Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Hoodie oversize untuk istri mungil
Hari berikutnya, Anindia dan Keanu sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Keanu merasa sedikit lebih baik setelah Anindia mengompres lukanya kemarin. Meskipun setelahnya, ia mendapatkan ceramah panjang lebar dari ayahnya perihal kejujuran Anindia tentang pertengkarannya kemarin.
Keanu hanya bisa pasrah ketika di marahi ayahnya, tidak seperti sebelumnya yang terlihat kesal karena kejujuran Anindia tempo hari. Kini ia merasa bahwa kejujuran Anindia justru membuatnya berubah menjadi seperti ini.
Saat itu, Anindia terlihat flu dan bersin-bersin, sepertinya karena terkena hujan di hari kemarin. Meskipun kepala Anindia tidaklah basah karena tertutup dengan jaket milik Keanu, tapi siapa sangka ternyata Anindia rentan terhadap air hujan.
"Haachim!" Anindia yang bersin kini menggosok hidungnya, ia merasa kesulitan bernafas karena hidungnya yang tersumbat.
"Istirahat aja di rumah, gak usah sekolah dulu. Kamu flu kayaknya karena hujan kemarin, itu juga karena aku," ujar Keanu yang berjalan mendekat ke arah Anindia.
"Gapapa kok Keanu, aku sanggup pergi ke sekolah. Lagian cuma flu aja kok," ujar Anindia yang langsung menggelengkan kepalanya ketika mendengar perkataan Keanu.
"Yakin?" Ujar Keanu memastikan, bahkan punggung tangannya langsung ia letakkan di kening Anindia, memastikan bahwa istrinya itu tidak demam.
Anindia mengangguk singkat, ia tidak menarik diri dari tangan Keanu yang menyentuh keningnya. Ia tetap ingin pergi ke sekolah, karena baginya flu bukanlah hambatan untuk tetap menimba ilmu.
"Enggak demam sih, tapi kamu yakin mau pergi ke sekolah?" Tanya Keanu yang lagi-lagi ingin memastikan bahwa istrinya itu baik-baik saja.
"Yakin Keanu, aku cuma flu aja kok. Aku juga bawa minyak angin buat jaga-jaga," ujar Anindia yang mencoba meyakinkan Keanu.
Keanu menghela nafas pasrah, istrinya itu benar-benar sangat keras kepala. Keanu pun akhirnya menganggukkan kepalanya, mempercayai kata-kata Anindia dan berharap bahwa istrinya itu baik-baik saja.
"Ya udah, tapi kalo gak enakan badannya bilang ya? Jangan dipaksa untuk pergi ke sekolah kalo emang lagi sakit," ujar Keanu kemudian.
Anindia langsung menganggukkan kepalanya, ia merasa bahwa Keanu benar-benar perhatian dan sayang pada dirinya. Karena tidak ingin membuat Keanu khawatir, Anindia pun langsung menyunggingkan seutas senyum, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
"Iya, aku bakal bilang kalo dirasa gak enakan," ujar Anindia pada akhirnya.
"Pake jaketnya, anginnya terasa menusuk tulang hari ini," ujar Keanu yang kini mengambil sisir untuk merapikan rambutnya.
Anindia memikirkan sejenak, seingatnya ia lupa membawa satu jaket pun sebelum ia tinggal di rumah Keanu. Untuk memastikan, Anindia pun langsung beranjak ke arah lemari. Ia ingin memastikan bahwa dugaannya itu ternyata salah.
"Cari apa sayang?" Ujar Keanu yang menyadari bahwa Anindia terlihat seperti sedang mencari sesuatu di dalam lemari.
"Kayaknya aku lupa bawa jaket deh, Keanu. Di rumah Mama semua jaketnya. Nanti kita ke rumah Mama dulu ya buat ambil jaketnya?" Ujar Anindia sembari menutup pintu lemari di depannya.
Keanu melirik jam tangannya, memastikan bahwa ia dan Anindia tidak telat sampai ke sekolah. Namun, untuk pergi ke rumah kedua orang tua Anindia, sepertinya tidak terkejar oleh waktu.
"Hmm, kayaknya gak sempat deh, Nindi. Udah hampir jam 7 soalnya," ujar Keanu.
"Terus gimana?" Ujar Anindia kemudian.
Keanu terdiam sejenak, ia tidak mungkin membiarkan Anindia tanpa mengenakan jaket, terlebih angin pagi itu terasa sangat dingin. Bukan hanya itu, ia juga memikirkan tentang kondisi Anindia yang sedang flu saat ini.
"Bentar ya," ujar Keanu sembari beranjak ke arah lemari, mencari sebuah hoodie yang sangat jarang ia pakai.
"Kamu cari apa, Kean?" Ujar Anindia yang merasa penasaran.
"Cari ini," ujar Keanu sembari mengambil sebuah hoodie berwarna abu-abu yang terlipat rapi di dalam lemari.
