Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Racun
Beberapa bulan kemudian...
"Tuan, kiriman sudah tiba. Anda mau mengawasinya sendiri atau saya saja?" tanya Galih.
"Panggil Rendra, kita semua akan ke sana. Katakan sesuatu, apa yang sudah kaudapat tentang wanita itu?" sahut Arkana.
"Tuan, tak seorang pun mengenalnya. Penjaga pintu bilang itu pertama kalinya wanita itu datang sampai ke depan hotel untuk menjual bunga."
"Kita menguasai jalanan kota ini. Tanyai semua gelandangan di jalan. Aku ingin kau menyiksa mereka sampai bicara."
"Tuan, itu sudah kami lakukan. Kami sisir seluruh kawasan, tapi tak ada yang tahu siapa gadis itu."
"Bawakan siapa saja. Aku sendiri yang akan membuatnya bicara."
Meja kerja itu terpelanting. Arkana mengangkatnya dengan satu hentakan. Kejengkelannya makin membesar. Sudah berbulan-bulan mereka mencari wanita itu tanpa berhasil menemukannya.
Bukannya ia peduli, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan bahwa ia harus menemukan wanita itu. Berbulan-bulan lamanya mereka terus mencari, tanpa hasil.
Para pedagang keliling tak tahu siapa dia, dan mereka yang mengenalnya tahu kisah pilu gadis itu, hingga tak sanggup buka mulut dan menyerahkannya ke tangan sang iblis.
Semua orang tahu bos besar tak pernah memaafkan kebohongan, tapi tetap saja lebih dari satu orang berani berbohong demi melindungi Salsabila yang baik hati.
Dulu, saat bekerja di jalanan bersama keluarganya, Salsabila selalu ramah dan menolong semua orang di sekelilingnya. Dengan mimpi menjadi dokter, ia memang punya bakat: bisa mengobati luka dan mendiagnosis penyakit hanya dari mendengar keluhan seseorang.
Di gudang tempat semua barang selundupan disimpan, dua pria mondar-mandir. Arkana, Rendra, dan Galih sama-sama merasa ada yang janggal pada kiriman itu.
Tanpa rasa takut, mereka bertahan sampai saat terakhir, menunggu sesuatu yang seharusnya terjadi. Namun tak ada apa-apa yang terjadi.
Pencarian berlanjut, dan setelah sekian lama, wanita itu tak juga muncul. Seolah bumi telah menelannya. Makin lama waktu berjalan, makin ngeri Arkana dibuatnya. Tak berhasil menemukannya membuatnya takut.
Ia selalu percaya pada intuisinya dalam berbisnis, dan itulah yang membawanya ke puncak kesuksesan. Namun kini ada satu hal yang membuatnya tak bisa tidur di malam hari: tubuh mungil sang wanita yang tergolek kesakitan di atas ranjang pada pagi yang menyedihkan itu.
Sesampainya di apartemen, ia menenggelamkan diri di gimnasium pribadinya berjam-jam. Hanya di sana ia menemukan ketenangan jiwa dan pikirannya.
Arkana Baswara.
Setelah hari yang melelahkan, Sang Iblis kembali ke klub, tempat ia menggerakkan langit, laut, dan bumi.
"Bro, Nadine sudah putus asa mencari temannya. Kurasa hukumannya sudah terbayar lunas," ujar Rendra.
"Dia sendiri yang tak mau pergi. Dia bisa saja pergi sejak lama, tapi malah terbiasa dengan hidup semacam ini," jawab Arkana.
"Kalau begitu, hari ini juga kubawa dia pergi."
"Terserah kau saja."
Tapi ada yang tak diketahui Rendra: model cantik bernama Shafa itu telah kehilangan akal sehatnya. Ia telah mengalami banyak siksaan, dan setiap kali dipaksa tidur dengan pria, ia harus memakai narkoba. Kini ia jadi pecandu, dan menjual tubuhnya demi narkoba.
Kini ia kecanduan seks dan obat-obatan.
Galih telah membawa seorang gelandangan atas permintaan bosnya.
Lelaki itu kotor dari ujung ke ujung, pakaiannya lusuh, dan baunya menyengat.
