Siapa sangka Sania yang datang dari kampung untuk mencari kerja, tiba-tiba ditawari seseorang untuk menjadi seorang pengasuh seorang bayi yang menjadi korban keegoisan orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon slwarulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Happy Reading ~~ maaf tulisan saya masih amatir, masih belum bisa sebagus penulis-penulis lainnya.
Kini, ruangan VIP yang berisi keluarga 'S' itu seperti sedang dipenuhi dengan karangan bunga. Dengan kata lain sedang dipenuhi kebahagian. Canda tawa tidak pernah berhenti dilontarkan Sean.
Tidak selang lama kemudian, tiba-tiba pintu ruangan diketuk dan langsung dibukanya menampilkan sosok Karin, Alex beserta anak mereka.
Seno yang tertawa langsung terdiam, wajahnya datar tanpa tersenyum.
"nak, ibu dengar kamu lagi sakit ya? Sakit apa?" tanya Karin dengan tidak sopan nya langsung duduk dihadapan Seno dan Sania
"siapa yang suruh perempuan itu datang kesini! Siapa yang memberi tahu dia" tanya Seno seketika menoleh pada Sania, karena hanya perempuan itulah yang ada disekitar mereka dan mengenal baik dengan Karin
Sontak saja Sania menggeleng, "tatapanmu seperti kau menuduhku. Aku sendiri tidak tahu mengapa mba Karin bisa tahu, nomor mba Karin saja aku tidak punya"
"sudah-sudah, saya dan Karin tidak sengaja mengetahuinya dari seseorang. Jangan salahkan istrimu" bela Alex
"untuk apa kalian disini?" Seno memangku kedua kakinya dan bersikap seperti seorang yang harus dihormati oleh mereka
"Reyka merengek ingin bertemu adiknya. Jadi dengan sangat terpaksa aku mendatangi Sean"
Sania menggeram, Sean mengintip dari belakang Sean dan memandang tidak suka pada anak yang bersama ibunya, alias Karin.
"mami jahat!" seru anak itu tiba-tiba, "mami gak tayang ama Eyan. Tapi mami tayang nya ama anak itu" lanjut Sean
"lihat kan anak sayang ngomong apa! Pergi dari sini sekarang juga" perintah Seno
Reyka menggeleng. Di umur nya yang sekarang, anak itu sudah cukup paham maksud dari orang disekitar nya itu, "om kenapa marah sama mama Karin! Reyka hanya mau ketemu adik Reyka, salah!" pekik anak itu
"anak kami hanya ingin bertemu Sean, paling tidak Sean bisa tinggal bergantian dirumah kami atau rumahmu. Tidak salah bukan? Karin masih memiliki hak atas Sean" ujar Alex sedikit membela perempuan itu
Sania menggeleng, "sejak bayi Sean sudah diurus denganku. Bukannya aku ikut campur, hanya saja bukankah sangat tidak adil pada Sean jika ia harus dipaksa tinggal dengan kalian. Yang bahkan kalian tidak pernah menjaganya dengan baik"
Sania jadi mengingat saat pertama kali ia datang, kala itu Sean dipaksa minum susu formula karena Karin yang sudah tidak mau menyusui nya.
Benar saja, tidak lama kemudian Sean memuntahkan semuanya dan berakhir seminggu dirawat dirumah sakit. Dan berakhir dengan Karin yang terpaksa memompa asi dan menyimpan nya di pendingin box yang disediakan Seno. Itupun setelah Seno membujuk nya dengan iming-iming akan membebaskan Karin untuk berlibur bersama Alex.
"kalian dengar perkataan istriku? Kalian tidak berhak membawa Sean pergi dari keluargaku"
Karin mengadah dan menatap lekat-lekat Seno. Biasanya Seno akan luluh jika Karin menatapnya dengan tatapan penuh memuja. Berbeda dengan Sania yang kini Ketar-ketir Seno akan luluh dibuatnya. Gimanapun, saat ini Sneo sedang dalam misi melupakan Karin. Jika disodorkan perempuan itu, bisa saja Seno lepas kendali lagi.
"mas Seno, ijinin aku saja untuk membawa Sean selama dua hari saja"
Sementara Karin memohon, Alex disibukkan dengan ponselnya. Ia tidak memperdulikan semua hal yang dilakukan perempuan yang kini menjadi istrinya. Alex kira setelah Karin menjadi istrinya, semuanya akan berubah.
Nyatanya tidak, malah Karin semakin menjadi. Semua urusan yang harusnya dikerjakan oleh seorang istri malah di anti oleh pelayan pribadinya. Jadi, bukan salah dia kan kalau laki-laki itu merasa tertarik kepada perempuan yang hampir seharian melayani dirinya? Fanya.
"mas bantuin dong" pinta Karin.
Alex hanya mengangkat bahunya, tidak perduli. "mas sudah bilang kamu untuk tidak paksa Sean dan keluarganya. Tapi apa yang kamu jawab, kamu malah memarahi ku balik. Sekarang terserah kamu mau bujuk Seno seperti apa"
Alex bangkit dan merapihkan jas-nya, "mas pulang dulu, masih ada urusan. Fanya sudah menunggu dibawah"
Karin mengangguk tidak rela.
Alex mensejajarkan tubuhnya pada Reyka, "Reyka, papi pulang dulu ya. Kamu jangan nakal disini"
"jangan paksa mantan suami mu, jika memang dia tidak memperbolehkan untuk membawa Sean. Seperti kata Sania kamu tidak memiliki hak atas Sean" Peringat Alex lalu langsung meninggalkan ruangan begitu saja tanpa kecupan pada Karin
"om, Reyka mau punya adik. Semua teman-teman Reyka pada punya adik, tinggal Reyka yang belom. Boyeh ya om, bawa adik Sean pulang sama aku" sungut Reyka
"sekali tidak ya tidak!" bentak Seno. Seketika Alex langsung memekik dan menangis karena Bentakan Sean
"kamu tidak ada hak untuk memarahi anakku!"
"kamu juga tidak ada hak untuk mengambil anakku" teriak Seno balik
"aku ibunya, aku yang melahirkan Sean. Dari mananya kamu bilang aku tidak memiliki hak atas Sean!"
"kamu sendiri yang menyetujui untuk melepas segala hal tentang Sean demi saham di hotel 'Y'. Dan kamu sendiri yang meminta aku untuk mengurus anak yang kata kamu sialan itu"
Sania menenangkan suaminya yang sudah tampak sangat emosi itu. Sementara Karin, yang baru pertama kali dibentak oleh Seno langsung terdiam.
"tapi----
" tidak ada tapi-tapian! Pergi kalian sekarang juga, bawa anak itu pergi! Aku tidak mau melihatnya. Melihatnya serasa ada belati yang menghujam relung hatiku. Anak itu, anak hasil perselingkuhan saat pernikahan pertama kita!!!"
Karin buru-buru bangkit dan menarik Reyka yang histeris ingin menggapai Sean. Karin kapok, ia tidak ingin mendatangi Seno yang sedang emosi seperti tadi. Ia kapok, benar-benar kapok telah membangunkan singa yang telah tertidur selama ini.