NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Suasana di ruang perawatan itu terasa dingin dan berbau antiseptik.

Rani terbaring dengan kepala yang masih diperban dan tangan kanan yang kini dibungkus gips putih yang berat.

Meski kondisinya cukup parah, sisa-sisa efek obat bius atau mungkin guncangan di kepalanya membuat kesadarannya agak terganggu.

Haji Husein dan Umi Siti duduk dengan wajah cemas di sisi tempat tidur.

Tak lama kemudian, rombongan anak motor masuk.

"Woi, Ran! Gila, lu hampir bikin kita jantungan di sirkuit!" seru Galang yang masuk paling depan.

Rani menoleh, matanya berbinar melihat teman-temannya.

Ia tersenyum lebar, meski wajahnya pucat. Namun, pandangannya kemudian beralih ke sosok pria jangkung yang berdiri diam di sudut ruangan dengan kemeja rapi dan tatapan yang sangat dalam.

"Abi, dia siapa? Teman Abi? Pencari sumbangan ya? Kenapa wajahnya menyebalkan sekali seperti itu, sih?" tanya Rani sambil menunjuk ke arah Yudiz dengan tangan kirinya yang bebas.

Haji Husein menghela napas panjang, menatap Yudiz dengan perasaan tidak enak.

"Rani, jangan begitu. Dia itu Yudiz, suami kamu."

Rani langsung tertawa terbahak-bahak sampai dadanya terasa sesak.

"Abi! Abi ini lucu banget kalau bercanda! Masa aku nikah sama modelan panitia zakat begini?"

Rani kemudian meraih tangan Galang yang berdiri di dekatnya.

"Abi, ini lho Mario ada di sini." ucap Rani sambil menggenggam tangan Galang erat.

Ia tampak bingung dan mengira Galang adalah 'Mario', entah siapa yang ia maksud dalam ingatannya yang kacau.

Galang hanya tersenyum tipis, wajahnya memerah karena salah tingkah sekaligus takut melihat tatapan Yudiz yang seolah bisa melubangi tembok.

"Eh, Ran. Gue Galang. Bukan Mario. Lu istirahat dulu deh, jangan banyak ketawa," ucap Galang sambil perlahan melepaskan tangannya.

"Ya sudah, Rani. Kamu harus banyak istirahat. Teman-temanmu biar pulang dulu ya," ucap Umi Siti mencoba menenangkan.

Setelah Galang dan anak-anak motor pamit, suasana menjadi hening.

Haji Husein dan Umi Siti yang merasa lelah juga memutuskan untuk pulang sebentar mengambil pakaian ganti, meninggalkan pasangan baru itu hanya berdua.

Pintu tertutup rapat dan Yudiz melangkah mendekat, berdiri tepat di samping ranjang Rani.

Matanya tetap tenang, namun ada luka yang tersembunyi di balik ketenangannya.

Rani menatapnya dengan tatapan sinis, sama sekali tidak mengingat momen-momen manis di supermarket atau saat Yudiz menyuapinya sup. Baginya sekarang, pria di depannya adalah orang asing yang mengganggu.

"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Rani dengan nada penuh kebencian.

"Masih mau nungguin sumbangan? Atau mau ceramah di sini? Sana pergi, aku nggak punya uang receh!"

Yudiz menarik kursi kayu di samping ranjang, lalu duduk dengan tenang. Ia tidak marah, ia tahu istrinya sedang dalam pengaruh trauma kepala pasca kecelakaan.

"Aku tidak butuh uang recehmu, Rani," jawab Yudiz dengan suara rendah dan sabar. "Aku hanya sedang menunggu istriku pulang."

"Istrimu? Haha! Mimpi kamu ya!" cetus Rani sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.

Yudiz berdiri dengan tenang meski hatinya terasa seperti dihantam badai.

Ia membetulkan letak selimut Rani yang sedikit berantakan, namun Rani justru menepisnya dengan kasar.

Tanpa membalas ucapan tajam istrinya, Yudiz melangkah keluar saat seorang suster memanggilnya.

