Satria seorang remaja keturunan kaya raya, telah lama jatuh hati pada wanita yang beberapa tahun lebih tua dari umurnya.
Wanita usil yang selalu menganggapnya bocil.
“Aku ingin Kakak menjadi pacarku.”
“Aku tak sudi jadi pacarmu!”
“Kenapa Kak?”
“Kau bocah! Pipis saja belum lurus.”
“Maksud Kakak, aku kurang jantan? Tapi kita sudah sering berciuman!”
“Anggap saja itu kenangan, carilah pacar yang seusia denganmu!”
“Tidak! Aku ingin Kakak menjadi pacarku! Titik.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lemah!
Beberapa puluhan menit yang lalu.
Satria menggeliat manja di kasur kingnya. Mengerjap-ngerjapkan mata, lalu tersenyum sendiri. Ya, membayangkan adegan menyenangkan yang terjadi kemarin bersama Nurbaya.
Masih tersenyum sembari menggaruk rahang dan dagunya. Makin di garuk makin gatal. “Duh, gatalnya.” Mengeluh, lalu mendesis. “Ah!” ringisnya kepedihan. Saking gatalnya, Ia menggaruk dengan kuat.
Di lihatnya, kukunya berdarah, wajahnya terasa bengkak dan basah. Ia langsung berdiri dan menatap cermin. “TIDAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKK!!!” teriakannya menggelegar.
Suaranya membangunkan kelelawar yang baru saja tidur. Lebay!
Aira dan Bi Mona berlari dengan sigap ke arah kamar Satria.
Toktoktok! “Sayang, kamu kenapa?” tanya Aira di luar pintu.
Bi Mona yang baru saja sampai di kamar Satria mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. “Tuan Muda, ini Bibi sama Nyonya. Apa Tuan Muda baik-baik saja?” tanya Bi Mona.
Krek! Pintu di buka.
Bi Mona dan Aira masuk, belum juga sampai masuk, Bi Mona sudah di sambut telepon genggam rumah, ia pun menangkapnya dengan gelagapan.
“Suruh Dewa Si*lan ke sini!” perintahnya.
Bi Mona memencet tombol, lalu menelfon Sekretaris Dewa yang sedang tidur nyenyak, karena habis begadang semalaman mengerjakan tugas dari Satria.
“Ini kenapa, Sayang?” tanya Aira lembut.
“Ak...”
“Satria, kamu tidak apa-apa?” tanya Arnel memotong, Ia berlari dari teras bawah ke lantai 2, di mana kamar Satria berada.
Dari wajahnya Ia terlihat sangat khawatir.
“Kamu tidak apa-apa, cucuku?!” Langsung meraba dan memeluk Satria seperti boneka.
“Ah, Kakek! Sakit tau!” ketus Satria saat luka di wajahnya menempel kuat di dada Arnel.
“Cucuku, kau kenapa? Kenapa bisa begini? Kau makan apa? Ada apa ini, Bi? Apa kamu tidak memperhatikan makanan dan kebersihan Satria?” Memberikan banyak pertanyaan.
“Ah, Kakek kalau mau berisik, sana pergi! Ganggu mood aku aja!” usir Satria.
Aira mengelus punggung tangan Arnel, lalu mengangguk sambil tersenyum. Meminta agar Arnel diam. “Kakek dan Nenek hanya khawatir padamu, Sayang.”
“Kami tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Apa yang bisa kami lakukan untukmu? Apa kamu sudah menelfon Dokter?” tanya Aira yang di balas gelengan kepala oleh Satria.
“Baiklah, kalau begitu Nenek telfon dulu dokter Haikal, ya.”
Aira menelfon Haikal, Ia adalah Dokter pribadi yang bekerja 10 tahun terakhir ini, menggantikan Kakaknya.
Setelah menelfon, Aira duduk sembari mengelus punggung cucunya.
“Aku mau sendiri, keluarlah!” ucap Satria.
“Baiklah, kalau ada apa-apa, panggil Nenek dan Kakek ya, kami menunggu di luar kamar.” ucap Aira tersenyum manis.
Bi Mona, Aira dan Arnel pun keluar.
“Sudah, jangan cemberut begitu. Siapa yang dulu memanjakannya?”
“Hm.”
“Dia sedang labil, ingat saja, dulu kamu juga begitu, manja dan egois.” ucap Aira lalu mentoel hidung suaminya yang cemberut itu.
Senyuman kecil tersungging dari bibir Arnel. Cup! Satu kecupan pelunak hati dari Aira. Arnel langsung menjadi Kitty penurut, memeluk Aira dan membalas kecupan sayang di pipi Istrinya.
Tak lama, Sekretaris Dewa datang dengan terburu-buru, cemas, dan panik, terlihat jelas dari tampilannya agak berantakan, tak se-rapi biasanya.
Melewati Aira dan Arnel sedikit merunduk di sana, memberikan hormat, lalu masuk ke dalam kamar Satria. “Pagi, Tuan Muda.” sapanya sopan.
Masih dengan senyuman hangat, melihat punggung mulus Satria yang memunggunginya. Tak menjawab, mengabaikannya.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?” tanyanya.
