Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan
Adelia membatu saat matanya membaca rentetan pesan grup sekolah yang terpampang di layar ponsel Kenzie. Teks berantai itu menyebar luas beserta foto Adelia dari samping saat mengangkut koper di malam pengusiran.
Narasi yang tertulis sangat kejam: ibu dari Kenzie diusir karena ketahuan selingkuh dan memeras harta suami.
"Siapa yang tega bikin fitnah kejam begini sama Ibu?!" teriak Kenzie dengan suara serak yang nyaris pecah. Tangannya gemetar hebat memegang ponsel tersebut.
"Kenzie Ga terima Bu!!"
Adelia menarik napas panjang, berusaha meredakan gemuruh panik di dadanya. Ia mengambil ponsel itu dari tangan Kenzie, lalu mematikan layarnya.
"Kenzie, dengarkan Ibu ya..," panggil Adelia lembut, menggenggam kedua tangan putranya yang terasa dingin.
"Orang bisa bicara apa saja. Tapi kamu, Kayla, dan Tuhan tahu mana yang benar. Kamu tidak perlu melayani fitnah murahan seperti ini, Nak."
"Tapi Kenzie nggak terima, Bu!" sahut Kenzie dengan napas memburu. "Tadi di sekolah teman-teman memandang Kenzie kaya anak penjahat! Bahkan sewaktu Kenzie jalan keluar gerbang sekolah, Papa tiba-tiba datang pakai mobil mewahnya!"
Adelia tertegun, mengernyitkan alis. "Papa mendatangi kamu ke sekolah?"
Flashback:
di depan gerbang sekolah, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di samping Kenzie yang sedang berjalan kaki menuju kedai kopi tempatnya bekerja paruh waktu. Kaca mobil turun, memperlihatkan sosok Arkananta dengan setelan jas rapi.
"Kenzie, masuk. Papa mau bicara," panggil Arkananta dengan nada memerintah.
Kenzie menghentikan langkahnya, menatap ayahnya dingin. "Saya mau kerja, Pa. Nggak ada yang perlu dibicarakan."
Arkananta mendengus, lalu membukakan pintu penumpang dari dalam. "Nggak usah sok sibuk kerja cuci piring begitu! Malu-maluin nama Papa saja! Masuk dulu!"
Dengan enggan, Kenzie melangkah masuk ke dalam mobil ber-AC dingin tersebut. Ia duduk membisu, menatap lurus ke depan tanpa mau memandang wajah Arkananta.
Arkananta merogoh kursi belakang dan mengambil sebuah kotak belanjaan berlogo Apple merek ponsel lipat paling mahal keluaran terbaru. Pria itu meletakkannya tepat di atas pangkuan Kenzie.
"Ini buat kamu," ujar Arkananta dengan nada bangga. "Harganya tiga puluh juta. Seri terbaru yang teman-temanmu pasti belum punya. Papa belikan ini supaya kamu sadar, Papa ini mampu mencukupi semua gengsi dan kebutuhan kamu. Bukan seperti ibumu yang cuma bisa kasih kamu tinggal di Kontrakan kumuh."
Kenzie menunduk, menatap kotak ponsel mewah di pangkuannya. Senyum sinis perlahan terukir di bibirnya.
"Papa pikir uang dan barang mahal ini bisa beli hati Kenzie?" tanya Kenzie pelan, namun nadanya sangat menusuk.
Arkananta berdeham angkuh. "Papa ini ayah kandungmu! Papa cuma mau kasih yang terbaik buat masa depanmu. Tinggalkan ibumu, Kenzie. Pindah ke rumah Papa. Biarkan ibumu sama Kayla hidup dalam kesusahan mereka sendiri. Lagipula, anak laki-laki harus ikut ayahnya yang sukses."
Kenzie mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang ia tahan sejak membaca fitnah di sekolah seketika meledak.
Kenzie menyambar kotak ponsel mahal itu, lalu melemparkannya kembali ke arah dada Arkananta dengan sangat keras.
Brak!!!
Kotak perak itu memantul dan jatuh terhempas ke lantai mobil.
"Kenzie! Kamu gila ya?!" bentak Arkananta kaget, matanya melotot tajam.
"Kenzie nggak butuh gadget tiga puluh juta dari Papa!" teriak Kenzie dengan suara menggelegar di dalam mobil. "Papa pikir Kenzie nggak tahu kalau Papa yang menyebarkan fitnah kejam soal Ibu di sekolah?! Papa jahat! Papa udah buang Ibu, dan sekarang Papa mau merusak nama baik Ibu juga?!"
Wajah Arkananta memerah padam terkena telak. "Jaga mulut kamu, Kenzie! Kamu itu anak tidak tahu berterima kasih! Papa banting tulang cari uang buat fasilitas kamu, dan kamu malah membela wanita yang tidak punya apa-apa itu!"
