"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Lily berangkat lebih pagi setelah Maria menghubunginya datang lebih cepat, yang lebih pagi dibanding yang lainnya.
Baru seorang satpam dan ia datang bersamaan dengan beberapa cleaning service lainnya.
Ia pun sudah ditetapkan membersihkan lantai di mana Axton bekerja.
Kali ini, entah bagaimana. Ia diperintah mengerjakan lantai itu sendirian.
Saat ia sampai di lantai itu, ia terkejut mendapati tempat itu sangat berantakan, dari yang pernah ia lihat sebelumnya.
Sofa yang bahkan ikut bergeser jauh dari tempat seharusnya.
Melihat itu Lily hanya bisa menghela nafas kasar. Belum menyentuh apapun, namun hatinya sudah mengadu kelelahan.
Mengingat waktunya tak banyak. Lily mulai melakukan pekerjaannya.
Kertas dan tisu dimasukkan dalam tempat sampah. Ia juga memunguti kain-kain kecil yang tersebar di lantai.
"Ini aku bekerja di perusahaan besar, tapi rasanya bekerja di hotel!" dumel Lily meletakkan kain kecil itu ke dalam plastik.
Lily menoleh menatap bungkus cemilan ringan, isinya yang juga terhambur di lantai, serta kaleng soda sebagai pelengkap.
"Tidak, bukan hotel, tapi ini basecamp yang dibuat dari gudang!" gerutu Lily melempar bungkusan plastik berisi kain ke dekat trolinya, lalu mengambil plastik lain untuk diisi sampah makanan itu.
Lily terus melanjutkan pekerjaannya. Namun, belum juga setengah jalan, suara lift terbuka yang menandakan seseorang datang, membuatnya terkejut.
Ia menoleh melihat siapa yang datang, meski dugaannya sangat kuat jika itu adalah Axton.
Lily mengerutkan kening, ia menunduk menatap jam tangan yang melingkar di lengannya, menatapnya beberapa saat dan melihat waktu yang masih sangat pagi untuk Axton datang di sana.
"Sialan, orang ini pasti mau cari masalah lagi," batin Lily menggerutu.
Axton berjalan keluar bersama Aline, Ciara, Daisy, dan Maria.
Dengan perasaan malas, namun ia memaksakan diri tersenyum, Lily menyapa. "Selamat pagi Pak Bu."
"Pagi Lily. Kamu hanya sendiri?" balas Ciara sementara yang lainnya diam meliriknya.
"Iya Bu," jawab Lily dilanjut dengan suara pelan. "Nggak tau kenapa, ada orang iseng kali."
"Kamu bilang apa?" sentak Maria yang samar namun tak jelas mendengar suara Lily.
"Tidak, saya tidak bilang apa-apa," jawab Lily cepat.
Maria berdecih, meliriknya sinis. "Kau sudah membersihkan ruangan Pak Axton?"
Lily menggeleng. "Belum, soalnya di sini sangat-sangat berantakan."
"Dasar bodoh! Seharusnya bersihkan dulu ruangan Pak Axton!" Maki Maria.
Lily berdecak pelan. "Lalu kalau aku tinggalkan tempat yang pertama kali dilihat ini apa aku akan pintar?" ucapnya namun hanya dalam benaknya.
"Maaf, saya salah. Saya bersihkan sekarang," ucap Lily mengulum senyum paksa.
Ia hendak mengambil langkah menuju ruangan Axton.
Namun, langkah Axton mendahuluinya, membuat yang lainnya segera mengikuti. Kecuali Ciara yang sempat tersenyum dan menepuk lembut pundaknya.
"Ayo," ajak Ciara.
Lily mengangguk, ia lebih dulu mendorong trolinya mengikuti dari belakang.
Saat masuk di ruangan Axton. Ia melihat banyak barang di lantai. Bahkan demi menghindar, Aline, Daisy, Ciara dan Maria berjinjit dan berhati-hati melangkah. Namun, tidak ada protes dari mulutnya. Sedangkan Axton melangkah begitu saja menginjak apapun dalam jalannya.
Namun, Lily kesal melihatnya. "Benar-benar kelewatan, ini tidak akan selesai dalam waktu satu jam. Waktu sarapanku bisa lewat," batin Lily mengusap perutnya yang hanya sempat diisi selembar roti tawar.
"Menyebalkan!" gerutu Lily.
"Hey cepat bersihkan sana!" perintah Daisy yang sudah berdiri di belakang Axton sembari memijat pundaknya.
Lily mendelik, dengan sedikit ketus ia menyahut. "Apa barang ini semua mau di buang?''
Aline menanggapi. "Ya tidaklah. Yang ada di map, perbaiki. Kertas yang berhamburan kumpulkan. Kertas yang sudah digulung baru dibuang. Begitu saja masih diajari," sahutnya sewot.
"Oh, baiklah. Hampir saya buang semuanya." Sahutnya sembari mengulum senyum paksa, dilanjutkan dengan gumam pelan. "Sama orang-orangnya. Sampah semua, mau dibuang semua."
Tak ada yang mendengar, dumelannya. Namun, ia kembali diperintah.
"Cepat hey!"
