NovelToon NovelToon
SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dide_Lara

Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*

lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.

Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.

*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BIDAK CATUR MULAI BERGERAK

Pengacara Frans dan Tuan Ajimo duduk berhadapan di ruangan kerja Pengacara Frans. Mereka seperti dua insan yang telah lama terpisah. Suasana ruangan itu hening, hanya terdengar deru pendingin ruangan.

Pengacara Frans menyodorkan sebuah foto di atas meja kepada Tuan Ajimo.

Tangan Tuan Ajimo mengambil kertas foto tersebut. Foto itu berukuran 5x6 sentimeter.

"Siapa mereka?" tanya Tuan Ajimo sambil memperhatikan dua pria berseragam yang ada di dalam foto itu.

"Mereka adalah polisi yang menjadi bekingan Hans. Merekalah yang menutupi semua kejahatan Hans dan usaha ilegalnya terkait rumah bordil," jelas Pengacara Frans dengan nada tegas.

"Bagaimana dengan Velyn? Apakah kau mendapat informasi tentang siapa yang membawa Velyn atau kepada siapa Hans menjualnya?" tanya Tuan Ajimo.

"Untuk saat ini aku belum mendapatkan informasi tentang itu. Beberapa bukti sudah kuberikan kepada Naya, beserta flasdiks yang diberi Alea," ujar Pengacara Frans yang belum mendapatkan kabar tentang Velyn.

"flasdiks ?" tanya Tuan Ajimo terkejut. Ia tidak asing dengan istilah itu, tetapi ia terkejut mendengarnya dalam kasus ini.

"Apakah Naya tidak bercerita tentang diska lepas yang diberikan oleh Alea?" Pengacara Frans balik bertanya seraya mengangkat cangkir dan meneguk air di dalamnya.

"Entahlah, aku rasa aku lupa karena saat Naya menjelaskan, tubuhku belum pulih," ujar Tuan Ajimo sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Wajahnya masih terlihat pucat.

"Aku rasa kita perlu menyusun rencana bersama Naya. Hans tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Aku takut ia akan segera menghabisi Naya atau kau". kata Pengacara Frans dengan nada merinding jika mengingat jejak kejahatan Hans yang begitu keji.

Tuan Ajimo mengangguk setuju. Tanpa membuang waktu, mereka bergegas melangkah keluar dari ruangan. Mereka dikawal oleh ajudan Vanka karena khawatir anak buah Hans akan melukai Tuan Ajimo dan Pengacara Frans.

Mereka tiba di lobi dan masuk ke dalam mobil. Mobil melaju dengan sangat cepat, membelah jalan di antara kendaraan lain. Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, akhirnya mereka tiba di Penthouse Adora, apartemen tempat tinggal Vanka.

Mereka keluar dari mobil dan tetap dijaga ketat oleh ajudan Vanka. Tuan Ajimo masih menyembunyikan wajahnya dengan masker dan topi hitam, serta setelan trening yang diberikan oleh Vanka untuk penyamaran. Mereka masuk ke dalam lift dan menuju lantai 60. Lift kecil itu berbunyi, menandakan mereka sudah tiba di lantai tujuan.

Tuan Ajimo melangkah keluar dari lift, lalu menyusuri lorong panjang menuju apartemen milik Vanka, diikuti oleh Pengacara Frans dan pengawal Vanka. Setibanya di depan pintu apartemen Vanka, ia menekan tombol bel.

[NING... NONG]

Aku dan Vanka mendengar suara bel saat sedang menikmati makan malam yang disajikan oleh Vanka.

"Apakah kau mendengar itu, Naya?" ujar Vanka seraya menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong steik.

Aku mengangguk dengan makanan yang masih membuat gigiku saling beradu karena lapar.

Vanka melangkah menuju pintu dan mengintip dari kamera pengawas di dalam apartemen. Setelah memastikan siapa yang datang, ia lalu membukanya. Tuan Ajimo masuk bersama Pengacara Frans, sedangkan para pengawal tetap berjaga di luar pintu.