"Ibu punya harga diri! Sesuatu yang Papa sama cewek gatal itu nggak punya!" balas Kenzie lantang. Ia langsung membuka pintu mobil yang masih berhenti di pinggir jalan.
"Jangan pernah temui Kenzie lagi! Kenzie malu punya ayah seperti Papa!"
Kenzie keluar dari mobil dan membanting pintu kendaraan itu hingga bergetar keras.
"Kenzie! Kurang ajar kamu ya! Jangan kembali kalau sudah melarat!" teriak Arkananta dari dalam mobil, meraungkan mesin kendaraannya lalu melaju kencang meninggalkan debu jalanan.
Flashback off
Adelia mendengarkan seluruh cerita itu dengan air mata yang menetes pelan di pipinya. Ia memeluk tubuh tinggi putra sulungnya yang kini gemetar menahan amarah dan kekecewaan.
"Maafkan Ibu, Kenzie... Maafkan Ibu karena kamu harus menghadapi hal sekejam ini di usiamu," bisik Adelia terisak di bahu anaknya.
Kenzie menghapus air mata di pipi ibunya dengan ibu jarinya yang kasar. Pandangan mata remaja itu kini berubah mengeras, dipenuhi kedewasaan yang lahir dari penderitaan.
"Ibu nggak usah minta maaf. Ibu nggak salah apa-apa," ucap Kenzie dengan suara mantap dan tegas.
"Mulai hari ini, Kenzie janji... Kenzie akan jadi pelindung utama Ibu dan Kayla. Kenzie bakal kerja keras, Kenzie nggak akan membiarkan siapa pun termasuk Papa,merendahkan atau menyakiti Ibu lagi."
Adelia menatap manik mata putranya. Ada rasa bangga dan haru yang amat besar membakar dadanya. Ia tidak lagi merasa sendirian.
"Terima kasih, Kenzie," ujar Adelia mengangguk mantap. "Kita buktikan sama Papa kamu, kalau kita bisa berdiri tegak tanpa satu pun uang darinya."
Malam itu, Adelia kembali duduk di depan mesin jahit engkol tuanya. Tekadnya makin membaja. Jarum jahit menembus kain demi kain, menciptakan potongan gaun kain perca yang makin presisi dan menawan.
Ia bekerja hingga larut malam demi mengumpulkan modal belanja kain utuh.
Keesokan harinya, Adelia membawa dua karung kecil berisi potongan pola dan beberapa helai baju buatannya menuju pasar besar di pusat kota. Ia bermaksud mencari toko kain grosir yang mau menjual sisa kain berkualitas dengan harga miring.
Adelia melangkah masuk ke dalam sebuah toko kain yang cukup besar di sudut pasar. Di belakang meja kasir, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh agak tambun dengan kacamata tebal yang sedang memeriksa gulungan kain sutra.
"Permisi, Pak," panggil Adelia ramah.
Pemilik toko kain itu mendongak, menatap Adelia dari atas ke bawah dengan pandangan menilai. "Ya, Bu? Mau cari kain apa?"
Adelia mengeluarkan satu gaun anak hasil buatannya dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja kasir.
"Saya mencari kain katun atau sutra sisa potongan garmen, Pak. Saya bawa contoh hasil jahitan saya sendiri untuk memperlihatkan kualitas jahitannya."
Pemilik toko kain itu awalnya tampak tidak tertarik. Namun, begitu jemarinya menyentuh kain tersebut dan membalik lipatan jahitan di bagian dalam, matanya seketika membelalak kaget.
Pria itu melepas kacamatanya, mendekatkan kain itu ke matanya untuk memeriksa kerapian garis pola dan sambungan benang buatan Adelia.
Seorang pemilik toko kain di pasar lokal terkesan dengan kerapian pola buatan Adelia.
"Ini... benar-benar jahitan tangan Sendiri, Bu?" tanya pemilik toko kain itu dengan nada suara terkejut.
Adelia mengangguk tenang. "Iya, Pak. Saya pakai mesin jahit engkol manual di rumah."
Pria itu berdeham pelan, menatap Adelia dengan pandangan berbinar penuh minat.
"Jahitan halus dan potongan pola sepresisi ini jarang sekali saya lihat dari penjahit rumahan biasa. Bu, kebetulan saya punya pesanan khusus seratus potong gamis katun untuk toko langganan saya minggu depan, tapi penjahit utama saya baru saja mengundurkan diri..."
Pria itu menggantung kalimatnya, menatap Adelia lekat-lekat sebelum mengajukan pertanyaan yang mendadak membuat jantung Adelia berdesir kencang...
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel