Kehidupan yang enggan berpihak? atau pernikahannya yang salah? apakah takdir lebih senang mempermainkan hidupku? atau memang tidak ada sedikitpun kebahagiaan yang tersisa untukku?
Saat aku mulai membuka hati.
Saat aku mulai jatuh cinta padanya.
Dia mengkhianati dan mencampakkanku seperti barang usang dan pergi dengan wanita lain.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk simak. jangan lupa tinggalkan jejak.
Cover by pinteres.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersingkir
Setelah satu jam berlalu menunggu proses pemeriksaan. Akhirnya Al di nyatakan bersalah berdasarkan barang bukti dan saksi mata ketua rt, di tambah pelaporan Marisa yang memberatkan Al. Untuk selanjutnya Al akan di proses secara hukum, sambil menunggu semuanya selesai. Al di perbolehkan pulang, bersama Raditya dan Barra.
"Al, bagaimana ini?" tanya Raditya sedih.
"Aku tidak takut meski harus di penjara, yang terpenting kebohongan Samudra sudah terbongkar," jawab Al tegas. "Jangan sampai Ansell tahu."
Sepanjang perjalanan, semua terdiam. Tidak ada lagi pembicaraan, Al saat ini merasa puas sekaligus hancur hatinya. Namun apa hendak di kata, semua terjadi begitu cepat. Pernikahannya yang hanya seumur jagung hancur seketika oleh orang ketiga.
Yang lebih membuat hati Al semakin hancur, saat ia mulai menerima kehadiran Samudra sebagai bagian dari hidupnya, belahan jiwanya. Saat Al mulai jatuh cinta terhadap Samudra, justru Samudra telah mengkhianatinya dan memilih wanita lain untuk menggantikannya.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah, Al bergegas pergi ke kamar pribadinya. Sementara Raditya dan Barra duduk di kursi ruang tamu di temani Dr Raka. Tak ada perbincangan di antara mereka bertiga, sesekali mereka menatap ke pintu kamar Al yang tertutup rapat.
****
Ke esokan paginya, Al bangun lebih awal. Sikap nya tidak ada yang berubah, apalagi di depan Ansell. Tidak sedikitpun nampak raut wajah kesedihan. Hanya saja, Barra, Raditya dan Raka cenderung banyak diam.
"Ansell, kau mau ikut main ke rumah kak Karin?" tanya Barra.
"Boleh!" sahut Ansell senang.
"Habiskan buburnya, kita pergi main," ucap Barra.
Ansell menganggukkan kepalanya, lalu ia habiskan bubur hingga suapan terakhir. Setelah selesai, Barra mengajak main Ansell supaya tidak mendengar apapun tentang Al.
Sepeninggal Ansel dan Barra. Samudra pulang ke rumah langsung menemui Al di ruang makan dan menarik tangannya dengan kasar.
"Apa apaan kamu hahh? kalau terjadi apa apa pada bayiku bagaimana??!"
Al tertawa, menatap marah Samudra. "Akhirnya kau mengakui kalau itu anakmu!!"
"Al, aku-?" Samudra kembali terdiam.
"Apa??! Mata Al menatap tajam di penuhi amarah. "Mau buat drama lagi, hah?? tunggu kau disini!"
Al bergegas meninggalkan ruang makan menuju kamar pribadi, mengambil surat cerai yang sudah ia persiapkan secara diam diam, lalu kembali menemui Samudra.
"Kita cerai!!" Al melemparkan surat cerai ke wajah Samudra.
Samudra menangkap surat cerai itu, lalu berbalik menatap tajam Aleah.
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Al. Tidak akan pernah!"
Al meraih gelas kopi miliknya, lalu ia siramkan ke tubuh Samudra. "Aku tidak sudi!!"
"Al tenanglah!" Raka yang sedari tadi diam memperhatikan memeluk tubuh Al supaya tidak berbuat lebih dari itu ke Samudra.
"Al, aku mencintaimu. Aku begini juga karenamu, aku tidak banyak permintaan. Aku hanya mau kau mengikuti semua keinginanku, kalau kau terlihat cantik seperti wanita lain aku tidak akan di hina oleh teman temanku," ungkap Samudra.
Al melepaskan pelukan Raka, berjalan lebih dekat dengan Samudra.
"Buka matamu, lihat aku di sini. Semua aku korbankan untukmu, untuk keluarga ini. Tapi nyatanya apa??!! kesetiaanku tidak ada harganya hanya karena wanita itu lebih cantik dariku, dan kau menyingkirkanku demi dia!!"
"Al..."
"Inilah aku, diriku apa adanya. Aku sudah berusaha menjadi seperti yang kau mau. Tapi aku tetap tidak bisa karena ini duniaku. Dan sekarang kau menganggap semua salahku. Kau ingin menyingkirkanku dan menggantikannya dengan dia dengan tuduhan tuduhan yang tidak masuk akal, kau benar benar brengsek!!!" pekik Al marah.
"Cukup!!" bentak Samudra.
"Kau yang diam!! sekarang juga tanda tangan surat cerai itu! aku tidak sudi menjadi istrimu!!" balas Al.
"Dady!! Momy!!"
"Ansell?" Al menoleh ke arah pintu, Ansell dan Barra berdiri di ambang pintu. Kemudian Ansell berlari memeluk Aleah.
"Momy!" Ansel menangis seraya memeluk Aleah. "Jangan pergi, jangan tinggalkan aku momy..."
"Tidak sayang, aku tidak akan meninggalkanmu," jawab Al terisak membalas pelukan Ansell.
"Bang! aku kecewa, sangat kecewa!" seru Barra seraya menendang pintu cukup keras, lalu beranjak pergi.
"Sadari semua kesalahanmu sebelum terlambat, sebelum semuanya hancur." Timpal Dr Raka.
"Kalian menyalahkanku? kalian membenciku?" tanya Samudra menatap Raditya dan Raka bergantian.
"Apa kau sudah tidak waras hah?? kau hancurkan keluargamu, nama baikmu, masa depan anakmu! kau sakiti semua orang! masih kau bertanya apa salahmu!!" pekik Al marah.
"Momy....!"
"Ansel, sayang!" Al menahan tubuh Ansel yang terkulai lemas di bantu Raka lalu menggendongnya, lalu di bawa ke ruang medis.
"Bang... " ucap Raditya berdiri menatap tajam Samudra. "Ada apa denganmu, kenapa kau berubah seperti ini.."
Samudra terdiam menundukkan kepala, lalu duduk di kursi.
"Jujur aku kecewa..." Raditya balik badan, melangkahkan kakinya menyusul Al ke ruang medis.
selamat buat dion dan al...
brasa masih gantung thor..
ditunggu undangannya bwt raka sm barra ya