"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Dewi
Jam delapan kurang lima menit.
Aku berdiri di balik tirai tebal jendela lantai dua, mengintip ke bawah seperti mata-mata yang ketakutan.
Halaman depan Vane Manor sudah diterangi lampu sorot taman yang dramatis. Air mancur dinyalakan penuh. Para pelayan berbaris rapi di depan pintu utama, dipimpin oleh Mr. Hastings yang tampak kaku.
Julian dan Eleanor berdiri di depan, mengenakan pakaian terbaik mereka. Bahkan Lucas dan Isabella ada di sana, tampak bosan namun patuh.
Dan Ciarán...
Dia berdiri sedikit di belakang ayahnya. Dia mengenakan tuksedo hitam dengan bow tie yang diikat sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Dia terlihat seperti pangeran dalam dongeng gelap. Tampan, dingin, dan tak terjangkau.
Sebuah iring-iringan mobil memasuki gerbang. Tiga buah sedan Mercedes-Maybach hitam mengkilap.
Mobil di tengah berhenti tepat di depan pintu utama. Sopir berseragam turun dan membuka pintu penumpang belakang dengan gerakan teatrikal.
Seorang pria tua dengan janggut putih rapi turun lebih dulu. Alessandro Russo. Dia memeluk Julian seperti saudara lama yang hilang.
Lalu, dari sisi lain mobil, dia turun.
Vittoria Russo.
Napasku tertahan di tenggorokan.
Dia... bercahaya.
Secara harfiah. Gaun malam yang dikenakannya berwarna champagne gold, terbuat dari ribuan payet kecil yang memantulkan cahaya lampu taman, membuatnya terlihat seperti diselimuti debu bintang. Potongannya elegan, memamerkan bahu mulus dan leher jenjangnya tanpa terlihat murahan.
Rambutnya bukan pirang pucat seperti Eleanor, tapi warna madu keemasan yang jatuh bergelombang sempurna di punggungnya. Kulitnya berwarna olive sehat, kulit seseorang yang menghabiskan musim panas di yacht pribadi di Mediterania, bukan kulit pucat kurang gizi sepertiku.
Dia berjalan mendekat. Langkahnya percaya diri. Dia tidak perlu menunduk melihat jalan. Dia tahu dunia akan meratakan jalan untuknya.
Julian mencium tangannya. Eleanor memeluknya pipi-ke-pipi.
Lalu dia berhadapan dengan Ciarán.
Ciarán membungkuk sedikit, sopan dan kaku.
Vittoria tidak menunduk malu-malu. Dia tersenyum. Senyum yang lebar, hangat, dan menawan. Dia meletakkan tangannya di lengan Ciarán dengan keakraban yang alami, lalu membisikkan sesuatu yang membuat sudut bibir Ciarán berkedut, hampir tersenyum.
Darahku mendidih.
Mereka terlihat serasi.
Terlalu serasi.
Seperti raja dan ratu dari dua kerajaan yang bersatu. Gelap dan terang. Hitam dan emas.
Di sampingnya, aku merasa kerdil. Aku merasa seperti ngengat abu-abu yang mencoba terbang mendekati matahari.
Aku mundur dari jendela, membiarkan tirai jatuh kembali menutupi pemandangan menyakitkan itu.
Aku menatap gaun midnight blue yang kupakai. Tadi siang, gaun ini membuatku merasa kuat. Sekarang, gaun ini terasa seperti kostum badut.
Aku hanyalah penipu yang memakai baju mahal. Vittoria adalah aslinya. Dia tidak perlu berusaha terlihat berkelas. Dia adalah kelas itu sendiri.
"Jangan takut," bisikku pada bayanganku di cermin, mencoba meyakinkan diriku sendiri. "Kau punya sesuatu yang dia tidak punya."
Tapi saat aku mencoba mengingat apa itu, otakku kosong.
Apa yang kupunya?
Kancing baju curian? Obsesi gila?
Vittoria punya segalanya. Dan malam ini, dia datang untuk mengambil satu-satunya hal yang ingin kumiliki.
***
Makan malam itu bukanlah makan malam. Itu adalah eksekusi publik terhadap harapanku.
Aku duduk di ujung meja yang paling jauh, tempat yang biasanya diduduki oleh anak-anak nakal atau kerabat miskin yang tidak diinginkan. Lily tidak ikut. Dia makan di dapur karena Julian tidak ingin "terlalu banyak orang asing" mengganggu tamu pentingnya.
Aku seharusnya bersyukur aku diizinkan duduk di sini. Tapi saat ini, aku berharap aku berada di dapur bersama Lily.
