NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — Hari Pertama yang Berantakan

Jam enam pagi, alarm ponsel Kirana berbunyi nyaring, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bangun tanpa perlu ditegur siapa pun. Ia duduk sebentar di kasur tipisnya, menatap langit-langit kamar kos yang sudah mulai terasa akrab, lalu tersenyum kecil. Hari ini hari pertama kerja beneran.

Ia sudah menyiapkan pakaiannya semalam—satu-satunya blazer layak pakai, dipadukan dengan blus putih polos dan rok hitam sederhana yang ia beli di pasar dengan harga jauh lebih murah dari harga sepatu yang dulu biasa ia pakai sekali jalan-jalan. Ia berdandan seadanya, menyisir rambut rapi tanpa bantuan siapa pun, lalu berjalan kaki sepuluh menit menuju halte, disusul naik angkot yang kini sudah tidak lagi membuatnya bingung harus melambai ke arah mana.

Sampai di gedung Arka Corporation pukul tujuh lewat empat puluh, jauh lebih awal dari jam masuk pukul delapan. Kirana berdiri di lobi, menatap sekeliling dengan campuran gugup dan bangga. Aku beneran kerja di sini sekarang.

Bu Marlina menyambutnya di lantai delapan, tempat divisi marketing berada, jauh lebih ramai dan sibuk dibanding ruang wawancara yang sunyi. "Selamat datang, Kirana. Sini, saya kenalkan ke tim dulu."

Ruangan open-space itu dipenuhi meja-meja kerja dengan sekat rendah, layar komputer menyala di mana-mana, dan suara telepon berdering bersahutan. Beberapa karyawan menoleh sekilas, memberikan senyum basa-basi, sebelum kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

"Ini Sandra, salah satu senior di tim kamu," Bu Marlina memperkenalkan seorang wanita berusia sekitar dua puluh delapan tahun, berpenampilan modis dengan riasan sempurna, yang menatap Kirana dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan menilai.

"Oh, kamu yang baru diterima itu?" Sandra tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Denger-denger kamu dulu anak Wibowo Group ya? Yang bangkrut itu?"

Kirana merasa pipinya memanas. Ternyata kabar itu sudah menyebar lebih cepat dari yang ia kira. "Iya, benar," jawabnya singkat, mencoba tetap tenang.

"Wah, seru juga ya, dari nona besar jadi staf junior," Sandra tertawa kecil, nadanya sulit ditebak antara bercanda atau menyindir. "Ya udah, semangat kerjanya, ya."

Kirana hanya mengangguk, menahan diri untuk tidak membalas apa pun, mengingat pesan Dewi semalam: jangan gampang emosi di hari pertama, Kir.

Bu Marlina membawanya ke meja kerja kecil di pojok ruangan, lengkap dengan komputer dan setumpuk berkas panduan kerja. "Kamu pelajari dulu ini semua. Nanti siang ada briefing dengan seluruh tim, dan sore harinya biasanya Pak Rangga—CEO kita—suka mengecek progres tim marketing secara langsung."

Nama itu membuat jantung Kirana berdegup sedikit lebih cepat, mengingat cerita Bu Marlina tentang bos yang tegas dan menakutkan itu. Ia mengangguk, lalu mulai membaca berkas-berkas di depannya dengan penuh konsentrasi, berusaha menyerap sebanyak mungkin informasi tentang produk dan strategi pemasaran perusahaan.

Jam sepuluh pagi, insiden pertama terjadi. Salah satu rekan kerja meminta tolong Kirana membawakan kopi untuk rapat kecil di ruang meeting lantai sembilan—lantai eksekutif. Kirana, yang masih belum hafal seluk-beluk gedung, membawa nampan berisi beberapa gelas kopi dengan hati-hati, berjalan menyusuri koridor yang asing baginya.

Sialnya, di depan pintu ruang meeting, sebuah pintu kaca tiba-tiba terbuka dari arah berlawanan—seseorang keluar dengan langkah cepat sambil menunduk membaca dokumen di tangannya, tanpa memperhatikan sekelilingnya. Kirana yang juga tidak sempat mengelak, bertabrakan pelan dengannya.

"Aduh, maaf!" Kirana refleks berseru, tapi terlambat.

