NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 5

Sonia berdiri di dekat pintu kamar sambil memperhatikan Emma yang sedang sibuk menata rambutnya di depan cermin.

Cantik. Gadis itu memang cantik sekali, pikir Sonia. Apalagi pagi ini Emma mengenakan atasan berwarna merah muda yang dipadukan dengan rok jeans berwarna terang. Penampilannya terlihat begitu cerah, membawa warna baru ke dalam mansion yang selama ini terasa suram.

Bisa dibilang, Emma adalah manusia paling berwarna di antara semua penghuni mansion itu.

Sayangnya, hanya Emma satu-satunya manusia yang tinggal di tempat tersebut.

Sonia masih memperhatikan majikannya sampai Emma tiba-tiba memutar kursinya dan menatapnya melalui pantulan cermin.

“Cantik belum?” tanya Emma sambil merapikan helaian rambut di dekat telinganya.

Sonia tersenyum tipis. “Sudah, Nyonya. Nyonya terlihat sangat cantik.”

Emma langsung menyeringai puas.

“Benar, kan? Aku memang cantik dari lahir,” sahutnya percaya diri sambil mengibaskan rambutnya.

Sonia hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah majikannya Namun, senyumnya perlahan memudar ketika Emma memperhatikan wajahnya lebih saksama.

“Eh, kemarilah sebentar,” panggil Emma sambil melambaikan tangan.

Sonia menggeleng pelan. “Ada apa, Nyonya?”

“Kemari dulu, nanti juga tahu.”

Dengan ragu, Sonia melangkah mendekat, tetapi ia tetap menjaga jarak dari Emma ,Emma mengamati wajah pelayannya itu dengan saksama. Sejak kemarin, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan Sonia. Wajah gadis itu tampak pucat, dan gerak-geriknya pun terlihat terburu-buru, seolah-olah sedang menghindari sesuatu.

“Kau sakit, ya?” tanya Emma tiba-tiba.

Sonia sontak mengangkat wajah. “Tidak, Nyonya.”

“Benarkah?” Emma mengernyit curiga. “Tapi wajahmu pucat sekali dari kemarin. Terus, kalau kau berjalan sangatlah cepat. Memangnya kau sedang dikejar hantu?”

“Ti-tidak, Nyonya.”

Emma menyipitkan mata. “Lalu, kenapa kau kelihatan ketakutan begitu?”

“Saya baik-baik saja, Nyonya. Sungguh.”

Emma mengembuskan napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Ya sudah, kalau begitu, masuklah. Berdiri di luar terus memangnya kau pajangan?”

Sonia langsung menggeleng cepat.

“Tidak usah, Nyonya. Saya lebih baik menunggu di luar saja.”

Emma terdiam sejenak, lalu mengangkat sebelah alisnya.

“Lho, kenapa? Kau takut masuk ke kamarku?”

“Bukan begitu, Nyonya.”

“Terus?”

Sonia kembali terdiam. Jemarinya saling meremas di depan tubuh, membuat Emma semakin curiga Emma akhirnya berdiri dari kursinya dan melipat kedua tangan di depan dada.

“Dengar, ya. Aku ini nyonyamu. Kalau aku menyuruhmu masuk, ya masuk saja,” ujarnya santai, tetapi tegas. “Kau mau masuk atau berhenti jadi pelayanku?”

Mata Sonia langsung membulat.

“Jangan, Nyonya!” serunya panik.

Emma hampir tertawa melihat reaksinya.

“Ya sudah, kalau begitu, kemarilah. Gampang, kan?”

Sonia akhirnya melangkah masuk dengan ragu-ragu. Namun, tubuhnya masih terlihat kaku ini membuat Emma menghela napas panjang.

“Ya ampun, Sonia. Santai saja. Aku tak akan memakanmu.”

Sonia hanya menundukkan kepala.

Emma kemudian melirik ke arah sofa di sudut kamar. Damian sedang duduk di sana dengan setelan jas kantor yang rapi. Pria itu tampak sibuk memasang dasinya sendiri di depan cermin kecil yang diletakkan di atas meja.

“Lagian, kenapa kau takut sekali sama tuanmu?” lanjut Emma sambil menunjuk Damian dengan dagunya. “Tenang saja, dia sudah pakai jas kantornya. Sekarang juga cuma duduk di sofa. Lihat, dia bahkan nggak keberatan kau masuk.”