Lily menghela nafas panjang. Mulai dari dekat pintu ia memunguti map-map dan kertas yang berhamburan.
"Hey kenapa kamu mengumpulkannya sembarangan begitu!" protes Aline.
Dengan santai Lily menyahut. "Bukan tugasku menyusun kertas-kertas ini, sesuai dan benar."
Aline menghentakkan kakinya. Jelas itu menjadi pekerjaannya. Dan jika Lily menyusul asal dan acak, pekerjaannya akan semakin sulit.
"Pak maaf saya bantu susun dulu," pinta Aline meminta izin.
"Hm," dehem Axton.
Aline pun segera menghampiri Lily, merebus kertas di tangannya. "Dasar tidak berpendidikan. Begini saja tidak bisa diurus," gerutunya memarahi.
Lily langsung menatap tajam dengan ketus menyahut. "Maaf ya Bu, saya memang hanya lulusan SMA tapi saya juga pernah kuliah hanya karena ada masalah saya berhenti. Nilai saya bagus, dan saya cukup paham dengan pekerjaan kantoran. Tapi, menyusun kertas itu bukan tugas saya dalam pekerjaan saya!" ucapnya penuh penekanan.
Ucapan yang membuat wajah Aline memerah kesal dan malu. Ia melirik Axton yang membuatnya bersitatap dengan lirikan Axton juga.
Aline jelas tak menduga, jika Lily berani menegurnya begitu.
"Sialan wanita ini berani memarahiku begitu. Bagaimana kalau Pak Axton memarahiku nanti," batinnya mengingat bagaimana Axton selalu memperhatikan Lily.
Meski ia masih menduga. Namun, ia yakin, posisi Lily berbeda dan berada dalam jangkauan yang tinggi dan penting.
Aline tidak menyahut apapun. Ia hanya menahan kesalnya, memunguti kertas dan map-map itu. Sedangkan Lily pun melanjutkan pekerjaannya.
Selama bekerja. Lily mempersiapkan diri, untuk menuliskan pendengarannya dan membutakan penglihatannya. Jika Axton kembali melakukan hal-hal intim dengan wanita-wanitanya itu. Namun, hingga ruangan itu selesai di kerjakan, hanya obrolan santai yang ia dengar.
"Tumben sekali dia bersikap manusiawi," gumam Lily setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Lily kemudian menyentuh perutnya saat ia merasakan perutnya sedikit melilit dan berbunyi minta diisi. Lalu menatap jam tangannya yang mana sudah lewat jam sarapannya.
"Terlalu fokus beberes, malah lupa waktu makan," gumamnya.
Axton yang memang selalu memperhatikan, melihat itu dan langsung menduga.
"Dia ini, sudah tau ada asam lambung malah tidak sarapan," batin Axton, kemudian mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi memesan makanan.
Dalam benaknya ia menggerutu. "Sungguh menyebalkan, seberapa keras aku berusaha mengabaikanmu, tetap saja hatiku tidak bisa," batin Axton.
Saat ia sedang sibuk mencari makanan. Lily datang menghampiri. "Pak Bu semuanya sudah selesai."
Diam. Tak ada yang menanggapi selama beberapa detik. Karena menganggap Axton yang harus mengatakan sesuatu.
Hingga Ciara membuka suara. "Ya sudah lanjutkan saja di luar," tuturnya pelan sembari melirik Axton, memastikan ucapannya benar.
"Em, baik Bu," ucap Lily yang sontak membuat Axton meliriknya. Mulutnya terbuka ingin protes, namun suaranya tertahan entah kenapa.
Lily keluar dari sana dengan Axton yang terus memperhatikan penuh kecemasan.
"Tidak bisa. Dia bisa kenapa-kenapa," batin Axton bangkit dari duduknya.
"Kalian tetap di sini," ucapnya kemudian bergegas keluar tanpa menunggu respon siapapun.
Sampai di luar ia melihat Lily mengeluarkan sebungkus roti dan susu kotak. Ia segera menghampiri dua benda itu.
"Apalagi?" Protes Lily menatap kesal.
"Masih saja bodoh. Asam lambung mulai kambuh jadi tidak boleh minum susu dan roti!"
Lily terdiam menyadari kesalahannya. Namun, tetap saja wajahnya cemberut sinis.
"Berhenti mencintaiku Axton! Kita tidak bisa bersama!" sahut Lily tegas.
Axton menghela nafas kasar, kemudian menyahut. "Jangan terlalu pede. Aku hanya tau tentangmu, dan aku tidak ingin kau mati di perusahaanku, karena aku akan bayar kompensasi nantinya, itu sangat merugikan. Dan ..., maaf mengecewakanmu aku punya kekasih," sahut Axton menekan kata kekasih yang membuat ekspresi Lily sedikit berubah.
"Oh ya? Bagus dong," jawab Lily dengan gurat wajah yang sulit di baca.
Axton tersenyum tipis. "Dia ada di sini, akan ku perkenalkan nanti."
"Oke," tanggap Lily.
"Sekarang ikut aku sarapan! Ini tugas pekerjaanmu, yaitu menurutiku! Jika membantah aku akan memenjarakan ibumu dan putrimu!" ucap Axton dengan tegas agar Lily tidak lagi melawan apalagi menolaknya.