Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
Setelah pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat di bandara kota P, Elio memerintahkan asisten pribadinya untuk melacak lokasi GPS ponsel istrinya. Elio berharap Calista telah menghidupkan ponselnya sehingga mereka dapat melacak keberadaannya, karena hanya itu satu-satunya harapan untuk segera menemukan keberadaan Calista di kota itu.
"Lokasi GPS ponsel nyonya Calista berada di rumah sakit XXX, tuan." Asisten pribadi Elio berhasil melacak keberadaan GPS ponsel Calista.
"Kita kesana sekarang!." Sebelum berangkat ke kota tersebut, Elio telah meminta asisten pribadinya untuk menghubungi koneksi mereka yang berada di kota tersebut untuk memudahkan akomodasi mereka selama berada di sana.
"Baik, tuan."
Asisten pribadi Elio lantas menyebutkan nama rumah sakit yang hendak di tuju kepada orang kepercayaan mereka yang berada di kota itu.
Beberapa menit kemudian.
"Kita sudah sampai, tuan." Kata pria berpakaian serba hitam yang kini bertugas mengemudikan mobil.
Asisten pribadi Elio turun lebih dulu dari mobil guna membukakan pintu mobil bagi tuannya.
"Silahkan, tuan."
"Hm."
"Tetap stay di sini!." Asisten pribadi Elio berpesan pada pria yang kini duduk dibalik kemudi.
"Baik, tuan."
Selajutnya, asisten pribadi Elio menyusul langkah tuannya memasuki pintu utama gedung rumah sakit. Tentunya tidak ada ruangan yang hendak di tuju, asisten pribadi Elio akan setia menemani tuannya itu mengelilingi setiap sudut gedung rumah sakit untuk mencari keberadaan istrinya.
Sudah hampir setengah jam Elio mengelilingi setiap ruangan di gedung rumah sakit berlantai tiga tersebut namun belum juga menemukan keberadaan Calista, sementara GPS ponsel wanita itu masih menunjukkan lokasi yang sama. Tentunya sang asisten pribadi tetap setia menemani walaupun kenyataannya kaki pria itu sudah terasa pegal bukan main.
Saat Elio hampir putus asa, tiba-tiba pandangannya menangkap keberadaan sang istri yang tengah berjalan bersama seorang pria berjas putih menuju ke ruang staf dokter.
"Calista..." Elio kembali mengayunkan langkah, hendak menyusul istrinya.
Deg.
Diva merasa suara barusan cukup familiar di telinganya, ia lantas menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya Diva ketika menyadari keberadaan Elio tengah berjalan ke arahnya.
"Mas Elio...." Tubuh Diva langsung lemas tak bertenaga. Ia tidak menyangka Elio akan mengetahui keberadaannya sekarang ini padahal rencananya ia dan Rika akan segera kembali ke kota J pada malam harinya.
"Apa yang kamu lakukan di rumah sakit ini, Calista?." Elio menatap dengan tatapan menuntut, tak sabar mendengar jawaban istrinya. Bagaimana Elio bisa sabar apalagi sampai tenang bila kenyataannya setibanya di kota itu Elio mendapat kabar dari salah seorang anak buahnya bahwa kota tersebut merupakan kota kelahiran ibunya Marvel dan saat ini sedang dirawat di salah satu rumah sakit akibat asam lambungnya kumat.
Rika yang tidak sengaja melihat keberadaan Elio lantas menghampiri.
"Maaf tuan, saya dan Calista ke sini untuk menjenguk salah satu sahabat baik kami yang sedang terbaring koma di ruang ICU." Sadar Diva kebingungan untuk menjawab pertanyaan Elio, Rika lantas mewakili sahabatnya itu untuk menjawab.
"Sahabat?." Cicit Elio, belum sepenuhnya percaya. Pria itu kembali menatap istrinya dan Diva yang sadar akan tatapan dari suami Calista tersebut sontak menganggukkan kepala.
"Benar, mas. Kami ke sini untuk menjenguk sahabat baik kami yang sedang terbaring koma." Diva tidak sepenuhnya berbohong.
"Maaf nyonya...." Dokter menyela obrolan mereka. "Bisa kita lanjut ke ruangan saya sekarang!." Kata dokter yang merasa sudah cukup lama menjadi pengamat dan pendengar setia di sana.
"Tentu saja, dokter."
"Jika anda ingin ikut bersama, maka silahkan, tuan!." Pak Dokter cukup paham dengan situasi yang terjadi saat ini, di mana ada seorang pria yang diduga sebagai pasangan dari wanita cantik dihadapannya saat ini, tengah berprasangka terhadap istrinya. Dari obrolan pasangan tersebut, dokter bisa menyimpulkan bahwa wanita cantik dihadapannya itu tidak meminta izin pada suaminya untuk berkunjung ke rumah sakit sehingga terjadi sebuah kesalahpahaman.
