Alesha Az-Zahra jatuh cinta pada pandangan pertama dengan guru SMA nya yang tampan, setahun memendam perasaan suka pada guru itu akan kah Alesha memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya?
"Hm," jawaban pak Rezel yang singkat padat dan tidak jelas itu membuat Alesha ingin menembaknya dengan serius, menembak dengan pistol, senapan atau sniper kalau perlu.
Mencintai pak Rezel itu melatih kesehatan mental Alesha, selain sikap nya yang galak dan menyebalkan dia juga kalau bicara sangat tidak jelas. Bicara pendek menyebalkan, bicara panjang malah lebih menyebalkan!
Di mata seorang Alfarezel Savian, Alesha adalah seorang gadis yang terlihat sangat mirip dengan seseorang di masalalu nya. Hal itu membuat nya cukup tertarik pada gadis itu, sampai suatu hari gadis itu datang dan menyatakan perasaan pada nya.
Siap mengikuti cerita mereka? Jangan lupa klik favorit terlebih dahulu agar mendapat notifikasi saat update :)
follow akun ig @_lisaautmptri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisaautmptri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu (First Kiss)
Sekitar jam 9 pagi pertandingan di mulai dengan tim putra lebih dulu tampil, Alesha dan tim putri yang sudah berganti dengan seragam tim berbaris di pinggir lapangan untuk
menyemangati Galih sebagai kapten, Dio, Joni, Hendri dan Awan yang sudah mulai
berlarian mengejar bola dari tim lawan. Dio yang memang badan nya tinggi dan besar dengan mudah mengecoh lawan dan memasukkan bola ke dalam ring.
“ Aaaaaa Dio!” teriak Alesha dan teman-teman nya senang.
“ Go warriors go!” teriak mereka memberikan dukungan penuh pada team putra.
“ Dio sayang semangat! I love you hahaha!” teriakan semangat khas Alesha terdengar keras, Dio sampai hilang fokus beberapa saat dan tersenyum pada gadis yang tengah berteriak heboh itu.
“ Bisa gak teriak nya biasa aja, gak malu apa?” tanya Windy jengkel.
“ Terserah!” Alesha menjawab ketus sambil melirik tajam, tidak perduli dengan ucapan Windy yang ada benar nya juga, yang penting Alesha senang!
“ Sayangku semangat ya!” Alesha masih berteriak keras tidak menyadari kehadiran pak Rezel di pinggir lapangan yang menatap nya tajam, pemuda itu terlihat membuang nafas
jengah mendengar Alesha yang terus saja meneriakkan semangat untuk Dio.
Pertandingan berakhir dengan team sekolah mereka unggul beberapa poin, sekarang bergantian dengan team putri yang memasuki area pertandingan. Alesha menatap ngeri tubuh tinggi dan besar tim lawan di hadapan
nya, waah ini sih kalau dia terdorong sedikit saja, bisa melayang tubuh kurus nya.
“ Semangat!” teriak gadis-gadis itu sembari menyatukan telapak tangan lalu menepuk bahu saling memberi dukungan. Dalam situasi seperti ini mereka semua adalah tim dengan
tujuan yang sama yaitu menang, tidak ada lagi musuh atau saingan.
Alesha memberi semangat pada Windy begitu juga dengan gadis itu yang menyemangati
Alesha dengan senyuman.
Pertandingan di mulai, Alesha mulai mendrible bola menghindari lawan nya, gadis itu berlari semangat lalu mencari teman yang berada paling dekat dengan nya untuk mengoper bola. Alesha memberikan bola pada Windy, di terima dengan baik oleh gadis itu lalu
melempar dengan sempurna masuk ke dalam ring.
Mereka sudah unggul beberapa poin dan Alesha berhasil memasukkan bola tiga kali ke dalam ring lawan, gadis itu tengah mendrible bola mencari celah di antara dua tubuh tinggi
besar lawan nya.
Alesha menggiring ke sisi kiri dan siap melompat dan melempar bola, namun gadis itu lebih dulu terjatuh dengan lutut dan siku yang menghantam semen kasar. Peluit dari wasit berbunyi menandakan telah terjadi pelanggaran.
“ Kamu gak papa?” Windy mengulurkan tangan nya membantu Alesha berdiri, namun rasa sakit di lutut nya membuat gadis itu kembali terduduk.
Wasit meminta pertukaran pemain, Dio berlari ke tengah lapangan dan mengangkat tubuh Alesha.
“ Hati-hati maka nya, sakit ya? Ayo ke UKS,” Dio mengeratkan tangan nya memegang punggung dan lutut Alesha lalu membawa nya ke pinggir lapangan.
“ Sakit..,” ringis Alesha manja.
Pak Rezel menghempas botol minum setelah meremuk nya, iris tajam nya masih mengikuti punggung Dio yang menjauh dari lapangan. Pak Rezel mengumpat kesal, lagi-lagi dia kalah cepat dengan Dio.
Pak Rezel sedang berdiri di pinggir lapangan tadi untuk memberi semangat pada pacar nya yang sedang bertanding, pak Rezel seharus nya bertugas sebagai juri lomba puisi, namun karena jadwal nya berbenturan dengan
pertandingan basket,
dia lebih memilih menonton basket dulu dan menyerahkan tugas sebagai juri kepada guru lain. Pak Rezel sudah mau berlari saat melihat
Alesha terjatuh setelah kaki nya di cekal oleh tim lawan, namun sayang nya dia kalah cepat dengan Dio yang segera berlari menghampiri Alesha.
