Margaret sopan.
Aurora mengangguk. "Kau juga pulanglah."
"Baik, Anda berhati-hatilah di jalan."
Senyum tipis terbit di bibir Aurora. "Terimakasih sudah mengingatkan."
Setelah berbasa-basi sebentar, Aurora bergegas menuju lift yang akan membawanya ke lobi kantor. Dia tak sabar untuk bertemu dengan kedua anaknya yang dia tinggal di rumah bersama suster panggilan.
Aurora belum mencari pengasuh yang sebenarnya, dia belum sempat dan mungkin besok atau lusa baru dia bisa memikirkan hal itu.
***
Di sisi lain, beberapa pengendara motor sedang melakukan aksi kejar-kejaran. Satu pemotor berada paling depan, sedangkan empat motor lainnya berada di belakangnya.
Sesekali pemuda yang mengenakan seragam sekolah menengah atas itu menoleh ke belakang, memastikan bahwa motor yang mengejarnya masih berjarak cukup jauh untuknya kabur.
"Sial! Mereka belum nyerah juga," gumam pemuda itu.
Saat tiba di persimpangan jalan raya, motor pemuda itu berbelok ke arah jalan yang sepi lalu berhenti di tengah-tengah jalan. Dia melepas helm full face dari kepalanya, di susul oleh keempat pengendara motor itu.
"Sudah puas kaburnya, Calix?" Tanya salah satu pria yang mengenakan tato laba-laba di lengan kirinya, Gino.
"Bacot! Mau kalian apa sih? Kita sudah tidak ada masalah lagi."
Gino terkekeh sinis. "Masih, apa kau lupa dengan kejadian minggu lalu. Kau membuat salah satu anggotaku di amputasi."
"Itu salahnya sendiri, sudah tahu aku bawa katana pake mendekat segala."
"Kau meremehkan Black Spider hah?!" Bentak Gino murka.
Calix turun dari atas motornya, dia menyibak poni yang menutupi dahi dengan gerakan lamban.
"Tidak, aku hanya membela diri."
"Bajingan!" Gino ikut turun dari atas motornya. "Kau benar-benar cari mati."
Detik berikutnya baku hantam tak bisa terelakan, Gino menyerang Calix bersama ketiga rekannya. Meski mereka menggunakan tangan kosong, namun skill pertarungan mereka bukan main-main.
Bugh!
Wajah Calix menoleh ke samping kiri setelah mendapat pukulan dari Gino di pipi kanannya, belum sempat Calix melakukan perlawanan pukulan lain kembali mendarat di perutnya.
Bugh!
Tinju rekan Gino melesak masuk tepat ke area pusar Calix, tubuh Calix mundur beberapa langkah dan terhuyung. Pemuda itu terbatuk dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Melihat itu, Gino tertawa mengejek. "Rasakan, makanya jangan belagu bocah."
Calix menarik sudut bibirnya sedikit, dia menegakan kembali tubuhnya. Netra biru bak kristal menatap dingin ke arah Gino yang masih saja menertawakan dan mengejeknya.
Dia menyeka darah dari bibirnya menggunakan punggung tangan kanan, lalu berjalan santai seolah pukulan barusan bukanlah hal besar.
"Cuma segini pukulan kalian? Sampah." Ejek Calix.
"Sampah?" Gino tersenyum sinis. "Siapa yang kau sebut sampah hah?!"
"Kalian lah, apa menurut kalian ada orang lain di sini selain kita berlima?"
Geraman rendah terdengar dari mulut Gino, dengan satu tarikan napas dia mengintruksikan rekannya untuk menghabisi Calix detik itu juga.
"Bunuh anak itu!" Ujarnya lantang.
Calix tersenyum tipis, dia mengepalkan kedua tangannya bersiap menerima serangan dari orang-orang Black Spider.
Serangan datang bertubi-tubi, Calix menunduk dan melayangkan pukulan ke arah perut lawannya.
