"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pusat Perhatian Di Acara Pesta.
Rieta mematut dirinya di depan cermin, mengamati penampilannya dari atas sampai bawah untuk kesekian kalinya. Entah mengapa, kali ini ia tidak seabai biasanya dalam berpenampilan ketika ingin menghadiri acara pesta. Ada sesuatu di dalam hatinya yang mendorong dirinya untuk tidak membuat pamannya kecewa dengan penampilannya malam ini.
Gaun biru yang Arlan tetapkan untuk ia pakai di acara malam ini ia padukan dengan gaya rambut feminine flower crown yang ia tata sendiri dengan tambahan hiasan rambut sebagai pemanis. Riasan wajah yang ia gunakan pun tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menonjolkan keindahan dari gaun yang ia kenakan.
"Baiklah... ini sudah cukup."
Rieta bergumam pelan diakhiri hembusan napas cepat, lalu melangkah keluar kamar setelah memastikan semua gaun yang Arlan belikan tersimpan rapi di lemari yang dikhususkan untuknya. Pada akhirnya, Arlan membayar semua gaun yang sudah ia coba di toko tanpa peduli seberapa banyak ia melayangkan protes.
Suara langkah Rieta saat menuruni tangga menarik atensi semua orang yang sudah menunggu. Gaun malam biru itu melambai lembut seiring setiap langkah yang Rieta ambil. Belahan dari gaun yang mencapai paha membuat keindahan dari gaun itu tampak lebih nyata didukung dengan penampilan Rieta yang kini berbeda dari biasanya.
Arlan segera bangun dari duduknya, merasa kesulitan untuk berpaling dari wajah Rieta. Di samping Arlan, pria yang menjadi asisten Arlan pun tidak memalingkan pandangan dari Rieta, begitu pula dengan kedua mertuanya. Hanya Evan saja yang tidak terlihat, dan ia tahu pria itu tentu sudah berangkat seorang diri, atau mungkin menjemput wanita yang menjadi kekasih Evan.
"Kamu cantik sekali, Sayang," Nyonya Melani berkomentar seraya mengusap lembut wajah menantunya.
"Sayangnya..." wajah Nyonya Melani berubah murung, menurunkan tangannya, kemudian tersenyum tipis. "Evan sudah berangkat karena memiliki janji bersama relasi bisnis."
"Aku mengerti, Ma, tidak apa-apa," sahut Rieta tersenyum. "Lagipula, aku tidak bisa bersama Evan di acara malam ini yang akan membuat banyak orang mempertanyakan hubungan kami," imbuhnya.
"Pergilah bersama Arlan," Tuan Marlan menyela. "Papa sengaja meminta dia agar menunggumu. Papa memiliki janji lain sebelum pergi ke acara pesta bersama Mamamu. Jika kamu bersama Arlan, orang-orang hanya akan berpikir kalian datang karena hubungan dalam pekerjaan."
Rieta melirik sekilas ke arah pamannya yang belum berpaling darinya, kemudian mengangguk. "Baik, Pa."
"Sudah waktunya. Ayo pergi." ujar Arlan segera berbalik dan melangkah mendahului pergi dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Rieta menatap punggung pamannya yang sudah berjalan menjauh diikuti Liam di belakangnya, kemudian ia beralih pada kedua mertuanya.
"Aku berangkat, Ma Pa," pamit Rieta.
Tuan Marlan mengangguk, begitu pula dengan Nyonya Melani. Keduanya masih terpaku di tempat mereka berdiri menatap punggung Rieta yang berjalan menjauh, lalu menghilang dari pandangan mereka.
"Apakah Papa sengaja mendekatkan mereka?" tanya Nyonya Melani beralih menatap suaminya.
"Apa maksudmu?" sambut Tuan Marlan menoleh cepat ke arah istrinya. "Papa hanya merasa Rieta tidak seharusnya datang sendirian ke pesta, dan Evan tidak bisa bersamanya. Apa salahnya jika dia pergi bersama pamannya sendiri?"
"Malam ini Rieta terlihat begitu cantik, apakah menurutmu Arlan tidak akan tertarik pada Rieta?" tanya Nyonya Melani.
"Jangan berpikiran aneh-aneh. Tidak mungkin dia menyukai keponakannya sendiri yang sudah menikah," sahut Tuan Marlan.
"Lalu sampai kapan perusahaan kita berada di bawah kendali Arlan? Kenapa setiap keputusan penting perusahaan harus menunggu dari Arlan?" keluh Nyonya Melani.
