NovelToon NovelToon
JATUH UNTUK BANGKIT

JATUH UNTUK BANGKIT

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Terlarang / Pengganti / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Romansa / Tamat
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Elang Alghifari, CEO termuda yang sukses, dijebak oleh sahabat dan calon istrinya sendiri. Dalam semalam, ia kehilangan segalanya—perusahaan, reputasi, kebebasan. Tiga tahun di penjara mengubahnya dari pemimpin visioner menjadi pria yang hidup untuk satu tujuan: pembalasan.
Namun di balik jeruji besi, ia bertemu Farrel—mentor yang mengajarkan bahwa dendam adalah seni, bukan emosi. Setelah bebas, Elang kabur ke Pangalengan dan bertemu Anya Gabrielle, gadis sederhana yang mengajarkan arti cinta tulus dan iman yang telah lama ia lupakan.
Dengan identitas baru, Elang kembali ke Jakarta untuk merebut kembali segalanya. Tapi semakin dalam ia tenggelam dalam dendam, semakin jauh ia dari kemanusiaannya. Di antara rencana pembalasan yang sempurna dan cinta yang menyelamatkan, Elang harus memilih: menjadi monster yang mengalahkan musuh, atau manusia yang memenangkan hidupnya kembali.
Jatuh untuk Bangkit adalah kisah epik tentang pengkhianatan, dendam, cinta,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: MALAM KEHANCURAN

#

Kristal chandelier di langit-langit Hotel Mulia memantulkan cahaya seperti bintang yang terjebak dalam sangkar emas. Elang Alghifari berdiri di atas panggung, setelan Tom Ford hitamnya membungkus tubuh atletis yang dipupuk dari rutinitas gym pagi setiap hari—rutinitas yang tak pernah ia lewatkan, bahkan saat dunia bisnis menuntutnya bekerja 18 jam sehari. Lima ratus pasang mata menatapnya dengan campuran kagum dan iri. Ada CEO konglomerat yang bisnisnya warisan keluarga, ada menteri muda yang karier politiknya dibangun dari koneksi, ada pengusaha turun-temurun yang tak pernah merasakan membangun dari nol.

Tapi Elang? Elang adalah legenda versi berbeda.

Tujuh tahun. Hanya perlu tujuh tahun bagi anak yatim piatu dari Bekasi itu untuk mengubah kantor kontrakan dua kamar menjadi PT Garuda Investama—perusahaan venture capital yang namanya disebut dengan nada hormat di setiap ruang rapat elite Jakarta. Tujuh tahun untuk mengubah mimpi menjadi empire. Tujuh tahun untuk membuktikan bahwa nama keluarga bukan segalanya.

"Malam ini,"

suara Elang bergema lewat mikrofon, mantap namun tak berlebihan—seperti biasanya, seperti pria yang tak perlu berteriak untuk didengar, "kita tidak sekadar merayakan merger. Kita merayakan visi. Visi bahwa Indonesia bisa menghasilkan unicorn-unicorn baru, bahwa anak-anak negeri ini tidak perlu selalu menjadi karyawan, tapi bisa menjadi pencipta lapangan kerja."

Tepuk tangan riuh. Kamera wartawan ekonomi berkelap-kelip. Elang tersenyum tipis—senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun, senyum yang cukup hangat untuk menarik kepercayaan, tapi cukup terukur untuk menunjukkan profesionalisme. Matanya menyapu ruangan, mencari sosok yang sejak tadi membuatnya sedikit lebih gugup dari biasanya.

Zara.

Ia berdiri di dekat meja nomor tiga, gaun midnight blue-nya mengalir seperti air di tubuh rampingnya. Rambut hitam panjangnya ditata ke satu sisi, memperlihatkan leher jenjang yang dulu sering Elang cium di pagi hari sebelum berangkat kerja. Wanita yang sudah tiga tahun menjadi kekasihnya, yang mengerti ambisinya, yang menemaninya saat ia masih menggunakan mobil bekas dan makan mi instan untuk menekan biaya operasional. Wanita yang kemarin malam, di atas ranjang apartemen mereka, berbisik, "Aku bangga padamu, Elang. Apapun yang terjadi, aku akan tetap di sisimu."

Mata mereka bertemu. Zara tersenyum—tapi ada yang aneh. Senyum itu terlalu... sempurna. Seperti senyum yang sudah dilatih di depan cermin. Seperti senyum yang tidak mencapai mata.

