Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebangkitan kaisar kuno
Dengan Bilah Kekosongan di tangannya, Shang Zhi bukan lagi sekadar pemuda yang melarikan diriia adalah awal dari kehancuran bagi musuh-musuhnya...
Gurun Kematian bukan sekadar bentangan alam yang gersang; ia adalah sebuah entitas hidup yang haus akan nyawa, sebuah rahim kuno yang hanya melahirkan kehancuran atau dewa. Di sini, matahari tidak memberikan kehangatan, melainkan panggangan yang mampu menguapkan sisa-sisa air mata dalam hitungan detik. Angin yang menderu di celah-celah bukit pasir tidak membawa kesegaran, melainkan debu kristal silika serbuk kaca alam yang cukup tajam untuk mengoyak paru-paru manusia biasa hingga mereka mati dalam genangan darah sendiri.
Di jantung neraka berpasir inilah, Shang Zhi telah menghabiskan empat tahun terakhirnya. Bagi dunia luar yang sombong dan penuh intrik, dia hanyalah nama yang sudah dihapus dari silsilah, seorang pecundang yang dibuang untuk membusuk tanpa nisan. Namun, bagi pasir-pasir yang memerah ini, dia adalah sesuatu yang lain. Dia adalah tuan baru yang sedang ditempa di dalam tungku penderitaan, sebuah pedang yang diasah dengan batu asahan takdir.
Matahari menggantung rendah, berwarna merah darah di balik tabir badai pasir yang tak kunjung usai, seolah-olah langit sendiri sedang berdarah menyaksikan apa yang akan lahir dari perut bumi. Shang Zhi duduk bersila dengan gagah di atas puncak tulang binatang purba raksasa kerangka seekor naga tanah yang telah punah ribuan tahun lalu. Area itu adalah titik pusat di mana energi alam begitu liar dan ganas hingga tanah di bawahnya menjadi hitam legam dan hangus permanen.
Tubuhnya tidak lagi dibalut jubah sutra biru langit milik murid Sekte Tian Long yang rapi dan patuh. Kini, ia hanya mengenakan celana rami yang compang-camping, compang-camping bukan karena kemiskinan, melainkan karena setiap serat kainnya telah hancur oleh tekanan energi yang keluar dari pori-porinya. Dadanya yang telanjang memperlihatkan tubuh yang dipenuhi guratan otot yang keras dan presisi, layaknya pahatan batu granit yang dikerjakan oleh tangan pemahat dewa selama berabad-abad. Setiap luka lama yang ia bawa dari Sekte Tian Long kini tertutup oleh kalus kekuasaan.
Di depannya, Bilah Kekosongan, pedang tua yang tampak berkarat dan tak berharga, tertancap diam di pasir. Namun, di bawah pengaruh meditasi Shang Zhi, pedang itu bukan lagi besi tua. Ia mulai memancarkan denyut cahaya ungu gelap yang berdegup secara ritmis, sinkron sempurna dengan detak jantung Shang Zhi yang lambat namun bertenaga.
Di dalam lautan spiritualnya sebuah dimensi luas yang menyerupai galaksi yang tenang namun dalam sebuah pemandangan mengerikan sedang terjadi. Sebuah segel raksasa berbentuk naga purba yang melilit pilar-pilar kesadaran mulai menunjukkan keretakan yang masif. Cahaya keemasan menyembur dari celah-celah tersebut, membawa memori dan kekuatan yang seharusnya terkubur selamanya.
Ini adalah Segel Ketiga dari ingatan Ancient Emperor, entitas agung yang jiwanya kini telah menyatu secara permanen dengan esensi kehidupan Shang Zhi.
"Kau merasakannya, bocah?" suara itu bergema, bukan di telinga, melainkan di setiap atom keberadaan Shang Zhi. Suara itu begitu berat dan penuh otoritas hingga sanggup meruntuhkan gunung jika dilepaskan di dunia nyata. "Rasa sakit dari pengkhianatan adalah bahan bakar terbaik untuk api kultivasi. Mereka memberimu Gurun Kematian sebagai kuburan karena mereka takut pada bayanganmu. Namun mereka lupa satu hal... aku adalah penguasa dari segala penjuru dunia ini, sementara kau dan aku ada satu kesatuan yang di pisahkan dengan kesadaran tersendiri."
