Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Lembutnya Cakra
Perjalanan menuju pos penugasan baru itu terasa seperti pengasingan ke ujung dunia. Jalanan aspal perlahan berganti menjadi tanah merah yang berdebu saat kemarau dan menjadi kubangan lumpur saat hujan. Alisa duduk di dalam jip dinas dengan perasaan hancur, menatap deretan hutan lebat yang seolah menelan semua impiannya tentang karir kepenulisan di kota besar. Saat tiba di markas batalyon yang dikelilingi perbukitan terpencil, ketakutan terbesarnya menjadi kenyataan: sinyal ponsel hilang timbul dan tidak ada jaringan internet kabel sama sekali. Baginya, ini adalah lonceng kematian bagi ambisinya. Ia membayangkan draf novelnya akan membusuk di folder laptop tanpa pernah bisa dikirim ke penerbit. Untuk beberapa hari pertama, Alisa hanya mengurung diri di rumah dinas baru yang lebih sederhana, merasa bahwa kepindahan ini adalah cara halus takdir untuk membungkam suaranya kembali.
Namun, Cakra yang sekarang bukan lagi perwira kaku yang abai pada perasaan putrinya. Ia menyadari kegelisahan Alisa tanpa perlu putrinya itu berteriak. Cakra segera bergerak dengan cara yang sangat "militer"—ia menginisiasi proyek percepatan infrastruktur komunikasi di wilayah batalyon dengan dalih kepentingan koordinasi taktis. Cakra bahkan memanggil Damar, rekan seangkatannya di akademi yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri, untuk memimpin proyek tersebut. Damar adalah pria yang humoris dan ahli dalam bidang komunikasi elektronik, sosok yang selalu bisa mencairkan suasana kaku Cakra. Saat Damar tiba dengan tim teknisnya, Alisa mulai melihat perubahan nyata. Tower-tower kecil mulai berdiri di beberapa titik strategis dan kabel-kabel optik ditarik menembus rimbunnya hutan. Alisa menyadari ada niat terselubung di balik kegigihan Ayahnya; Cakra sedang membangun jalan agar mimpi Alisa tidak terputus oleh jarak geografis.
Perubahan paling mencolok adalah sikap Cakra sendiri. Di tempat terpencil ini, ia tampak lebih rileks dan sering melempar senyum, sesuatu yang dulu sangat langka. Cakra bahkan meminta anak buahnya untuk merapikan sebuah joglo tua yang terletak di sudut markas batalyon, menjadikannya area terbuka yang nyaman. Joglo itu kini dilengkapi dengan kursi-kursi kayu yang empuk dan, yang paling penting bagi Alisa, sebuah titik akses Wi-Fi dengan koneksi paling stabil di seluruh wilayah itu. Joglo tersebut menjadi "kantor" rahasia bagi Alisa. Setiap sore, ia akan duduk di sana dengan laptopnya, ditemani suara jangkrik dan angin gunung yang sejuk. Kejutan terbesarnya adalah ketika Cakra mulai sering menghabiskan waktu istirahat sorenya di joglo yang sama. Ayahnya tidak lagi hanya bicara tentang kedisiplinan, terkadang ia hanya duduk di hadapan Alisa sambil mengutak-atik radio panggilnya yang rusak atau sekadar menonton film aksi di ponselnya.
Momen-momen di joglo itu menjadi ruang kedekatan yang baru bagi mereka. Tidak ada lagi meja makan formal yang menegangkan, yang ada hanyalah kebersamaan yang tenang. Pernah suatu kali, saat Alisa sedang asyik mengetik bab klimaks novelnya, Cakra duduk di sampingnya sambil memperbaiki jam tangan lamanya yang mati. Cakra menoleh sebentar ke arah layar laptop Alisa, lalu tersenyum tipis. "Sudah sampai mana ceritanya? Ksatria itu akhirnya pulang ke rumah atau tetap di hutan?" tanya Cakra santai. Alisa sempat tertegun mendengar Ayahnya bertanya tentang alur cerita, sebuah kemajuan emosional yang luar biasa. "Dia pulang, Yah. Tapi dia harus belajar kalau rumah bukan cuma soal bangunan, tapi soal orang-orang di dalamnya," jawab Alisa sambil tersenyum balik. Cakra mengangguk setuju, matanya menunjukkan rasa bangga yang tidak lagi ditutup-tutupi.
Dukungan Cakra tidak berhenti di situ. Ia seringkali meminta Damar untuk mengecek koneksi internet di joglo setiap kali Alisa mengeluh sinyalnya agak lambat. Damar yang usil sering menggoda Cakra di depan Alisa. "Kamu ini ya, Cakra. Dulu waktu di akademi paling anti sama urusan manja-manjaan, sekarang malah jadi teknisi internet pribadi buat anak," goda Damar sambil tertawa lebar. Cakra hanya membalas dengan dengusan pelan namun tidak terlihat marah. Alisa melihat pemandangan itu dengan hati yang menghangat. Ia menyadari bahwa Ayahnya sedang melakukan upaya penebusan dosa masa lalu secara perlahan tapi pasti. Penugasan di daerah terpencil ini, yang awalnya dianggap Alisa sebagai bencana, justru menjadi berkah tersembunyi yang merekatkan retakan di antara mereka. Di bawah atap joglo batalyon itu, impian Alisa tidak lagi terasa jauh, dan sosok Ayahnya tidak lagi terasa seperti orang asing.
Kesendirian di daerah terpencil ini justru memberi Alisa fokus yang lebih dalam untuk menulis. Tanpa gangguan hiruk-pikuk kota, ia bisa menyelami karakter-karakternya dengan lebih tenang. Dukungan fasilitas yang diberikan Cakra membuatnya merasa berhutang budi untuk memberikan hasil terbaik. Ia mulai menulis lebih produktif, mengirimkan bab demi bab ke editornya melalui koneksi internet "khusus" yang dibangun Ayahnya. Alisa juga sering membagikan tulisannya kepada Damar untuk mendapatkan sudut pandang pria dewasa lainnya, dan reaksi Damar yang selalu antusias memberikan kepercayaan diri tambahan baginya. Cakra sendiri, meski jarang membaca fiksi secara mendalam, selalu memastikan stok kopi kesukaan Alisa tersedia di pojok joglo. Kebahagiaan Alisa kini tidak lagi bergantung pada fasilitas kota besar, tapi pada kehadiran Ayahnya yang kini lebih banyak tersenyum dan mau berbagi waktu santai dengannya.
Malam-malam di joglo menjadi ritual yang paling dinanti Alisa. Terkadang mereka tidak bicara sama sekali, hanya duduk berdampingan dengan kesibukan masing-masing, namun keheningan itu kini terasa penuh dengan pengertian. Alisa sadar bahwa Cakra mungkin tidak akan pernah menjadi ayah yang bisa merangkai kata-kata manis, tapi tindakan nyatanya membangun infrastruktur internet demi mimpinya adalah bentuk cinta yang jauh lebih berharga. Bagi Alisa, daerah terpencil ini bukan lagi tempat pengasingan, melainkan pelabuhan di mana ia dan Ayahnya akhirnya benar-benar bisa berlabuh di hati satu sama lain. Ia mulai mengerti bahwa seorang ksatria sejati bukan hanya mereka yang menang di medan perang, tapi mereka yang mampu merobohkan ego sendiri demi kebahagiaan orang yang dicintai.