NovelToon NovelToon
Gadis Galak Milik Tuan Muda

Gadis Galak Milik Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yusriani Yusuf

Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.

Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.

Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengaduan

Adrian menyandarkan punggung ke sofa, dia duduk diam di sana sambil sesekali menyesap soda dingin. Di sela jarinya, sebatang rokok yang tinggal separuh terus mengepul, membuat sudut-sudut ruang tamu yang sepi itu makin berkabut.

Langkah kaki yang tergesa-gesa tiba-tiba memecah keheningannya. Asistennya muncul di ambang pintu, berusaha mengatur napasnya.

"Tuan, CCTV depan baru saja menangkap pergerakan Nona Ana. Dia naik taksi ke arah selatan. Plat nomornya…"

"Aku nggak nyuruhmu nyatet platnya," potong Adrian datar, tanpa menoleh sedikit pun.

Si asisten langsung bungkam. Suasana di antara mereka mendadak terasa kaku dan menekan.

Adrian mengembuskan asap rokoknya panjang-panjang ke udara. Ia akhirnya mendongak, menatap langsung mata bawahannya. "Tapi... kau sempat baca, kan? Berapa?"

Asisten itu sempat terpaku, bingung dengan perubahan sikap tuannya yang mendadak, sebelum akhirnya tergagap, "BB 1342 SB, Tuan. Tapi posisinya agak samar..."

Adrian mengernyit. "Formatnya aneh. Itu bukan plat taksi resmi." Ia menekan ujung rokoknya ke asbak tembaga hingga padam sepenuhnya. "Cari tahu itu taksi dari pool mana, ke mana rutenya dan siapa yang menyetir dengan mobil itu,sekarang juga."

"Baik Tuan. Segera saya periksa."

Begitu pintu tertutup dan langkah asistennya menjauh, Adrian kembali menyandarkan kepala. Pandangannya lurus menatap kedepan. Pikirannya telanjur terbang, mengejar bayangan perempuan yang pergi begitu saja tanpa pamit.

Di belahan kota yang lain, sebuah taksi perlahan mengerem dan menepi tepat di depan pagar besi kokoh kediaman keluarga Pramudia.

"Sudah sampai Nona," ucap sopir setengah baya itu sambil melirik lewat spion tengah.

Ana menatap lurus ke arah gerbang megah di hadapannya. Dadanya mendadak terasa sesak oleh luapan emosi yang asing. "Berapa semuanya Pak?"

"Lima puluh ribu pas Nona."

Ana mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari saku dan mengulurkannya ke depan. "Nggak usah dikembalian Pak. Buat tambahan beli susu anaknya aja."

Pandangan Ana sempat tertuju pada selembar foto balita perempuan yang tertempel di sudut kaca depan mobil. Sopir itu tertegun tangannya yang baru mau membuka laci dasbor langsung tertahan di udara. Butuh beberapa detik sampai sebuah senyuman tulus terbit di wajah lelahnya.

"Terima kasih banyak ya, Nona. Semoga berkah dan Nona panjang umur."

Ana hanya mengangguk tipis lalu turun dari mobil. Taksi itu pun kembali bergerak lambat lalu hilang di tikungan jalan.

Ana masih berdiri mematung di atas trotoar depan pagar. Baru setelah suara mesin mobil itu benar-benar lenyap, ia berani melepas napas panjang yang sejak tadi tertahan.

"Fisik tubuh ini benar lemah banget," gumamnya lirih pada diri sendiri. "Kekuatan dalam gue bahkan belum pulih setengahnya."

Ia menyingkap sedikit perban yang melilit lengannya. Luka robek yang seharusnya butuh belasan jahitan itu anehnya kini hanya menyisakan garis tipis kemerahan. Ana mengusap permukaan kulitnya yang mulai kembali halus.

"Untung kemampuan regenerasi luar ini masih bisa diandalkan."

Perban bekas itu langsung dilemparkannya ke tempat sampah di tepi jalan. Tatapannya kembali mengarah pada rumah besar di balik pagar. Sorot matanya yang semula redup kini berubah menjadi tajam dan penuh selidik.