Shang Zhi tidak menjawab dengan kata-kata. Bibirnya terkatup rapat, rahangnya mengunci dengan keras. Ia memfokuskan seluruh energinya untuk menarik Qi liar yang berada di atmosfer gurun. Qi di sini adalah racun ia mengandung esensi api yang merusak dan partikel pasir yang tidak stabil. Kebanyakan kultivator akan meledak dari dalam jika mencoba menyerapnya.
Namun, dengan teknik Sutra Pemurnian Langit Abadi, Shang Zhi melakukan hal yang mustahil. Ia membuka setiap meridiannya dan menelan energi beracun itu bulat-bulat. Ia membiarkan api itu membakar saluran energinya, memaksanya melewati meridian tubuhnya yang kini lebih lebar dan kuat dari baja purba.
Setiap inci kulitnya memanas hingga memerah membara. Keringat yang mencoba menetes dari dahinya langsung menguap menjadi uap putih sebelum sempat menyentuh tanah. Di dalam dadanya, Dantian miliknya berputar dengan kecepatan yang mengerikan, sebuah pusaran hitam-emas yang memurnikan energi jahat menjadi esensi murni berwarna emas gelap yang berkilauan.
Ketenangan meditasi yang agung itu tiba-tiba terganggu. Tanah di bawah kerangka naga purba bergetar hebat, seolah-olah ada gempa bumi yang sedang terjadi di bawah sana. Pasir di sekitar Shang Zhi mulai berputar, membentuk pusaran raksasa yang menelan segala sesuatu yang ada di permukaannya.
Dari kedalaman ribuan meter di bawah kerak bumi, sebuah ancaman muncul. Seekor Skorpion Kerak Bumi tingkat 7. Makhluk itu muncul dengan kecepatan yang membelah bumi, tubuhnya setinggi dua lantai rumah. Cangkangnya berwarna hitam obsidian yang mengkilap, sebuah zirah alami yang kebal terhadap serangan senjata tingkat rendah bahkan menengah. Ekornya yang panjang melengkung di udara, dengan ujung sengat yang meneteskan cairan hijau neon bisa yang mampu melenyapkan seluruh kota jika jatuh ke sumber air.
Makhluk itu mengeluarkan raungan ganas yang menggetarkan udara, menciptakan gelombang suara yang mampu memecahkan gendang telinga manusia. Ia merasakan keberadaan makhluk kecil yang begitu berani mencuri energi murni di wilayah kekuasaannya selama ribuan tahun.
Tepat saat capit raksasa itu hendak menjepit tubuhnya, Shang Zhi membuka matanya.
Tidak ada ketakutan. Tidak ada kepanikan. Hanya ada kehampaan yang dingin dan dalam, seperti sumur yang tak berdasar. Pupil matanya tidak lagi hitam pekat, melainkan memiliki lingkaran emas yang bersinar redup tanda mutlak bahwa ia telah melampaui batas kemanusiaan dan menyentuh ranah Life and Death (Kehidupan dan Kematian) tahap akhir.
Di usianya yang sangat muda, ia telah mencapai posisi yang bahkan para ketua sekte besar impikan selama ratusan tahun. Ia adalah keajaiban yang tak terbantahkan. Ia adalah bencana yang terencana.
"Aku sedang tidak ingin diganggu," ucap Shang Zhi datar. Suaranya kecil, namun menggema di udara, kata-kata itu mengandung resonansi energi yang membuat sang monster terdiam kaku seolah-olah baru saja dibentak oleh Tuhan.
Monster itu, didorong oleh insting ganasnya, mencoba menerjang sekali lagi. Shang Zhi tidak bergeming. Ia tidak menghunus pedangnya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya secara perlahan ke udara, seolah sedang menyapa langit.
"Teknik Kaisar: Tangan Penekan Surga!"
Tiba-tiba, tekanan atmosfer di atas tulang itu berubah total. Oksigen seolah-olah menghilang, digantikan oleh berat yang tak terhingga. Sebuah bayangan tangan raksasa yang terbentuk dari energi emas gelap muncul dari balik awan debu, menutupi langit seperti gerhana mendadak. Dengan satu gerakan menekan ke bawah yang mantap, tangan itu menghantam sang Skorpion.
BOOM!
Ledakan itu mengirimkan gelombang kejut yang dahsyat, meratakan bukit-bukit pasir di sekitarnya hingga radius satu kilometer dalam sekejap mata. Monster tingkat Bumi yang biasanya membutuhkan satu pasukan jenderal untuk dikalahkan itu hancur seketika. Tubuhnya rata dengan tanah, hancur berkeping-keping hingga hanya menyisakan sebuah Inti Energi (Core) berwarna merah menyala yang terapung-apung di udara, berdenyut seperti jantung yang ketakutan.
