NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Neraka Kecil di Dharmasraya

Jam sembilan pagi, Dharmasraya sudah seperti neraka.

Padahal matahari baru naik sepenggalah. Tapi panasnya sudah menusuk. Silau. Debu merah beterbangan di mana-mana. Masuk ke mata, ke hidung, ke sela-sela kaos kaki.

Di kanan kiri jalan cuma ada satu pemandangan. Sawit. Sawit. Dan sawit lagi. Barisannya tak berujung, seperti tidak ada habisnya.

Di dalam Avanza silver butut yang warnanya sudah pudar karena debu, Mobil Travel Padang Panjang - Dharmasraya yang mengantar Nadia ke tujuan yaitu sebuah pabrik sawit di daerah agak pedalaman Dharmasraya.Dia menyeka keringat di dahinya pakai punggung tangan. AC mobil travel itu sudah lama mati. Kaca jendela dibuka sedikit, tapi angin yang masuk justru membawa debu tambahan.

Usianya baru dua puluh dua tahun.

Tiga bulan yang lalu, ia masih berdiri di podium aula universitas swasta ternama di Padang. Memakai toga hitam, senyumnya lebar sekali. Ia dipanggil sebagai lulusan terbaik jurusan Akuntansi,Mama menangis di kursi penonton. Papa merekam pakai HP dengan tangan gemetar. Hari itu Nadia merasa dunia ada di tangannya.

Hari ini dunia itu menamparnya keras.

Bau asam menyengat dari Tandan Buah Segar yang menumpuk di area bongkar. Suara mesin pabrik yang meraung. Dan debu laterit merah yang nempel di mana-mana.

Ini bukan Padang. Ini Dharmasraya. Kabupaten paling ujung. Tempat yang bahkan sinyal HP pun harus dicari.

Mobil Travel agak melambat. Jalan aspal di sini tidak mulus. Banyak lubang bekas truk CPO. Di spion tengah, Nadia melihat pantulan wajahnya sendiri. Kusut. Rambut hitam bergelombangnya ia ikat kuda asal-asalan. Tidak ada bedak, tidak ada lipstik. Seragam biru dongker yang ia pakai terasa gerah.

Seragam itu dijahitkan Mama di penjahit langganan di Pasar Padang Panjang. Mama minta ukurannya dibuat ngepas. Di pinggang dan di dada sengaja dipaskan.

"Nak, perempuan harus rapi. Harus menarik. Jangan kucel kayak orang habis ke sawah," begitu kata Mama waktu itu sambil mengukur lingkar pinggangnya.

Ponselnya bergetar di atas dashboard yang berdebu.

Nama di layar: Rizki - Tunangan.

Nadia menghela napas panjang. Panjang sekali sampai dadanya terasa sesak.

"Assalamualaikum,..Riz," jawab Nadia, suaranya ia usahakan terdengar normal. Padahal lelah sekali.

"Waalaikumsalam,kamu udah nyampe mana?

" Aku udah nyampe di jalan menuju pabrik. "

"Alhamdulillah kalau sudah sampai.Hati-hati ya di sana. Jalan menuju Dharmasraya itu banyak tikungan, banyak truk besar. Nanti malam aku ada tugas periksa ulangan murid-murid ku, jadi kita tidak bisa teleponan lama," suara Rizki terdengar datar, seperti sedang membaca laporan.

Rizki. Usianya tiga puluh tahun. Guru Sejarah di SMA Negeri 1 Batipuh,Pegawai Negeri Sipil, Anak kepala desa. Laki-laki baik, sopan, tidak pernah merokok, sholatnya rajin. Semua kriteria menantu idaman orang Minang ada di dia.

Mereka bertunangan enam bulan lalu. Tanpa pacaran. Tanpa cinta. Lamaran datang karena Papa dan kepala desa berteman akrab. Mama langsung mengiyakan.

"Iya, bang. Hati-hati juga disana. Nadia mau masuk ke area mess dulu ya, sinyal di sini memang agak susah," jawab Nadia cepat. Ia ingin segera mengakhiri.