Sonia mengikuti arah pandangan Emma, tetapi begitu matanya tertuju kepada Damian, ia buru-buru menundukkan kepala lagi.

“Tidak, Nyonya. Saya tidak berani,” jawabnya lirih.

Emma menggelengkan kepala, benar-benar tidak habis pikir.

“Ya ampun, kalian ini sebenarnya tinggal di mansion atau di rumah hantu, sih? Kenapa semuanya tegang sekali

Belum sempat Sonia menjawab, suara Damian tiba-tiba terdengar dari sofa.

“Masuklah.”

Sonia langsung menegakkan tubuhnya.

“T-tapi, Tuan—”

“Apa telingamu bermasalah?” potong Damian dingin tanpa mengalihkan pandangan dari dasinya. “Aku bilang masuk, ya masuk.”

Sonia sontak menundukkan kepala.

“Baik, Tuan.”

Emma tersenyum puas melihat Sonia akhirnya menurut. Ia bahkan sempat mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah pelayannya itu sebagai tanda dukungan.

Namun, senyum tersebut langsung menghilang begitu pandangannya beralih kepada Damian.

Kening Emma berkerut.

Pria itu sedang berusaha memasang dasi, tetapi hasilnya benar-benar berantakan. Bagian simpulnya miring, sementara ujung dasinya justru terlihat tidak seimbang Emma memiringkan kepala, memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya tak tahan lagi.

“Ya ampun, kau tidak tahu memasangkan dasi ?” celetuknya spontan.

Gerakan tangan Damian terhenti Perlahan, pria itu menoleh ke arah Emma.

“Apa katamu?”

Emma langsung memasang wajah polos.

“Enggak. Aku cuma bilang dasimu bagus.”

Damian mendengus pelan, kemudian kembali sibuk dengan dasinya Emma memutar bola matanya.

*Bagus dari mana? Miring begitu masih dibilang bagus. Kalau berangkat kerja pakai dasi kayak begitu, bisa-bisa orang mengira dia habis berkelahi sama lemari*.

“Sudah, sini!” seru Emma akhirnya.

Damian tidak menjawab.

Emma berjalan menghampirinya, tetapi pria itu justru kembali mencoba merapikan simpul dasinya sendiri.

“Damian!” panggil Emma dengan nada sedikit lebih tinggi.

“Apa?”

“Sini, biar aku yang pasangin. Dasi kau miring begitu.”

“Aku bisa sendiri,” jawab Damian ketus.

“Oh, ya sudah! Terserah kau saja. Mau pakai dasi miring sampai ke kantor juga bukan urusanku.”

Ia berbalik, lalu kembali menghampiri Sonia yang masih berdiri kaku di dekat pintu.

“Kau duduk saja dulu, Sonia. Jangan berdiri terus. Nanti kakimu pegal.”

“Tidak usah, Nyonya. Saya tidak apa-apa,” jawab Sonia sopan.

Emma mendesah panjang.

“Ya ampun, keras kepala semua penghuni rumah ini!”

Dari sofa, Damian melirik Emma sekilas sebelum kembali menatap dasinya. Ia mencoba menarik simpul tersebut sekali lagi, tetapi hasilnya justru semakin berantakan.

Beberapa detik berlalu Lalu, terdengar suara Damian yang membuat Emma berhenti mengomel.

“Emma.”

Emma menoleh malas. “Apa lagi?”

“Bantu aku.”

Emma terdiam.

Sonia pun tanpa sadar mengangkat wajah, tampak terkejut mendengar permintaan tersebut.

Perlahan, senyum jahil mulai muncul di bibir Emma.

“HAH? Apa tadi? Coba ulangi, aku tidak mendengar nya!” godanya sambil mendekatkan telapak tangan ke telinga.

Damian mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam menembus topeng yang masih menutupi wajahnya.

“Jangan membuatku mengulanginya.”

Emma terkikik kecil.

“Lho, kenapa? Malu, ya, minta tolong sama istri sendiri?”

“Emma.”

“Iya, iya! Bawel banget, sih!”

Emma akhirnya berjalan menghampiri Damian dan berdiri tepat di hadapannya. Ia mengulurkan tangan, lalu mengambil alih dasi yang sejak tadi membuat suaminya kesal.

“Diam dulu. Jangan bergerak,” perintah Emma sambil mulai merapikan simpul dasi itu.

