Time travel seorang gadis yang terpeleset di acara festival lampion kampus.
Karya Fantasi kedua setelah Petualangan Mayanza, semoga berkenan di baca tiap episode nya... 🤍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2 Sendirian
"May, bisa bantu aku?" tanyaku.
"Iya, Nona" kata Dayang May, melihatku sibuk melukis pohon pinus di dekat kolam ikan.
"Nona Xiu Ren, lukisan nona sangat indah sekali" kata Dayang May.
"Bagaimana kalau aku menjual lukisanku di Pasar Ibukota?" tanyaku.
"Tuan pasti marah, dia tidak ingin Nona menjual lukisan Nona dengan sembarangan" kata Dayang May
"Ayah selalu begitu, buat apa memenuhi dinding dengan lukisanku" kataku
"Itu karena Tuan Besar sangat menyayangi nona" kata Dayang May.
"Buktinya, mereka selalu meninggalkanku sendirian" kataku.
"Nona kesepian, kan ada aku?" kata Dayang May.
"Kalau begitu kita jalan-jalan bagaimana?' tanyaku
"Nona...ini sudah terlalu sore, bagaimana kalau besok pagi" kata Dayang May.
"Boleh" kataku.
**
pagi-pagi aku sudah siap dan rapi, hujan gerimis turun.
"Nona sepertinya kita tidak bisa keluar" kata Dayang May
"Kita keluar dengan payung" kataku.
"Nona, nanti nona sakit, tuan besar dan nyonya baru pulang besok pagi" kata Dayang May.
"bukankah kau sudah janji menemaniku jalan-jalan hari ini" kataku.
"baiklah nona, aku ambilkan payung" kata Dayang May.
kami berjalan-jalan di tengah hujan yang tidak terlalu deras, aku senang sekali, kami berlindung di bawah atap kedai yang tutup.
"Apakah nona Xiu Ren?" kata pemuda itu.
"Ya, kau mengenalku?" tanyaku
Dia basah kuyup, mengangguk.
"Kau siapa?" tanyaku.
Dayang May menyentuh tanganku, "Nona dia pengawal pangeran" kata Dayang May berbisik.
Dan di dengar olehnya.
"Namaku Ziu" katanya.
"Oh, Ziu senang berkenalan denganmu" aku menunduk.
"Oh, seharusnya saya memberi hormat" kata Pengawal Ziu.
"Sudahlah jangan begitu..., mana tuanmu" tanyaku.
"Di kedai seberang" jawabnya.
"'Hah, kejam sekali, kenapa dia tidak membawamu makan disana" kataku bertanya.
Dia bingung, dayang May menarik bajuku.
"Dayang, jangan menarik bajuku nanti basah" kataku.
Ada-ada saja dayang may malah menarikku pergi, "kami pergi..sampai jumpa lagi" kataku menyerahkan permen ke tangannya, kasihan kedinginan.
**
"Nona, nona tidak boleh berkata kasar pada Pangeran...kalau dia tau kita bisa mati" kata Dayang mengajakku menjauh.
"Memang mati kenapa?Aku salah apa?' tanyaku.
"Nona tau berkata tidak sopan pada anggota kerajaan akan di hukum di Ibukota" kata Dayang May.
Aku cemberut, "Aku kan hanya bilang kenapa pangeran kejam pada Ziu, apa itu salah?" tanyaku.
"Kata Kejam itu sangat tidak sopan" kata Dayang May.
Aku mengangguk mengerti, "Kasihan Ziu" kataku.
"Kita pulang nona, ini sudah siang" kata Dayang May bajunya basah.
Aku juga sudah basah, gaunku terciprat lumpur karena berlarian.
**
"Nona, perkembangan nona sangat baik untuk menulis ditingkatkan, membaca tidak perlu terburu-buru mengeja dalam hati" kata Guruku.
"Terima kasih guru" kataku.
Aku ikut mengantar ayah ke Istana sore ini, karena aku sangat senang melihat istana.
"Kau duduk saja di ruangan ini jangan kemana-mana" kata Ayah.
"Apa aku bisa ikut ke sana Ayah?" kataku melihat orang-orang berlatih menari.
"Itu khusus dayang istana" kata Ayah, "kau bisa melihatnya dari sini saja" katanya lagi.
"Ayah, apa jalan-jalan juga tidak boleh" kataku.
"jangan jauh,, ayah sedang sibuk berkerja" kata Ayah.
Aku mengangguk, berjalan sekeliling tempat Ayah berkerja.
Aku melihat dayang belajar menyajikan teh, aku mendekat.
Mereka menoleh padaku, "Itu kan Putri Mentri Keuangan, Xiu Ren kabarnya dia bodoh tidak bisa membaca" kata salah seorang dayang.
Aku mendengarnya... aku menunduk,
aku bisa membaca..aku sudah bisa...
**
Aku pulang dengan tandu karena sudah sore, ayah belum pulang berkerja sampai malam.
Ibu pergi ke jamuan teh kerajaan.
Aku melangkah ke kamarku, setelah mandi aku makan, dan berlatih menari dengan Dayang may di gazebo.
"Bagaimana menurutmu? tarian ini kulihat di istana" kataku
"Indah sekali nona, nona memang hebat" kata Dayang May bertepuk tangan.
Aku senang, walaupun impianku tampil di istana masuh jauh.
***
Bersambung...