Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.
Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.
Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Menjelang sore, Mikha keluar menuju halaman belakang villa.
Ia berdiri di dekat kolam renang, memandangi laut yang mulai berubah warna. Angin pantai menggerakkan ujung rambutnya.
Pras sedang mandi dan berganti pakaian.
Mikha mengambil ponselnya, berniat mengabadikan pemandangan tersebut.
Namun, ketika mengarahkan kamera ke arah laut, pandangannya tidak sengaja tertuju pada villa di sebelah.
Ada seorang perempuan berdiri di balkon lantai dua.
Gaun merah.
Rambut panjang.
Sosok itu terasa sangat familiar.
Mikha memperbesar layar ponselnya.
Jantungnya seketika berdegup lebih cepat.
Ia mengenali perempuan itu.
Alena.
Perempuan yang beberapa waktu lalu ditemuinya. Perempuan yang membuatnya menangis di kamar setelah mengetahui bahwa suaminya mencintai orang lain.
Mikha menurunkan ponselnya perlahan.
Ia tidak salah lihat.
Alena benar-benar berada di sana.
Tepat di villa sebelah tempat mereka menginap.
Perempuan itu bahkan sedang memandang ke arahnya.
Kemudian, Alena tersenyum.
Senyum yang sama seperti ketika mereka bertemu sebelumnya.
Mikha membeku.
Mengapa Alena berada di sini?
Apakah kebetulan?
Namun, sebelum ia sempat menemukan jawabannya, pintu kamar di belakangnya terbuka.
"Sayang, kamu sedang apa?"
Suara Pras membuat Mikha menoleh.
Lelaki itu berjalan mendekat dengan pakaian santai. Senyumnya terlihat begitu wajar.
Mikha memandang suaminya, kemudian kembali mengarahkan pandangan ke villa sebelah.
Kosong.
Alena sudah tidak terlihat.
"Mas."
"Hm?"
Mikha menelan ludah.
"Villa sebelah itu juga disewa orang?"
Pras mengikuti arah pandang istrinya.
"Iya, sepertinya."
"Mas kenal orangnya?"
Pras terdiam sepersekian detik.
"Nggak. Memangnya kenapa?"
Mikha menatapnya.
Ia ingin bertanya lebih jauh. Ingin memastikan apakah Pras mengetahui siapa yang berada di sana.
Namun, entah mengapa, ia merasa takut dengan jawaban yang mungkin akan diterimanya.
"Nggak apa-apa."
Pras tersenyum, lalu merangkul bahunya.
"Sudah, jangan memikirkan orang lain. Kita ke pantai saja. Aku ingin menghabiskan waktu sama kamu."
Mikha mengangguk pelan.
Ia membiarkan Pras menggandeng tangannya.
Tetapi, kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa bahkan ketika sedang berlibur berdua dengan suaminya, ia mungkin tetap tidak pernah benar-benar mendapatkan lelaki itu sepenuhnya.
Sementara di balkon villa sebelah, Alena kembali muncul.
Ponselnya berada di tangan.
Ia membuka percakapan dengan Pras, lalu mengetik sebuah pesan singkat.
Mas, aku lihat kalian sudah siap jalan-jalan.
Ia menambahkan sebuah foto dirinya yang sedang berdiri di balkon.
Sayang sekali, aku juga ingin menikmati pantai bersamamu.
Pesan itu terkirim.
Tidak lama kemudian, ponsel di saku Pras bergetar.
Lelaki itu melirik layar sekilas.
Senyumnya langsung memudar.
Mikha yang berjalan di sampingnya menyadari perubahan tersebut.
"Kenapa, Mas?"
Pras buru-buru memasukkan ponselnya.
"Nggak apa-apa. Cuma pesan kantor."
Mikha mengangguk.
Ia tidak bertanya lagi.
Namun, jauh di dalam hatinya, ada perasaan aneh yang perlahan tumbuh.
Seolah-olah liburan yang seharusnya menjadi waktu untuk memperbaiki pernikahan mereka justru akan menjadi tempat di mana ia kembali dipaksa menyaksikan pengkhianatan suaminya.
Dan kali ini, ia tidak tahu apakah hatinya masih cukup kuat untuk menanggungnya.
Sebab, perempuan yang dicintai suaminya kini berada di villa sebelah. Sedangkan dirinya masih berdiri di samping lelaki yang sama sekali tidak menyadari bahwa kesabarannya hampir habis.
Mikha tetap berjalan di samping Pras tanpa sedikit pun menyinggung pesan yang baru saja diterima suaminya.
Ia bahkan berusaha tersenyum ketika Pras mengajaknya berbicara tentang pantai, restoran, dan rencana mereka menghabiskan sore.
Seolah-olah tidak ada sesuatu yang sedang terjadi.
