Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang tak direncanakan.
Sore harinya, Faisal sedang duduk dibangku
taman dekat perpustakaan. Dia tenggelam dalam buku kalkulusnya, dikelilingi oleh beberapa mahasiswa dan pelajar yang sebaya dengannya.
Tiba tiba ia mendengar suara tertawa yang sangat familiar, tawa Aruna. Ia mendongak, mencari asal suara tersebut. Ternyata Aruna ada disana, di zona studi yang tenang, duduk dimeja terdepan, terlihat mesra dengan Arya yang kini sedang menghiburnya.
Mereka tidak sedang belajar, Arya sedang menyuapi Aruna sepotong kue kecil. Tawa Aruna yang renyah dan bahagia itu menusuk Faisal lebih dalam lagi. Ini adalah Aruna yang benar benar bahagia. Kebahagiaan yang Faisal tahu betul, bukan disebabkan olehnya.
Faisal menundukan kepalanya lagi, memaksa matanya fokus pada persamaan yang rumit. Aruna menyadari kehadiran Faisal, ia melihat jaket parasut yang biasa digunakan Faisal disudut matanya. Ia menyadari bahu lebar milik Faisal yang kini tak bisa lagi ia sentuh. Aruna melirik, matanya bertemu dengan tatapan mata Faisal. Kali ini tatapan Aruna tidak dingin. Sorot mata berkaca kaca yang dipenuhi oleh kesedihan yang jujur, pengakuan atas kegagalan dan fokus yang membaja. Aruna tidak melihat kecemburuan di mata Faisal. Faisal hanya melihat Aruna dan Arya dengan tatapan yang kosong, mencoba menerima sepenuhnya bahwa Aruna telah memilih pria lain. Faisal melihat betapa cocoknya mereka, betapa damainya dunia Aruna sekarang.
Aku udah ga marah lagi, aku hanya terlambat menyadari betapa pentingnya kamu dihidupku. Gumam Faisal.
Arya menyadari suasana itu, ia melirik ke arah Faisal, tersenyum sinis dan kemudian... Ia mencium kening Aruna lama, penuh kasih sayang, tepat didepan Faisal. Itu adalah sebuah tindakan yang sangat disengaja, pengumuman kepemilikan yang brutal. Faisal tak bereaksi apa apa, ia hanya mengepal pulpennya, seolah pulpen itu adalah jangkar satu satunya. Ia mengangguk samar, bukan kepada Aruna atau Arya, melainkan kepada buku didepannya.
Arya menggenggam tangan Aruna dan mengajaknya pergi, melemparkan senyum kemenangan kepada Faisal.
Faisal hanya bisa menatap punggung Aruna yang kian menjauh dengan hati yang robek. Ia tak kuasa menahan air matanya, air matanya terjatuh deras, Faisal menundukan kepala dan larut dalam tangisannya.
" Kak, Kakak gapapa? Ini aku Devina." Sapa Devina yang sedari tadi menyaksikan adegan tersebut.
Faisal mengangkat kepalanya, menyeka air matanya.
" Devina?, kok masih disini? " Tanya Faisal sambil menyeka kasar air matanya.
" Maaf ya kak, kalo aku kurang sopan. Tadi aku merhatiin kakak dari jauh. Aku turut prihatin ya kak." Ucap Devina sambil menepuk nepuk pundak Faisal, membantu menenangkan.
" Eh iya, gapapa ko. Aku cuman lagi kangen sama keluarga aja, makannya nangis."
Devina tersenyum.
" Kak aku bukan anak kecil yang gampang dibohongin kali, aku tau ko apa yang kakak alamin, aku ngerti perasaan kakak. "
Faisal menatap Devina.
" udah lah gausah dibahas, ga penting." Kini wajahnya serius.
Devina hanya mengangguk.
" Yaudah kak, aku pulang duluan ya." Devina melangkah.
Faisal menarik tangan Devina.
" Tunggu, bareng aku aja. Aku juga mau pulang. Rumah kita searah!"
Devina tersentak, melirik ke tangannya yang digenggam Faisal.
" Yaudah kak, makasih sebelumnya."
Faisal melepaskan genggaman tangannya, lalu berjalan menuju parkiran.
" Nih helm buat kamu." Faisal menyodorkan helm putih yang biasa dipakai Aruna.
" Ya ampun, makasih banget kak. " Devina mengambil helm itu.
Faisal hanya membalas dengan senyuman.
Mereka berdua pun bergegas meninggalkan parkiran perpustakaan.
.......
Aruna menjalankan hidupnya dengan sempurna. Pacarnya dewasa, stabil, dan ia sedang berada dipuncak karir akademisnya. Namun dibalik fasad yang sempurna itu, Aruna mulai merasakan kekosongan.
Minggu siang, Arya dan Aruna menghabiskan waktu dengan menonton film dokumenter tentang arsitektur modern.
" Menarik y, desainnya sangat realistis, logis, efisien, dan tak ada elemen yang berlebihan." komentar Arya, mencium tangan Aruna sekilas.
" Iya, logis." Jawab Aruna datar.
Ia teringat Faisal, Faisal akan mendesak Aruna menonton film action yang aneh, atau film komedi yang penuh dengan plot twist. Faisal akan berkomentar sinis yang membuat Aruna tertawa, lalu mereka akan berdebat hingga larut malam tentang moralitas karakter.
Dengan Arya, tak ada perdebatan yang intens, tak ada tantangan, tak ada gairah yang berlebihan. Arya adalah rumah yang kokoh, yang dibangun dengan perhitungan matematis yang sempurna. Tapi rumah itu terasa sunyi.
" Arya, aku bosen!" gumam Aruna, suatu hari saat Arya merencanakan liburan mereka.
Arya terkejut.
