Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria mesum
Langkah kaki Celeste dan Roxy membawa mereka masuk ke dalam bar mewah yang sama, tempat di mana takdir mempertemukan Celeste dengan Lucian untuk pertama kalinya dalam one-night stand yang mengubah hidup mereka.
Begitu mereka duduk di sofa beludru sudut ruangan, Roxy langsung memesan segelas koktail kuat. Namun, Celeste hanya memesan minuman bersoda dengan kandungan alkohol paling rendah.
"Tidak mau minum yang lebih keras, Este?" goda Roxy sambil menaikkan sebelah alisnya. "Takut kejadian malam itu terulang lagi, hm?"
Celeste mendengus kecil, memutar bola matanya malas. Ia memang masih trauma dengan insiden alkohol yang membuat pertahanannya runtuh di pelukan Lucian. Meski kini ia sudah menjadi istri pria itu, kenangan malam pertama mereka tetap saja membuat pipinya mendadak panas.
"Jangan menggodaku!"
Sambil menyesap minumannya secara perlahan, Celeste memperhatikan Roxy yang sudah tidak sabar bergabung di tengah lautan manusia. Musik elektronik berdentum berat mengguncang lantai dansa. Tak lama kemudian, Roxy kembali menghampiri Celeste, menarik-narik tangan sahabatnya itu.
"Ayo ikut menari, Este! Jangan menjadi penonton setia di sini!" seru Roxy setengah berteriak di tengah bisingnya musik.
"Duh, aku sedang malas, Roxy. Kamu saja!" tolak Celeste menggeleng.
"Sekali saja, ayo!" paksa Roxy sambil menarik mantel Celeste hingga terlepas dari bahunya, lalu menyeret gadis itu ke tengah kerumunan.
Mau tak mau, Celeste akhirnya menyerah. Mereka berdua mulai bergoyang mengikuti irama musik, meliuk-liuk di antara desakan tubuh pengunjung lain. Suasana malam itu begitu membius, membuat mereka bernyanyi bersama mengikuti lirik lagu dengan suara keras sambil tertawa lepas.
Di tengah keasyikan itu, tiba-tiba sebuah tangan besar yang kasar merangkul lengan Celeste dari belakang.
Celeste tersentak. Tanpa pikir panjang, dengan refleks terlatih seorang petarung, ia memutar lengan pria asing bertubuh kekar itu ke belakang dengan kencang.
Pria itu meringis kesakitan, namun bibirnya justru tersenyum miring penuh seringai menjijikkan. "Wah... kucing liar rupanya. Suka bermain kasar, ya? Padahal tubuhmu sangat seksi, sayang jika hanya diam saja. Mau menemani saya menikmati malam ini?" goda si pria asing dengan nada merendahkannya.
Celeste menatap tajam penuh jijik. "Jauhkan tangan kotor itu dariku, atau lenganmu akan patah detik ini juga!"
Mendengar penolakan telak itu, alih-alih mundur, pria tersebut justru semakin menjadi-jadi dan mulai bermain fisik, mencengkeram pinggang Celeste secara paksa.
"Lepaskan dia, keparat!" geram Roxy yang langsung maju membantu, mendorong dada pria itu sekuat tenaga.
Suasana mendadak kacau. Tak terima dipermalukan dua perempuan, pria asing itu mengangkat tangannya hendak menampar Roxy. Melihat sahabatnya dalam bahaya, kemarahan Celeste memuncak. Ia menepis tangan pria itu, lalu dengan satu gerakan cepat menggunakan teknik taekwondo tingkat tinggi, Celeste menghantamkan roundhouse kick telak ke arah rahang sang pria, disusul bantingan keras yang membuat tubuh besar itu tersungkur ke lantai dengan bunyi debuman yang nyaring.
Sekejap mata, musik di bar itu berhenti total. Lampu sorot beralih ke arah mereka. Seluruh pengunjung tertegun, menonton adegan perkelahian singkat yang sukses melumpuhkan preman bar tersebut. Bagaimana tubuh kecil seperti Celeste bisa membanting tubuh besar dan kekar pria itu.
Namun, saat melihat pria itu mulai bergerak bangkit dengan amarah meluap-luap hendak menerjang Celeste kembali, Roxy bertindak cepat. Ia menyambar sebotol kaca kosong di atas meja terdekat, lalu menghantamkannya kuat-kuat ke kepala sang pria hingga berdarah.
Aaaa! Teriakan histeris langsung menggema dari para pengunjung bar.
"Sialan kalian!" geram tiga orang teman pria itu yang baru datang, langsung mengepung Celeste dan Roxy dengan gestur mengancam.
Celeste dan Roxy merapatkan punggung mereka, napas keduanya memburu di tengah situasi yang kian genting.
"Rox... apa kali ini kita membuat masalah besar?" bisik Celeste panik.
"Entahlah! Aku hanya berharap ada seseorang yang membantu kita, aku sangat malas berurusan dengan pihak kepolisian!" balas Roxy meringis.
Baru saja Celeste hendak mundur selangkah untuk memasang kuda-kuda bertarungnya lagi, tubuhnya tiba-tiba menubruk dada bidang seseorang di belakangnya. Pria berbadan tegap itu menangkap pinggangnya dengan satu tangan yang kokoh, sementara aura dingin dan mematikan langsung menyelimuti seluruh ruangan.
Celeste mendongak kaku. Begitu melihat rahang tegas dan sepasang mata kelam yang menyala penuh kemarahan di hadapannya, darah Celeste seketika mendesir dingin.
Itu Lucian. Suaminya sendiri.
"Kalian berani menyentuh istriku hah!"