Nampan di tangannya oleng. Salah satu gelas kopi tumpah—tepat mengenai laptop yang sedang dibawa pria itu, laptop mahal berwarna silver metalik yang layarnya masih menyala menampilkan dokumen keuangan.

Hening sejenak.

Kirana mendongak, dan untuk pertama kalinya, ia melihat wajah pria itu dari dekat—rahang tegas, alis tebal yang kini berkerut tajam, mata gelap yang menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan: campuran kaget, kesal, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa Kirana pahami.

"Astaga, maaf banget, Pak! Saya nggak sengaja—" Kirana buru-buru mengambil tisu dari sakunya, mencoba mengelap laptop itu, panik luar biasa.

"Jangan disentuh," suara pria itu tegas, dingin, membuat Kirana membeku seketika. "Kamu bisa bikin korsletingnya makin parah."

Kirana menarik tangannya, wajahnya memerah padam, campuran malu dan takut. "Maaf, Pak, saya benar-benar nggak sengaja, saya nggak lihat—"

"Itu jelas," potong pria itu tajam, menatap laptopnya yang layarnya kini berkedip-kedip aneh sebelum akhirnya mati total. "Ada laporan penting yang belum sempat aku simpan di situ."

"Saya... saya bisa bantu apa, Pak? Saya benar-benar minta maaf—"

"Kamu siapa? Divisi mana?" tanya pria itu, mengabaikan permintaan maaf Kirana, nadanya masih dingin dan tajam seperti pisau.

"Kirana, Pak. Staf junior baru di divisi marketing. Hari ini hari pertama saya kerja," jawab Kirana, suaranya bergetar, hampir menangis karena malu dan takut sekaligus—takut ini akan jadi hari terakhirnya bekerja padahal baru dimulai beberapa jam yang lalu.

Pria itu menatapnya lama, ekspresinya tidak berubah, sulit ditebak apa yang ada di pikirannya. "Hari pertama, dan kamu sudah merusak laptop atasanmu," katanya akhirnya, nada suaranya datar tapi entah kenapa terdengar seperti sindiran paling menusuk yang pernah Kirana dengar. "Selamat, kamu mencetak rekor baru."

Kirana ingin menghilang saat itu juga. "Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya akan ganti rugi laptopnya, atau apa pun yang bisa saya lakukan untuk—"

"Bersihkan lantainya," potong pria itu lagi, menunjuk tumpahan kopi di lantai dengan dagunya, sebelum berbalik dan berjalan pergi membawa laptop rusaknya, tanpa menoleh lagi, meninggalkan Kirana berdiri kaku dengan nampan kopi yang kini tinggal setengah, wajahnya masih memerah padam.

Beberapa karyawan yang kebetulan lewat melirik Kirana dengan tatapan iba, sebagian menahan senyum geli.

"Wah, kamu baru aja ketemu Pak Rangga," bisik salah satu office boy yang membantu membersihkan lantai, nadanya penuh simpati. "CEO kita. Dan kayaknya kamu baru bikin kesan pertama yang... unik."

Kirana merasa dunia di sekelilingnya runtuh untuk kesekian kalinya. Rangga. Jadi nama pria dingin dan menyeramkan itu Rangga. CEO yang bahkan belum genap satu jam kukenal, dan aku sudah merusak laptopnya di hari pertama kerja.

Ia menghela napas panjang, menahan air mata yang mendesak ingin keluar, lalu berjongkok membersihkan sisa tumpahan kopi di lantai koridor mewah itu—koridor yang jauh lebih megah dari ruang tamu rumahnya dulu—sambil membatin dengan getir, Ya Tuhan, kalau ini caramu ngasih pelajaran soal kerendahan hati, aku paham banget kok. Nggak usah diulang lagi.

Ia tidak tahu bahwa di ruangannya, Rangga Arka Wijaya duduk di kursi kerjanya, menatap laptop mati di mejanya dengan ekspresi kesal—namun anehnya, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas, sesuatu yang jarang sekali terjadi, mengingat kembali wajah panik gadis baru itu, cara bicaranya yang gugup namun jujur, dan sesuatu dalam tatapannya yang entah kenapa terasa berbeda dari karyawan-karyawan lain yang biasa gemetar ketakutan di hadapannya.

Kirana, batinnya, mengingat nama itu. Menarik.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!