Damian mendengus. “Aku bukan anak kecil.”

“Terus kenapa pasang dasi saja nggak becus?”

Tangan Damian yang semula berada di atas lutut langsung mengepal kecil.

“Emma.”

“Iya, Tuan galak\_eh, Tuan Suami!” Emma buru-buru mengoreksi ucapannya, kemudian terkekeh sendiri. “Sabar, dong. Istri kontak mu ini sedang bekerja.”

Damian menatapnya tajam, sementara Emma justru semakin menikmati kesempatan untuk menggodanya Di sudut kamar, Sonia hanya bisa menunduk sambil menyembunyikan senyum kecilnya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat seseorang berani berbicara seenaknya kepada Tuan Damian tanpa langsung gemetar ketakutan.

Dan yang lebih mengejutkan, pria yang biasanya dingin itu justru membiarkan istrinya mengatur penampilannya.

Sepertinya, kehadiran Emma benar-benar akan mengubah suasana mansion itu.

“Sudah, kau harus memberiku hadiah karena telah membantumu,” ucap Emma sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Damian yang baru saja selesai merapikan jasnya melirik Emma sekilas.

“Hadiah apa?” tanyanya datar.

“Hummm, apa, ya?” gumamnya sambil memandang langit-langit kamar.

Damian hanya menunggu dengan wajah tanpa ekspresi, lama sekali cuman hadiah saja memikirkan nya sampai bermenit-menit

“Oh, iya! Belikan aku martabak manis!” seru Emma akhirnya dengan wajah ceria.

Damian terdiam Martabak manis? Itu sejenis Makanan apa ? Baru kali ini ia mendengar nama yang terdengar begitu aneh di telinganya. Selama ini, ia terbiasa menyantap darah. Mana pernah ia memikirkan apa itu apalagi yang bernama martabak?

Pria itu sampai bertanya-tanya, makanan seperti apa yang dimaksud istrinya makanan manusia terdengar aneh di telinga nya.

“Martabak manis itu apa?” tanyanya dengan nada polos, meskipun wajahnya tetap terlihat dingin.

Emma langsung menoleh cepat.

“HAH?!”

Ia menatap Damian seolah baru saja mendengar pertanyaan paling tidak masuk akal sepanjang hidupnya.

“Damian, kau tidak tahu martabak?” tanyanya tak percaya.

Damian menggeleng tipis.

“Memangnya aku harus tahu?”

Emma menepuk dahinya sendiri.

“Astaga, Tuan Damian yang terhormat! Masa martabak saja nggak tahu? Kau tinggal di planet mana, sih?” omelnya sambil menggelengkan kepala.

“Berisik sekali. Aku hanya bertanya.”

“Ya, karena pertanyaanmu itu, lho! Martabak itu makanan enak! Ada cokelat, keju, kacang, meses, susu kental manis—aduh, pokoknya enak banget!” jelas Emma dengan mata berbinar-binar.

Ia bahkan sampai menggerakkan kedua tangannya untuk menjelaskan betapa lezatnya makanan tersebut.

Damian menatapnya beberapa saat.

“Jadi, kau menyuruhku membeli makanan yang bahkan belum pernah kulihat?”

Emma langsung mengangguk mantap.

“Betul sekali!”

“Ck. Merepotkan.”

“Lho, kok merepotkan? Aku cuma minta martabak, bukan minta dibelikan satu gedung!”

Damian mengembuskan napas panjang, lalu melirik Sonia yang masih menunggu di dekat pintu.

“Sudah, berhentilah mengoceh. Sonia sudah menunggumu.”

Emma mengikuti arah pandangannya, kemudian mengangguk kecil. Namun, sebelum beranjak, ia tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arah Damian.

Damian menatap tangan itu dengan kening berkerut.

“Apa lagi?”

Emma tidak menjawab. Ia hanya mempertahankan posisi tangannya, seolah sedang menunggu sesuatu.

Damian terdiam sesaat sebelum akhirnya memahami maksud istrinya—setidaknya, menurut pikirannya sendiri.

“Kau meminta uang?” tanyanya.

Emma masih diam.

Tanpa banyak bicara, Damian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam, lalu meletakkannya di telapak tangan Emma.

“Nih. Pakai saja,” ucapnya santai.

