🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diterima tanpa syarat
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Yura mendorong pintu besi yang cukup besar itu perlahan. Alexa berdiri tepat di belakangnya. Malam telah turun sepenuhnya, udara terasa sejuk, dan suasana di sekeliling begitu sunyi. Jauh berbeda dari hiruk pikuk kota yang baru saja mereka tinggalkan.
Alexa sempat tertegun. Ia tidak menyangka rumah orang tua Yura berada sejauh ini dari pusat kota, dikelilingi alam yang masih asri dan tenang.
Kini Alexa pun menyadari bahwa Yura tidak pernah berbohong. Keluarga gadis itu memang hidup jauh dari keramaian.
Begitu pintu terbuka, tampak sepasang suami istri sedang menikmati makan malam sederhana di luar rumah. Meja kayu kecil dengan hidangan rumahan tersaji rapi, diterangi cahaya lampu yang cukup untuk menghangatkan suasana.
Keduanya serentak menoleh saat menyadari kehadiran seseorang.
Yura melangkah masuk lebih dulu, diikuti Alexa yang tampil rapi dengan kemeja putih berlengan tergulung hingga siku, membuat penampilannya terlihat dewasa dan berwibawa.
"Yura…" Yeshuki berdiri mendadak, sumpit di tangannya terlepas ke meja. Ranim pun ikut bangkit, menatap putrinya dengan mata membesar.
Tanpa berkata apa-apa, Yura berjalan cepat menghampiri keduanya dan langsung memeluk mereka erat. Rasa rindu yang tertahan seketika luruh.
"Pantas saja Rose tidak berhenti menelepon kami, menanyakan di mana kau berada," ucap Yeshuki setelah pelukan itu terlepas. "Kalau dia tahu kau ada di sini, pasti sudah menyusul. Tapi…" pandangannya beralih ke Alexa yang berdiri tak jauh dari mereka, "Siapa pria tampan ini?"
"Mama…" Yura menelan ludah. "Soal Rose, jangan beri tahu dia dulu bahwa kami ada di sini. Nanti aku jelaskan. Dan mengenai dia—" Yura melirik Alexa sekilas. Dadanya berdebar hebat saat harus menjelaskan sesuatu yang bahkan masih sulit ia cerna sendiri.
"Bukankah kau menyukai Ren—"
"Maaf, Tante, Om," potong Alexa dengan sopan sambil melangkah sedikit ke depan. Ia menundukkan badan dengan hormat. "Mohon maaf karena datang tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Perkenalkan, nama saya Alexa Ren Deveriux. Saya tinggal di kota."
Yura menoleh cepat ke arahnya. Ia terkejut melihat sikap Alexa yang tampak jauh lebih tenang dan santun dari biasanya.
"Oh, tidak apa-apa, Nak," ujar Ranim dengan nada canggung. "Silakan duduk dulu. Mari makan bersama."
Alexa tidak langsung menurut. Ia menghela napas singkat, lalu mengangkat wajahnya, sorot matanya tampak sungguh-sungguh. "Sebelumnya, izinkan saya menyampaikan sesuatu. Saya ingin meminta maaf atas sikap saya ini, terutama karena telah memaksa anak kalian untuk menikah dengan saya."
Kalimat itu membuat jantung Yura seakan berhenti berdetak.
Yeshuki menoleh cepat ke arah suaminya, wajahnya pucat oleh keterkejutan. "Apa malam ini aku sedang bermimpi?" tanyanya lirih.
Yura sendiri nyaris kehilangan kata-kata. Ia menatap Alexa dengan sorot tak percaya.
"Saya cemburu, Tante, Om," lanjut Alexa dengan wajah penuh penyesalan. "Yura terus mengejar Rendra. Saya tidak sanggup membayangkan ia menjadi milik orang lain. Karena itu, saya memaksanya menikah dengan saya."
Yura terdiam kaku. Dalam hati, ia nyaris menjerit. Sejak kapan Alexa bisa berbohong dengan begitu meyakinkan? Pria itu tampak seperti sosok yang sama sekali berbeda di hadapan orang tuanya.
Yeshuki kembali menatap suaminya, lalu menatap Alexa lagi. "Ini benar-benar seperti mimpi…"
Ranim menggeleng pelan. "Kau tidak bermimpi."
Yeshuki masih terlihat tidak percaya. Ranim kemudian mendekat dan menyentuh wajah istrinya dengan lembut, sebuah kebiasaan kecil yang sering mereka lakukan tanpa sadar. Baru setelah itu mereka menyadari kehadiran dua orang di hadapan mereka.
"Papa…" Yeshuki berdeham pelan. "Malulah, dilihat anak-anak."
Ranim tersenyum kikuk. "Papa lupa, Ma."
Yura dan Alexa sama-sama memalingkan wajah, pipi mereka memanas. Keduanya tampak canggung, seperti dua orang asing yang terjebak dalam satu peran yang sama.
