NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pewaris Amazon

Reinkarnasi Pewaris Amazon

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: To Raja

Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.

Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.

Hanya ada satu hal, Balas Dendam!

Mari kila mulai permainannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Buta

Mobil yang dikendarai Arga ke kediaman keluarga Amazon terasa begitu dingin saat dua orang di dalam sama sekali tidak berbicara satu kata pun.

Begitu mobil tiba di halaman keluarga Amazon, Jingga turun dengan wajah datarnya menatap Tasya dan Bryan yang telah menunggu mereka.

"Kak Jingga," Tasya langsung meneteskan air mata di pipinya, berlari ke arah Jingga dengan wajah penuh kerinduan dan kekhawatiran.

"Kak Jingga, akhirnya kau pulang juga! Aku begitu cemas selama satu minggu ini sampai makan pun tak bisa, tidur tidak nyenyak. Aku takut sekali kalau terjadi apa-apa padamu. Syukurlah sekarang kau sudah di sini, hatiku benar-benar lega," kata Tasya sambil memeluk Jingga dengan erat.

Jingga hanya diam saja, tidak membalas pelukan itu dan tatapannya tertuju pada Bryan yang juga mendekat ke arahnya, wajah pria itu persis sama seperti wajah Arga, kantong mata hitam yang tebal dan rambut yang berantakan.

Penampilannya sudah cukup menggambarkan bagaimana penderitaan yang dialaminya selama 1 minggu terakhir.

"Akhirnya kau kembali, masuklah dulu, di luar dingin," kata Bryan.

Tasya menggangguk, segera melepaskan pelukan mereka dan menggandeng lengan Jingga memasuki rumah, "selamat datang kembali di rumah Kak, kami semua sangat merindukanmu. Lihat Kak Bryan dan Kak Arga, dua-duanya sampai tak bisa merawat diri dengan benar karena terlalu panik sejak kau menghilang," kata Tasya.

Semua orang duduk di sofa, Jingga menatap Tasya sambil tersenyum tipis, "kau bilang kau mengkhawatirkanku, tidak makan dengan benar dan tidak tidur dengan nyenyak?" Kata Jingga sambil memperhatikan bagaimana penampilan Tasya saat itu.

Tasya menganggukkan kepalanya, "tentu saja, aku sangat khawatir padamu. Kalau kau tidak kembali hari ini, mungkin besok aku akan pergi sendiri ke sungai itu dan melompat ke sungai mencarimu sendiri. Aku sangat merasa bersalah padamu, ini semua salahku karena aku kurang baik menjagamu," ucap Tasya.

"Sungguh perhatian, seseorang yang satu minggu tidak makan dengan benar dan tidak tidur dengan nyenyak, tapi wajahnya begitu segar, riasan yang segar dan pakaian yang sangat mencolok, kalau orang yang tidak tahu, mereka mungkin mengira kau begitu senang selama aku menghilang," kata Jingga.

Tasya sangat terkejut dengan ucapan Jingga itu, bukankah selama ini Jingga begitu polos dan lugu, mudah dibohongi dan mudah ditipu, tapi kenapa sekarang ucapannya lebih menusuk dari duri?

Mata Tasya langsung berubah merah dengan air mata menggenang di pelupuk matanya saat ia berkata, "Kak... Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Aku sungguh sungguh sangat mengkhawatirkanmu, tapi kau malah menuduhku seperti ini. Apakah karena aku hanya anak angkat di keluarga ini jadi kau pikir aku,,, aku.."

"Cukup! Kau memang anak angkat di keluarga ini, tidak ada yang salah dengan itu. Tapi apa yang kau ucapkan hari ini sama sekali tidak sesuai dengan apa yang kulihat," kata Jingga dengan suara yang dingin.

"Sudah!" Arga akhirnya tidak tahan lagi, ia berdiri menatap Jingga dengan dingin, "kami sendiri belum memperhitungkan bagaimana kau mendorong Tasya ke sungai dan hampir membunuhnya! Sekarang kau datang main fitnahnya lagi, apa begini caramu memperlakukan adikmu sendiri?" Bentak Arga.

"Benar sekali, Tasya itu adikmu. Seharusnya kau sebagai kakak menjaganya dengan baik, bukan malah berniat mencelakainya, bahkan berniat membunuhnya. Kau tahu dia tidak bisa berenang tapi kau malah mendorongnya ke sungai yang alirannya sangat deras, seandainya kami berdua tidak datang waktu itu, apakah kita hanya akan membawa pulang nama kemari?!" Kata Bryan menatap tajam Jingga.

"Jadi kalian pikir aku yang mendorongnya?" Tanya Jingga.

"Kalau bukan kau, memangnya ada hantu?" Kata Bryan kesal.

"Jadi kalian langsung percaya begitu saja kalau akulah yang mendorong Tasya ke sungai, padahal kalian tidak punya bukti apapun?" Kata Jingga dengan suara datar.

