⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku sayang kamu
Kenapa aku malah memikirkan Farel?! Bagaimana bisa aku mengingat Farel yang sudah memperlakukanku dengan dingin? Padahal aku masih ingat kalau malam sebelumnya dia tak begitu.
Perasaanku benar-benar terluka. Rasanya seperti ada duri kecil yang menusuk. Aku tidak mungkin bisa lupa dengan sikap dingin yang Farel tunjukkan itu.
Sebenarnya mengapa Farel bisa sedingin itu padaku? Apa tanpa sadar aku telah melakukan kesalahan? Aku benar-benar tidak tau kesalahan apa yang telah kuperbuat padanya.
"Sil! Silvi!"
"Hm?"
Aku tersentak dari lamunanku. Suara Rendi yang memanggilku berhasil membuat pikiranku teralihkan kembali padanya.
"Lagi mikirin apa? Kok bengong?" tanya Rendi. Ia menatapku lekat-lekat dengan tangan kanannya yang masih menggenggam pulpen.
"Eh?! Engga kok! Aku ga mikirin apa-apa!"
Aku menggeleng sekuat tenaga. Bisa gawat jika Rendi sampai tahu bahwa aku baru saja memikirkan laki-laki lain di hadapannya. Apalagi laki-laki itu adalah Farel, orang yang sangat tidak disukainya.
"Hm? Jadi kamu mau rahasia-rahasian nih? Hayo ngaku.. kamu mikiran apa tadi?" desak Rendi.
"Engga kok! Enggak! Beneran! Kamu nyebelin banget sih? Ga percayaan banget sama aku." Aku membuang pandanganku darinya.
"Hahaha maaf sil, lagian kamu itu imut banget kalau lagi marah." Rendi tersenyum.
"Ugh.. curang.." gumamku.
Deg Deg
Jantungku berdebar-debar. Wajah tampannya itu selalu saja berhasil membuat hatiku luluh. Aku merasa seperti baru saja dibawa terbang ke dimensi lain.
Imut katanya? Dia ini memang benar-benar ahli dalam membuat orang lain tersipu. Sejak kapan Rendi jadi ahli dalam bergombal? Aku kan jadi malu.
"Udah deh jangan gombal!"
Aku mengerutkan kening sembari berusaha untuk menahan bibirku agar tidak tersenyum.
"Padahal aku ga bohong." Rendi meletakkan pulpennya. Ekspresi jahil yang dia tunjukkan tadi kini mendadak hilang dari wajahnya. Sepertinya Rendi benar-benar serius dengan ucapannya.
Rendi perlahan mendekat. Pandangan kami saling beradu. Waktu terasa terhenti. Jantungku berdegup kencang. Apa Rendi juga sama? Atau hanya aku saja?
Rendi perlahan merangkul pinggangku, mendekapku, lalu memelukku dengan erat. Kepalaku disandarkannya pada dadanya. Kupikir hanya aku saja yang berdebar-debar. Ternyata Rendi sama saja. Dari jarak sedekat ini, aku bisa merasakan jantungnya yang berdebar.
"Silvi.. aku sayang kamu.."
Aku mendongak ke atas. Kutatap Rendi yang tersenyum melihatku. Aku tak tau harus berkata apa untuk membalas ucapan Rendi. Pikiranku kosong sesaat. Aku hanya bisa merasakan jantungku yang berdegup kencang.
"Silvi.." lirih Rendi.
Cup
Aku tersentak kaget. Rendi mengecup bibirku. Rendi tersenyum sembari menatap mataku. Tatapannya itu lagi-lagi membuatku merasa seperti telah terhipnotis.
Wajah Rendi perlahan mendekat. Kututup kedua mataku. Aku bisa merasakan wajah Rendi yang samakin dekat hingga tanpa disadari kini bibir kami telah menempel.
Tidak puas dengan hanya mengecup, kini Rendi pelan-pelan mulai memagut bibirku. Ini ciuman keduaku. Aku benar-benar tak tau harus berbuat apa.
Semakin lama Rendi menciumku, rasanya aku juga jadi mulai mengerti. Perlahan aku mulai memagut bibir Rendi, dan membalas ciumannya seperti yang Rendi lakukan padaku.
Tanpa sadar kedua tanganku kini melingkari leher Rendi. Aku ingat, biasanya di drama-drama juga seperti ini kan?
Rendi terus ******* bibirku. Dia juga terkadang menggigit kecil bibirku. Suara detak jantung saling mengiringi kami bersamaan dengan kedua bibir yang saling bertautan.
Hingga beberapa menit, dengan sengaja aku menghentikan ciuman ini.