Anindia langsung mengernyit heran, ia merasa bingung mengapa Keanu mengambil hoodie itu, terlebih di tubuhnya pun sudah melekat sebuah jaket windbreaker berwarna hitam.
"Kamu kan udah pake jaket, Keanu," ujar Anindia kemudian.
"Ini buat kamu sayang, dingin banget soalnya hari ini," ujar Keanu sembari memberikan hoodie itu kepada Anindia.
"Aku pake ini? Gak besar banget?" Ujar Anindia yang terkejut dengan ukuran hoodie yang terlihat sangat besar di tubuhnya yang mungil.
"Pake aja dulu, daripada sakit? Lagian cuma pagi doang kok, sampe di sekolah nanti bisa di lepas hoodie nya," ujar Keanu yang menyuruh Anindia untuk mengenakan hoodie abu-abu itu.
Anindia menarik nafas pasrah, karena desakan dari Keanu, akhirnya Anindia pun langsung mengenakan hoodie itu ke tubuhnya. Saat itu, terlihat jelas bahwa Keanu sedang menahan senyum, ia merasa gemas ketika melihat Anindia yang memakai hoodie nya.
Bagaimana tidak? Anindia terlihat seperti boneka kecil yang terbungkus oleh hoodie oversize milik Keanu. Hoodie itu juga menutupi seluruh tubuhnya, bahkan kedua tangan Anindia pun tersembunyi di balik lengan hoodie itu. Bahkan, benda itu juga menjuntai ke bawah menutupi setengah kakinya.
"Keanu, kenapa kok gitu? Aneh ya aku pake ini?" Ujar Anindia yang menyadari perubahan ekspresi Keanu, bahkan ia langsung melirik dirinya sendiri.
"Enggak ada yang aneh kok," ujar Keanu yang masih menahan senyumnya.
"Terus kenapa kamu liatin aku kayak gitu?" Ujar Anindia kemudian.
"Gemes," ujar Keanu yang langsung mencubit pipi Anindia.
Anindia langsung terdiam ketika Keanu yang tiba-tiba saja mencubit pipinya. Ia tidak menyangka bahwa Keanu justru merasa gemas dengan penampilannya yang seperti ini. Padahal menurut Anindia, ia merasa sangat aneh ketika ia memakai pakaian oversize seperti ini.
"Ya udah, ayo pergi ke sekolah. Ntar kita telat lagi," ujar Keanu yang langsung mengambil kunci mobil dan ponselnya di atas meja.
"Kean?" Panggil Anindia lirih, merasa tidak nyaman dengan penampilannya.
"Hmm?" Keanu yang baru melangkah pun langsung berhenti, kembali menoleh ke arah Anindia yang terdiam di tempat.
"Aneh banget lho pake hoodie kayak gini, kebesaran," rengek Anindia sembari menggoyangkan tubuhnya di balik hoodie oversize itu.
Keanu kembali menahan senyum, karena tidak ingin tertawa melihat tingkah Anindia yang begitu menggemaskan di matanya. Ia tidak menyangka bahwa Anindia yang dulunya cerewet dan bawel, kini justru terlihat sangat manja seperti ini.
"Enggak ada yang aneh, serius. Malah lucu liatnya," ujar Keanu dengan seutas senyum.
Mendengar perkataan Keanu membuat pipi Anindia langsung merona. Ia langsung menunduk, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya.
Keanu hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. Sebenarnya ia tahu bahwa Anindia sedang merasa malu saat ini, dan ia tidak ingin menggoda istrinya itu lebih jauh lagi.
"Ayuk berangkat, ntar telat lagi," ujar Keanu mengalihkan pembicaraan.
Anindia hanya mengangguk singkat, tanpa kata lagi mereka berdua pun langsung menuruni anak tangga. Keanu berjalan di depan, sementara Anindia mengikuti di belakangnya.
"Lho kalian gak sarapan dulu?" Ujar ayah Keanu ketika mereka langsung menuju ke arah pintu.
"Enggak sempat, Pa. Nanti di sekolah aja sarapannya," ujar Keanu sembari melirik jam tangannya.
"Iya Pa, udah mepet banget waktunya," ujar Anindia menimpali.
Ayah Keanu menganggukkan kepalanya, lalu menoleh sekilas ke arah menantunya yang memakai hoodie anaknya. Ia hanya tersenyum tipis, seakan sedang mengatakan sesuatu tanpa kata. Sementara Anindia, ia sama sekali tidak menyadari hal itu karena ia hanya memperhatikan perbincangan antara Keanu dan juga ayahnya.
Menyadari hal itu, Keanu pun langsung mencium tangan ayahnya. Ia tidak ingin membuat Anindia merasa tidak nyaman karena diperhatikan oleh ayahnya seperti itu.
"Ya udah Pa, aku sama Nindi berangkat dulu ya, assalamualaikum." Ujar Keanu.
"Nindi sama Keanu berangkat dulu ya, Pa. Assalamualaikum," ujar Anindia yang juga mencium takzim tangan ayah mertuanya.
