Benar kata pepatah, penyesalan memang selalu datang terakhir (belakangan).
Hal serupa terjadi kepada Evan satria.
Dengan gelap mata Evan tega mentalak tiga Byanca Almahera. Istri yang baru beberapa hari ia persuntingnya.
Ke salah pahaman Evan terhadap Byanca, membuat rumah tangga yang baru saja akan di mulai tersebut hancur sekatika.
Akan kah mereka bisa kembali bersama?
Mampukah takdir merubah semuanya?
Ikuti cerita selengkapnya : SESAL USAI TALAK
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naffia Inthan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 DURI DALAM DAGING
Lalu Edward melihat memeriksa kembali ponselnya saat terdengar notifikasi sebuah pesan masuk.
"Apa?" Edward menatap penuh amarah, tepat ke layar ponsel yang ada di tanganya itu.
"Jadi selama ini kau menghianatiku?" Pekik Edward kembali, wajah Edward terlihat sangat memerah, menahan semua amarahnya itu, Dan....
"Hendra... Hendra..." Teriak Edward, memanggil sopir pribadi sekali--gus orang yang ia percaya selama ini. Raut Wajah Edward terlihat tidak bersahabat.
"Iya tuan." Jawab Hendra, mendatang majikannya itu, sambil memberi hormat.
"Ada apa ini? Kenapa dia seperti sedang marah?" Ucap Hendra dalam hatinya.
"Cepat jelaskan semuanya!" Pekik Edward, penuh penekanan.
Hendra mulai gelisah, tergambar jelas raut wajahnya penuh ketakutan.
"Mak-sud tu-an?" Edward menjawab dengan terbata-bata, keringat dingin mulai mengucur dari pelipis kening Hendra.
Brakkk...
Hendra menggebrak meja yang ada di hadapannya dengan sangat keras. Membuat Hendra terpanjat kaget dan semakin ketakutan.
"Kamu masih mengelak Hendra? Kamu masih mau menutupi ke busukanmu itu hah?" Teriak Edward penuh amarah.
Hendra terdiam, walau badannya terlihat gagah tetap saja Hendra bukan apa-apa di mata Edward, tidak ada sedikit pun ketakutan Edward kepada Hendra, walau pun mereka harus berkelahi, Edward tak peduli. Tanpa Edward, Hendra bukan siapa-siapa. Edward tau kelemahan Edward.
"Ternyata selama ini kamu menyimpan Duri dalam daging Hendra, selama ini aku salah sudah mempercayai kamu." Lanjut Edward, sambil membuang ludah tepat di samping Hendra.
"Ma--a--f tuan.." Lirih Hendra, masih menundukan kepalanya, tidak ada nyali bagi Hendra untuk menatap Edward yang ada dihadapannya itu.
"Maaf katamu?" Edward menyunggingkan senyuman yang sulit di artikan.
"Aku tidak mempersalahkan kamu yang menjalin hubungan dengan Anita, Hendra. Karna aku sudah lama mengetahuinya, dan aku sudah tidak peduli lagi dengan wanita bermuka dua itu." Lanjut Edward.
"Ma--a--f tuan, saya hanya bermain-main saja dengan istri tuan." Ujar Hendra, benar-benar tidak malu.
Lagi-lagi Edward menyunggingkan senyuman yang sulit diartikannya itu kembali.
"Apa maksudmu menjebak Evan untuk tidur dengan Dara hah? Kamu tega menjerumuskan keponakanmu itu? Apa kamu tidak punya hati Hendra?"
"Dengar ya Hendra jika terjadi apa-apa dengan keponakanmu itu jangan salahkan Evan, atau siapa pun! Salahkan dirimu sendiri. Dan jika wanita itu hamil jangan pernah meminta Evan untuk bertanggung jawab. Kamu taukan Hendra kamu sekarang sedang berhadapan dengan siapa?" Pekik Edward, menatap tajam Hendra. Hendra tidak berkutik sama sekali.
"*Sial kenapa dia mengetahui-nya secepat ini?" Batin Hendra.
"Padahal aku sudah merancangnya dengan rapi, kenapa masih kebobolan oleh si tua bangka ini. Bagaimana ini, hidupku sudah di ujung tanduk*."
"Saya pecat kamu, jangan pernah muncul lagi di hadapanku." Ucap Edward. Membuat Hendra langsung mendongkrak-kan kepalanya, melihat kepada majikannya itu.
"Jangan tua, saya mohon jangan pecat saja." Hendra memohon.
"Pergi dari hadapanku!" Bentak Edward.
"Tuan saya mohon, jangan pecat saya tuan. Bagaimana nasib saya tuan kalau tuan memencat saya? Saya butuh pekerjaan ini tuan!" Hendra terus memohon, namun tidak ada sama sekali iba dalam hati Edward kepada Hendra yang sudah beberapa tahun mengabdi kepadanya itu.
"Nasibmu? Pikirkan sendiri bagaimana nasibmu. Aku tidak peduli sama sekali Hendra." Ucap Edward, tanpa ampun.
"Tuan saya mohon."
"Pergi..." Bentak Edward, "kalau kamu tidak mau pergi, jangan salahkan, jika semua rahasianya akan aku bongkar dan aku pastikan kau akan menekan di balik jeruji besi untuk selama-lamanya Hendra."
Mendengar ucapan Edward itu membuat Hendra seketika pasrah, Hendra langsung keluar dari kediaman Edward, dengan langkah yang menggontai dan penyesalan yang teramat dalam.
Hendra menyesal kenapa ia bisa sebodoh ini, hanya karna Anita, Hendra lupa bahwa Edward itu siapa? Hendra sangat lancang berani berhadapan dengan Edward. Dan jika sudah begini? Bagaimana? Sudah di pastikan Hendra akan kembali seperti dulu, menjadi seorang gelandangan tanpa arah tujuan. Tanpa Edward dia bukan siapa-siapa, dan menjadi salah satu bagian dari keluarga Edward, Hendra sebenarnya sangat beruntung, di segani semua orang. Walau pun hanya statusnya hanya sebagai sopir keluarga Edward. Edward yang membuatnya hidup serba kecukupan seperti sekarang, dan sudah di pastikan semua harta dan fasilitas yang Hendra dapatkan akan di tarik oleh Edward mulai sekarang.
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan komen.
Terima kasih.
ada satu dua tipo itu biasa, tidak mengurangi alur ceritanya
semangaaat Thor 🙏