Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maukah Kamu Tetap Tinggal?
**
"Woi, jomblo! Ngelamun mulu!" teriak Andre yang mampu membuat mereka berdua jadi pusat perhatian. Sudah biasa tentunya. "Sorry ... gays. Silahkan dilanjutkan!" Andre melambai sesaat ke arah beberapa orang di sana.
"Blo ... main, yuk! Nongkrong gitu ... nongkrong! Ngafe lah kita, udah lama gak nongkrong. Bulukan nanti di rumah mulu, lo!" Andre tidak berhenti untuk mengganggu Rafa.
"Istirahat masih setengah jam lagi, ngapain lo di sini? Balik sana!" Inginnya Rafa mendorong Andre sampai jatuh terlentang. Tapi sayang, kedua tangannya masih sibuk mengetik di keyboard.
"Kerja mulu! Kaya persis sultan enggak, jomblo iya!"
Rafa mendelik, heran stok julid Andre kepada dirinya masih banyak, yah? "Ketahuan bos, mampus lo di sini!"
"Tenang aja ... mblo. Tadi gue lihat, bos keluar. Udah lah, bentar lagi juga istirahat. Ayo, ngafe di perempatan sana, yok!" ajak Andre tidak peduli, jika Rafa sudah siap mau memakannya.
"Males, kantin aja deket. Sana pergi!" Rafa berusaha mendorong Andre yang sudah duduk di meja deket komputernya. Memang, setidak ada akhlak itu orang ini!
"Pantesan jomblo terus, gak asyik!" cibir Andre kesal, tapi masih diam tidak mau pergi. "Pokoknya, hari ini kita ke cafe, gak mau tahu gue!"
"Males bangke! Sana, kerjaan gue masih banyak!" Akhirnya Rafa berhasil mendorong Andre sampai terdengar suara jatuh, menandakan jika cowok itu sudah bersimpuh di lantai.
"Sialan!" Andre meringis, memegang pantatnya yang sakit dan berusaha berdiri. Lelaki itu tiba-tiba tersenyum saat melihat sesuatu, tangannya dengan cepat mengambil kunci mobil Rafa di atas meja. "Pokoknya, gak akan gue balikin kalau lo gak ikut ngafe!"
Ingin rasanya, Rafa menendang Andre sampai jatuh dari lantai 5 ini. Lelaki itu sama sekali tak ada capeknya membuat ulah, seolah kejombloan Rafa itu humor yang menarik. Tidak tahu saja Andre, jika sijomblo ini sudah punya anak. Kalah telak kan, dia!
Pada akhirnya, mau tak mau Rafa harus menuruti maunya Andre untuk makan istirahat di cafe. Pembuangan waktu sekali sebenarnya, tapi namanya juga Andre lelaki random yang aneh tidak suka dibantah.
Saat sedang menunggu pesanan, tiba-tiba dua kursi di meja mereka ditarik dan diduduki.
"Sorry, yah lama," ujar seorang wanita yang duduk di samping Andre. "Aku bawa nih, teman aku itu!"
"Iya, gak papa. Bagus, Sayang." Andre mengerlingkan matanya ke arah wanita itu, setelah sebelumnya mereka cipika-cipiki.
"Hi ... kenalkan saya Amanda," ujar seorang wanita yang duduk di samping Rafa, mengulurkan tangannya.
Rafa melirik tangan itu dan Andre yang tersenyum sialan bergantian. Kampret! Ternyata dirinya kena jebakan kencan buta lagi dari lelaki tidak ada akhlak itu.
Karena merasa kasian dengan wanita yang masih menjulurkan tangan, akhirnya Rafa memilih meraih tangan itu sekilas. "Rafa."
"Aku udah sering lihat kamu loh, aku bagian HRD. Kamu pernah lihat aku, gak?" tanya Amanda terlihat berusaha akrab.
Ingin rasanya Rafa mengatakan 'Gak pernah tuh, emangnya lo siapa, tuh?'. Tapi, Rafa cukup tahu diri untuk tidak mau kembali membuat anak orang menangis. "Maaf ... saya orangnya gampang lupa."
"Iya, gak papa. Sekarang, kamu pasti bakal ingat aku. kan?" tanya Amanda yang tadi sempat terlihat murung sesaat, kini sudah kembali heboh. "Kita di sini kan, buat saling mengenal."
