Fiona Delvina
Seorang psychopath gila, itulah panggilan yang pantas bagi seorang gadis berdarah dingin ini. kasus pembunuhan yang ia lakukan sudah tak terhitung jumlahnya, kelihaian gadis itu dalam menyembunyikan jati diri membuat orang orang disekitarnya tidak ada yang mengira bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut. Fiona melakukan itu semata-mata hanya untuk mencari siapa pembunuh adik, kakak, serta papanya, dendam lama Fiona membuat gadis itu menjadi serigala pembunuh tanpa jejak.
Elbara Cesar Roosevelt
Pria yang tak kalah kejamnya dari Fiona, Elbara merupakan CEO dari bidang perfilman action tentu saja semua itu hanya topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya karena orang orang mengenal Bara sebagai pria hebat yang selalu berhasil mengantar para aktor debut dalam filmnya. Bara juga terkenal ramah pada staf dan orang orang sekitar tapi siapa yang tau bahwa pria itu hidup penuh dengan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Dua hari kemudian
Fiona membuat sarapan di pagi hari sekaligus membuatkan mamanya sarapan, Dicky sudah memperbolehkan Fiona datang kerumah sakit hari ini jadi tidak ada salahnya membuat makanan.
"Selamat pagi," sapa Bara.
Fiona hanya menatap sekilas lalu kembali menggoreng telur, Bara masih menggunakan baju tidurnya menuruni anak tangga.
"Sedang apa?" Tanya Bara.
Refleks Fiona berputar arah karena Bara tiba tiba memeluknya dari belakang.
"Jangan ganggu,"
Bara memegang meja dengan kedua tangannya sebagai tumpuan sembari menatap Fiona.
"Bara aku bisa menendang mu jika tetap melakukan ini," ucap Fiona.
Bara tersenyum dan mendekati Fiona hingga jarak mereka sudah tidak bisa diukur, Bara mengangkat satu tangannya namun Fiona mencegah.
"Sayang telurnya gosong,"
Fiona sadar dan langsung mendorong Bara menjauh, bisa bisanya gadis itu melupakan keadaan sekitar jika berdekatan dengan Bara.
"Kau mengganggu ku, lakukan pekerjaan mu sana,"
"Aku akan membantumu memasak,"
Fiona tidak meladeni permainan Bara di pagi hari.
"Fiona film yang kemarin sudah bisa ditonton," ucap Bara.
"Apa hubungannya dengan ku,"
"Tentu saja ada,"
"Aku ingin kau menjadi penonton pertama film ini,"
"Aku tidak bisa, mama ku sedang dalam masalah," tolak Fiona.
"Aku akan menjemputmu nanti malam,"
Bara segera naik ke kamarnya agar tidak mendapat penolakan lagi. Fiona selalu kalah dalam hal perdebatan dengan Bara.
Dia melanjutkan memasak dan setelah itu Fiona membawanya kerumah sakit jiwa. Dicky sudah menghubungi nya dari pagi tadi dan menyuruh Fiona segera datang.
Beberapa menit kemudian Fiona sampai dirumah sakit dengan membawa makanan.
"Fiona kau datang,"
"Aku membawakan makanan untuk mu dan mama," ucap Fiona diiringi senyum manis.
"Baiklah terimakasih,"
Dicky mengambil makanan tersebut lalu meletakkannya di meja kerja.
"Aku ingin bertemu mama,"
"Aku antar,"
Fiona mengangguk dan keduanya berjalan menuju ruangan nyonya Delvina.
"Mm Dicky boleh aku bertanya?"
"Silahkan,"
"Bagaimana jika aku menyukai seseorang?"
Dicky menghentikan langkahnya sembari menatap Fiona, gadis itu juga ikut berhenti.
"Kau menyukai siapa, baru detik ini aku mendengar pertanyaan aneh darimu," jawab Dicky.
"Aku mengatakan jika Dicky bukan benar benar menyukai seseorang,"
"Cih otak mu dimana, Kau lupa aku pernah mengambil jurusan psikolog?"
Fiona langsung mengalihkan pandangannya, pantas saja pria itu tau mana orang yang baik untuk Fiona dan mana yang tidak.
"Kau menyukai siapa?" Tanya Dicky.
"Lupakan anggap saja aku tidak pernah bicara," jawab Fiona datar.
"Jangan katakan padaku orangnya adalah Bara," ujar Dicky.
Wajah Fiona tidak bisa bohong apalagi dimata di Dicky yang jelas-jelas sudah tau ilmunya.
"Gadis bodoh! Aku sudah lelah memperingati mu," imbuh Dicky kesal.
"Tapi,"
"Dokter!" Panggil Siera dari ruangan sebelah.
Fiona memutar setengah kepalanya dan melihat Siera menggunakan pakaian rumah sakit jiwa, Dicky juga ikut menatap Siera lalu berganti menatap Fiona.
"Siera,"
"Kau mengenalku?" Tanya Siera dengan tatapan polosnya.
Fiona menatap Dicky, pria itu belum menjelaskan apa yang terjadi beberapa hari ini dirumah sakit hingga membuat Siera berada disana.
Bagaimana bisa aku melupakanmu, batin Fiona.
"Pergilah keruangan mama mu terlebih dahulu," ucap Dicky lalu meninggalkan nya dan mengajak Siera masuk kedalam.
"Dia siapa?" Tanya Siera lagi pada Dicky.
"Kau tidak mengenalnya?"
Siera menggelengkan kepala walau wajah gadis tadi sedikit familiar dalam ingatannya.
"Baiklah jangan terlalu diingat, Siera kurasa kondisi mu sudah baik baik saja jadi dalam waktu dekat aku akan menghubungi keluarga mu,"
Siera kembali mengangguk sehingga Dicky hanya menasehatinya lalu keluar menyusul Fiona.
Jam 3 dini hari sampai sore??
🤔🤔