"Pak Yudiz, Dokter Spesialis Saraf ingin bertemu di ruangannya untuk menjelaskan hasil CT Scan Ibu Rani," ucap suster itu sopan.

Yudiz mengangguk dan mengikuti suster tersebut menuju sebuah ruangan di ujung lorong.

Di dalam, Dokter Gunawan sudah menunggu sambil menatap beberapa lembar film rontgen di papan lampu.

"Silakan duduk, Pak Yudiz," sambut Dokter Gunawan.

Wajahnya tampak serius, yang membuat detak jantung Yudiz semakin tidak beraturan.

"Bagaimana kondisi istri saya, Dok? Kenapa dia seolah tidak mengenali saya dan bicaranya sangat kacau?" tanya Yudiz langsung.

Dokter Gunawan menghela napas, lalu menunjuk ke arah hasil pemindaian kepala Rani.

"Begini, Pak. Benturan saat kecelakaan di sirkuit itu cukup keras. Ada concussion atau guncangan hebat pada otak bagian depan dan samping. Secara medis, Rani mengalami apa yang disebut Post-Traumatic Amnesia atau amnesia pasca-trauma."

Yudiz terdiam sejenak, mencerna istilah itu.

"Apakah itu permanen?"

"Biasanya bersifat sementara, Pak. Namun, yang terjadi pada Rani cukup spesifik. Memorinya seolah 'terkunci' pada masa beberapa bulan atau setahun yang lalu, sebelum dia mengenal Anda atau sebelum pernikahan terjadi. Itulah sebabnya dia menganggap Anda orang asing dan hanya mengenali teman-teman lamanya atau ayahnya," jelas Dokter.

Yudiz memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya.

"Lalu, apa yang harus saya lakukan? Dia bahkan mengusir saya dan memanggil saya 'penyelenggara zakat'."

Dokter Gunawan sedikit tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana.

"Itu respon defensif otaknya. Jangan dipaksa untuk mengingat, Pak. Memaksa memori kembali justru bisa membuat dia stres dan memicu sakit kepala hebat. Yang dia butuhkan sekarang adalah rasa aman. Anda harus membangun kembali kepercayaan itu dari nol, seolah Anda baru mengenalnya."

"Membangun dari nol?" gumam Yudiz.

"Iya. Jangan tersinggung dengan ucapannya. Perlakukan dia dengan sabar. Ingatan itu akan kembali perlahan seiring dengan meredanya pembengkakan di jaringan otaknya. Namun, untuk saat ini, Anda adalah 'orang asing' baginya."

Yudiz keluar dari ruangan dokter dengan langkah yang terasa berat.

Ia berhenti di depan pintu kamar Rani, mengintip dari kaca kecil di pintu.

Di dalam ruang perawatan, Rani tampak sedang berusaha meraih segelas air di atas meja dengan tangan kirinya yang gemetar, namun gelas itu justru tergeser menjauh.

Yudiz menarik napas panjang, merapikan kemejanya, dan memasang senyum paling tulus yang ia miliki.

Ia tidak akan menyerah. Jika Tuhan memberinya kesempatan untuk "berkenalan" lagi dengan Rani, maka ia akan melakukannya dengan lebih baik kali ini.

Ia membuka pintu kamar perlahan dan masuk kedalam.

"Butuh bantuan, Rani?" tanya Yudiz lembut sambil mendekat ke arah meja.

"Kamu lagi! Kan sudah kubilang, aku nggak ada uang receh! Mau apa lagi?"

Yudiz mengambil gelas itu, lalu menyodorkan sedotan ke arah bibir Rani tanpa terlihat tersinggung.

"Aku tidak butuh uang. Aku hanya orang asing yang kebetulan punya hobi membantu orang keras kepala seperti kamu. Minumlah."

Rani menatap Yudiz dengan curiga, namun rasa haus mengalahkan egonya.

Ia meminum air itu sambil tetap memberikan tatapan tajam.