Di tengah meja, percakapan mengalir lancar seperti anggur vintage yang dituangkan pelayan.
"Pasar Asia Tenggara memang sedang fluktuatif," kata Vittoria, suaranya merdu namun berwibawa. Dia memotong fillet mignon-nya dengan anggun. "Tapi ayahku selalu bilang, kekacauan adalah tangga bagi mereka yang berani memanjat. Bukankah begitu, Ciarán?"
Ciarán, yang duduk di sampingnya, mengangguk setuju. "Kekacauan menyaring pemain lemah. Hanya yang beradaptasi yang bertahan."
"Persis," Vittoria tersenyum, matanya berbinar cerdas. "Kudengar kau baru saja melakukan manuver agresif di Singapura. Menutup jalur distribusi kompetitor dengan membeli gudang pelabuhan? Itu brilian. Kejam, tapi brilian."
"Kadang kekejaman diperlukan untuk efisiensi," jawab Ciarán.
Mereka tertawa kecil bersama.
Tawa itu membuatku mual.
Mereka berbicara dalam bahasa yang tidak kupahami. Bahasa uang. Bahasa strategi. Bahasa kekuasaan. Vittoria bukan hanya sekadar trofi cantik, dia tahu bisnisnya. Dia dibesarkan untuk menjadi ratu di samping raja. Dia bisa berdebat dengan Ciarán tentang ekonomi global, tentang lelang lukisan di Geneva, tentang kuda pacuan terbaik musim ini.
Mereka "nyambung".
Ada koneksi intelektual di antara mereka yang tidak pernah kumiliki dengan Ciarán. Saat aku bersama Ciarán, yang ada hanyalah keheningan yang tegang atau pertukaran kalimat singkat yang dingin.
Aku menatap piringku. Sayuran rebus ini tiba-tiba terasa hambar.
"Oh, ngomong-ngomong, Ciarán," lanjut Vittoria, menyentuh lengan Ciarán sekilas. Sentuhan ringan yang membuat mataku menyipit. "Aku melihat koleksi buku di perpustakaanmu tadi. Edisi pertama Dante's Inferno? Aku terkesan."
"Itu salah satu favoritku," jawab Ciarán. Nadanya... lebih hangat dari biasanya. Tidak sedingin es.
"Aku tahu. Lingkaran kesembilan neraka," Vittoria mengedipkan mata main-main. "Pengkhianatan. Cocok untuk dunia kita, kan?"
Ciarán tertawa.
Kali ini bukan seringai sinis. Dia benar-benar tertawa. Suara tawa rendah yang jarang sekali kudengar.
Julian dan Alessandro tersenyum puas melihat interaksi itu. Mereka melihat merger yang sukses. Mereka melihat cucu-cucu yang akan mewarisi dua kekaisaran.
Di ujung meja, aku meremas serbet di pangkuanku sampai kusut.
Aku tidak cemburu karena dia cantik. Aku cemburu karena dia relevan.
Vittoria adalah mitra yang sepadan. Dia membawa aset. Dia membawa koneksi. Dia membawa stabilitas.
Sedangkan aku?
Aku adalah liabilitas. Aku adalah beban. Aku adalah skandal yang menunggu terjadi.
Jika Ciarán menikahi Vittoria, dia akan mendapatkan segalanya. Kerajaan bisnisnya akan aman. Posisinya akan tak tergoyahkan.
Dan aku?
Aku akan menjadi apa?
Simpanan di loteng? Atau sampah yang akhirnya dibuang karena sudah ada barang baru yang lebih berkilau?
Rasa takut itu bukan lagi tentang kehilangan tempat tinggal. Ini tentang kehilangan eksistensi. Tanpa Ciarán, aku tidak ada. Aku hanyalah hantu di rumah ini. Dan malam ini, Vittoria Russo bersinar begitu terang hingga membuat hantu sepertiku menghilang sepenuhnya.
Aku menatap Ciarán lagi. Berharap dia menoleh. Berharap dia memberiku satu tatapan saja yang mengatakan, "Kau masih ada di sana."
Tapi dia tidak menoleh. Matanya terpaku pada wajah cantik Vittoria yang sedang bercerita tentang liburannya di Maldives.
Dia tidak melihatku.
Di meja makan yang penuh dengan makanan mewah dan percakapan tentang miliaran dolar ini, aku kelaparan. Kelaparan akan validasi yang tidak akan pernah kudapatkan dari pria yang sedang tertawa dengan calon istrinya itu.