"Nah, katakan, kau lapar?" tanya Arkana.
"Tidak, Tuan, terima kasih, saya sudah makan."
Lelaki itu gelandangan yang cerdas. Ia tahu, kalau pria bertopeng itu membawanya ke sini, pasti untuk mengorek keterangan tentang Salsabila. Semua kenalannya telah menerima siksaan paling kejam, dan ia harus menyiapkan mental untuk apa pun yang akan datang.
"Kurasa kau bohong. Matamu berkata begitu. Bawa masuk makanan," perintah Arkana.
Serombongan pelayan masuk ke ruangan, masing-masing membawa nampan perak besar yang ditata di atas meja besar. Begitu tutupnya dibuka, aroma makanan menjadi tokoh utama cerita ini. Si gelandangan serasa mau mati melihat begitu banyak makanan lezat berkumpul jadi satu.
"Makanlah, silakan," ucap Arkana.
Kenapa bos besar begitu berbeda padanya? Semua orang datang dalam keadaan babak belur dan kehilangan satu jari. Kenapa dengan dirinya justru lain? Ia tak berpikir panjang lagi, dan begitu perutnya berbunyi keroncongan, ia mulai melahap dua potong paha ayam, masing-masing di satu tangan. Kulit ayamnya terkelupas begitu mudah, saking keemasan dan renyahnya.
"Enak? Mau tambah?" tanya Arkana.
"Cukup, terima kasih, bos besar."
"Semoga kau suka. Sebab ini yang terakhir kaukecap, kecuali kau memberitahuku apa yang ingin kuketahui."
"Tuan, apa maksud Anda?"
Lelaki itu telah menyantap begitu banyak makanan yang tersaji di meja.
"Semua makanan itu beracun. Katakan siapa penjual bunga itu, atau kau mati," ujar Arkana.
"Tuan, saya bersumpah tak tahu siapa wanita itu. Semua orang pulang ke lingkungan kami dalam keadaan cacat, dan di jalanan semua membicarakan penyiksaan mereka. Tolong percayalah pada saya."
"Kenapa aku harus percaya padamu?"
"Tuan, saya tak bisa berbuat apa-apa untuk membuat Anda percaya. Yang bisa saya berikan hanyalah nyawa saya, agar Anda mengerti bahwa tak ada yang tahu wanita yang Anda cari."
"Akan kupikirkan. Sementara itu, teruslah makan. Sedih rasanya bagi teman-temanmu memanggul peti mati yang begitu ringan."
Arkana menikmati saat menakut-nakuti lelaki itu, sampai Galih menyela masuk ke ruangan.
"Bos, gudang tempat barang baru disimpan telah dibakar," lapor Galih.
"Bawakan pelakunya padaku," ucap Arkana.
"Justru itu masalahnya. Tak diketahui siapa pelakunya. Orang-orang kepercayaan bilang mereka tak melihat sesuatu yang janggal."
"Galih, itu mustahil. Pasti ada yang bersalah," sahut Rendra.
"Pak, saya sependapat dengan Anda, tapi kami tak menemukannya."
"Suruh mereka terus menyelidiki. Apa yang kaudapat tentang wanita itu? Gelandangan ini tak tahu apa-apa," ucap Arkana.
"Tuan, kami tak tahu apa-apa tentang wanita itu. Yang membuat saya sangat berpikir, cek itu belum juga dicairkan."
"Kau yakin soal itu?" tanya Arkana.
"Yakin sekali, Tuan. Menurut laporan terakhir, para akuntan melaporkan ada satu cek yang belum tercatat. Setelah saya periksa rekening pribadinya, saya sadar wanita itu belum mencairkannya."
"Sialan, wanita macam apa itu? Periksa laporan rumah sakit di sekitar sana pada hari itu. Ia babak belur; aku yakin ia pasti pergi ke dokter."
"Baik, Tuan."
Galih punya satu target dan satu misi: menemukan wanita itu dengan cara apa pun. Hari itu mereka telah membawa seorang pria ke ruang penyiksaan. Seharusnya mereka bisa mengorek informasi darinya, tapi mustahil.