Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29 Heran tapi itulah Kenyataannya
“Bagaimana mungkin aku memiliki saham sebanyak itu, darimana coba uangnya?” batinnya Khalid.
Selama ini dia bahkan masih harus mencicil rumah melalui KPR. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja dia terbiasa hidup sederhana. Lantas, dari mana dia bisa mendapatkan dana sebesar itu untuk membeli saham perusahaan?
“Ya Allah, Mbak Kinanti... kenapa harus berkata seperti itu?” gumam Khalid dalam hati.
Dia menatap Kinanti dengan sorot mata penuh kebingungan.
“Empat puluh persen?” ulangnya lirih, seolah berharap dirinya salah mendengar.
Kinanti hanya menatapnya tenang.
Tidak ada sedikit pun keraguan di wajah perempuan itu.
Pak Ridwan yang masih terlihat terkejut akhirnya angkat bicara.
“Jadi, maksud Anda, Bu Kinanti, Khalid memiliki saham sebesar empat puluh persen di PT Global?”
Nada suaranya terdengar berat.
Kinanti mengangguk dengan santainya, “Benar.”
Seketika suasana ruangan kembali riuh.
Beberapa orang saling berbisik. Ada yang menggelengkan kepala, ada pula yang masih tampak tidak percaya.
Namun, Pak Agus justru tertawa sinis.
“Hahaha... mana mungkin itu terjadi, Bu Kinanti?” katanya sambil menggelengkan kepala. “Khalid itu karyawan biasa. Bahkan, dari penampilannya saja kita bisa tahu dia bukan orang yang memiliki kekayaan sebesar itu. Dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli saham sebanyak empat puluh persen?”
“Benar,” timpal Pak Edo. “Kalau sekadar bercanda mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau sampai mengatakan Khalid memiliki saham sebesar itu, menurut saya sudah keterlaluan.”
Beberapa orang kembali tertawa kecil.
Khalid hanya diam. Namun, rahangnya mulai mengeras, tangannya terkepal kuat.
Rudy yang melihat keadaan tersebut ikut mengambil kesempatan untuk menjatuhkan Khalid.
“Bu Kinanti, kalau Anda yang membeli saham sebanyak itu, saya masih bisa percaya,” ucap Rudy dengan nada meremehkan. “Anda memang orang yang berkuasa dan memiliki kekayaan. Tapi dia?”
Rudy menunjuk Khalid dengan dagunya.
“Dia hanya karyawan biasa. Bahkan bisa dibilang tidak punya apa-apa. Mana mungkin orang seperti dia mampu membeli saham empat puluh persen?”
Hinaan itu membuat tangan Khalid perlahan mengepal di bawah meja.
Urat di tangannya mulai terlihat. Dia menahan amarah yang perlahan naik ke dadanya hingga ke ubun-ubunnya.
Namun, sebelum emosinya benar-benar meledak, tangan Kinanti tiba-tiba menyentuh tangannya.
Perempuan itu menggenggam tangan adiknya dengan erat spontan Khalid menoleh melihat kakaknya itu tak terintimidasi dengan ucapan barusan.
Tatapan Kinanti seolah meminta dirinya untuk tetap tenang.
“Astaghfirullahaladzim... Ya Allah, sabarkan aku.” gumamnya.
Khalid menarik napas panjang. Dia tidak ingin membuat keadaan semakin kacau.
Di sisi lain, Amri justru tertawa kecil mendengar ucapan orang-orang tersebut.
Bukan karena menganggap perkataan mereka lucu, melainkan karena dia merasa mereka terlalu bodoh untuk menyadari kesempatan yang baru saja mereka sia-siakan.
“Mereka benar-benar tidak tahu siapa yang sedang mereka hina. Mereka terlalu bodoh hingga tak menyadari kesalahan”
Amri melirik sekilas kepada Kinanti.
“Mbak Kinanti pasti akan membatalkan rencana kerja sama ini setelah melihat perlakuan mereka terhadap Khalid yang semena-mena,” batinnya..
Sementara itu, Kinanti sendiri tetap tenang.
Namun, jauh di dalam hatinya, dia mulai merasa tidak terima.
“Mereka benar-benar tidak pantas mendapatkan kemampuan dan kebaikan adikku. Mereka manusia tak tahu diuntung.”
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
“Khalid sebaiknya meninggalkan perusahaan toxic seperti ini.”
Kinanti kemudian kembali menatap adiknya.
Melihat bagaimana Khalid selama ini diperlakukan di perusahaan tersebut membuat hatinya semakin yakin bahwa keputusan yang dia ambil pagi ini adalah keputusan yang tepat.
“Lagipula, sekarang saham Khalid menjadi yang terbesar kedua. Dia sudah memiliki hak untuk duduk sejajar dengan Pak Ridwan.”
Kinanti kemudian menatap Pak Ridwan dengan tenang.
Tanpa terburu-buru, dia mengulurkan tangan kepada Amri.
Amri segera memahami maksudnya. Dia mengambil sebuah map tebal yang sejak tadi dibawanya, lalu menyerahkannya kepada Kinanti.
Kinanti menerima map tersebut.
Tanpa banyak bicara, dia meletakkannya di atas meja Pak Ridwan.
Brak!
Suara map yang cukup tebal itu membuat semua orang spontan terdiam.
“Silakan periksa sendiri.”
Pak Ridwan menatap map tersebut dengan kening berkerut.
Kinanti kemudian memberi isyarat kepada Amri.
“Bagikan salinannya.”