Yeshuki tersenyum kecil. "Sepertinya Mama perlu berbicara dengan Yura," bisiknya pelan, cukup terdengar oleh Alexa dan Yura. "Papa, silakan berbincang dengan menantu kita."
Ranim mengangguk setuju.
......................
"Bagaimana bisa Rose melakukan hal itu padamu? Dan kau begitu saja terpuruk, lalu menerima pernyataan cinta dari bosmu yang tampan itu?" ucapnya terkejut sekaligus kesal.
Suaranya jelas terdengar hingga ke luar ruangan.
Alexa yang duduk berhadapan dengan Ranim di meja kecil itu refleks terdiam. Ia tampak sedikit kebingungan mendengar suara ibu Yura yang terdengar sedang memarahi putrinya di ruang terpisah.
Padahal sebelumnya ia telah berjanji pada Yura bahwa ia mampu meyakinkan kedua orang tuanya. Namun kini, ia menyadari bahwa hal itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Biasanya, orang-orang akan langsung menunduk atau segan hanya dengan menatap wajahnya. Namun kali ini berbeda. Ia merasa kurang memahami bagaimana caranya menghadapi mertuanya, terlebih dalam situasi seperti ini.
Walau di lubuk hatinya Alexa tidak merasa sepenuhnya bersalah, keputusannya yang semula tidak akan menikah lalu tiba-tiba menikah tanpa persiapan tetap menjadi hal yang sulit diterima baginya.
"Jangan terlalu dipikirkan," ujar Ranim tenang, sambil meneguk minuman beralkohol di gelas kecilnya. "Mereka memang seperti itu jika sedang berbicara. Tidak seperti yang kau bayangkan." ia tersenyum ringan. "Lebih baik kita minum saja."
Alexa tersenyum kaku. "Maaf, Om. Saya tidak minum."
Ranim tampak terkejut, lalu tertawa kecil. "Kau terlihat seperti peminum sejati. Ternyata aku keliru." ia lalu terdiam sejenak. "Namun… untuk ukuran kalian yang sudah menikah, caramu memanggil kami terasa sedikit berjarak. Panggillah kami seperti Yura memanggil kami."
Perasaan asing menyelinap di dada Alexa. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia hanya mampu mengangguk pelan.
"Nak," panggil Ranim lirih.
Satu kata itu membuat dada Alexa bergetar hebat.
"Jika kau benar-benar menyayangi putri kami," lanjut Ranim dengan suaranya terdengar ketulusan, "Aku berharap kau bisa menjaganya."
Alexa menahan napas.
"Aku titipkan bidadari kecilku kepadamu," ujar Ranim dengan senyum tipis. "Jangan sakiti tuan putri kami." tawanya terdengar getir. "Ia satu-satunya yang kami miliki."
Suara Ranim bergetar. Ia menarik napas dalam-dalam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Tak terasa ia tumbuh begitu cepat dan memilihmu sebagai suaminya," ucapnya lirih. Ia terdiam sejenak. "Kau seharusnya bangga akan hal itu."
Air mata akhirnya jatuh dari mata Ranim.
Alexa ingin mengatakan sesuatu, ingin menenangkan pria itu. Namun kata-kata seolah membeku di tenggorokannya.
Dadanya terasa nyeri melihat ketulusan seorang ayah yang dengan ikhlas menyerahkan putri kesayangannya kepada pria lain.
Rasa bersalah pun menyergapnya, terutama karena ia telah berbohong tentang pernikahan mereka yang sejatinya akan berlangsung singkat.
"Kami menyayangimu," ucap Ranim perlahan. "Sebagaimana kami menyayangi Yura. Kau adalah anak kami."
Alexa terdiam.
"Pulanglah, jika kau merindukan kami," lanjut Ranim mantap. "Aku tidak berbohong. Kau pantas mendapatkan itu."
Tanpa ia sadari, air mata Alexa mengalir begitu saja.
Mungkin saja Ranim tidak sepenuhnya memahami luka hidupnya. Namun bagi Alexa, mendengar seseorang berkata bahwa ia boleh pulang ketika rindu bukan sebagai alat, bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai anak adalah sesuatu yang tidak pernah ia miliki sepanjang hidupnya.
ku harap rose kena karma dr perbutany sdri.trus rendra jg bs kebka mata hatiy d sukur2 sadar d bs ninggalin rose.
km dilepeh ros km menyesal tlh bersikap kejam ma yura stlh tau kebenarany ...trus km mlh pindah haluan ke yura....siap2 aj km dislepet ma alexa🤭
jadi kangen si cipit😁😁😁😁
Semangat ya otor update nya 🔥💪🥰
Apa Rose punya kelainan yg menyimpang ... seperti menyukai sesama jenis 🤔🤔 kalau itu benar sungguh menjijikan dan Rendra akan benar-benar dapat kejutan yang besar dan akan menyesal sudah menolak Yura 😩 demi seorang Rose wanita jadi"an 😅😅