Mendengar dokter mengajak serta Elio, Diva pun tak dapat berkata apa-apa lagi selain pasrah pria itu akan ikut serta bersamanya menuju ruangan dokter.
Setibanya di ruangannya, dokter lantas mempersilahkan Elio dan Diva untuk menempati kursi di depan meja kerjanya.
"Silahkan duduk tuan.... nyonya....."
"Terima kasih, dokter."
Dokter nampak menghela napas berat saat membuka salah satu map yang berisikan Reka medis pasien.
"Begini nyonya, sebenarnya kondisi Nona Diva sangat memprihatinkan. Sejak dinyatakan koma sampai dengan detik ini, pasien tidak menunjukkan perkembangan apapun. Secara medis kondisi pasien saat ini kritis, sangat kecil kemungkinan untuk bertahan lebih lama lagi." Diva langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan ketika mendengar penjelasan dokter.
"Sebelumnya saya mohon maaf, namun sepertinya saya memang harus menyampaikan hal ini, nyonya. Saya justru berpikir bahwa nona Diva masih bertahan hingga detik ini karena menunggu kedatangan seseorang, bisa jadi orang terkasihnya."
Orang terkasih, bukankah itu artinya orang yang dicintai, dikasihi dan juga disayangi? Diva bingung sendiri, sedangkan faktanya seumur-umur ia belum pernah mencintai pria manapun, lalu orang terkasih mana?
Deg.
Diva Sontak saja menolehkan pandangan pada Elio ketika sesuatu kembali terbesit dibenaknya.
"Jika dugaanku benar bahwa jiwaku dan Calista tertukar, bisa jadi Calista sedang menunggu kedatangan suaminya, Elio." Batin Diva. Kalau benar begitu, lalu bagaimana caranya menyampaikan pada Elio agar pria itu bersedia menemui seseorang yang kini tengah terbaring koma di ranjang rumah sakit sementara wajah wanita itu bukanlah wajah istrinya. Elio pasti akan menolak, sementara bila Diva berkata jujur yang ada ia akan dianggap sudah tidak waras oleh Elio.
Di satu sisi Diva ingin menangis bahkan menjerit setelah mendengar penjelasan dokter tentang kondisi raganya, namun di sisi lain ia pun tidak bisa terus larut dalam kesedihannya sendiri hingga mengabaikan jiwa Calista yang besar kemungkinan terjebak di raganya.
Tak jauh berbeda dengan Diva, Rika pun tak kalah terkejut dan sedih saat mendengar penjelasan dokter melalui Diva.
"Sepertinya aku tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk kembali ke ragaku, Rika." Kata Diva dengan wajah menyedihkan. Kini Diva dan Rika sedang berada di toilet wanita, sengaja menghindari Elio agar bisa mengobrol dengan leluasa.
Rika tak mampu berkata-kata untuk menenangkan Diva, karena faktanya bila dirinya yang berada di posisi Diva pasti hatinya akan hancur juga.
"Sebaiknya kita kembali sekarang! Kalau kelamaan di sini bisa-bisa tuan Elio akan menyusulmu karena khawatir."
Diva tersenyum miris.
"Dia mengkhawatirkan istrinya, bukannya aku, Rika."
Diva dan Rika berlalu meninggalkan Toilet hendak kembali bergabung bersama yang lain di depan ruang ICU.
"Apa yang terjadi?." Tanya Diva melihat ibunya menangis sesenggukan.
"Kondisi Diva semakin memburuk, kata dokter detak jantungnya semakin melemah. Hiks..hiks..hiks.."
Deg.
Hati Diva memang sedang hancur lebur namun ia pun tidak bisa mengabaikan jiwa Calista.
"Mas...."
"Ada apa?."
"Bolehkah mas menemaniku menemui sahabat baikku di dalam sana!." Diva memelas, berharap Elio bersedia.
Kedua alis tebal milik Elio langsung bertaut dengan sempurna, bingung mengapa Calista meminta sesuatu yang menurutnya sedikit aneh, mengingat ia sama sekali tidak mengenal sahabat baik istrinya itu.
"Jika mas bersedia melakukannya, maka mas boleh memintaku melakukan apapun setelahnya." Diva sudah siap melakukan apapun yang diminta oleh Elio nantinya asalkan pria itu bersedia menjenguk Calista yang sedang kritis di dalam sana.
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