“Baik, Bu.” balas Amri.
Amri segera membagikan beberapa rangkap dokumen kepada orang-orang yang berada di dalam ruangan.
Satu per satu mereka menerima berkas tersebut.
Pak Ridwan membuka halaman pertama. Matanya langsung bergerak cepat membaca isi dokumen.
Semakin jauh dia membaca, ekspresinya semakin berubah.
Pak Agus yang tadi begitu percaya diri dan angkuhnya ikut menerima salinan dokumen.
Awalnya dia hanya melihat sekilas.
Namun, beberapa detik kemudian, matanya membelalak.
Tangannya bahkan berhenti membalik halaman.
“Ini...” gumamnya.
Pak Edo yang berada di sebelahnya ikut membaca dokumen tersebut.
Wajahnya seketika menegang. “Tidak mungkin...”
Rudy yang mendengar ucapan mereka langsung mengambil salinan dokumen dengan tergesa-gesa.
Dia membaca nama pemegang saham yang tercantum di sana. Kemudian persentase kepemilikannya.
Empat puluh persen. Namanya benar-benar tercantum di sana.
Khalid Anugerah.
Tubuh Rudy membeku dan menegang karena dia sama sekali tidak menduga.
Senyum sombong seolah-olah sudah berhasil menjatuhkan Khalid yang sejak tadi menghiasi wajahnya seketika lenyap dalam hitungan detik.
“Pasti ada kesalahpahaman disini,” gumamnya.
Dia kembali mengulangi membaca dokumen itu, berharap menemukan kesalahan dalam penulisannya.
Namun, semakin dibaca, semakin jelas bahwa semua informasi tersebut sah.
“Bagaimana bisa...?” bisiknya.
Khalid sendiri masih belum bergerak.
Tatapannya terpaku pada dokumen yang berada di tangan Pak Ridwan.
Dia bahkan merasa seperti sedang menyaksikan sesuatu yang mustahil.
“Khalid Anugerah... pemilik empat puluh persen saham PT Global?”
Dia menggelengkan kepala perlahan.
“Tapi... kapan?”
Khalid menatap Kinanti. “Mbak...” suaranya terdengar lirih.
Kinanti hanya tersenyum tipis kemudian mengangguk.
Khalid masih kesulitan mempercayai kenyataan tersebut.
Bagaimana mungkin seseorang membeli empat puluh persen saham perusahaan tanpa sepengetahuannya?
Dan yang lebih membuatnya tidak habis pikir...
Mengapa Kinanti melakukan semua itu untuk dirinya?
“Mbak Kinanti, sebenarnya apa yang kamu lakukan?” tanya Khalid akhirnya.
Kinanti tidak langsung menjawab.
Dia justru menyandarkan tubuhnya dengan tenang.
Kemudian dia menoleh kepada orang-orang yang sejak tadi merendahkan adiknya.
“Pagi tadi, saya membeli empat puluh persen saham PT Global dari Pak Hendra Setiawan.”
Suasana kembali membeku.
“Pak Hendra?” ulang Pak Ridwan.
Kinanti mengangguk.
“Beliau sudah kembali ke China. Seluruh proses transaksi sudah dilakukan secara sah dan telah ditangani oleh pihak hukum.”
Pintu ruangan kembali terbuka.
Seorang pria yang membawa beberapa dokumen masuk dan berjalan menghampiri Kinanti.
Kinanti menoleh kepadanya.
“Danil, jelaskan kepada mereka.”
Pria tersebut mengangguk.
Dia kemudian berdiri di samping meja dan membuka dokumen yang dibawanya.
“Benar. Berdasarkan akta jual beli saham dan dokumen legal yang telah disahkan, empat puluh persen saham milik Pak Hendra Setiawan telah dialihkan secara sah kepada Bapak Khalid Anugerah.”
Beberapa orang kembali terdiam.
Danil melanjutkan penjelasannya.
“Seluruh proses transaksi telah memenuhi ketentuan hukum yang berlaku. Dengan demikian, mulai hari ini, Bapak Khalid Anugerah merupakan pemegang saham terbesar kedua di PT Global.”
Pak Agus menelan ludah.
Wajahnya yang tadi penuh keyakinan kini tampak pucat.
Rudy bahkan tidak mampu berkata-kata.
Sementara Khalid masih terpaku.
Dia menatap dokumen tersebut seakan-akan berharap angka empat puluh persen itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lebih masuk akal.
Namun, tidak.
Angka itu tetap sama.
Empat puluh persen.
Dan pemiliknya adalah dirinya.
Kinanti kemudian berdiri.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
“Seperti yang sudah dijelaskan oleh pengacara saya, Khalid adalah pemegang saham terbesar kedua di PT Global.”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Dan berdasarkan hak yang melekat pada kepemilikan saham tersebut, dia memiliki hak untuk ikut menentukan kebijakan perusahaan.”
Kinanti berhenti sejenak.
Tatapannya kemudian mengarah kepada Pak Ridwan.
“Jadi, saya rasa keputusan untuk memecat Khalid tidak sesederhana yang Anda pikirkan.”
Ruangan kembali sunyi.
Tidak ada seorang pun yang berani menyela.
Khalid masih menatap kakaknya dengan wajah penuh kebingungan.
Dia belum bisa mempercayai bahwa dalam satu pagi, kehidupannya berubah begitu drastis.
Dari seorang karyawan yang baru saja hendak dipecat...
Kini dirinya justru menjadi salah satu pemilik terbesar perusahaan tempatnya bekerja.