Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 5
Malam berganti malam, namun janji Adam untuk bicara di rumah tak pernah ditepati. Pria itu terus melarikan diri, bersembunyi di balik alasan lembur dan pekerjaan kantor yang menumpuk. Ia selalu memastikan baru menginjakkan kaki di rumah setelah lewat tengah malam, saat seluruh lampu ruang utama mati dan kamar Senja sudah terkunci rapat.
Dua minggu berlalu dalam keheningan yang mencekam. Senja kini benar-benar berhenti menunggu. Ia tak lagi berdiri di dekat dapur dengan riasan tipis, tak ada lagi kemeja terlipat rapi di kasur, dan tak ada lagi pesan singkat yang menanyakan keberadaan suaminya.
Hingga pada suatu malam Jumat, pukul 01.30 WIB, langkah Adam terhenti saat melangkah masuk. Lampu meja makan mendadak menyala.
Senja berdiri di sana, mengemas beberapa berkas ke dalam tas kerjanya. Pakaiannya masih rapi, ia baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya sendiri di meja makan.
Adam mematung, meremas jas di tangannya. Rasa canggung terasa begitu tebal di udara.
"Senja... kamu belum tidur?" tanya Adam pelan, mencoba membuka percakapan. Suaranya terdengar canggung dan lelah. Apalagi setelah dua minggu mereka tidak pernah berkomunikasi dengan baik.
Senja tak mendongak. Tangannya tetap cekatan merapikan dokumen. "Baru selesai kerjaan kantor, Mas. Ini mau masuk kamar."
Adam melangkah mendekat, menghentikan jalannya tepat di seberang meja makan. "Belakangan ini kamu selalu pulang malam juga? Kamu... sibuk apa di kantor?"
Senja akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya yang dulu selalu memancarkan kehangatan kini menatap Adam lurus tanpa ekspresi.
"Aku cuma belajar menyibukkan diri, Mas," jawab Senja datar.
"Supaya aku tidak perlu menyiksa diriku dengan menunggu orang lain di rumah. Lagi pula aku juga butuh tabungan masa depan dari uangku sendiri kan? Karena aku tak selamanya jadi istri kamu dan berharap uang bulanan darimu! Kapan saja aku harus siap keluar dari rumah ini dan kehidupan kamu,"
Kata-kata itu terucap tenang, namun menghantam dada Adam begitu menyengat.
"Senja, aku sibuk karena ada proyek baru..."
"Mas," potong Senja lembut, mengulas senyum tipis yang terasa begitu asing bagi Adam.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun lagi padaku. Aku tidak sedang marah. Aku sudah berhenti bertanya dan berharap. Menyadari posisiku,"
Adam mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Rasa bersalah yang selama ini ia hindari kini berbalik mengepungnya dari segala penjuru.
"Senja, tolong jangan bicara dingin seperti ini," sela Adam, suaranya terdengar frustrasi. Ia mengulur tangan ingin menyentuh lengan Senja, namun wanita itu melangkah mundur menjauh dengan begitu halus.
"Aku tidak dingin, Mas. Aku hanya lelah bertepuk sebelah tangan," bisik Senja.
"Selamat malam. Pintu kamar tidak aku kunci kalau kamu mau mandi, tapi tolong jangan ketuk pintuku malam ini."
Senja berbalik dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Adam sendirian di tengah ruang makan yang mendadak terasa begitu luas dan hampa.
Sinar matahari sore menembus kaca lantai delapan gedung perkantoran. Suasana kubikel sudah mulai sepi karena jam kerja resmi telah berakhir sejam yang lalu. Namun, Senja masih berkutat di depan layar monitor, menatap lembaran kertas kerja dan angka-angka dengan jemari yang menari lincah di atas kibor.
Anggi merapikan tasnya, menyampirkan tali kulit itu di bahu sebelum berjalan mendekati meja Senja. Ia bersandar di tepi kubikel sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Senja, kamu nggak pulang lagi?" tanya Anggi dengan kening berkerut dalam.
"Ini udah jam enam lewat, lho. Kerja keras bagai kuda banget sih?"
Senja mendongak tipis, mengulas senyum kecil yang dipaksakan. "Dikit lagi, Ngi. Tanggung banget nih laporan bulanan mau aku kelarin."