Buagh!
Pria itu jatuh tersungkur di aspal, kemudian Calix kembali melakukan perlawanan namun tendangan dari orang yang muncul di belakangnya membuat Calix tak bisa menghindar.
Punggungnya di tendang hingga membuat Calix jatuh tersungkur di aspal, dia mengerang rendah saat punggungnya mendadak di injak oleh Gino.
"Sudah cukup main-mainnya, kau terlalu lama menguji kesabaranku!" Kata Gino.
"Pecundang! Kau baru saja mengeroyok satu orang remaja, dan kau bangga dengan hal itu? Menyedihkan." Calix mengejek, meski kondisinya terpojok pemuda itu sama sekali tidak berniat menyerah begitu saja.
Gino tersenyum smirk, dia membungkuk lalu menarik rambut Calix memaksa pemuda itu melihat ke atas. "Kau ingin aku merobek mulutmu, ya?"
"Coba saja kalau bisa," tantang Calix.
Detik berikutnya, tinju Gino mendarat tepat di mata Calix. Perih menjalar ke seluruh tubuhnya, namun Calix sama sekali tak tampak kesakitan. Pemuda itu hanya diam ketika tinju kedua miliki Gino kembali melayang di wajahnya.
Wajah Calix sudah berlumuran darah, saat Gino hendak menghabisi pemuda itu tiba-tiba sorot lampu mobil mengarah tepat ke arahnya. Gino mendongak, dia menaikan sebelah alisnya ketika melihat mobil BMW putih yang berhenti tak jauh dari mereka.
Sementara itu, di dalam mobil Aurora mengamati sekelompok pria yang sedang menghajar satu remaja laki-laki. Dari tampang mereka, jelas sekali bahwa mereka bukan berandalan biasa melainkan sebuah gengster.
Aurora bisa melihat tato besar bergambar laba-laba yang terpampang jelas di lengan kiri masing-masing pria itu, seingatnya dulu di kehidupan sebelumnya dia pernah bertemu dengan mereka semua.
"Black Spider," gumam Aurora.
Dia ingat pernah berurusan dengan mereka hanya karena Aurora melewati wilayah mereka tanpa permisi, alhasil Aurora di keroyok dan berakhir dengan anggota Black Spider yang babak belur olehnya.
Aurora turun dari mobilnya setelah mematikan mesin mobil tersebut, raut wajahnya tampak dingin bak potongan es.
"Siapa kau?" Tanya Gino begitu melihat Aurora.
"Hanya pengendara yang lewat," Aurora melirik ke arah pemuda yang masih di injak oleh Gino. "Lepaskan anak itu."
"Haha, kau menyuruhku?" Gino menarik rambut Calix kasar. "Kau mengenal anak ini?"
"Kenal atau tidak, itu bukan urusan kalian."
Jengkel karena nada suara Aurora yang dingin, Gino mendorong kepala Calix hingga membentur aspal. Dia beranjak lalu menepuk-nepuk kedua tangannya seperti seseorang yang baru saja memegang benda kotor.
"Wah, kau sangat berani Nona. Apa kau belum tahu siapa aku?" Tanya Gino sombong.
Aurora mengedikan bahunya acuh, "Tidak penting untukku tahu siapa kau."
"Kurang ajar!" Hardik Gino.
Dia berlari ke arah Aurora lalu melayangkan tinjunya dengan kecepatan tinggi, berharap pukulan itu bisa membungkam mulut Aurora. Namun, dugaannya salah karena wanita itu segera menghindar dan membalas tinju Gino dengan tendangan lutut di perutnya.
Buagh!
"Uhuk!" Gino terbatuk parah. Tubuhnya mundur beberapa langkah sembari memegangi perutnya yang baru saja di tendang. "Brengsek!"
Aurora menyeringai dingin. "Maju kalian semua, aku tidak punya banyak waktu meladeni orang-orang lemah seperti kalian."