Jingga sendiri sudah tahu jawabannya, tapi tetap bertanya untuk memastikannya sekali lagi.

"Heh," Bryan tertawa mengejek, "memangnya perlu bukti? Apa yang dikatakan Tasya sudah menjadi buktinya, lagi pula selama ini kau sudah sangat sering mencelakai Tasya, jadi kami tidak perlu bukti untuk apa yang terjadi kali ini!' tegas Bryan.

"Oh, memangnya apa yang terjadi sebelum-sebelumnya itu juga punya bukti? Selain kata-kata Tasya, memangnya bukti apa yang kalian punya untuk selalu menyalahkanku setiap saat?" Kata Jingga.

Arga dan Bryan terdiam, mereka mengingat satu persatu momen setiap kali mereka menuduh Jingga melakukan sesuatu pada Tasya, semuanya tidak ada bukti mereka hanya percaya apa yang dikatakan Tasya.

Tangan Tasya terkepal kuat ketika melihat Brian dan Arga sudah mulai ragu, "Kak Arga, jangan mau dihasut olehnya, kalian sendiri mendengar bagaimana aku berteriak minta tolong, kalau dia tidak menyeret ku ke sungai dan tidak mendorong ku, maka aku tidak mungkin akan berteriak seperti itu," ucap Tasya.

"Benar, aku mendengar sendiri tasya berteriak, jika kau yang hendak didorong, kenapa bukan kau yang berteriak minta tolong?" Tanya Arga dengan tatapan dingin ditujukan pada Jingga.

"Memangnya kalau aku minta tolong, apakah kalian akan menyelamatkanku? Kapan kalian pernah menyelamatkanku setiap aku minta tolong pada kalian? Yang terjadi selama ini hanyalah Tasya yang terus kalian tolong!" Teriak Jingga tidak bisa lagi menahan emosinya menatap dua orang bodoh di hadapannya.

"Si,,, siapa bilang kami tidak akan menolongmu? Hanya saja setiap kali kaulah yang selalu mencelakai Tasya, jadi tidak mungkin kami menolongmu!" Tegas Bryan.

"Waktu aku sakit, 3 hari di rumah sakit, pernahkah kalian sehari pun menjenguk ke sana? Aku minta tolong karena tidak ada yang membantuku berdiri dari tempat tidur, tapi apa jawaban kalian? Kalian bilang Tasya juga di rumah perlu ditemani, sedangkan aku? Aku yang sakit tapi aku yang tidak perlu ditemani sementara Tasya yang baik-baik saja di rumah harus ditemani?" Kata Jingga dengan mata memerah, benar-benar tidak tahan mengingat kembali masa-masa ketika dua orang itu terus mengabaikannya.

"Itu... Hari itu karena..." Bryan berusaha mencari jawaban untuk membela diri.

"Cukup!" Arga menggertakan giginya, "kau sudah membuat kekacauan selama satu minggu terakhir ini dan sekarang kau datang ingin menghitung apa yang tidak sepatutnya kau hitung? Kami menderita selama satu minggu memikirkanmu tapi kau bersenang-senang di hotel menikmati penderitaan kami? Kau memang pantas diberi hukuman untuk menyadarkanmu tentang apa yang terjadi hari ini! Pengawal, kurung dia di kamarnya, jangan beri makanan kecuali air minum satu kali sehari! Putus juga aliran air ke kamarnya dan jangan biarkan dia menikmati AC!" Tegas Arga mengambil keputusan.

"Baik," seorang pengawal datang menghampiri Jingga, memegang tubuh Jingga untuk membawanya ke kamar.

Jingga tersenyum, "terima kasih, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan ke depannya," ucap Jingga yang kini tahu bahwa dia memang tidak perlu berlunak hati pada orang-orang sialan ini, mereka tidak akan pernah melihat kebenaran karena mata mereka sudah dibutakan oleh Tasya.

Tasya menatap Jingga dengan sedih, "Kak Jingga, jika kau memohon pada Kak Arga dan mengakui kesalahan mu, mungkin dia akan menghentikan hukumanmu--"

"Tidak perlu membelanya, dia memang pantas dihukum!" Kata Bryan menarik Tasya ke pelukannya, tidak mau membiarkan Tasya dimanfaatkan oleh Jingga.

Air mata menetes di pipi Tasya, "Tapi... Kasihan Kak Jingga kalau--"

"Lihat bagaimana kau begitu peduli padanya, tetapi setiap kali dia hanya ingin melukaimu. Mulai sekarang jangan pedulikan dia lagi, biarkan Dia mendapat hukumannya kali ini!" Tegas Bryan.

Tasya diam-diam tersenyum merasa sangat senang melihat Jingga diseret pergi oleh pengawal.

'Rasakan kamu perempuan sialan, pokoknya ke depannya tidak akan ada hari-hari tenang untukmu,' pikir Tasya dalam hati.

1
Allea
ahhh berarti si jingga ini awalnya bodoh y thor 😁
Soraya
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!