Janji Iblis dan Langkah Penakluk
Shang Zhi berdiri dengan anggun. Rambut hitamnya yang panjang menari-nari ditiup angin badai. Ia berjalan dengan tenang menuju Inti Energi tersebut, setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki yang bercahaya di atas pasir yang hangus. Ia meraih inti tersebut dan meremasnya tanpa ragu hingga hancur berkeping-keping, membiarkan energi murni di dalamnya meresap melalui pori-pori tangannya. Luka-luka kecil, bekas goresan kristal silika di tubuhnya, menutup seketika tanpa meninggalkan bekas.
Ia mendekati Bilah Kekosongan dan mencabutnya dari pasir. Dengan satu ayunan ringan yang membelah angin, karat yang selama ini menyelimuti pedang itu rontok sepenuhnya seperti kulit ular yang berganti. Di baliknya, terlihat bilah hitam legam yang tidak memantulkan cahaya, seolah-olah ia memakan cahaya di sekitarnya. Pedang itu haus, dan Shang Zhi bisa merasakannya.
"Enam tahun," gumamnya, suaranya kini seberat logam yang bergesekan. Matanya menatap tajam ke arah utara, menembus ribuan mil jarak menuju Kekaisaran Qian Long dan Sekte Tian Long yang megah namun busuk. "Enam tahun mereka tertawa di atas penderitaan Yun Xi. Enam tahun mereka menganggapku sebagai debu yang bisa mereka injak-injak."
Wajah Yun Xi terlintas di benaknya senyum tulusnya yang kini mungkin telah pudar, tangisannya yang memilukan, ketakutannya saat mereka berdiri di tepi tebing malam itu, dan janjinya untuk tetap bertahan meski dunia runtuh. Rasa rindu itu bukan lagi kelemahan ia bermetamorfosis menjadi tekanan energi yang begitu besar hingga udara di sekitar Shang Zhi mulai memercikkan listrik statis berwarna ungu.
"Yun Jian... Lu Feng... Lu Tian ... kalian mengusirku agar aku mati. Kalian ingin aku menjadi iblis yang kalian takuti dalam cerita rakyat..?" Shang Zhi tersenyum, namun senyum itu lebih menakutkan daripada amarah monster mana pun. "Maka jadilah. Aku akan menjadi iblis yang akan menghantui setiap tarikan napas kalian, yang akan berdiri di ujung ranjang kalian setiap malam."
HAHAHAHA!!!!
Tawanya yang mengerikan di akhiri seringai tajam.
Shang Zhi mulai berjalan meninggalkan reruntuhan tulang purba itu. Ia tidak lagi menggunakan langkah kaki biasa yang lamban. Setiap langkah yang ia ambil seolah-olah melipat ruang dan waktu sebuah teknik tingkat tinggi yang disebut Langkah Pengecil Bumi. Tubuhnya tampak berkedip, berpindah puluhan meter dalam setiap detikan.
Ia tidak akan keluar dari gurun ini sebagai seorang korban yang mencari keadilan. Ia keluar sebagai seorang penakluk yang membawa penghakiman.
Langkah pertamanya bukan langsung menuju rumah atau sekte lamanya. Itu terlalu sederhana. Ia akan menuju Kekaisaran Chi Long, wilayah yang berbatasan langsung dengan gurun ini, sebuah tempat yang liar dan penuh dengan prajurit tangguh. Ia membutuhkan pasukan yang tidak mengenal takut. Ia membutuhkan sumber daya yang mampu mengguncang fondasi benua. Dan yang terpenting, ia membutuhkan dunia tahu bahwa naga yang pernah mereka buang tidak hanya sekadar bertahan hidup ia telah kembali dengan taring yang mampu merobek langit.
Badai pasir yang semula menyerangnya dengan ganas kini seolah-olah memiliki kesadaran. Debu-debu itu menyingkir, menciptakan lorong panjang yang bersih untuknya lewat. Angin gurun yang tadinya menderu penuh ancaman kini berubah menjadi hembusan yang membungkuk hormat pada tuan barunya.
Kebangkitan Sang Kaisar kuno telah dimulai. Sejarah dunia ini, yang selama ini ditulis oleh para pemenang yang curang, akan segera dihapus dan ditulis ulang dengan tinta yang tidak akan pernah pudar: tinta darah para pengkhianat.
...Bersambung......