"Siapa namamu tadi? Yudiz?" tanya Rani setelah selesai minum.

"Iya, Yudiz."

"Nama yang bagus untuk seorang pencari sumbangan," celetuk Rani ketus.

Yudiz terkekeh pelan. "Terima kasih atas pujiannya, Rani."

Rani menyandarkan kepalanya di bantal, wajahnya yang pucat terlihat sangat angkuh di mata siapa pun yang tidak mengenalnya. Namun, bagi Yudiz, tatapan itu hanyalah tameng untuk menutupi rasa takut dan kebingungan istrinya.

"Pulanglah ke rumahmu! Mungkin istri dan anakmu sudah menunggumu, Tuan Sumbangan. Jangan sampai mereka sedih karena kamu kelamaan menunggu orang asing di rumah sakit."

Yudiz terdiam sejenak. Kata-kata "istri dan anakmu" terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya. Istriku ada di depanku, Rani, batinnya perih. Namun, ia teringat pesan Dokter Gunawan: jangan memaksa memori itu kembali.

Yudiz meletakkan kembali gelas itu di atas nakas dengan sangat pelan, seolah tidak ingin memecah kesunyian yang rapuh di antara mereka.

"Istriku memang sedang menungguku, Rani," jawab Yudiz tenang, matanya menatap tepat ke manik mata Rani yang tampak goyah sesaat.

"Tapi dia sedang sakit, dan dia sedang butuh ditemani, meskipun dia sendiri belum menyadari kehadiranku."

Rani mengernyitkan keningnya, tampak berpikir keras namun segera menyerah karena kepalanya terasa berdenyut nyeri.

"Hih! Omonganmu puitis sekali, persis kayak bapak-bapak yang mau kampanye. Geli aku dengarnya."

Yudiz tidak membalas hinaan itu. Ia justru mengambil sebuah jeruk dari keranjang buah di meja, lalu mulai mengupasnya dengan rapi.

Ia membuang serat-serat putihnya satu per satu dengan sabar.

"Sana pergi! Aku serius!" bentak Rani lagi, meski suaranya mulai melemah karena kantuk yang menyerang akibat pengaruh obat.

"Aku akan pergi setelah kamu menghabiskan jeruk ini dan tertidur," ujar Yudiz sambil menyodorkan sepotong jeruk ke arah tangan kiri Rani.

"Anggap saja ini 'uang kembalian' dari Tuhan karena kamu sudah membiarkanku membantumu minum tadi."

Rani menatap potongan jeruk itu, lalu menatap Yudiz.

Entah mengapa, ada sesuatu di nada bicara pria ini yang membuatnya merasa aman.

Sebuah perasaan familiar yang tertimbun jauh di bawah reruntuhan ingatannya.

"Kamu ini aneh ya," gumam Rani sambil mengambil jeruk itu dan memasukkannya ke mulut.

"Terserah kamu saja lah. Tapi jangan harap aku bakal luluh sama rayuan gombal ala-ala panitia zakat."

Rani mengunyah jeruk itu dengan malas, hingga perlahan matanya mulai memberat.

Beberapa menit kemudian, napasnya mulai teratur. Ia tertidur dengan posisi kepala sedikit miring.

Yudiz bangkit dari kursinya dan justru mengambil selimut cadangan di lemari rumah sakit, lalu membentangkannya di sofa kecil di sudut ruangan.

Ia mengambil ponselnya, mengirim pesan singkat kepada Lilis di pondok.

'Lilis, tolong sampaikan pada Abi dan Umi, Rani mengalami amnesia sementara. Dia belum mengenalku. Aku akan menetap di rumah sakit sampai dia benar-benar pulih. Mohon doanya.'

Setelah mengirim pesan, Yudiz duduk di sofa, menatap sosok istrinya yang kini tampak damai dalam tidur.

"Selamat malam, Rani," bisik Yudiz ke arah kekosongan.

"Mungkin hari ini aku orang asing bagimu. Tapi besok, aku akan menjadi alasanmu untuk ingin mengingat kembali."

1
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!