Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Malam Pertama
Sehari sebelum pernikahan Adam dan Hawa berlangsung, Rani telah mengubah kamar pribadi Adam menjadi kamar pengantin yang nyaris sempurna. Seprai putih bersih terhampar rapi, aroma lavender dan mawar putih hidup memenuhi udara, memberi kesan sejuk sekaligus romantis. Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya lembut, menciptakan suasana intim yang menenangkan, seolah ruangan itu memang disiapkan untuk awal kehidupan baru.
Kamar itu menyatu dengan ruang pakaian, hanya dipisahkan oleh dinding kaca bening. Di balik kaca itu, Adam berdiri tergesa-gesa, membuka kancing kemejanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menyemprotkan parfum beraroma dewasa, maskulin, hangat, dan menggoda. Dadanya naik turun, bukan karena lelah, melainkan karena perasaan antusias yang sulit ia jelaskan. Ada debar asing yang membuatnya tak sabar, namun juga gugup.
Sementara itu, di ruang pakaian, Hawa berdiri di depan cermin. Ia telah mengganti pakaiannya dengan busana minim, namun anggun, pakaian seorang istri yang disiapkan khusus untuk sang suami. Rambutnya terurai rapi, wajahnya manis, lebih matang, dan tanpa disadari… begitu memikat pria. Ia menatap pantulan dirinya lama, seolah mencoba mengenali gadis kecil yang dulunya jelek kini menjadi wanita cantik nan anggun.
Perlahan, Hawa menyemprotkan parfum beraroma segar, lembut, feminin, namun menyisakan jejak keberanian yang baru tumbuh dalam dirinya. Ia menarik napas, lalu melangkah menuju pintu kaca dengan sikap anggun.
Namun langkahnya terhenti saat mendengar ponsel Adam bergetar keras di atas bufet mini.
“Drett!”
Hawa refleks menghentikan langkahnya, tangannya menggantung di udara sebelum menyentuh gagang pintu. Dari balik kaca, samar-samar terdengar suara Adam berbicara. Bahasa Inggris dengan seorang wanita berkebangsaan Australia.
*
“Hai, Adam. Bukankah kamu tidak ingin menikah? Kenapa kamu tetap menikah?” terdengar suara wanita yang lembut menggoda.
Hawa reflek membeku.
“Tania, sorry. Aku harus menikah. Ini tuntutan keluarga. Aku tidak bisa lagi menghindarinya,” jawab Adam dengan nada memelas dan lembut untuk sekadar basa-basi.
“Lalu… apakah kamu akan melupakanku?”
“Tentu tidak, baby. Aku akan mengatur waktu buat kamu.”
“Serius?”
“Ya.”
“Tapi kamu selalu menolak panggilanku Adam.”
“Sorry. Aku bersama istriku. Aku terpaksa.”
Hawa menggigit bibirnya. Kata istri itu terasa dingin, seperti status tanpa makna.
“Oke, baby. Jangan ngambek,” lanjut Adam, terkekeh kecil, genit.
“I love you, Adam. Aku tidak bisa melupakanmu. Aku bisa gila.”
“Jangan gila dulu dong, sayang. Rumah sakit sudah penuh,” balas Adam bercanda.
Tawa mereka pecah bersamaan.
“Beberapa hari lagi aku akan kembali ke Australia,” ucap Adam.
“Baik. Aku akan menunggumu di club biasa.”
Suara wanita itu terdengar manja.
“Okay, sayang. Bye.”
“Bye.”
*
Setiap kata menusuk telinga Hawa tanpa ampun. Ia mendengar semuanya. Jelas. Terang. Tanpa celah untuk menyangkal.
Hawa… mungkin dulu kamu hanyalah perempuan penurut, batinnya bergema. Perempuan yang rela menunduk di hadapan pria yang tak pernah benar-benar menghargai pengorbananmu. Tapi sekarang cukup.
Ia mengepalkan tangan perlahan.
Jiwa penurutmu harus menyesuaikan diri dengan sikap pria yang kamu nikahi. Demi kebaikan hatimu sendiri.
Hawa menarik napas panjang, membusungkan dadanya.
“Mungkin ini sudah menjadi takdirku, aku harus menerimanya!" gumamnya lirih menundukkan kepalanya “Demi keselamatan keluargaku.”
Dengan tekad yang baru saja mengeras di dadanya, Hawa membuka pintu kaca.
“Drek!”
Adam spontan mengangkat kepala.
Ia terdiam, membeku menatap Hawa.
Di hadapannya berdiri Hawa, bukan Hawa yang ia kenal selama ini. Wanita itu tampak bak bidadari yang turun dari langit, cantik, dewasa, dan memancarkan aura yang sulit dijelaskan. Kulitnya tampak halus, wajahnya bercahaya, dan sorot matanya menyimpan ketenangan yang membuat jantung Adam berdebar tak beraturan.