Seolah-olah ia tidak baru saja melihat Alena berdiri di balkon villa sebelah.
Seolah-olah ia tidak tahu bahwa perempuan itu sedang berusaha menarik perhatian suaminya.
Mikha memilih diam.
Ia tidak ingin membuat Pras curiga bahwa dirinya mengetahui keberadaan Alena. Ia juga tidak ingin merusak rencana yang mungkin sedang disusun kedua orang itu.
Bukankah selama ini Pras sudah terlalu pandai menyembunyikan sesuatu darinya?
Kali ini, Mikha ingin melihat seberapa jauh lelaki itu akan melangkah ketika mengira istrinya tidak mengetahui apa pun.
"Sayang, kamu mau makan apa nanti malam?" tanya Pras sambil menggenggam tangannya.
Mikha menoleh.
"Terserah Mas saja."
"Biasanya kamu paling banyak permintaan kalau soal makanan."
Mikha tersenyum tipis. "Sekarang aku nggak terlalu ingin makan."
Pras memperhatikan wajah istrinya.
"Kamu sakit?"
"Nggak. Cuma sedikit lelah."
"Kalau begitu, kita kembali ke villa saja. Kamu istirahat."
Mikha mengangguk.
Pras kemudian mengajaknya kembali. Sepanjang perjalanan, lelaki itu beberapa kali memeriksa ponselnya. Bahkan, ketika Mikha sedang bercerita tentang pemandangan pantai, perhatian Pras terlihat lebih banyak tertuju pada layar benda tersebut.
Mikha menyadarinya.
Ia melihat bagaimana suaminya sesekali mengetik pesan, kemudian menghapusnya sebelum kembali memasukkan ponsel ke saku.
Entah apa yang sedang dibicarakan Pras dengan Alena.
Namun, Mikha sudah tidak ingin mengetahuinya lebih jauh.
Sebab, semakin banyak hal yang ia ketahui, semakin dalam pula luka yang harus ditanggungnya.
Sesampainya di villa, Pras kembali menerima telepon.
"Aku angkat sebentar, ya. Ada urusan kantor."
Mikha yang sedang duduk di sofa hanya mengangguk.
"Iya, Mas."
Pras berjalan menuju teras belakang, meninggalkan istrinya sendirian di ruang tengah.
Begitu lelaki itu menghilang dari pandangan, senyum tipis di wajah Mikha perlahan lenyap.
Ia menunduk, memperhatikan kedua tangannya yang saling bertaut.
Beberapa menit lalu, ia masih berjalan bergandengan tangan dengan suaminya. Pras bahkan sempat merangkul pinggangnya dan mengatakan ingin menikmati liburan berdua.
Tetapi, nyatanya, pikiran lelaki itu mungkin sedang berada di tempat lain.
Bersama perempuan lain.
Mikha memejamkan mata.
Dulu, ia pernah membayangkan bahwa pernikahannya dengan Pras akan menjadi tempat paling aman untuk pulang. Ia percaya bahwa lelaki itu adalah seseorang yang akan selalu berada di sisinya, dalam keadaan apa pun.
Namun, kenyataan justru mengajarinya bahwa seseorang bisa tidur di ranjang yang sama, menikmati makanan yang sama, bahkan tersenyum di hadapan kita, tetapi hatinya berada di tempat lain.
Air mata menggenang di pelupuk matanya.
Mikha segera menyekanya.
Tidak.
Ia tidak ingin terus-menerus menangis hanya karena seorang lelaki yang bahkan tidak mampu menghargai kesetiaannya.
Selama ini ia sudah berusaha mempertahankan rumah tangga mereka. Ia menelan kekecewaan, berpura-pura tidak mengetahui perselingkuhan Pras, bahkan berusaha tetap bersikap baik kepada Alena.
Tetapi, sampai kapan?
Apakah ia harus menunggu sampai perempuan itu benar-benar mengambil seluruh kebahagiaannya?
Mikha menarik napas panjang.
Keputusannya semakin bulat.
Ia ingin berpisah.
Bukan karena kalah dari Alena. Bukan pula karena tidak mampu mempertahankan Pras.
Melainkan karena ia akhirnya menyadari bahwa dirinya juga berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Ia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan terus mencurigai suami sendiri.
Mikha mengambil ponsel dari atas meja.
Ada satu nama yang sejak beberapa hari terakhir terus terlintas di pikirannya.
Sahabat lamanya, seorang perempuan yang berprofesi sebagai pengacara.
Mereka sudah cukup lama tidak berbicara secara langsung, tetapi hubungan keduanya masih terjalin baik.
Mikha membuka kontak tersebut, kemudian menekan tombol panggilan.
Tidak sampai tiga dering, sambungan telepon diterima.