Anggi menghela napas panjang, lalu menarik kursi kosong di dekat sana dan duduk tepat di samping Senja. Wajah sahabatnya itu dipandangi dengan tatapan curiga bercampur cemas.
"Ada yang nggak beres ya?" tembak Anggi tajam.
"Udah lebih dari dua minggu aku perhatiin kamu ambil semua jam lembur yang ada. Bahkan kemarin Sabtu kamu minta overtime. Senja, kamu itu punya suami yang berkecukupan. Buat apa sih nyiksa diri begini?"
Jemari Senja di atas kibor mendadak terhenti sejenak, sebelum kembali mengetik perlahan.
"Nggak ada apa-apa, Anggi. Aku cuma... lagi senang sibuk aja. Daripada melamun di rumah, mending cari uang tambahan, kan?" jawab Senja tenang, berusaha menjaga suaranya tetap kasual.
"Cari uang tambahan untuk apa?" cecar Anggi, tidak percaya begitu saja.
"Kamu nggak pernah seambisius ini soal gaji lembur. Senja, jujur sama aku. Kamu berantem lagi sama Mas Adam?"
Senja menghentikan ketikannya sepenuhnya. Ia menoleh, menatap sahabatnya yang memancarkan rasa khawatir yang tulus. Rasa bersalah sempat terlintas di dada Senja karena harus berbohong, namun ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membagikan rencananya.
Dalam hatinya, alasan itu sudah begitu bulat, uang lembur, komisi proyek, dan tabungan pribadinya beberapa minggu ini dikumpulkan bukan untuk bersenang-senang. Itu adalah dana darurat, uang persiapan untuk menyewa apartemen kecil dan bertahan hidup saat hari di mana ia menyerahkan surat cerai dan keluar dari rumah Adam benar-benar tiba. Ia tidak ingin keluar dari rumah suaminya tanpa memiliki modal apa pun untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
"Nggi, percaya deh sama aku," kata Senja lembut, menggenggam jemari Anggi di atas meja.
"Aku dan Mas Adam baik-baik aja. Aku cuma mau mandiri. Aku mau punya tabungan sendiri yang murni dari hasil keringatku. Biar kalau ada apa-apa di masa depan, aku udah siap."
Anggi menatap mata Senja lama, berusaha mencari celah kebohongan, namun Senja menutupinya dengan sangat rapi di balik senyuman tipis.
"Kamu yakin?" tanya Anggi pelan.
"Kalau kamu butuh tempat cerita atau butuh bantuan apa pun, kamu punya aku ya, Senja. Jangan dipendam sendiri."
"Iya, Anggi sayang. Makasih ya," jawab Senja tulus.
"Udah, kamu pulang duluan sana. Nanti makin macet di jalan."
Anggi akhirnya mengangguk, meski masih ada sedikit rasa heran di matanya. "Ya udah, aku duluan. Tapi janji, maksimal jam delapan kamu harus udah pulang!"
"Siap, Bos!"
Setelah langkah kaki Anggi menjauh dan hilang di balik pintu lift, senyum di wajah Senja perlahan mengendur. Keheningan kembali menguasai ruangan.
Senja membuka tab browser baru, lalu mengakses aplikasi perbankan miliknya. Ia menatap angka saldo tabungan pribadinya yang perlahan mulai bertambah. Sebuah helaan napas berat keluar dari dadanya, bercampur antara rasa lelah dan ketetapan hati yang kian membaja.
"Dikit lagi, Senja..." bisiknya pada diri sendiri di tengah sepinya kubikel kantor.
"Sedikit lagi kamu bisa melangkah keluar dengan kepala tegak."
Ting
Ting
Denting getar ponsel di atas meja memecah keheningan kubikel yang sepi. Senja melirik layar yang menyala, menampilkan deretan pesan dari nomor asing tanpa foto profil.
Dengan dahi berkerut, Senja menggeser layar untuk membuka aplikasi perpesanan. Detik berikutnya, napas Senja seolah tertahan di tenggorokan.
Layar ponselnya dipenuhi oleh belasan unduhan foto dan beberapa berkas video. Satu per satu gambar itu meretas masuk, menghancurkan sisa-sisa pertahanan hati Senja hingga tak berbekas.