Elang menggelengkan kepala pelan, mengusir pikiran paranoid itu. Mungkin ia terlalu lelah. Tiga bulan negosiasi merger dengan SilverStone Capital dari Singapura telah menguras energinya. Tiga bulan presentasi, audit, perjanjian, revisi. Tapi malam ini semuanya berakhir. Malam ini ia resmi menjadi CEO dari perusahaan gabungan senilai 2 triliun rupiah.

"Mari kita bersulang,"

Elang mengangkat gelas champagne Dom Pérignon yang dingin di tangannya, "untuk masa depan yang lebih cerah!"

"Untuk masa depan!"

Serempak lima ratus suara menggema.

Kristal beradu dengan kristal. Champagne mengalir seperti sungai emas. Musik orkestra mulai memainkan alunan lembut. Elang turun dari panggung, disambut oleh Brian Mahendra—sahabatnya sejak kuliah, co-founder Garuda Investama, CFO yang jenius dalam menyulap angka-angka menjadi profit. Pria yang dulu tinggal satu kost dengannya, yang sama-sama pernah hanya punya satu piring dan dua sendok untuk berdua.

"Kita berhasil, bro,"

Brian memeluknya erat. Tapi pelukan itu terasa kaku. Atau mungkin, lagi-lagi, Elang yang terlalu sensitif malam ini.

"Berkat kita berdua," Elang menepuk punggung Brian. "Tanpa lo, gue bukan apa-apa."

Brian tersenyum—senyum yang sama seperti senyum Zara tadi. Sempurna tapi hampa. "Lo terlalu merendah, Elang. Lo kan otak di balik semua ini."

Sebelum Elang bisa menjawab, Mr. Lim dari SilverStone menghampiri mereka, investor tua dengan kacamata bulat dan setelan yang lebih mahal dari mobil sport. Mereka berbincang tentang proyeksi kuartal depan, tentang startup AI yang potensial, tentang ekspansi ke Vietnam. Percakapan berjalan lancar. Terlalu lancar. Seperti naskah yang sudah dihafal.

Lalu, pintu ballroom terbanting terbuka.

Suara debaman keras memecah musik orkestra. Sepuluh petugas berseragam polisi menyerbu masuk dengan langkah teratur seperti mesin perang. Sepatu boots mereka menghentak lantai marmer dengan irama yang membuat jantung Elang berhenti seketika. Musik terhenti. Gelas-gelas champagne membeku di udara. Lima ratus napas tertahan bersamaan.

Seorang komisaris dengan medali berjejer di dada melangkah maju, wajahnya keras seperti pahatan batu. "Elang Alghifari?"

Nama itu bergema di ruangan sunyi seperti vonis kematian.

Elang merasa dunia berputar pelan, seperti ia tiba-tiba berada di luar tubuhnya sendiri, menonton adegan ini dari sudut pandang orang ketiga. "Ya?" Suaranya keluar lebih serak dari yang ia inginkan.

"Anda ditangkap atas tuduhan korupsi dan penggelapan dana investor sebesar 500 miliar rupiah."

Kata-kata itu tidak masuk akal. Elang ingin tertawa, karena ini pasti lelucon. Tapi tidak ada yang tertawa. Lima ratus pasang mata menatapnya dengan tatapan yang berubah—dari kagum menjadi jijik, dari hormat menjadi curiga, dari iri menjadi puas. Mereka semua, dalam sekejap, menjadi hakim yang telah memutuskan hukumannya sebelum persidangan dimulai.

"Ini salah paham," Elang berkata, tapi suaranya terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri. "Saya tidak—"

"BUKTI!" Suara komisaris memotong dengan keras.

Layar proyektor besar di belakang panggung—layar yang tadi menampilkan logo Garuda Investama yang megah—tiba-tiba menyala. Dokumen muncul. Transaksi offshore. Transfer ke rekening Cayman Islands. Faktur palsu. Laporan audit yang dimanipulasi.

Dan di setiap dokumen itu, jelas sekali, ada tanda tangan Elang.

Tanda tangannya. Loop "E" yang khas, garis tegas di "A", titik di "i" yang selalu ia buat berbentuk bintang kecil—kebiasaan konyol sejak SMA. Semuanya sempurna. Semuanya asli.

Tapi Elang tidak pernah menandatangani dokumen-dokumen itu.

"Tidak," bisiknya, kepala berputar. "Tidak, ini tidak mungkin. Ini bukan aku. Aku tidak pernah—"

Ruangan mulai berputar. Wajah-wajah mengabur menjadi satu. Suara-suara menjadi gemuruh samar. Elang mencari Brian, mencari sahabatnya, mencari orang yang pasti tahu ini semua salah. Mencari orang yang akan membantunya menjelaskan.