Tuan Ajimo melangkah masuk, lalu duduk di sofa yang sangat lembut milik Vanka, diikuti oleh Pengacara Frans. Aku pun menyudahi makanku. Suasana ini terasa sangat mencurigakan dan membuatku penasaran setengah mati.

"Bagaimana, Paman?" tanya Vanka membuka pembicaraan.

Tuan Ajimo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memberikan selembar foto yang tadi diberikan oleh Pengacara Frans di kantornya kepada Vanka.

"Siapa mereka?" ujar Vanka dengan rasa penasaran yang sama.

"Mereka adalah polisi yang membantu kejahatan Hans," ujar Pengacara Frans menjelaskan kembali.

"Vanka, kenalkan, dia Pengacara Frans, sekaligus rekanku seperjuangan," ujar Tuan Ajimo mengenalkan rekannya.

Mereka pun bersalaman dan saling mengenalkan diri, Vanka dan Pengacara Frans.

Setelah itu, Pengacara Frans menatapku. Ia tersenyum tulus seolah menyimpan kata-kata yang tidak bisa ia ungkapkan secara langsung. Tatapannya membuatku sedikit tidak nyaman, tetapi aku tahu ia orang baik.

"Naya, apakah kau masih menyimpan amplop cokelat yang kuberikan dan flasdiks yang diberi Alea?" tanya Pengacara Frans kepadaku.

Vanka duduk diam, menyimak setiap kata yang keluar dari mulut kami dengan saksama.

"Aku masih menyimpannya, tetapi itu ada di rumah kami, Aku tidak tahu pasti di mana sekarang. Biar kutanyakan pada Puri dahulu," ujarku dengan perasaan bimbang.

"Aku akan menghubungi Puri," ucap Vanka sigap.

Vanka mengeluarkan benda pipih itu, yaitu ponselnya, dari dalam saku celananya, lalu menelepon Puri. Tut... tut... telepon akhirnya diangkat oleh Puri.

"Halo, Naya," ujar Puri dari balik telepon.

"Puri, kalian baik-baik saja?" tanyaku dengan nada sangat mengkhawatirkan Puri dan Alex.

"Sejauh ini kami masih baik-baik saja, Naya. Aku dan Alex menukar mobil untuk menghindari kejaran anak buah Hans dan kami tinggal di rumah Alex untuk sementara waktu. Aku rasa Hans mulai curiga padaku dan Alex," ujar Puri yang membuat hatiku sedikit lega mendengarnya.

"Puri, apa bukti-bukti Hans yang kita kumpulkan itu kau bawa atau masih ada di rumah?" tanyaku dengan suara pelan.

Tuan Ajimo, Vanka, dan Pengacara Frans saling menggenggam tangan mereka, menunggu jawaban dari Puri dengan napas tertahan.

"Ya, Naya, aku menyimpannya di dalam tas dan tas itu ada bersamaku sekarang," ujar Puri yang membuat kami semua yang tadinya menahan napas menjadi lega seketika.

"Syukurlah, bisakah kau membawanya kepada kami, Puri? Malam ini juga," ujarku memohon dengan harap-harap cemas.

"Kirim alamat kalian," ujar Puri dengan nada to the point, tanpa basa-basi.

Telepon telah terputus. Vanka langsung mengirim alamat kami kepada Puri lewat pesan teks. Kami saling bertatapan. Malam ini, sebuah rencana besar akan disusun bersama untuk menjatuhkan Hans sejatuh-jatuhnya karena kejahatannya sudah di luar batas kemanusiaan.

Bersambung...

1
Rosdianah 🌷
revisi kak, pelayan ku.
Nurull Sef Az: oke ka makasih
ya ka
total 1 replies
Nurull Sef Az
plotwis banget
muhammad fikriaz
suka sama alur ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!