"Ha.. hosh.. udah.." Aku kesulitan mengatur nafas. Jika masih diteruskan, aku tak tau bagaimana jadinya.
Cup
"Ren- Hmmp!"
Bukannya mendengarkan ucapanku, Rendi malah langsung menyerangku lagi dengan ciuman yang lebih hebat dari sebelumnya. Dia benar-benar seperti hewan buas yang tengah kelaparan.
Rendi terus menghujaniku dengan ciumannya. Di antara kami hanya bisa terdengar suara ciuman yang memecah keheningan. Padahal di luar sedang hujan, tapi entah kenapa hawa di sini terasa panas.
Aku mulai kesulitan bernafas. Dadaku terasa sesak. Jika Rendi tidak berhenti juga, mungkin aku akan benar-benar tak bisa bernafas. Namun belum sempat aku bertindak, Rendi tiba-tiba saja menghentikan ciumannya.
Syukurlah. Jujur saja rasa sesak ini mulai menyiksaku. Awalnya kupikir begitu. Hingga aku merasakan bibir Rendi yang menyentuh leherku.
"Ren? Uh.."
Sensasi geli kurasakan pada leherku. Rasanya seperti ada yang menggelitik. Aku merasa asing dengan perasaan ini.
"Rendi..."
Sapuan lidah Rendi yang menyusuri leherku membuatku merasa seperti ada sesuatu yang bangkit dari dalam diriku.
"Uh.."
Keningku mengernyit setiap lidahnya menyapu leherku. Sejak tadi aku terus mendongak ke atas sembari memejamkan mata. Rasanya aku tak sanggup untuk membuka mataku.
Pelukan Rendi terasa semakin erat. Suara kecupannya di leherku yang jenjang mengisi kesunyian di antara kami. Kini Kuletakkan kedua telapak tanganku pada kedua pundak Rendi.
"?!"
Aku tersentak kaget sesaat merasakan sentuhan lembut di pahaku yang polos. Itu tangan Rendi. Aku sudah bersiap-siap untuk menepisnya, namun lagi-lagi perasaan aneh ini langsung menghentikan keinginan itu seakan menghipnotisku.
"Ah.. Rendi.."
Tubuhku terasa lemas. Kubenamkan wajahku pada bahu Rendi. Aku bisa mendengar suara nafasku dan Rendi yang saling memburu.
"Kyaa!"
Aku terkejut sesaat Rendi tiba-tiba mengangkat tubuhku hingga membuatku terduduk di atas kedua pahanya.
"Rendi?"
Dengan nafas yang masih memburu, kutatap wajah Rendi yang tampak memerah.
Cup
Rendi langsung menyerang bibirku lagi untuk kedua kalinya. Dia ******* bibirku dengan ganas. Aku hanya bisa pasrah menerima ciumannya dan menikmatinya. Terkadang kecupannya juga berpindah ke pipi atau ke leherku berulangkali.
Jantungku berdebar berkali-kali lipat dibanding sebelumnya. Rasanya ini tak seburuk yang kupikirkan selama ini. Aku justru merasa nyaman.
Perlahan aku merasakan tangan Rendi yang memasuki balik bajuku. Aku ingin mengatakan sesuatu agar dia menghentikannya, namun tidak bisa karena suaraku tertahan oleh Rendi yang tengah sibuk mencium bibirku.
Semakin lama rasanya jadi semakin nyaman. Aku tak tau lagi harus melakukan apa.
Aku mulai merangkul lehernya lagi sembari membalas ciumannya. Bibir kami saling bertautan di tengah-tengah suhu ruangan yang terasa panas.
Rendi berdiri dari duduknya sembari mengangkat tubuhku. Tanpa melepaskan ciuman kami, Rendi perlahan membawaku ke ranjangnya. Dibaringkannya tubuhku ke atas ranjang yang empuk itu.
Rendi pelan-pelan naik dan menindih tubuhku. Ia terus menciumku sembari sesekali mengecup leherku. Terkadang tangannya juga sesekali mengelus pahaku.
"Hosh.. ha.. Rendi.."
Rendi melepaskan ciumannya. Tatapan kami saling beradu. Pikiran kami saling tenggelam ke dalam suasana yang mendukung. Wajahnya tampak memerah, nafasnya memburu.
"Silvi.. boleh?"
Suara lirih yang memanggilku dengan nada lembut. Pikiranku sudah melayang jauh dari permukaan. Hasrat yang rasanya ingin cepat-cepat kutuntaskan membuat akal sehatku jadi tak berjalan dengan baik.
Aku mengangguk pelan, mengiyakan perkataannya tanpa harus mengungkapkan kata-kata. Suara derasnya hujan rasanya seperti mendukung suasana di antara kami.
"Aku sayang kamu Silvi.."