"Apakah kamu tidak lelah terus membahas ini, Melani? Kamu tahu sendiri bagaimana keadaan perusahaan jika Arlan tidak membantu. Meski dia adalah adik tirimu, tapi dia memiliki lebih dari setengah saham perusahaan, kamu tahu apa artinya bukan?" tekan Tuan Marlan.
Nyonya Melani terdiam, ia benci mengakuinya, tetapi apa yang suaminya katakan benar adanya. Ia dan Arlan adalah saudara dengan ibu berbeda, dan sejak Arlan mampu mendirikan perusahaannya sendiri, kekuasaan yang Arlan miliki sudah berada di atasnya.
"Kita berangkat sekarang. Papa perlu menemui relasi bisnis Papa sebelum menghadiri acara ulang tahun AVA Corp," kata Tua Marlan.
Nyonya Melani mengangguk lesu, hingga ia tidak menyadari adanya perubahan ekspresi pada wajah suaminya. Ada rasa bersalah yang teramat besar yang Tuan Marlan rasakan jika mengingat apa yang sudah ia lakukan. Ia menikahkan putranya dengan Rieta demi keuntungannya sendiri, ia membutuhkan Rieta untuk membuat perusahaanya bangkit. Tetapi untuk keskian kalinya juga perasaan bersalah itu ia tepis.
.
.
.
Jika di hadapan kedua kakanya Arlan bersikap dingin dan kaku seolah ia tidak tertarik pada Rieta, maka lain cerita ketika ia sudah berada di dalam mobil bersama Rieta di sampingnya. Pria itu tanpa ragu meraih tangan sekligus menggenggam tangan Rieta, mengecup punggung tangan wanita di sampingnya, lalu tersenyum saat tatapan mereka bertemu.
"Jaga sikap, Paman." tegur Rieta segera menarik tangannya yang sayangnya gagal ia lakukan saat Arlan mengeratkan genggaman tangannya.
Arlan hanya tersenyum seolah mengerti apa yang Rieta pikirkan kala pandangan Rieta berulang kali tertuju pada Liam yang tengah mengemudi. Satu tangannya terulur, menekan satu tombol yang berada di belakang jok sopir yang membuat pembatas antara sopir dan penumpang bergerak naik, memberikan ruang privasi bagi Arlan.
"Apakah ini cukup untuk menghilangkan kegelisahanmu?" tanya Arlan dengan senyum menggoda.
"Kita sedang di jalan, Paman," ucap Rieta mengingatkan.
"Aku tahu, dan sebentar lagi kita sampai. Tapi sebelum itu..." Arlan mengulurkan tangan, menyentuh dagu Rieta menggunakan dua jari, lalu menyapukan ibu jarinya di bibir Rieta.
"Aku membutuhkan amunisi," bisik Arlan di telinga Rieta.
Tanpa menunggu jawaban, Arlan menyatukan bibir mereka yang segera mendapatkan balasan dari Rieta. Ciuman itu singkat, tetapi lembut dan penuh perasaan, tidak ada desakan nafsu di dalamnya. Dan ketika ciuman itu berakhir, Arlan mengusap lembut bibir Rieta. Tersenyum.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti, Arlan membuka pintu mobil dan turun, lalu mengulurkan tangannya pada Rieta dengan senyum yang tak pudar.
"Are you ready for tonight? (apakah kamu siap untuk malam ini?)" tanya Arlan.
Rieta mengangguk, menerima uluran tangan Arlan dan turun dari mobil. Arlan meletakkan tangan Rieta di lengannya, lalu melangkah bersama memasuki hotel tempat diselenggarakannya acara.
Suasana pesta yang awalnya riuh dipenuhi dengan obrolan dan candaan berubah sunyi saat sosok Arlan muncul bersama Rieta di sampingnya. Semua pandangan tertuju pada Arlan dan Rieta, termasuk Evan yang sudah berada di sana beberapa menit lalu bersama Rihana di sampingnya.
Tatapan Evan terkunci pada istrinya, kedua matanya menyipit melihat tangan Rieta yang melingkar di lengan Arlan, dan kembali menatap wajah istrinya. Ia tidak pernah menyangka, jika istrinya yang selama ini senantiasa berpenampilan sederhana, malam ini tampak begitu mempesona. Dan pemandangan itu menumbuhkan rasa tidak terima di dalam hatinya.
. . . .
. . . .
To be continued...