Satu kesalahan di lantai lima puluh memaksa Kirana menyerahkan kebebasannya. Demi menyelamatkan pekerjaan ayahnya, gadis berseragam putih-abu-abu itu harus tunduk pada perintah Arkan, sang pemimpin perusahaan yang sangat angkuh.
"Mulai malam ini, kamu adalah milik saya," bisik Arkan dengan nada yang dingin.
Terjebak dalam kontrak pelayan pribadi, Kirana perlahan menemukan rahasia gelap tentang utang nyawa yang mengikat keluarga mereka. Di balik kemewahan menara tinggi, sebuah permainan takdir yang berbahaya baru saja dimulai. Antara benci yang mendalam dan getaran yang tak terduga, Kirana harus memilih antara harga diri atau mengikuti kata hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Perjanjian di Atas Kertas Hitam
Anak panah berujung hijau pekat itu bergetar tepat di depan leher Kirana, hanya berjarak beberapa milimeter dari kulitnya yang halus. Pria bertopeng naga emas itu menarik tali busurnya semakin kencang, menciptakan suara derit kayu yang sangat mengerikan di tengah kesunyian lorong limbah. Indra terkapar di atas lantai semen yang basah, mencoba menekan luka di bahunya yang mulai membiru akibat reaksi racun yang bekerja dengan sangat cepat.
"Letakkan dokumen itu di atas air hitam ini sekarang juga, atau gadis ini akan menyusul ibunya ke liang lahat!" ancam pria bertopeng itu dengan nada suara yang sangat dingin.
Arkananta melangkah maju dengan kedua tangan terangkat ke atas, mencoba mengalihkan perhatian sang pemanah dari posisi Kirana yang sedang mematung ketakutan. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini bukanlah saudara kembarannya yang asli, melainkan seorang pembunuh bayaran yang sangat ahli dalam menggunakan senjata kuno. Matanya yang tajam melirik ke arah tumpukan arsip di tangan Kirana, mencari celah untuk melakukan sebuah serangan balik yang sangat mendadak.
"Sabar, kita bisa membicarakan hal ini tanpa harus ada darah yang tumpah lagi di dalam lorong busuk ini," ujar Arkananta dengan suara yang sangat tenang dan berwibawa.
Pria bertopeng itu tertawa mengejek, ia mengeluarkan sebuah gulungan kertas hitam yang diikat dengan pita sutra merah dari balik jubahnya yang gelap. Ia melemparkan gulungan tersebut ke arah kaki Arkananta, membiarkannya terbuka dan menampakkan deretan tanda tangan yang sudah mengering di atas materai kuno. Kirana melirik ke arah kertas tersebut dan melihat nama ayahnya bersanding dengan nama besar keluarga Dirgantara dalam sebuah kesepakatan rahasia.
"Apa maksud dari perjanjian di atas kertas hitam ini? Kenapa nama ayah saya tertulis di sana sebagai penjamin utang perusahaan?" tanya Kirana dengan suara yang sangat bergetar.
Arkananta mengambil kertas tersebut dengan tangan yang bergetar-getar, ia membaca setiap baris kalimat yang tertulis dengan tinta emas yang sudah mulai memudar. Ternyata, ayah Kirana telah mempertaruhkan seluruh identitas dan masa depan putrinya hanya demi mendapatkan perlindungan politik dari kakek Arkananta di masa lalu. Perjanjian itu menyebutkan bahwa Kirana akan menjadi hak milik keluarga Dirgantara sepenuhnya jika terjadi kegagalan dalam proyek pembangunan menara tinggi.
"Jadi, selama ini saya hanyalah sebuah jaminan yang bisa ditukar dengan uang dan kekuasaan?" jerit Kirana sambil melempar dokumen di tangannya ke arah Arkananta.