" Bosen? Kita akan pergi liburan, makan di restoran terbaik. Apa yang bikin kamu bosen dari itu? "
" Mungkin.... Aku rindu sesuatu yang spontan. Sesuatu yang sedikit gila. Kita selalu merencanakan setiap detail. Aku rindu kejutan, Arya."
Arya memandangnya dengan tatapan logis yang selalu ia tunjukan.
" Spontanitas itu hanya buang buang energi, kita harus efisien, bukan? Kita udah dewasa. "
Aruna terdiam.
" Ya, kamu bener. Kita udah dewasa, dan kedewasaan itu terasa sangat membosankan." gumam Aruna dalam hati.
Kehidupan Faisal dan Aruna tidak begitu jauh, meski mereka tak pernah lagi berinteraksi, dunia mereka sesekali berpapasan.
Suatu sore, Aruna sedang berjalan disebuah latihan atau persiapan pentas seni di sekolah. Ia melihat siluet familiar di sudut koridor, didepan sebuah aula.
Itu adalah Faisal.
Faisal tidak lagi menjadi trouble maker. Ia kini menjadi siswa berprestasi, ia terlihat lebih berwibawa, dewasa, dan yang paling mencolok, ketenangannya. Faisal yang dulu selalu tegang dan penuh amarah, kini terlihat damai. Sorot matanya memancarkan keseriusan yang dalam. Aruna bersembunyi dibalik pilar, ia mengamati. Ia melihat bagaimana Faisal fokus pada bukunya, sangat sopan. Faisal benar benar sudah berubah, ia berhasil mengendalikan dirinya. Dan menjadi pria yang Aruna harapkan.
Ironisnya. Faisal berhasil menjadi pria impian Aruna, setelah tidak lagi bersama. Aruna merasakan tusukan yang hebat. Bukan tusukan cemburu, tapi tusukan penyesalan.
" Dia berhasil meruntuhkan egonya, aku yang terlalu cepat pergi. " Gumamnya.
Aruna telah meninggalkan Faisal si ' trouble maker ' karena takut akan ketidakstabilan nya. Kini, ia menemukan kestabilan dengan Arya, tetapi ia merindukan gairah yang hanya Faisal yang bisa memberikannya.
Rasa bosan Aruna terus bertambah, ia mulai mencari drama. Ia mulai memancing Arya dengan perdebatan perdebatan kecil.
" Kamu kenapa ga pernah keliatan marah sih, Arya? Apa di dunia ini ga ada yang buat kamu kesel? "
Arya hanya tertawa tenang,
" Marah? buat apa? Amarah cuma membuang energi. Kalo kita ada masalah, kita selesaikan dengan logika dan komunikasi yang efektif. Itu yang orang dewasa lakukan. "
Kata kata itu benar, tapi terasa sangat hampa. Aruna teringat bagaimana Faisal yang akan marah besar jika ada yang mencoba mengganggu Aruna. Kemarahan itu, meskipun sedikit merepotkan, tetapi adalah bukti cinta yang jujur.
Malam harinya, Aruna mengurung diri dikamarnya. Ia membuka laci meja belajarnya dan menemukan bunga edelweis kering yang pernah di hadiahkan Faisal. Aruna memegang bunga itu, ia ingat pesan Faisal. " Aku akan berani, kali ini. "
Faisal membuktikan keberaniannya dengan melawan rasa malas dan membangung masa depannya. Aruna, disisi lain. Memilih jalan yang aman, lari dari konflik, dan akhirnya menangis. Bukan karena perpisahan, tapi karena kesadaran jangka panjang.
Faisal si pembawa masalah telah merusak hubungannya dengan Aruna karena kesalahpahaman. Tetapi Aruna, telah merusak dirinya sendiri dengan memilih keamanan emosional diatas kebahagiaan sejati.
Aruna menyadari bahwa ia merindukan badai. Ia merindukan pria yang membuatnya merasa hidup, bahkan jika itu berarti harus berjuang melawan kecemburuan dan amarah.
Disisi lain. Faisal menghela nafas panjang, wajahnya menunjukan kelelahan yang nyata. perubahan ini, ketenangan ini, adalah topeng yang ia kenakan setiap hari. Topeng untuk menutupi kesedihannya, dan untuk membuktikan kepada Aruna bahwa ia layak, meskipun sudah telat.
Faisal menyalakan mesin motornya, memasang earphone kecil, memutar playlist favoritnya. Ia melaju ke suatu tempat. Ya, warung kopi dibelakang sekolah, tempat favoritnya menghabiskan waktu bersama teman temannya dulu.
Faisal tiba disana, ia langsung merebahkan badannya dikursi panjang, merogoh saku, mengambil ponselnya. Bukan untuk menelpon, tapi untuk melihat album tersembunyi yang ia namakan 'A'. Album yang berisi foto foto Aruna. Foto saat Aruna menyenderkan kepalanya ke bahu Faisal, foto saat Aruna menangis bahagia diatas motor kesayangannya, foto saat mereka pertama kali menjalin hubungan, dan masih banyak lagi.
Faisal tak pernah menghapus foto foto itu, karena baginya hubungannya belum sepenuhnya berakhir, belum ada kata putus diantara hubungan mereka. Ia menyimpan foto foto itu sebagai pengingat abadi tentang harga kegagalan emosionalnya. kesedihan ini bukan karena amarah menahan cemburu, kesedihan ini adalah tentang penyesalan yang paling dalam. Penyesalan karena ia melukai dirinya sendiri dengan merusak hal yang paling ia cintai, dan kini. Ia harus hidup dengan konsekuensinya.
Faisal duduk disana hingga larut malam, memesan kopi hitam pahit tanpa gula, dan hanya menatap kosong ke arah langit malam.