Rafa hanya mengangguk sekilas sambil tersenyum kecil. Bingung juga mau menanggapi apa. Wanita ini seolah tidak memberinya kesempatan untuk mengelak. Dari mana sih, Andre dapat wanita jenis ini? Rafa melirik Andre, yang sialannya malah mengedipkan sebelah mata.
"Sialan, minta dicolok itu," gumam Rafa pelan, sambil menyuapkan makanan yang baru datang kasar ke mulutnya, seolah sedang memakan Andre.
"Enggak ada yang marahkan, kita makan di sini?" tanya Amanda lagi.
"Kenapa marah? Saya bukan anak kecil, yang dilarang makan di cafe oleh orangtua saya." Tanpa sadar, Rafa menjawab ketus. Bodo amat, sekarang wanita itu mau tersinggung juga. Bukan urusan Rafa!
Sayangnya, wanita itu tidak tersinggung malah semakin menanyakan pertanyaan random. Seperti umur, hobi, makanan favorit, bahkan sampai cita-cita. Dikira ini sedang perkenalan bocah SD.
Anehnya, padahal Rafa sudah menjawab datar dan seadanya, menandakan Rafa tidak suka dengan dia. Tapi, wanita itu seolah sudah kebal tidak tersinggung malah semakin gencar bertanya. Satu hal yang terlintas di otak Rafa, awas kau Andre!
"Boleh minta nomer ponsel kamu, gak?"
"Papa!"
Suara teriakan seorang anak lelaki, mengalihkan fokus semua yang ada di meja. Rafa tersenyum kecil, saat melihat Elvan berlari ke arahnya dengan seorang wanita yang memakai hoodie hitam besar dan sebuah topi hitam. Sudah jelas bukan, itu siapa?
"Papa, makan di sini juga?" Elvan sudah semangat duduk di pangkuannya tiba-tiba, sedang Felisa masih berdiri di samping meja mereka.
"Kamu makan di sini sama Mama?"
Elvan mengangguk semangat. "Iya, tadi ketemu Tante Merri."
"Ayok, pulang Sayang. Papa lagi ada teman-temannya. Kita kan, udah makan tadi." Felisa sudah berjongkok di depan Rafa. Tujuannya Elvan, tapi kan bocah itu duduk di pangkuan Rafa.
"Gak mau." Elvan menggeleng keras. "Mau makan sama Papa lagi!"
"Enggak gitu, Sayang. Ayok, pulang!" ajak Felisa lagi. Tapi saat akan meraih Elvan, bocah itu berbalik memeluk Rafa.
"Sayang, ayo pulang!"
"Udah, gak papa. Biar dia pesankan eskrim aja, temenin aku makan siang. Kamu juga, pesan minum apa gitu," ujar Rafa karena tahu memaksa Elvan itu percuma.
Felisa menghela napas, melirik tiga orang lain yang ada di sana. Hampir, saja dia lupa keberadaan mereka. Felisa mengangguk singkat, memilih duduk di kursi sebrang Rafa karena di sampingnya sudah ada seorang wanita.
"Mau ekstrim apa? Strawberry mau?" tanya Rafa, sesaat entah kenapa lupa keberadaan orang-orang di mejanya, atau dia memang terbawa suasana dan sengaja.
"Tunggu!" teriak Andre tiba-tiba. Bahkan memukul keras meja, membuat mereka jadi perhatian pengunjung lain.
"Sumpah yah, lo malu-maluin!" tegur Rafa kesal. Dia buru-buru tersenyum tipis dan mengangguk meminta maaf kepada pengunjung lain.
"Tunggu!" teriak Andre lagi tapi tidak sekeras tadi. Lelaki melihat Elvan, Felisa dan bergantian. "Mereka siapa, Raf bangke!"
"Jangan ngomong kasar, ada anak gue!" tegur Rafa lagi, buru-buru menutup telinga Elvan.
"Sorry ... Sorry yah, Dek." Andre tersenyum ke arah Elvan yang dibalas bocah itu lirikan tajam. "Serius deh, Raf mereka siapa? Kok panggil lo Papa, bocah ganteng ini?"
"Coba deh, lihat. Mirip gak?" Rafa meensejajarkan wajahnya dengan Elvan.
Entah kenapa, Rafa sudah memutuskan untuk mengakui Elvan di depan publik kali ini. Dia sudah muak juga terjebak kencan buta ala Andre. Dia juga yakin, berita dia sudah mempunyai anak sebentar lagi pasti langsung tersebar. Ada untungnya, karena dia mungkin akan terbebas dari gangguan wanita genit di kantor.