Satria membalik badan, lalu melempar botol ke arah Sekretaris Dewa, tepat mengenai jidatnya.
Blam!!! Setelah kaca itu mendarat di kening Sekretaris Dewa mulus, lalu terjun bebas ke lantai sampai pecah berderai.
“Aku tak butuh bantuanmu!” Melotot tajam.
Deg! Sekretaris Dewa terkejut, Wajah Satria yang mulus seperti pantat bayi itu kini di penuhi dengan luka bernanah. Rahang, dagu, dan di bawah hidungnya. Hilang sudah rupa Baby face itu.
“Apa kau ingin membunuhku?!” Berdiri mengambil sekotak tisu. Menghapus nanah dan darah yang keluar dari wajah itu.
“Minum!” ucapnya lagi. Entah berbicara pada siapa.
Sekretaris Dewa mengambilkan segelas air minum. Satria meminumnya, lalu membanting gelas kosong itu ke dinding.
“Brengs*k! Bagaimana aku bisa bertemu dengan Kakak, kalau wajahku hancur seperti ini. Si*lan! Ini semua gara-gara kau!” tudingnya.
Menarik banyak tisu, menggosok luka itu dengan kesal. “Tuan Muda, jangan. Nanti tambah parah.” cegah Sekretaris Dewa.
“Diam kau!” Melempar Dewa dengan tisu kotor yang telah ia hapuskan kewajahnya tadi.
“Maaf.” Menunduk.
Sekretaris Dewa hanya bisa mengatakan maaf dengan wajah tertunduk berkali-kali. Satria melemparnya dengan tisu kotor, sampai sekotak tisu habis.
Sekretaris Dewa mengambilkan kembali tisu di dalam laci setelah melihat tisu itu di habiskan Satria. Meletakkannya di depan pemuda itu.
Satria mengambil bantal, lalu melemparkan ke tubuh Sekretaris Dewa. “Si*lan kau!” maki Satria lagi.
Sekretaris Dewa hanya berdiri, tak mengelak sedikitpun. Keningnya terasa ngilu dan berdenyut. Suasana kamar benar-benar mencekam dan sunyi, hingga ke datangan Bi Mona dan Dokter ke dalam kamarnya.
**
“Hei, Anak nakal!” seru Nurbaya, Ia menarik selimut Satria.
“Kau kenapa? Kau demam? Kau tidak mau di periksa ya? Kau malas minum obat?” tanya Nurbaya.
“Dasar Anak Kecil cengeng, berobat saja gak mau, ngaku-ngaku jagoan, sok gaya.”
“Gak usah ajak aku menikah, aku gak mau menikah sama anak kecil!” ciloteh Nurbaya.
Perkataan Nurbaya membuat Satria membuka selimutnya, lalu bertanya dengan antusias.
“Jadi, Kakak mau menikah denganku?” tanyanya dengan semangat, ia telah membuka selimut yang membalut tubuh dan wajahnya tadi.
“Eh, wajahmu kenapa bocah?” tanya Nurbaya kaget.
“Wa...??!!!” Ia menghentikan ucapannya, kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Keluar!!!” usirnya.
“Aku bilang, kalian semua keluar!” teriaknya dari dalam selimut.
“Keluaaaaaaaarr!!!” pekiknya sekali lagi, karena tidak mendengar langkah siapapun keluar.
“Baiklah, Tuan Muda. Saya akan keluar, resepnya sudah saya siapkan, jangan lupa di minum obatnya dan jauhi pantangannya.” Lalu Dokter keluar.
Tadi ia sempat merasa lega, saat melihat Satria begitu bersemangat bertemu dengan Nurbaya. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sebentar, nyata nya mereka semua di usir keluar.
“Permisi, Tuan Muda.” ucap Sekretaris Dewa dan Bi Mona. Mereka berjalan keluar.
Sedangkan Nurbaya masih duduk di tepi ranjang, menatap manusia yang bergelung dalam selimut itu.
Dokter langsung di sambut dengan pertanyaan oleh Arnel dan Aira, mereka sangat khawatir. “Tuan Muda baik-baik saja, Tuan, Nyonya. Tuan Muda hanya salah memakai obat, saya sudah memberikan resepnya, mudah-mudahan dalam seminggu ini sudah sembuh.” jawab Dokter itu menenangkan Arnel dan Aira.
“Oi, Anak Kecik Nakal!” Nurbaya menarik-narik selimut.
“Pergi!” usir Satria dibalik selimut.
“Males!” jawab Nurbaya.
Satria diam. Masih memegangi selimut dengan kuat.
“Dasar anak kecil!” ejek Nurbaya.
“Lemah!”
“Anak kecil lemah!” Nurbaya menarik kuat selimut itu sampai terbuka.
“Lemah!” Sebuah acungan jari tengah di hadiahi Nurbaya di depan wajahnya saat selimut terbuka.
Matanya terbelalak melihat jari tengah itu, lalu tersenyum, hilang sudah malu yang di deritanya sejak tadi, gara-gara melihat jari tengah Nurbaya.