Brian melangkah maju.

Akhirnya, pikir Elang, lega mengaliri dadanya sekilas. Akhirnya seseorang yang—

"Maaf, Elang."

Suara Brian terdengar seperti peluru yang ditembakkan dari jarak dekat.

"Sebagai CFO, saya harus mengutamakan keselamatan perusahaan. Saya sudah mencoba menutupi... kesalahan Anda. Tapi buktinya terlalu banyak. Perusahaan harus diselamatkan."

Kata-kata itu tidak masuk ke otak Elang dengan benar. Otaknya menolak memproses informasi itu. Ini Brian. Brian yang dulu tidur di lantai karena memberikan kasur untuk Elang yang sakit flu berat. Brian yang pernah menangis di pundaknya saat ayahnya meninggal. Brian yang bersumpah, dengan tangan di dada, bahwa mereka akan bersama sampai Garuda Investama menjadi kebanggaan Indonesia.

"Brian..." Suara Elang pecah. "Bro, ini aku. Ini aku. Kita... kita bersama dari awal. Lo tahu aku nggak—"

"Aku tahu siapa kamu, Elang." Mata Brian dingin. Mata orang asing. "Aku tahu persis."

Lalu, seperti pisau yang ditusukkan untuk kedua kalinya ke dada yang sama, Zara muncul.

Ia melangkah dengan anggun, gaun biru itu berkibar lembut. Tapi ia tidak melangkah ke arah Elang. Ia melangkah ke samping Brian. Tangannya—tangan yang tadi malam menggenggam tangan Elang sambil berjanji setia—sekarang meraih tangan Brian. Jemari mereka bertautan dengan akrab. Dengan intim. Dengan familiar yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dibangun.

"Maaf, Elang," suara Zara lembut, tapi ada kepuasan tersembunyi di matanya. Kepuasan yang hanya orang yang pernah sangat dekat yang bisa menangkap. "Aku butuh pria yang menang. Dan kamu... kamu sudah kalah."

Dunia runtuh.

Bukan metafora. Bukan kiasan. Dunia Elang benar-benar runtuh dalam sekejap. Tujuh tahun kerja keras, tujuh tahun membangun kepercayaan, tujuh tahun membangun cinta—semuanya menguap seperti asap. Tidak ada yang tersisa. Hanya abu. Hanya kehampaan.

Borgol dingin melingkari pergelangan tangannya. Logam menggigit kulit. Dua petugas menyeretnya keluar, melewati lautan tatapan jijik dan bisikan penghakiman. Flashlight kamera menyilaukan mata. Wartawan berteriak pertanyaan yang tidak ia dengar karena telinganya berdenging keras.

Mobil tahanan. Besi dingin. Bau karat dan keringat. Pintu ditutup dengan debaman keras yang terdengar seperti pintu makam.

Mesin menyala. Mobil melaju membelah malam Jakarta yang gemerlap—kota yang tadi pagi menyambutnya sebagai raja, sekarang memuntahkannya sebagai sampah.

Di luar, adzan Isya berkumandang dari masjid di sudut jalan. Suara yang sudah tidak Elang dengar dengan serius sejak lama. Suara yang dulu, ketika ibunya masih hidup, selalu ia dengar sambil ibunya mengusap kepalanya lembut, berkata, "Elang, shalat adalah tiang agama. Jatuh itu biasa, tapi jangan lupa jalan pulang ke rumah."

Ibu.

Air mata pertama mengalir. Panas. Membakar pipi. Elang menunduk, berusaha menyembunyikannya, tapi di dalam kegelapan mobil tahanan, tidak ada yang peduli.

Seorang tahanan tua duduk di sampingnya. Jenggot putih tipis, mata sayu tapi tajam. Ia melirik Elang sekilas, lalu berbisik pelan, suara serak tapi entah kenapa menenangkan:

"Jatuh itu bagian dari bangkit, nak. Tapi lo harus pilih: mati sebagai orang yang dihancurkan, atau bangkit jadi orang yang mereka sesali pernah menghancurkan."

Elang mengangkat kepala. Matanya bertemu mata orang tua itu. Di sana, ia melihat sesuatu—pengertian, mungkin. Atau pengalaman. Atau sesuatu yang lebih dalam dari itu.

"Gue udah kalah," bisik Elang parau. "Gue udah nggak punya apa-apa."

Orang tua itu tersenyum tipis. Senyum yang pernah melihat banyak kegelapan tapi tetap memilih untuk menemukan cahaya.