Dio membaringkan Alesha di atas ranjang, ruang UKS sedang sepi karena semua petugas nya sedang ikut menyaksikan pertandingan. Dio membongkar lemari dan mencari kotak P3K untuk membersihkan luka di lutut dan siku Alesha.
“ Biar aku sendiri aja yang obatin,” Alesha merebut kain kasa yang sudah di basahi air hangat oleh Dio.
“ Jangan bandel, kamu diem aja,” Dio melotot kesal lalu menarik tangan Alesha untuk membasuh luka nya, gadis itu akhir nya menurut saja. Sesekali Alesha meringis menahan perih, sampai akhirnya Dio selesai membersihkannya dan menutup dengan perban.
“ Makasih, baik banget kamu,” Alesha tersenyum sembari mencubit pipi Dio yang duduk di hadapan nya.
“ Lain kali hati-hati dong, kalau gini kan aku juga yang repot.” Ujar Dio kesal, namun mata nya menunjukkan kekhawatiran.
“ Haha iya-iya, kamu udah kayak bunda aja cerewet nya. Lebih baik kamu balik, pertandingan kedua sebentar lagi mulai.” Alesha duduk di sisi tempat tidur menghadap Dio.
“ Ya udah aku balik dulu, kamu disini aja istirahat. Paling juga kamu di ganti sama pemain cadangan, nanti selesai main aku bawain makanan.” Dio mengusap rambut Alesha lalu keluar.
“ Semangat ya!” teriak Alesha mengiringi langkah Dio sebelum menutup pintu, setelah pintu tertutup rapat Alesha berusaha menurunkan kaki nya ke lantai.
“ Kenapa lagi Dio sayang?” tanya Alesha tanpa menoleh saat pintu kembali terbuka.
“ Semua laki-laki kamu panggil sayang?” suara yang tak asing membuat Alesha menoleh, pak Rezel mendekat ke arahnya setelah menutup pintu.
“ Kenapa bapak disini?” tanya Alesha ketus, gadis itu memperbaiki posisi duduk nya.
“ Kenapa kamu memanggil dia sayang?” suara pak Rezel terdengar kesal, pemuda itu sudah berdiri di hadapan Alesha.
“ Terserah saya lah, ngapain bapak kesini?”
“ Terserah saya mau ada dimana,” jawab pak Rezel menirukan nada ketus Alesha, gadis itu mendengus kesal lalu bergeser ke samping, pak Rezel ikut menggeser posisi nya ke hadapan Alesha.
“ Awas pak saya mau keluar!” Alesha mendorong pemuda itu menyingkir, namun pak Rezel tak sedikitpun bergerak dari posisi nya.
“ Kamu belum menjawab pertanyaan saya!”
“ Apa?” tanya Alesha kesal sambil mendongak menatap tajam wajah pak Rezel di atas nya.
“ Kenapa kamu memanggil dia sayang?”
“ Kenapa bapak perduli?” Alesha balik bertanya dengan nada yang meninggi.
“ Karena kamu pacar saya.”
“ Oh ya, bapak bahkan tidak mencintai saya, kenapa bapak perduli siapa yang saya panggil sayang!”
“ Kamu bahkan tidak pernah memanggil saya sayang,” pak Rezel mendekatkan wajah nya, iris kelam nya menatap langsung mata Alesha.
“ Bapak saja tidak mencintai saya, untuk apa bapak perduli, Terserah saya mau memanggil Dio atau siapapun sayang, bapak tidak…,”
Ucapan Alesha terputus saat sesuatu yang terasa halus dan lembab menabrak bibir nya, gadis itu membelalakkan mata melihat wajah pak Rezel yang tidak berjarak dengan nya.
Alesha masih belum memahami apa yang terjadi, namun mata nya reflex terpejam
saat merasakan sesuatu yang lembut itu bergerak di bibir nya.
Pak Rezel mencium lembut bibir gadis itu, sesekali menggigit kecil bibir Alesha. Pak Rezel menumpahkan semua emosi dan perasaan yang selama ini ia pendam bersama ciuman itu, tangan nya memegang kepala Alesha menarik gadis itu untuk lebih mendekat
pada nya, pak Rezel lupa kalau gadis yang ia cium ini hanya seorang gadis SMA polos yang belum pernah melakukan ini sebelum nya. Pukulan keras Alesha di bahu nya membuat pak Rezel tersadar.
“ Hahhhh..,” Alesha menghirup udara sebanyak mungkin, mengisi paru nya dengan udara, gadis itu hampir sesak tidak bisa bernafas.
Pak Rezel mengecup sekilas bibir nya untuk terakhir sebelum menjauhkan wajah nya dari Alesha.
“ Bapak apa-apaan sih, mencium saya tanpa izin, itu kan ciuman pertama saya!” teriak Alesha kesal, kalau ada yang melihat tadi bisa-bisa mereka mendapat kasus dengan judul guru dan siswi berbuat mesum di ruang UKS yang sepi. Bisa mati Alesha di goreng
bunda nya kalau hal itu benar-benar terjadi.
“ Kamu juga sudah dua kali mencium saya tanpa izin, jadi kamu masih memiliki satu hutang dengan saya,” ujar pak Rezel tanpa rasa bersalah lalu pergi dan menutup pintu,
meninggalkan Alesha yang masih syok dengan kejadian tadi.
Aaaaa pak Rezel kenapa kamu kampret sekali sih, udah nyium tanpa izin sekarang keluar
gitu aja seperti orang gak punya dosa! Kurang ajar, itu ciuman pertama ku! Itu
buat suami ku nanti, hiks.., eh, tapi kan suami ku ya pak Rezel, hehehe.
semangat thor 😊
enak kan zel pak rezel 🤣🤣🤣🤣🤣