"Iya, jaga diri baik-baik. Jangan lupa sholat Dzuhur. Dan jangan terlalu dekat sama laki-laki di pabrik itu. Tidak baik untuk perempuan yang sudah bertunangan."

Lagi. Kalimat itu lagi.

"Iya bang," tutup Nadia.

Sambungan terputus. Layar ponsel kembali gelap.

Nadia menatap layar itu lama. Rasa sesak itu kembali datang. Menyesakkan dada. Ia merasa seperti burung yang dimasukkan ke dalam sangkar emas. Sangkarnya bagus, aman, dipuji orang. Tapi ia tidak bisa terbang.

Apa dayanya. Di tanah Minang, kato mamak adalah hukum. Kato mandeh adalah mutlak. Anak perempuan tidak boleh membantah.

Mobil kembali melaju. Beberapa menit kemudian, gerbang raksasa itu terlihat. Tulisannya besar, terbuat dari besi: PT. SAWIT JAYA DHARMASRAYA.

Aroma asam lemak dan solar langsung menyergap begitu gerbang terbuka. Suara mesin boiler meraung.

"Udah nyampe dek" kata sopir Travel.

"Berapa Bang ongkosnya"tanya nadia

"125.000 dek. "Nadia menyerahkan uang 125.000 ke sopir Travel. setelah itu mobil Travel avanza abu-abu tadi meninggalkan dia di depan gerbang pabrik. Begitu kakinya menginjak tanah, sepatu flat hitamnya langsung disambut debu halus. Debunya naik sampai ke mata kaki.

Ia menggendong tas kerja dan berjalan menuju pos satpam untuk lapor.

"Kamu pasti Nadia, staf administrasi baru dari Regional Officer (RO) padang ya?"

Suara bariton, berat, sedikit serak, menghentikan langkahnya.

Nadia menoleh.

Dan napasnya tercekat.

Berdiri di bawah naungan atap seng area bongkar, adalah seorang laki-laki yang membuat definisi laki-laki dewasa terasa begitu nyata.

Usianya mungkin dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun. Tidak memakai seragam kantor seperti staf lain. Ia hanya memakai kemeja flanel kotak-kotak biru tua yang lengannya digulung sampai ke siku. Dari gulungan itu terlihat lengan bawahnya yang kekar, berurat, dan sedikit berbulu. Celana cargo hitam yang sudah pudar dan sepatu boot tinggi yang penuh lumpur kering.

Wajahnya tajam. Rahangnya tegas, seperti dipahat. Ada sedikit keringat yang membasahi pelipis dan lehernya. Dia tidak tampan seperti aktor sinetron. Dia tampan dengan cara yang liar, berbahaya, dan bikin jantung perempuan berdegup tidak karuan.

"Iya, Pak. Saya Nadia. Hari ini hari pertama saya melapor ke HRD," jawab Nadia. Ia berusaha terdengar profesional, meski suaranya sedikit bergetar. Ia merasakan tatapan laki-laki itu menyapu dirinya dari atas ke bawah. Bukan tatapan vulgar yang menjijikkan, tapi tatapan menilai. Tatapan bos yang sedang menilai anak buah baru.

Laki-laki itu tersenyum miring. Senyum yang tidak mencapai matanya.

"Saya Arif. Asisten Manager Pabrik di sini. Orang-orang biasa panggil saya AM Arif. Selamat datang di neraka kecil yang bernama Dharmasraya, Nona."

Entah kenapa, panggilan Nona dari mulutnya terdengar berbeda. Tidak merendahkan. Justru membuat perut Nadia berdesir aneh.

Nadia tertawa kecil. Tawa yang keluar natural, tanpa ia tahan.

"Neraka kecil? Saya dengar di sini justru lagi panen raya, Pak. Bukannya itu berarti rezeki? Banyak uang?"

Arif melangkah lebih dekat. Satu langkah. Dua langkah. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa satu meter.

Nadia bisa mencium aromanya dengan jelas. Campuran antara keringat laki-laki, bau solar, dan kopi pahit yang sangat maskulin. Aroma yang sama sekali berbeda dari aroma Rizki yang selalu wangi minyak wangi.