"Lo masih punya nyawa. Lo masih punya pilihan. Dan lo masih punya Tuhan—meskipun lo mungkin sudah lama melupakan-Nya."

Mobil berbelok. Gerbang penjara Cipinang menjulang di kegelapan seperti mulut monster yang siap menelan. Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak borgol itu melingkari tangannya, Elang merasa ada sesuatu yang bergetar di dada—bukan harapan, belum. Tapi mungkin... embrio dari sesuatu yang bisa menjadi harapan.

Jika ia memilih untuk tidak mati.

Jika ia memilih untuk bangkit.

---

**[Bersambung ke Bab 2]**

1
Rizky Fathur
cepat bikin di season 2 elang kejam Thor kepada arkan Thor bikin alur ceritanya malah Arkan yg jatuh cinta pada anaknya elang bikin elang tidak merestui mereka
Rizky Fathur
lain kali bikin elang kejam kepada musuhnya Thor
Rizky Fathur
bikin elang kejam Thor jangan maafkan Brian
Rizky Fathur
cepat bongkar kebusukan Brian lainya Thor agar Brian bisa di hukum mati Thor
Dri Andri: 35 tahun dengan penjagaan ketat dan sesuai hukum yang berlaku aja
total 1 replies
Rizky Fathur
cepat hukum mati Brian Thor
Rizky Fathur
cepat bikin elang kejam Thor tuntut Brian hukuman mati Thor
Rizky Fathur
thor bikin sifat elang kejam dan sadis kepada musuh musuhnya Thor
yuningsih titin
semangat lang
Dri Andri: semangat juga buat kaka makasih kehadiran nya
total 1 replies
Rizky Fathur
cepat bikin elang balas dendam lah Thor kepada brain Dan teman temanya brian yg menjebak elang itu dengan cara paling kejam Thor
Rizky Fathur
cepat tangkap Jefri Thor
yuningsih titin
kasihan elang, semangat lang
Dri Andri: makasih dah hadir
total 1 replies
yuningsih titin
seru ceritanya..
Dri Andri: makasih kak
total 1 replies
Rizky Fathur
cepat Thor bikin Brian di pukulin di selnya Thor bikin elang menemukan lagi kejahatan brain Thor bikin brain di sidang lagi bikin Brian di hukum mati Thor hahahaha
Rizky Fathur
Thor jangan bikin elang maafkan Brian Thor ambil kembali perusuhan elang Thor bikin elang ancam akan hancurkan keluarga Brian bikin Brian memohon ampunan jangan libatkan keluarganya bikin elang tidak perduli Thor bikin elang kejam kepada Brian Thor bersihkan nama baiknya elang Thor
Dri Andri
dan juga kan penulis yang sama jadi ada ciri khas nya
ceuceu
Berasa ky baca kisah merendah untuk melangit.
Dri Andri: hampir sih bedanya ini tentang penghianatan sahabat yang dia angap saudara...


bayangin sahabat yang dulu susah bareng makan bareng janji sehidup semati

tapi di belakang busuk
fitnah sahabat nya demi reputasi demi kekayaan
nikahi calon istri sahabat sendiri

dan goblok nya si cewek itu mau dan malam memilih yang menang walaupun salah

kalo di perdalam dari awal si cewek tuh ketagihan sama Brian (hubungan ranjang)
sedangkan Elang jangankan berhubungan ciuman aja di anggap super
total 1 replies
Rizky Fathur
cepat hancurkan Brian sehancur hancur Thor kalau perlu rebut kembali hartanya elang Dan Ambil perusahaan Brian bikin elang tuntut brain dengan pasal berat Thor bikin Brian di hukum mati Thor bikin Brian di sini mengakui kejahatan yang memfitnah elang bikin Brian memohon ampunan jangan libatkan keluarganya bikin Brian membalas tidak perduli bikin elang tertawa jahat Thor bikin Brian ketakutan karena keluarganya Takut di Sakitin elang hahahaha
Rizky Fathur
cepat tuntaskan dendamnya kepada Brian dengan cara paling kejam Thor jangan maafkan Brian Thor bikin brian malu Thor hahahaha
Rizky Fathur
lanjut update lagi Thor ceritanya seru cepat di bab selanjutnya bongkar kebusukan Brian ke media bersihkan nama elang Thor bikin Brian memohon ampunan kepada elang jangan libatkan keluarganya bikin di sini elang kejam Dan sadis Thor tidak perduli dengan keluarganya Brian Thor
Rizky Fathur
cepat bantai Brian dengan cara paling kejam Thor ambil hartanya dan bongkar kebusukan ke media Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!