Jakunnya naik turun. Napasnya tercekat.
“Wow… Hawa,” gumamnya tanpa sadar, matanya menelusuri sosok istrinya dari atas ke bawah.
Hawa melangkah mendekat dengan gerakan gemulai. Adam masih terpaku, seolah kakinya menancap ke lantai.
Tanpa berkata apa pun, Hawa meraih ponsel Adam dari tangannya dengan lembut dan sopan, ia meletakkannya di atas bufet.
Adam tersentak, gugup. Mulai ada rasa aneh yang menggelitik dadanya, rasa yang selama ini ia abaikan.
Hawa mendekat ke telinganya
“Aku sudah siap, Mas,” bisiknya lembut, dengan nada yang menggoda namun penuh kendali. Adam menelan ludah.
“Ka… kamu cantik banget,” ucapnya spontan, kata-kata yang keluar bukan dari pikirannya, melainkan dari hatinya.
Dan untuk pertama kalinya, Adam merasakan sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.
“Masak sih kamu masih perawan?” Adam tersenyum tipis, ujung jarinya menyentuh pipi Hawa dengan gerakan yang membuat jantung wanita itu berdetak lebih cepat.
Hawa tidak menjauh. Justru kedua lengannya terangkat, melingkari leher Adam dengan manja, membuat jarak di antara mereka semakin menipis. Tatapannya naik perlahan, menembus mata Adam yang penuh rasa ingin tahu dan api yang tak lagi tersembunyi.
“Sengaja aku jaga untuk kamu, Mas,” bisiknya lembut, nyaris seperti rahasia. Bibirnya melengkung tipis, ada getir yang ia sembunyikan di balik senyum genit itu. “Tapi sayangnya… keperjakaanmu bukan untukku.”
Kalimat itu membuat Adam tertegun sejenak, lalu tawanya pecah rendah. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa seorang pria yang merasa hatinya benar-benar disentuh.
“Hahaha… ternyata kamu pintar juga bikin hatiku melayang,” ucapnya sambil mengusap rambut Hawa. “Walaupun aku sudah tidak perjaka lagi, yang penting ending-nya tetap sama kamu.”
“Oh iya?”
Hawa ikut tertawa kecil. Suaranya manis, tapi jika diperhatikan lebih dalam, ada sesuatu yang dipaksakan di sana, seperti tirai tipis yang menutupi perasaan rapuh. Ia menyandarkan keningnya ke dada Adam dengan manja sambil menyembunyikan sorot matanya yang sempat meredup sesaat.
Adam tak memberi waktu bagi Hawa untuk terlalu lama tenggelam dalam pikirannya. Tangannya bergerak mantap, menarik Hawa ke dalam pelukan yang lebih erat. Nafas mereka saling bersentuhan, hangat, penuh ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.
Tanpa banyak kata, Adam membimbing Hawa menuju ranjang yang telah dihias rapi. Mawar-mawar putih, lampu temaram, dan aroma lembut di kamar itu seolah sengaja diciptakan untuk menyaksikan malam pertama mereka. Hawa menutup mata ketika Adam mencondongkan tubuhnya, menyerahkan diri pada perasaan yang bercampur antara gugup, sedih, dan pasrah.
Malam itu mereka saling menjelajah, bukan hanya raga, tapi juga batas perasaan masing-masing. Ada tawa kecil, ada bisikan, ada detak jantung yang berpacu terlalu cepat untuk diabaikan. Hawa melayani dengan sepenuh hati, seakan ingin membuktikan bahwa ia benar-benar hadir di sana, sebagai istri, sebagai wanita yang memilih bertahan meski hatinya tak sepenuhnya utuh.
Ranjang pengantin itu menjadi saksi bisu.
Bukan hanya tentang kedekatan dua insan, tetapi juga tentang janji-janji yang terucap tanpa suara, tentang cinta yang masih mencari bentuk, dan tentang rahasia-rahasia yang suatu hari mungkin akan menuntut jawaban.
Waktu terus berjalan, lampu tetap temaram, dan di balik pintu kamar itu, tidak ada yang tahu apakah yang mereka rajut adalah awal kebahagiaan, atau justru permulaan dari luka yang lebih dalam.
Raisa sepertinya sebelum masuk ke kehidupan Harun dia lebih banyak mencari tahu keluarga Sultan ini makanya sengaja goda Adam namun gak berhasil,dan Harun lah yg dijadikan mangsanya
jadi selama ini Harun bener2 ditipu bahkan dikadalin habis2an, selingkuhan berkedok kakak kandung
gak usah pusing lah mikirin Adam ataupun Raisa.jalani hidupmu dengan baik.gak usah terprovokasi dengan ucapan2 yang berusaha menjatuhkan mental.rugi banget mikirin omongan orang.bikin capek hati capek pikiran.sementara yang menyebarkan berita enak2 ongkang2 kipas2 melihat Hawa panik dan stres.