Rasa sakit di hati Kirana jauh lebih menyiksa daripada ancaman anak panah beracun yang sedang mengarah tepat ke arah jantungnya yang rapuh. Ia merasa dikhianati oleh orang tuanya sendiri, orang-orang yang selama ini ia puja melalui buku catatan yang ternyata penuh dengan kebohongan manis. Arkananta menatap Kirana dengan pandangan yang sangat nanar, ia ingin menjelaskan kebenaran di balik perjanjian kejam tersebut namun lidahnya terasa sangat kelu.
"Ambil dokumen itu sekarang, Arkananta, atau saya akan melepaskan anak panah ini tepat ke arah mata gadis magangmu yang malang ini!" bentak si pemanah misterius.
Tiba-tiba, suara gemuruh air yang sangat kencang terdengar dari arah pipa pembuangan raksasa di belakang mereka, menandakan pintu air muara baru saja dibuka secara otomatis. Air hitam yang tadinya tenang kini berubah menjadi gelombang raksasa yang menyapu apa pun yang ada di jalurnya dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Arkananta segera menangkap tubuh Kirana dan menariknya ke arah tangga besi yang menempel pada dinding lorong sebelum air bah tersebut menenggelamkan mereka.
"Pegang erat-erat tangga ini, Kirana! Jangan pernah melepaskannya meskipun kakimu mulai terasa kaku terkena air dingin ini!" perintah Arkananta dengan penuh kecemasan.
Si pemanah bertopeng kehilangan keseimbangannya saat air mulai merendam lututnya, membuat anak panah yang ia lepaskan melesat jauh dari sasaran dan menancap di langit-langit lorong. Ia mencoba berenang melawan arus yang sangat deras, namun tubuhnya justru terseret masuk ke dalam lubang pembuangan yang menuju langsung ke arah laut selatan. Kirana melihat pria itu menghilang di balik kegelapan air, menyisakan topeng emasnya yang terapung dan terbawa arus menuju kegelapan.
"Indra! Di mana Indra? Kita tidak bisa meninggalkan dia sendirian di bawah sana!" teriak Kirana sambil menoleh ke arah tempat Indra tadi tergeletak.
Beruntung, Indra sudah berhasil mengaitkan dirinya pada sebuah pipa besar sebelum air bah menyerang, meskipun ia tampak sangat lemah dan nyaris kehilangan kesadaran sepenuhnya. Arkananta membantu Indra naik ke atas tangga besi, sementara Kirana mencoba mengamankan kertas hitam yang tadi jatuh ke dalam air yang mulai meninggi. Ia berhasil meraih kertas itu meskipun ujungnya sudah sedikit sobek dan basah oleh cairan limbah yang berbau sangat tajam.
"Kita harus segera menuju ke menara tinggi, di sana adalah satu-satunya tempat untuk membatalkan perjanjian hitam ini secara resmi," ujar Arkananta sambil menggendong Indra di bahunya.
Mereka berjalan merayap di sepanjang tangga besi yang melingkar, menuju ke arah permukaan tanah yang terasa masih sangat jauh dari jangkauan mereka. Kirana menggenggam kertas hitam itu dengan penuh dendam, ia berjanji pada dirinya sendiri akan merobek perjanjian ini di depan wajah Clarissa. Namun, saat mereka hampir mencapai pintu keluar, suara tawa Bagas kembali terdengar dari arah pelantang suara yang tersembunyi di balik dinding beton.
"Selamat atas keberhasilan kalian keluar dari lorong limbah, namun kalian lupa bahwa menara tinggi sudah saya kepung dengan bahan peledak cair yang sangat sensitif!" ancam Bagas.
Kirana melihat cahaya merah yang berkedip-kedip di sekeliling pintu keluar, menandakan bahwa mereka baru saja masuk ke dalam jebakan yang jauh lebih mematikan. Arkananta berhenti melangkah, ia menatap pintu itu dengan wajah yang sangat pucat pasi karena menyadari bahwa tidak ada jalan kembali lagi bagi mereka. Di tangan Kirana, kertas hitam itu perlahan-lahan mulai mengeluarkan asap kecil, seolah-olah kertas itu sengaja dipasangi bahan kimia yang akan terbakar jika terkena oksigen berlebihan.