"Halo, Mikha?"
"Hai, Ra. Kamu lagi sibuk?"
"Nggak terlalu. Kenapa? Tumben menelepon. Kamu sedang di mana?"
"Sedang liburan."
"Wah, asyik sekali. Sama Pras?"
Mikha terdiam sesaat.
"Iya."
"Terus, ada apa? Suaramu kok terdengar berbeda?"
Mikha menunduk.
Ada sesuatu yang terasa begitu berat ketika ia harus mengucapkan kalimat berikutnya.
"Ra, aku mau tanya sesuatu."
"Tanya apa?"
"Kalau seseorang ingin mengajukan gugatan cerai, apa saja yang harus dipersiapkan?"
Suasana di seberang mendadak hening.
"Mikha, kamu sedang membicarakan siapa?"
"Aku."
"Kamu serius?"
Mikha mengangguk meskipun sahabatnya tidak bisa melihat.
"Iya, Ra. Aku sedang mempertimbangkan untuk berpisah dari Pras."
"Astaga, Mikha. Ada apa sebenarnya? Bukankah kalian baik-baik saja?"
Mikha tersenyum getir.
"Kelihatannya saja baik-baik saja."
"Pras melakukan sesuatu?"
Pertanyaan itu membuat tenggorokan Mikha terasa tercekat.
Ia memandang pintu kaca yang mengarah ke teras. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Pras masih berdiri di sana, berbicara melalui telepon dengan ekspresi serius.
Mikha tidak tahu apakah lelaki itu sedang berbicara dengan Alena atau orang lain.
Namun, ia sudah terlalu lelah mencari pembenaran.
"Dia mengkhianatiku, Ra."
Suaranya terdengar lirih.
"Dan perempuan itu bukan orang asing. Dia sepupuku sendiri."
Sahabatnya kembali terdiam.
"Mikha, kamu yakin dengan keputusan ini?"
"Aku belum tahu bagaimana nanti prosesnya. Tapi aku sudah tidak ingin mempertahankan pernikahan yang hanya aku perjuangkan sendirian."
"Kalau begitu, kita bicarakan baik-baik. Aku bisa bantu kamu memahami proses hukumnya. Tapi jangan mengambil keputusan karena emosi sesaat. Pastikan juga semua hakmu terlindungi."
Mikha mengangguk.
"Itulah kenapa aku menghubungimu. Aku ingin tahu apa yang harus kulakukan, termasuk soal harta bersama dan dokumen-dokumen yang perlu disiapkan."
"Baik. Nanti setelah kamu pulang, kita bertemu. Kalau ada bukti yang berkaitan dengan perselingkuhan, simpan dengan baik. Jangan mengubah atau menghapus apa pun."
"Terima kasih, Ra."
"Kamu nggak perlu berterima kasih. Aku sahabatmu. Dan satu lagi, jangan menghadapi semuanya sendirian."
Mikha menutup panggilan setelah berbicara beberapa menit lagi.
Ia meletakkan ponselnya di pangkuan, kemudian menyandarkan punggung ke sofa.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih lega.
Setidaknya, sekarang ia tahu harus memulai dari mana.
Tidak lama kemudian, Pras masuk ke ruang tengah.
"Aku sudah selesai, Sayang."
Mikha segera mengangkat wajah.
"Oh, iya."
Pras menghampirinya, lalu duduk di sampingnya.
"Kamu menelepon siapa?"
"Teman."
"Teman yang mana?"
Mikha tersenyum kecil.
"Teman lama."
Pras mengangguk tanpa menaruh curiga.
"Kamu sudah istirahat? Nanti malam kita makan di luar, ya. Aku sudah menemukan restoran bagus."
"Boleh."
Pras tersenyum puas, kemudian mengecup kening istrinya.
Mikha membalas dengan senyum yang sama.
Ia bahkan membiarkan lelaki itu menggenggam tangannya.
Namun, di dalam hatinya, sesuatu telah berubah.
Ia tidak lagi sedang berusaha membuat Pras kembali mencintainya.
Ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan diri dari pernikahan tersebut.
Dan jika Pras masih mengira bahwa Mikha adalah perempuan yang akan terus memaafkan segala pengkhianatannya, lelaki itu benar-benar keliru.
Sebab, tanpa sepengetahuannya, istrinya baru saja mengambil langkah pertama menuju perceraian.
Sementara itu, Pras masih sibuk memikirkan pesan-pesan dari Alena.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa perempuan yang duduk di sampingnya kini sedang mempersiapkan kehidupan tanpa dirinya.
Mikha sesekali melirik Pras.
"Telepon siapa sayang?"
"Teman Mas." Mikha pura-pura tersenyum, seolah dunianya tetap baik-baik saja.
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