"Mirip anjir!" teriak Andre heboh. Mendekatkan wajahnya lebih dekat. "Ini beneran anak lo? Kok, bisa? Kapan lo, nikah? Eh, dia istri lo?"
Rafa maunya menjawab enggak, tapi kehebohan ini pasti lebih parah nanti di kantor jika mempunyai anak tapi tidak punya istri. Saat melirik Felisa, wanita itu menatapnya tajam.
"Iya, istri gue. Sorry, nanti gue cerita."
Saat melihat Felisa lagi, wanita itu malah makin menatapnya tajam. Kok, gitu? Bukannya pikiran wanita itu sama seperti Rafa, jika tidak jujur pasti akan membuat heboh. Apa pikirannya berkebalikan?
"Bentar, otak gue masih memproses," ujar Andre berlebihan.
"Om itu berisik, mau eskrim, Pa!" seru Elvan lagi, hampir lupa Rafa untuk memesan tadi.
Setelah memesan terus pesanan datang, beserta minuman Felisa. Selama itu tidak ada obrolan dari mereka, hanya Elvan yang berceloteh menanyakan ini-itu dan dijawab Rafa dan Felisa bergantian. Sedang, Andre masih terus mencuri lihat ketiga orang itu.
"Jadi, kamu udah nikah?" tanya Amanda tiba-tiba setelah keheningan. Wajah wanita terlihat pucat, entahlah Rafa sudah tidak mau urus.
Rafa mengangguk singkat. "Iya, sorry emang Andre tidak tahu, sehingga kita ada di sini. Tapi semoga perkenalan ini bisa tetap berlanjut sebagai rekan kantor."
Amanda tersenyum kecut, terlihat melirik sinis Felisa. "Ya udah, saya duluan. Yuk, Ta!"
Rafa mengangguk sekilas, tidak berniat mencegah juga kepergiannya karena buat apa?
"Bisa cerita sekarang?" tanya Andre setelah dua orang wanita lain di sana sudah pergi. "Mbak-nya, beneran istri Rafa?"
"Mas-nya, saya masih muda, loh. Sepertinya, Mas juga seumuran Rafa dan umur saya jauh di bawah Rafa," jawab Felisa sambil menyesap minumannya.
"Ok ... ok ... sorry." Andre terkekeh, lalu menjulurkan tangannya. "Kenalkan, nama saya Andre, cowok paling tampan di komplek perumahan saya. Masih sebelas dua belas lah, sama Rafa."
Felisa ikut terkekeh. "Saya Felisa, Mama Elvan." Balik membalas tangan Andre.
"Om, aku Elvan anak ganteng Mama sama Papa." Tiba-tiba Elvan ikut menjulurkan tangan ke arah Andre. Mungkin, anak itu sudah menganggap Andre tidak berbahaya karena melihat Felisa tadi menjabat tangannya.
"Gemes banget." Andre heboh mencubit pipi Elvan, yang sudah heboh menghindar meminta perlindungan ke Rafa.
Setelahnya, untuk sesaat mereka sibuk makan serta Rafa yang sibuk menyuapi Elvan eskrim.
Setelah makan, Rafa dan Andre kembali ke kantor serta Felisa dan Elvan pulang dengan taxi. Rasa penasaran Andre, terpaksa harus tertunda sampai jam pulang kantor selesai.
Tadinya, Rafa sudah berniat kabur dari Andre karena kebetulan dia tidak ada lembur. Tapi saat memasuki mobil, Andre sudah duduk manis di dalam mobilnya. Rafa juga lupa, jika kunci mobilnya masih ditahan Andre.
"Jadi?" tanya Andre setelah minuman pesanan mereka datang. Sekarang, mereka sedang berada di sebuah restoran yang tak jauh dari kantor.
"Jadi, sekarang izinkan gue balik karena perut gue kembung ngopi mulu," balas Rafa kesal.
"Raf, jadi gitu, yah? Terus, selama ini lo anggap gue ini apa?" tanya Andre hampir histeris, seperti seorang wanita yang meminta kepastian. Sampai, Rafa sempat bergidig ngeri membayangkan hal itu.
"Orang gila," jawab Rafa datar.