"Iya, hati-hati di jalan Keanu. Waalaikumsalam," sahut ayah Keanu.
Anindia dan Keanu langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil. Saat duduk di dalam mobil, Keanu tidak langsung memulai mesin mobilnya, melainkan memandangi Anindia dengan senyum yang hanya dirinya sendiri yang tahu artinya.
"Keanu?" Panggil Anindia, tapi suaminya itu tidak bereaksi apa-apa, seakan terhipnotis dengan pemandangan di depannya.
"Keanu? Ayo berangkat, ntar telat kita ke sekolahnya," ujar Anindia yang merasa kesal.
"Oh, iya. Maaf-maaf," ujar Keanu yang terbangun dari lamunannya, ia pun langsung menghidupkan mesin mobilnya dan memulai perjalanan menuju ke sekolah.
Anindia merasa heran dengan Keanu, terlebih sejak ia mengenakan hoodie itu. Ia merasa bahwa tatapan Keanu jauh berbeda ketika melihat penampilannya yang seperti ini. Anindia lagi-lagi melirik dirinya, memastikan tidak ada yang aneh pada dirinya sendiri.
"Apanya yang lucu sih?" Batin Anindia.
Tak ada perbincangan apapun di antara keduanya, mereka hanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Anindia masih memikirkan tentang keanehan pada dirinya, sementara Keanu memikirkan betapa menggemaskannya istri mungilnya itu. Bahkan, Keanu sesekali terlihat menggelengkan kepalanya dan tersenyum sendiri. Hal itu jelas saja membuat Anindia merasa bingung.
Anindia tidak mengatakan apa-apa, karena ia yakin bahwa Keanu pasti mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya. Ia hanya terdiam tanpa kata, menunggu sampai mereka tiba di pekarangan sekolah.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mobil hitam itu pun tiba di sekolah. Setelah memarkirkan mobilnya, keduanya pun langsung beranjak turun dari mobil itu. Keanu melirik sekilas ke arah jam tangannya, ia menarik nafas lega karena masih memiliki sedikit waktu untuk sarapan di kantin.
"Ke kantin dulu yuk, Nindi. Tadi gak sempat sarapan di rumah, takutnya kamu gak fokus nanti belajarnya," ujar Keanu dengan nada lembutnya.
Anindia hanya menanggapinya dengan anggukan singkat. Mereka berdua langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah kantin. Saat itu, Anindia di sapa ramah oleh beberapa murid dari kelas lain dan disapa balik dengan ramah oleh Anindia. Sementara Keanu hanya terdiam tanpa kata dan memasang sifat cool nya seperti sedia kala.
"Di rumah manja banget, di sekolah sok cuek," ujar Anindia pelan sembari menyenggol lengan panjang suaminya itu.
"Ssstt, gak semua orang harus tahu sisi lain aku, sayang. Cukup kamu yang tau itu," ujar Keanu lirih bahkan nyaris tak terdengar.
Anindia hanya terkekeh menanggapinya, ia merasa bahwa Keanu memang mempunyai dua sisi yang hanya ditunjukkan pada dirinya. Hal itu juga yang membuat Anindia merasa tenang, karena menurutnya Keanu merupakan tipe orang yang setia terhadap pasangannya.
Tibalah keduanya di kantin, terlihat jelas kantin itu masih sepi karena masih terlalu pagi. Namun tak jarang pula terlihat beberapa siswa-siswi yang juga menikmati sarapannya di sana. Keanu pun langsung memesankan dua porsi bubur ayam untuk dirinya dan juga Anindia.
Tak butuh waktu lama, pesanan mereka pun tiba. Keduanya sama-sama menikmati sarapannya di kantin sekolah untuk yang pertama kalinya setelah mereka menikah. Mereka tidak mengatakan apa-apa, karena takut terlambat masuk ke dalam kelas.
Setelah menghabiskan sarapannya, Anindia berniat membuka hoodie itu, karena ia merasa tidak nyaman mengenakan jaket di dalam kelas ketika pembelajaran berlangsung.
Melihat hal itu, Keanu langsung bergerak cepat, ia menggeser posisinya agar tubuhnya menutupi Anindia dari pandangan orang-orang di sekitar. Ia tidak ingin seorangpun melihat lekuk tubuh istrinya ketika Anindia melepaskan hoodie itu dari tubuhnya. Untung saja Anindia duduk tepat di sebelah tembok, sehingga tidak menarik perhatian teman-temannya yang lain.
"Kean, ke kelas yuk," ajak Anindia setelah ia melipat benda itu.
"Ayo!" Seru Keanu.
Mereka berdua langsung beranjak menuju ke kelasnya, diiringi dengan perbincangan santai mengenai berbagai hal. Banyak pasang mata yang tertuju pada keduanya, dengan tatapan yang berbeda-beda tentunya. Tapi Anindia dan Keanu tidak menghiraukannya, karena mereka tahu bahwa mereka berdua merasa sangat bahagia ketika bersama.
^^^Bersambung...^^^