Mata Emma langsung membulat begitu melihat kartu tersebut.BLACK CARD?! Ya Tuhan!

Tadi ia cuma berniat meminta uang untuk membeli martabak, tetapi siapa sangka suaminya malah memberikan kartu yang bisa membuatnya membeli lebih dari sekadar martabak!

Seketika, ekspresi Emma berubah seratus delapan puluh derajat. Wajahnya yang tadi penuh tuntutan kini mendadak terlihat manis, bahkan senyumnya mengembang lebar.

“Ya ampun, suamiku yang paling baik!” pujinya dengan suara merdu.

Damian menyipitkan mata di balik topengnya.

“Kenapa tiba-tiba?”

Emma sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru meraih tangan Damian dengan kedua tangannya, lalu membungkuk dan mencium punggung tangan pria itu dengan penuh hormat.

“Terima kasih, Tuan Damian. Semoga panjang umur, sehat selalu, rezekinya lancar, dan makin tampan setiap hari,” ucap Emma bertubi-tubi.

Damian membeku.

Beberapa detik lalu, perempuan itu masih mengomelinya hanya karena tidak tahu martabak. Sekarang, mendadak ia menjadi istri paling manis sedunia.

“Bukankah tadi kau bilang aku pria narsis dan menyebalkan?” tanya Damian curiga.

Emma mengangkat wajahnya, lalu tersenyum lebar.

“Lho, kapan? Aku nggak ingat.”

“Baru saja.”

“Oh, itu tadi. Sekarang kan sudah beda cerita.”

Damian memandangnya dengan tatapan tak percaya.Emma kembali menggenggam kartu hitam itu erat-erat, seolah benda tersebut adalah harta karun yang baru saja ditemukannya.

“Biarpun pernikahan kita cuma pernikahan kontrak, setidaknya aku harus belajar menjadi istri yang baik,” ujarnya dengan nada sok bijaksana.

Damian menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Menjadi istri yang baik atau menghabiskan uangku?”

Emma langsung mendongak.

“Dua-duanya boleh, kan?”

Hening.

Damian menatap Emma tanpa berkedip, sementara Emma membalas tatapannya dengan senyum paling polos yang bisa ia buat.

“Emma.”

“Iya, Sayang?” jawab Emma manis.

“Jangan panggil aku begitu.”

Emma langsung terkekeh.

“Lho, kenapa? Kita kan suami istri.”

“Pernikahan kontrak,” koreksi Damian dingin.

Emma mengibaskan tangannya seolah hal itu bukan masalah besar.

“Ya, terus? Kontrak juga ada keuntungannya, dong!”

Damian memijat pelipisnya Benar-benar perempuan yang merepotkan Sementara itu, Emma sudah berbalik menuju pintu dengan langkah riang. Ia bahkan sempat melambaikan kartu hitamnya ke arah Sonia.

“Sonia, ayo! Kita cari martabak manis!”

Sonia yang sejak tadi menyaksikan percakapan mereka hanya bisa tersenyum bingung.

“Baik, Nyonya.”

Namun, baru beberapa langkah Emma berjalan, suara Damian kembali menghentikannya.

“Emma.”

Emma menoleh cepat. “Apa lagi, Tuan Suami?”

“Jangan gunakan kartu itu untuk membeli barang yang tidak perlu.”

Emma langsung memasang wajah tersinggung.

“Memangnya aku ini perempuan boros?”

Damian diam.

Emma menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

“DAMIAN! KAU DIAM KARENA SETUJU ATAU KARENA MEMANG MENGANGGAPKU BOROS?!”

“Pergilah sebelum aku mengambil kembali kartu itu.”

“SIAP, SUAMIKU TERCINTA!”

Emma langsung kabur keluar kamar bersama Sonia, takut Damian benar-benar berubah pikiran Damian hanya menggelengkan kepala sambil mengembuskan napas panjang.

Ia tidak tahu apa itu martabak manis, tetapi satu hal yang mulai ia pahami: sejak Emma datang ke mansion ini, hidupnya yang biasanya tenang perlahan berubah menjadi kekacauan.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya, kekacauan itu terasa sedikit berbeda.

...----------------...

estss Jangan lupa untuk like dan komen yah biar semangat aku nulis nya

Dan juga kalian bisa memberikan ide dan kritik saran yang kalian suka

Maksih sayang sayang ku love you macccc 🤍🌼

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!