"Sialan! Gue gak mau tahu, cepet lo ceritakan gimana ceritanya udah punya anak istri. Pertemanan kita 8 tahun ini gak ada artinya buat lo!" Andre mendramatisir dengan mengusap sudut matanya, seolah sedang menangis.
Rafa mendengus, rasanya ingin muntah melihatnya. Jika dia tidak cerita, Andre bisa terus menghantuinya bahkan sampai ke dalam mimpi.
"Lo diam, gue mau cerita!"
Andre mengangguk, memposisikan dirinya duduk tegak dan fokus melihat Rafa. "Siap, kapten!"
Mengalirlah cerita dari mulut Rafa, tentang poin penting dari mulai kejadian malam itu, kedatangan Elvan, sampai status hubungan dia dan Felisa.
"Anjir!" Andre tanpa sadar kembali memukul meja, membuat mereka kembali menjadi perhatian sekali lagi.
Rafa kembali berperan meminta maaf ke pengunjung lain.
"Sadar, ini dimana! Jaga sikap orang utannya!" tegur Rafa, yang mendapat kekehan dari Andre.
"Jadi, hubungan kalian sekarang tanpa status tapi tinggal satu rumah dan udah punya anak. Kalian, kumpul ... kebo aw, sakit anjir!" Andre mengelus kepalanya yang mendapat pukulan ponsel oleh Rafa.
"Kita cuman serumah, gak ngelakuin apapun yang ada di otak kotor lo!"
"Tapi tetap aja, kalian tinggal serumah, sialan! Dia cewek dan lo cowok! Gak usah bohong deh, lo nafsu juga kan, saat sesekali lihat dia. Apalagi itu cewek masuk kategori cantik banget, terus body bagus banget!" cerocos Andre dengan muka mesumnya. Sayangnya, kali ini dia berhasil menghindar saat Rafa akan kembali memukulnya.
"Gak ada, tuh! Otak gue bersih, gak ada tempat buat mikirin hal kaya gitu!" bantah Rafa yakin. Iya, yakin, kok tidak pernah mikir jorok? Tidak pernah, kan? Ah, tidak pernah pokoknya. Tidak pernah, kok. Percaya dong, kalian pembaca!
"Kalian tetep bakal pilih pisah, setelah urusan cewek itu selesai?"
Rafa ikut berpikir. Sepertinya, dia sekarang butuh pendapat dari lelaki sembrono modelan Andre. Dia, sudah cukup mendapatkan nasihat dimana-mana dari orang benar. "Menurut lo, gue mesti nikah sama dia?"
"Ya iya lah, goblok! Pakai nanya segala elah," jawab Andre tanpa perlu berpikir keras.
"Kan, gue gak saling cinta sama dia."
"Ah, ini nih isi otak lumutan gak pernah terjamah hal keren. Lo pikir nikah pakai cinta doang, elah ... klise doang. Orang nikah gak makan cinta, gak bahagia sama cinta doang. Paling penting dalam pernikahan itu yah, sama-sama bisa memenuhi kebutuhan. Khususnya kebutuhan ranjang, selain itu kita ada yang urusin, terus cewek itu ada yang nafkahi. Kalian udah dapat bonus anak, yakin deh anak lo butuh keluarga untuk yang normal tinggal satu rumah." Wajah Andre mendekat, terlihat serius. "Raf ... gue lapar. Cari warung makan nasi padang, yuk! Masakan di restauran sedikit."
"Akh ... sialan!" Rafa mendorong kasar wajah Andre. Padahal dia barusan sudah serius, tapi lelaki itu kembali eror.
"Serius, gue lapar. Ayo, cari warung Padang, yuk!"
"Cari sendiri, gue balik!" Rafa sudah beranjak berdiri, melangkah keluar tanpa peduli rengekan Andre.
"Iya, ngerti yang udah ada masakin di rumah. Apalah daya gue, yang masih membujang tapi udah gak perjaka!"
Rafa memilih mengabaikan tingkah Andre. Jujur, apa yang Andre katakan tadi sedikit lebihnya mempengaruhi pada pikiran Rafa. Menikah memang tidak ada ruginya, bukan? Setidaknya, uang dia bisa bermanfaat untuk bisa membantu sesama manusia. Bonus, dia bisa melihat wajah Elvan setiap hari dan wajah cantik, eh wajah wanita itu, maksudnya.
"Apa gue ajak nikah lagi, yah?"