"Keluarga Pramudia... aku sudah kembali."

Dengan langkah mantap, Ana berjalan menuju pintu utama.

Sementara itu, suasana di dalam ruang makan kediaman Pramudia yang semula tenang mendadak tegang. Bimo Pramudia meletakkan sendoknya dengan agak kasar hingga berdenting nyaring memukul piring porselen.

"Ana sudah berhari-hari nggak kelihatan. Sebenarnya dia ke mana?!"

Jesika sang putri tiri, tetap mengunyah potongan dagingnya dengan santai. Setelah menelan makanannya ia baru menyahut, "Dua hari lalu Jesika sempat lihat Kak Ana pergi sama beberapa cowok Pa. Mungkin lagi keasyikan nongkrong sampai lupa pulang."

Wajah Bimo langsung mengeras. "Apa kamu bilang? Masih muda tapi kelakuannya sudah liar begitu? Sampai berani nggak pulang berhari-hari?!"

Jesika menyembunyikan senyum puasnya di balik gelas minum menikmati kemarahan ayahnya. "Ya Jesika nggak tahu pasti Pa. Jesika cuma cerita apa yang Jesika lihat waktu itu."

"Benar-benar nggak tahu diuntung!" suara Bimo meninggi.

Dewi sang ibu tiri, segera mengusap lengan suaminya dengan raut wajah yang dibuat secemas mungkin. "Sudahlah Pa jangan emosi dulu. Anak muda zaman sekarang kan memang susah diatur. Cuma ya... kalau perginya sama laki-laki dan hilangnya berhari-hari begini, kalau sampai tetangga dengar kan bisa ngerusak nama baik keluarga kita juga."

Adit yang sejak tadi sibuk main game di ponselnya di bawah meja tiba-tiba menimpali tanpa beban, "Setahu Adit Kak Ana udah lima hari nggak pulang ke rumah."

Bimo menoleh tajam ke arah anak laki-lakinya.

"Lima hari?!"

Matanya kini beralih menatap Dewi, menuntut penjelasan. "Selama Papa dinas di luar kota, kenapa nggak ada satu pun dari kalian yang ngasih tahu Papa? Kenapa nggak langsung lapor polisi?!"

Braaak!

Telapak tangan Bimo menghantam meja makan. Gelas-gelas di atasnya bergetar. Detik itu juga seluruh orang di ruangan langsung terdiam.

"Aku... itu Pa..." Dewi mendadak gagap bingung mencari alasan.

"Maksud Jesika nggak begitu Pa," potong Jesika cepat berusaha menyelamatkan ibunya.

"Kan Kak Ana memang sudah biasa main sampai malam sama teman-temannya. Makanya Jesika sama Mama nggak berpikiran buruk. Lagian ini kan bukan pertama kalinya dia nggak pulang."

Dewi buru-buru mengangguk cepat. "Iya Pa benar kata Jesika. Ana kan memang anaknya agak bandel sejak dulu."

Bimo mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengetat menahan geram. "Terus kalau dia sudah biasa begitu, kalian pikir dia nggak perlu dicari lagi?!"

Belum sempat ada yang bersuara untuk membela diri, sebuah gedoran keras yang bertubi-tubi dari arah pintu depan mendadak membungkam seluruh perdebatan di meja makan.

1
SRIANA
bagus ceritanya, semangat KK.
Syifaa
👍
Syifaa
🙏
Syifaa
👍
imran
Lanjut lagi
yuyusss: 🙏🙏😍😍😍😍
total 1 replies
imran
Makin penasaran
imran
Gregetnya
yuyusss: 😍baguss banget lanjut
total 1 replies
Syifaa
Jangan lupa like
Syifaa
Jangan lupa komen
yuyusss
greget
yuyusss
😍
yuyusss
uhuyy
yuyusss
lanjuttt
Syifaa
Makin seru nggak
imran
Lanjut kak
imran
Baguss banget
Syifaa
Lanjut nggak
Putri Sajak
kak yuk like punya kuh🤭
imran
Bagus
imran
Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!