"Rezeki sih iya. Tapi kerjanya bikin gila," kata Arif, suaranya pelan tapi berat. "Di sini kita tidak butuh orang yang manja, Nona. Pabrik ini jalan dua puluh empat jam. Tidak ada hari libur saat panen raya. Kamu siap dengan debu, panas, dan suara mesin yang bikin tuli? Atau kamu cuma mau nangis di mess karena kangen Padang?"

Kalimatnya menantang.

Nadia yang sejak tadi merasa kecil dan merasa tidak berdaya, tiba-tiba merasa darahnya naik.

Ia menegakkan punggungnya. Ia menatap tepat ke dalam mata hitam Arif yang tajam itu. Ia tidak mau kalah.

"Saya lulusan terbaik di kampus saya, Pak Arif," jawab Nadia, suaranya tegas. "IPK saya 3,89. Saya tidak takut debu. Saya tidak takut panas. Saya cuma takut kalau pekerjaannya tidak menantang. Kalau cuma disuruh fotokopi dan bikin kopi, buat apa saya jauh-jauh dari Padang Panjang ke sini?"

Angin panas berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut Nadia.

Alis Arif terangkat tinggi. Jelas sekali ia terkejut. Mungkin tidak ada staf baru, apalagi perempuan, yang berani menjawabnya seperti itu di hari pertama.

Lalu ia tertawa. Tawa yang berat, renyah, dan lepas.

"Wah. Berani juga. Bagus," kata Arif sambil mengangguk-angguk. "Sudah lama saya tidak lihat admin baru yang punya nyali. Biasanya baru lihat truk sawit saja sudah minta pulang."

Ia menatap Nadia sekali lagi, kali ini lebih lama.

"Nanti malam jam tujuh, temui saya di ruang administrasi. Kita bahas shift kamu. Jangan telat. Dan jangan lupa bawa mental baja. Karena di sini saya tidak akan pandang bulu cuma karena kamu perempuan cantik. Mengerti?"

Tanpa menunggu jawaban, Arif berbalik. Ia berjalan menuju area produksi dengan langkah lebar dan penuh kuasa. Ia berteriak memberi instruksi kepada para operator grab crane di atas truk. Suaranya menggema, semua orang langsung bergerak.

Nadia berdiri terpaku di tempatnya.

Angin panas Dharmasraya tiba-tiba terasa berbeda. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena takut. Tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Gila, batinnya. Gila kamu, Nadia. Tunanganmu itu guru sejarah yang kalau makan bubur harus diaduk searah jarum jam dan selalu pakai baju koko. Dan kamu baru saja menantang Asisten Manager pabrik sawit yang terlihat seperti habis keluar dari majalah laki-laki.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan Rizki. Video Call dari dari Mama.

Memperlihatkan Mama dan Papa yang lagi berasa sawah.

"Nak, Rizki bilang kamu sudah sampai. Syukur Alhamdulillah. Ingat pesan Mama ya. Jaga tingkah laku di rantau. Jangan terlalu akrab dengan laki-laki di sana. Kamu sudah ada yang punya. Bulan depan kita mau lamaran resmi. Jaga nama baik keluarga."

"iya Ma"

Nadia menelan ludah. Tenggorokannya kering.

Ia menatap punggung Arif yang kini semakin jauh, yang sedang memanjat tangga besi menuju ruang kontrol.

Arif tampak berkuasa. Hidup. Berbahaya. Semua yang tidak dimiliki Rizki.

Nadia tahu ia harus berhati-hati. Dharmasraya bukan lagi Padang yang penuh kafe estetik dan jalanan yang rapi. Ini adalah tanah di mana aturan dibuat oleh mereka yang berkuasa. Dan di mana hati perempuan bisa tersesat di antara rindangnya pohon sawit yang menjulang tinggi.

Ia menggenggam tali tas kerjanya erat-erat. Kuku-kukunya menancap.

"Selamat datang di Dharmasraya, Nadia," bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya hampir hilang tertiup angin.

"Semoga kamu tidak hancur di sini."

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang berkata jujur.

Ia sudah mulai menginginkan kehancuran itu. Sedikit saja.

Bersambung

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!