Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Bertemu Sahabat
...Selamat membaca semuanya.....
..............
..............
Sejumlah barang Boris dan Rania sudah dipindahkan ke kamar lain. Untung saja masih ada kamar yang kosong. Boris meletakkan dua koper besar milik Rania di samping ranjang, sedangkan satu koper berukuran besar miliknya dia letakkan di samping sofa.
Awalnya, dia ingin kamar terpisah, dan berhubung ada kesempatan kamar kosong lebih dari satu. Tapi, setelah kejadian ada sniper yang berbahaya mengancam nyawa Rania. Mau tidak mau, dia harus terus berada di dekatnya.
Rania mengotak-ngatik laptopnya, dia dengan fokus tanpa menoleh sedikit pun ke arah Boris. Keseriusan dalam wajah Rania terlihat, terkadang eskpresi kesal dan sinis nampak terbentuk.
"Sedang apa, Nona?"
Tanpa menoleh, Rania menjawab. "Jangan bilang setelah kejadian mau ditembak kamu tidak melakukan apapun?" Boris menggeleng, hembusan napas panjang keluar. Rania menyuruh Boris mendekat dan pria itu patuh duduk di sampingnya.
"Aku rasa yang tadi bukan sniper sembarangan. Setelah aku cari-cari, dari detail jarak dan waktu, dia sangat teliti. Aku rasa dia sudah memantau kita dari awal kita datang ke sini," pendapat yang menurut Boris ada benarnya.
"Apa yang kamu lihat kemarin, Ris?"
Mereka saling bersih tatap, wajah keseriusan Rania membuat Boris terkekeh. "Nona istirahat saja. Aku sudah selidiki semua itu. Kamar ini di luar jangkauan alat mereka," Rania menganggukkan kepala memahami maksud dari Boris.
"Sudah melakukan sampai mana?"
"Bahkan identitasnya saya sudah tahu." Rania membulatkan matanya, "mereka musuh lama Perusahaan, Tuan sudah menceritakannnya dari awal. Selanjutnya cukup saya yang tahu. Nona, tidak perlu terlibat."
Merasa diremehkan Rania mendengus sinis, "aku yang sudah tahu, kamu tau apa tentang Perusahaan. Aku saja ini hanya mengetesmu."
Boris terdiam dan menatap Rania bingung, "aku pikir kamu tidak akan menyelidikinya langsung. Ternyata aku salah mengira" Rania menepuk-nepuk bahu Boris. "Good job, boys.." mendapat pujian dari Rania, Boris tersenyum tipis.
"Nona, saya ada rencana mau bertemu dengan sahabat saya. Nona mau ikut?" Rania menganggukkan kepala menyetujui ajakan Boris.
...ΩΩΩΩΩΩ...
Di salah satu kafe, Rania duduk tenang dengan Boris yang sesekali mengecek ponselnya. Menyadari wanita di sampingnya ini menggosok-gosokkan kedua tangan dan sesekali meniup telapak tangannya sendiri, Boris tahu bahwa Rania sedang kedinginan.
"Sudah tahu musim dingin, keluar memakai rok sependek ini, atasan juga tidak hangat," Rania mendengus terkena omelan Boris. Pria itu melepaskan satu mantelnya dan di sampirkan dibahu Rania.
"Bisa-bisa mati kedinginan kalau begini terus. Kemarikan." Boris meraih dua tangan Rania dan menggantikan wanita itu yang sedari tadi berusaha menghangatkan diri sendiri.
Rania tersenyum, tersipu malu mendapat perlakuan hangat dan manis dari Boris. Hingga mereka mendengar beberapa orang memanggil nama Boris.
Victor melambaikan tangan saat Boris menatap ke arahnya. Ternyata sahabatnya datang semua ke Korea Selatan untuk menyusulnya.
"Kalian tidak ada kerjaan? Sampai datang mirip orang lagi demo," Boris menatap sahabatnya satu-satu.
"Boris.. Aku kangen sama kamu.." Liliana sahabat Boris satu-satunya yang biasa dipanggil Lily. Wanita yang terlalu dimanja ketiga pria itu, datang dan langsung berhambur memeluk Boris.
Boris yang dipeluk menoleh sekilas ke arah Rania yang sudah diam bewajah masam. Dengan tidak enak hati, Boris melepaskan pelukan Lily, lalu memberi kode pada kedua sahabatnya yang lain.
Justin menggelengkan kepala melihat kelakuan Lily yang tidak berubah jika bertemu dengan Boris. Dia menarik tubuh Lily agar melepaskan pelukan itu.
"Kenalin ini atasanku, Nona Rania," dia menoleh ke arah Rania, "mereka sahabat saya, Victor, Justin, dan Lily," Boris menunjuk mereka satu persatu, Rania menatap ketiga orang yang baru datang tadi, matanya bersih tatap dengan Lily yang justru menatapnya sinis.
"Selesaikan urusanmu, aku tunggu di depan," nada yang terdengar perintah mutlak dari atasan untuk bawahan. Rania bangkit dan berjalan keluar, dia duduk di luar Kafe tersebut yang menyediakan kursi dan meja di sana.
Victor menepuk bahu Boris memahami perasaan sahabatnya ini. Lily menatap Boris penuh selidik, Justin yang tau apa yang akan terjadi selanjutnya hanya menghembuskan napas panjang.
"Mulai deh ini.." gerutu Justin malas.
"Boris! Kamu ada hubungan apa dengan wanita tadi? Kamu berani selingkuh dariku?" Lily berteriak marah.
"Jangan berlebihan, nanti dia bisa mendengar." Victor berusaha mengingatkan.
Boris melirik Rania yang terlihat kedinginan di luar, "aku jatuh cinta padanya," jujurnya tiba-tiba yang membuat semua sahabatnya tersenyum tipis.
"Kami sudah tau," jawab mereka kompak.
...Bersambung......
Terima kasih yang sudah mampir, jangan lupa like dan komen ya. Ceritanya aku usahakan up tiap hari. Pemula jadi tata bahasanya kurang masuk, masih berantakan.. Hehehe🤗🤭🥰