Felisa termenung di ruang tamu. Elvan sedang tidur siang, jadi kondisi apartment sepi dan cocok buat merenung.
Pertemuan dengan Merri setelah sekian lama, akhirnya malah mempengaruhi pikiran Felisa akhir-akhir ini. Niat mereka bertemu untuk membahas denda finalti karena pembatalan kontrak kerja Felisa yang terpaksa harus berhenti. Tapi, pertemuan tadi juga membahas tentang kehidupannya, terutama hubungan dia dan lelaki pemilik apartment ini.
Awalnya, Felisa sudah sangat yakin seperti dulu tidak mau menikah dengan lelaki ini. Tapi, ternyata waktu hampir 6 bulan ini mereka tinggal di satu atap yang sama, mempengaruhi juga penilaian Felisa tentang lelaki itu.
Rafa memang ceroboh, tapi dia termasuk jenis lelaki yang lumayan rapi. Lelaki itu masih mau menyimpan handuk dan pakaian kotor di tempat seharusnya. Sekali-kali mau mencuci piring, atau menyapu dan mengepel.
Soal tanggungjawab, ATM yang dipegang Felisa setiap bulan rutin dikirim oleh Rafa. Padahal, katanya itu untuk kebutuhan mereka, tapi kadang saat belanja bersama lelaki itu membayar sendiri. Kadang, mengajak belanja pakaian juga.
"Dia juga ganteng, gak kalah dari rekan-rekan kerja gue. Dia juga baik, mau rawat gue waktu sakit. Soal sifat ke-bapak'annya tidak usah diragukan lagi, jika melihat interaksi dia dengan Elvan."
Felisa buru-buru memukul kepalanya, bisa-bisanya apa ada di otaknya dia ucapkan barusan! Bagaimana, jika tiba-tiba ada lelaki itu datang? Dia dijamin bisa malu tujuh turunan.
"Dia ganteng, gak bikin malu dibawa jalan-jalan."
"Cowok baik, buktinya gak perkosa dan berbuat macam-macam waktu kalian tinggal, benar kan?"
Felisa tanpa sadar mengangguk, menjawab omongan Merri di otaknya tadi.
"Lo khawatir reaksi keluarga lo? Selama ini apa yang udah lo kerjain, emang gak bikin khawatir. Tapi, reaksi lo? Bukannya itu bukan masalah lo tentang persetujuan keluarga lo."
"Lelaki itu juga lelaki baik, yang bukan brengsek jauh dari agama, bukan?"
Felisa kembali mengangguk membenarkan. Dia sudah sering melihat Rafa beribadah shalat, sepertinya memang lelaki itu jarang bolong shalat, apa malah mungkin tidak pernah.
"Takut gak direstui, apalagi udah ada Elvan segede ini dan mereka sama sekali gak tahu Elvan? Bukannya bagus, lo cuman butuh bapak lo buat jadi wali nikah. Melihat kondisi keluarga lo, kayaknya mereka bakal pilih menikahkan daripada kalian terus berbuat zinah?"
Itu jelas, dia akan langsung dinikahkan jika keluarganya tahu dia sudah tinggal serumah juga saat ini.
"Yang jelas, Elvan bakal bahagia jika kalian bersama. Bukannya, kebahagiaan Elvan di atas segalanya buat lo."
"Cinta? Tai, gak selamanya cinta bikin bahagia karena yang ada bukannya sengsara karena malah jadi budak cinta. Cinta gak bikin kenyang, yang bikin kenyang itu duit karena bisa beli apapun untuk dimakan. Tapi, kalau kalian nantinya bisa jatuh cinta, itu bisa jadi bonus bagus malahan."
"Ah, enggak! Gue gak akan jatuh cinta sama dia. Tapi, memang kebahagiaan Elvan memang segalanya sih."
Krittt
Terdengar suara pintu apartemen terbuka. Felisa tiba-tiba menjadi panik karena baru saja lelaki itu ada dipikirannya, sekarang sudah pulang. Saat melihat jam, ternyata sudah pukul 5 sore. Jadi, selama apa tadi dia melamun? Dia harus segera membangunkan Elvan karena sudah terlalu lama tidur.
Belum Felisa berdiri, sosok Rafa sudah berjalan ke arahnya. Sumpah, demi apa Felisa merasa deg-degan sekali.
"Maukah, kamu tetap tinggal?"
##