Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merelakan
Seharusnya malam ini adalah malam giliran Ning Ummah.
Di Ndalem utama, kamar Ning Ummah sudah wangi. Sprei putih sudah diganti, lampu tidur kuning sudah dinyalakan, dan di atas meja ada nampan berisi teh jahe dan kurma, sama seperti kebiasaan Ning Ummah setiap malam gilirannya.
Tapi Ning Ummah tidak duduk di ranjang. Dia duduk di depan cermin, menatap wajahnya sendiri lama sekali. Wajahnya yang biasanya tenang, malam itu pucat. Di bawah matanya ada lingkar hitam yang dia tutupi dengan bedak tipis, biar tidak ada yang tahu.
Di laci cerminnya, ada lipatan hasil lab dari rumah sakit di Jombang. Sudah 3 bulan dia simpan sendiri. Tidak ada yang tahu, bahkan Ning Latifah pun tidak. Di kertas itu tertulis dengan bahasa medis yang dingin, penyakit yang berbahaya di rahimnya, yang membuat dokter berkata dengan pelan, "Ning, kemungkinan untuk memiliki keturunan sangat kecil, dan penyakitnya harus segera ditangani dengan serius."
Ning Ummah melipat lagi kertas itu, tangannya gemeter.
Sejak menikah dengan Gus Azam, dia memang istri pertama yang paling sepi. Bukan karena tidak dicintai, Gus Azam sangat adil, sangat lembut. Tapi karena dia tahu, dia tidak bisa memberikan apa yang bisa diberikan Ning Sopiah dan Ning Latifah: keturunan yang sholeh sholihah untuk meneruskan Darunnajah.
Malam itu, dia mengambil keputusan.
Dia berjalan keluar dari kamarnya, menuju Ndalem kecil milik Ning Sopiah yang lampunya masih menyala. Di sana, Ning Sopiah baru selesai melipat mukena, habis Isya.
Tok tok.
"Assalamualaikum, Piah..."
Ning Sopiah kaget, "Waalaikumsalam, Ning Ummah? Masuk Ning..."
Ning Ummah masuk, senyumnya dipaksakan, tapi matanya sudah berkaca. Dia duduk di karpet ijo botol yang kemarin jadi saksi ngaji Qurrotul Uyun.
"Piah, malam ini kan giliran Mba ya..."
"Iya Ning, harusnya malam ini giliran Ning Ummah..." Sopiah mengangguk.
Ning Ummah menarik napas panjang, menggenggam tangan Sopiah erat, erat sekali.
"Mba mau minta tolong, Piah. Malam ini, kamu yang ke Ndalem utama ya. Temui Gus Azam. Mba... Mba ikhlas, Mba kasih giliran Mba untuk kamu."
Sopiah langsung kaget, berdiri, "Ning! Jangan ngomong begitu! Gak boleh, Ning! Itu giliran Ning Ummah, Gus Azam pasti nungguin Ning!"
Ning Ummah menggeleng, air matanya jatuh satu, dua, tapi dia tahan biar tidak sesenggukan.
"Piah, dengerin Mba dulu..."
Dia menunduk, suaranya pecah.
"Mba tau diri, Piah. Mba tidak bisa memberikan keturunan untuk Gus Azam. Mba... Mba ada penyakit yang berbahaya, Piah. Di sini..."
Ning Ummah memegang perut bawahnya pelan.
"Mba sudah periksa, dokter bilang kecil kemungkinan Mba bisa hamil, dan kalau dipaksakan berbahaya. Mba simpen sendiri 3 bulan ini, Mba gak mau bikin Gus Azam sedih, gak mau bikin Darunnajah heboh."
Sopiah langsung lemas, lututnya gemeter, dia jatuh duduk lagi di depan Ning Ummah.
"Ning... apa... penyakit apa Ning?"
Ning Ummah hanya menggeleng, tidak mau menyebut namanya, takut kalau disebut jadi makin nyata.
"Yang jelas, Piah, Mba sudah tidak bisa. Makanya Mba titip..."
Saat itulah, tanpa sengaja, ujung lipatan kertas lab di dalam tas kecil Ning Ummah terlihat. Ning Sopiah yang duduk di depannya melihat, dengan refleks dia ambil.
"Ning ini apa?"
Ning Ummah mau mencegah, tapi terlambat. Sopiah membuka lipatan itu, membaca tulisan latin dan angka-angka yang tidak dia mengerti, tapi dia mengerti satu kalimat di bawah yang ditulis dokter dengan tulisan tangan: _saran: istirahat total dan penanganan intensif._
Detik itu juga, pertahanan Ning Sopiah jebol.
"Ya Allah... Ning Ummah..."
Sopiah langsung menangis, menangis kenceng, bukan tangis manja seperti biasanya kalau digodain Gus Azam, tapi tangis pecah dari hati.
Dia memeluk Ning Ummah erat, sangat erat.
"Ning... kenapa Ning gak cerita dari dulu... kenapa dipendam sendiri..."
Ning Ummah yang dari tadi berusaha kuat, akhirnya ikut jebol. Dia memeluk balik Sopiah, menangis di bahu adik madunya itu.
"Piah... Mba capek kalau nangis sendiri di kamar... Mba kangen..."
Tangis mereka berdua pecah di ruang tamu Ndalem kecil itu, di atas karpet tempat kemarin Gus Azam dan Sopiah ngaji dengan penuh cinta. Sekarang karpet itu jadi saksi tangis dua perempuan yang saling mencintai karena Allah.
Setelah agak reda, Ning Ummah mengusap air mata Sopiah dengan jilbabnya, seperti kakak mengusap adiknya.
"Piah... dengerin amanah Mba ya..."
Sopiah mengangguk sambil sesenggukan.
Ning Ummah menatap mata Sopiah dalam, dengan senyum yang paling tulus dan paling sedih yang pernah Sopiah lihat.
"Piah... Aku titip Gus dan Darunnajah ya..."
Suara Ning Ummah gemeter.
"Berilah keturunan yang sholeh sholihah bersama Gus Azam dan Latifah. Didik santriwati seperti kamu mendidik Syifa yang mungil ayu itu. Darunnajah butuh penerus dari rahim yang sehat, dari rahim kamu, Piah. Kamu yang masih muda, kamu yang masih bisa..."
"Aku pun menangis, Ning, kenapa berkata begitu," Sopiah memotong, mengguncang-guncang tangan Ning Ummah, "Ning harus berobat dan pasti sembuh! Kita ke Kota lagi, kita ke Jakarta! Gus Azam pasti mau antar! Jangan ngomong titip-titip begitu Ning, Sopiah takut!"
Ning Ummah malah menggelengkan kepalanya pelan, senyumnya makin dalam, tapi air matanya makin deras.
"Tidak, Piah..."
Dia menatap ke arah jendela, ke arah langit malam yang gelap.
"Aku sudah rindu pada cinta pertama ku, Gus Faiz..."
Sopiah terdiam. Gus Faiz. Nama yang hanya pernah dia dengar sekilas dari cerita santri sepuh. Cinta pertama Ning Ummah sebelum menikah dengan Gus Azam, yang meninggal karena kecelakaan saat hendak melamar Ning Ummah 5 tahun lalu.
"Bila kami bersatu hanya di surga, maka aku tunggu..." lanjut Ning Ummah lirih, suaranya seperti doa. "Mba sudah ikhlas, Piah. Mba sudah bahagia jadi bagian dari Darunnajah, jadi istri Gus Azam yang adil, jadi Mba untuk kamu dan Latifah. Tapi kalau Allah memang memanggil Mba lebih cepat lewat penyakit ini, Mba sudah siap. Mba sudah rindu sama Gus Faiz di surga. Biar Mba yang nunggu dia di sana."
Sopiah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya memeluk Ning Ummah lebih erat, seerat-eratnya, seolah kalau dilepas, Ning Ummah akan hilang malam itu juga.
Mereka berpelukan dan menangis bersama, lama, sangat lama. Dua madu yang biasanya bercanda berebut gorengan Ning Latifah, malam itu bersatu dalam tangis yang paling jujur.
"Piah, janji ya, jaga Gus Azam baik-baik. Gus itu orangnya pendiam, gak mau cerita sedihnya. Kalau dia sedih soal Mba nanti, kamu yang hibur dengan ngaji Qurrotul Uyun lagi, seperti kemarin malam itu, ya?"
Sopiah mengangguk di dalam pelukan, "Iya Ning... iya..."
"Dan janji, jangan bilang ke Latifah dulu ya, dia pasti paling kenceng nangisnya. Biar Mba yang bilang pelan-pelan nanti. Malam ini, kamu aja yang tau dulu."
"Iya Ning..."
Di luar, suara langkah terdengar. Gus Azam dari Ndalem utama, mungkin sudah menunggu.
Ning Ummah melepaskan pelukannya, mengusap wajah Sopiah, merapikan kerudung Sopiah yang berantakan karena tangis.
"Sana, Piah. Giliran Mba malam ini, Mba kasih ke kamu. Pakai gamis putihmu yang baru itu, yang kemarin dipakai ngaji. Gus Azam pasti suka. Bilang, ini hadiah dari Mba."
Sopiah masih terisak, "Ning ikut ya..."
Ning Ummah menggeleng, "Mba mau di sini dulu, mau sholat, mau ngobrol sama Allah dan Gus Faiz. Sana, Piah, jangan bikin Gus nunggu."
Dengan kaki yang gemeter dan mata sembab, Ning Sopiah berjalan ke Ndalem utama, sambil menenteng kitab Qurrotul Uyun coklat yang tadi malam baru dikhatamkan bab muqaddimahnya.
Di belakangnya, Ning Ummah duduk sendiri, memegang kertas lab itu, menatap foto kecil di dompetnya, foto seorang Gus muda berpeci hitam yang tersenyum: Gus Faiz. Dia tersenyum di sela tangisnya.
"Sebentar lagi ya Faiz... tunggu Ummah..."
Dan malam itu, Darunnajah menjadi saksi, bukan hanya cinta yang baru tumbuh antara Gus Azam dan Ning Sopiah, tapi juga cinta lama yang begitu setia, yang memilih untuk merelakan, demi melihat Darunnajah tetap memiliki penerus.
--- Bersambung ---