NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.Padahal ini rumah tapi tidak

Lampu gantung kristal di ruang tamu itu memantulkan cahaya keemasan yang mewah, namun bagi Aira, sinarnya terasa membakar kulit. Setiap kali menginjakkan kaki di atas lantai marmer yang mengilap ini, dadanya selalu dihantam rasa sesak yang tak tertahankan. Ini bukan rumahnya. Ini tidak akan pernah menjadi rumahnya, meski secara hukum, laki-laki yang dipanggilnya "Ayah" adalah pemilik tempat ini.

"Aira, berdiri yang tegak! Jangan memalu-malukan Papa di depan tamu!"

Suara tajam itu datang dari wanita yang berdiri anggun di samping ayahnya. Tante Lina—wanita yang lima tahun lalu merusak keluarga Aira, wanita yang membuat senyum ibunya sirna selamanya, dan kini bertindak seolah-olah dia adalah ratu di rumah ini. Di samping Tante Lina, berdiri seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang sedang asyik memainkan iPad terbaru, memandang Aira dengan tatapan meremehkan yang dia pelajari dari ibunya.

Aira tidak menjawab. Gadis berusia sembilan belas tahun yang baru saja menuntaskan ujian akhir SMA-nya itu hanya menunduk dalam-dalam, meremas ujung gaun murahannya yang terasa makin sempit. Jarinya gemetar, tapi ia memaksa matanya untuk tidak menumpahkan air mata. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan mereka. Tidak akan pernah.

"Lina, sudah. Aira baru saja pulang," ujar Hendra, ayah Aira, dengan suara datar tanpa beban. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di matanya saat menatap putri kandungnya sendiri. Bagi Hendra, membawa Aira dan ibunya tinggal di paviliun belakang rumah mewahnya hanyalah bentuk "kebaikan hati" agar tetangga tidak menggunjingnya.

"Aku cuma mengingatkan, Mas. Nanti malam kan ada kolega bisnis penting dari Danuartha Group yang mau datang. Jangan sampai anak ini bikin malu dengan pakaian gembelnya itu," cibir Lina sambil mengibaskan rambut bergelombangnya yang terawat mahal.

Aira menarik napas panjang, mencoba mengabaikan tusukan kata-kata itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia memutar badan dan berjalan cepat menuju paviliun belakang—satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas lega, tempat di mana ibunya terbaring.

Suara mesin pemantau detak jantung yang berbunyi teratur menjadi satu-satunya musik yang menyambut Aira di kamar berukuran tiga kali empat meter itu. Di atas ranjang rumah sakit yang disewa bulanan, seorang wanita paruh baya terbaring lemah. Tubuhnya yang dulu bugar kini tampak begitu kurus dan ringkih.

"Mama..." bisik Aira pelan. Suaranya bergetar saat ia duduk di kursi plastik di samping ranjang.

Ia meraih tangan ibunya yang dingin dan mengusapkannya ke pipinya sendiri. Mata ibunya terbuka sedikit, menatap Aira dengan tatapan redup dan penuh penyesalan yang tak mampu diucapkannya. Sejak serangan stroke parah enam bulan lalu akibat mengetahui kenyataan bahwa Hendra telah menikah siri dan memiliki anak lain, separuh tubuh ibunya lumpuh total, dan kemampuan bicaranya hilang.

"Mama sudah makan siang? Tadi di depan Aira sempat ambil bubur dari dapur..."

Aira mencoba tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. "Aira lulus, Ma. Nilai ujian Aira bagus. Aira mau daftar kuliah seperti yang dulu kita rencanakan, nanti Aira sambil kerja part-time buat beli obat Mama..."

Namun, kenyataan pahit langsung menghantamnya kembali. Aira tahu betul ia sedang membohongi dirinya sendiri. Tabungan ibunya sudah habis tak berbekas. Biaya perawatan bulanan, obat-obatan khusus, dan fisioterapi membutuhkan puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Hendra sudah menegaskan minggu lalu bahwa dia tidak akan lagi membiayai pengobatan ibunya jika Aira tidak mau "berguna" bagi keluarga.

Tiba-tiba, pintu paviliun terbuka kasar tanpa ketukan.

"Aira!" Hendra masuk dengan wajah tegang, diikuti oleh Lina yang tersenyum penuh arti di belakangnya.

Aira refleks berdiri, meletakkan tangan ibunya dengan hati-hati.

"Ada apa, Yah?"

Hendra menatap Aira dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang dagangan.

"Malam ini kamu ikut makan malam di meja utama. Pak Arka Danuartha akan datang."

Aira mengerutkan kening. Nama Danuartha tidak asing baginya—itu adalah nama konglomerat pemilik perusahaan properti dan otomotif terbesar di kota ini. Tapi apa hubungannya dengan dirinya?

"Kenapa Aira harus ikut? Biasanya Aira dan Mama makan di sini," jawab Aira hati-hati.

Lina melangkah maju, lipstik merah menyalanya tampak begitu kontras dengan wajah pucat ibu Aira di atas ranjang.

"Kamu harus bersyukur, Aira. Pak Arka sedang mencari istri baru. Lebih tepatnya, dia butuh ibu untuk anak laki-lakinya. Papamu sudah menawarkan kamu."

Deg.

Jantung Aira seakan berhenti berdetak saat itu juga. Dunia di sekitarnya mendadak hening, hanya menyisakan bunyi bip nyaring dari mesin jantung ibunya.

"Apa?" suara Aira hampir tak terdengar. "Aku... aku baru 19 tahun, Yah! Aku baru lulus sekolah! Dan Pak Arka itu... bukannya umurnya hampir 40 tahun?!"

"Tiga puluh sembilan tahun!" potong Hendra keras. "Dan dia duda kaya raya! Kamu pikir kamu siapa, Aira?! Mau kuliah? Pakai uang siapa?! Kamu tahu berapa tunggakan rumah sakit ibumu bulan ini?! Tiga puluh juta! Dan kalau dalam minggu ini tidak dilunasi, alat-alat pengobatan ibumu akan dilepas dan kalian diusir dari sini!"

"Mas, jangan emosi," sela Lina dengan nada dibuat-buat, meski matanya berkilat gembira.

"Aira, kamu harus sadar diri. Ini kesempatan bagus. Pak Arka menjanjikan dana segar dua miliar rupiah untuk siapa saja yang mau menandatangani perjanjian pernikahan dengannya dan mengurus anaknya. Dua miliar! Itu lebih dari cukup untuk menyembuhkan ibumu sampai tuntas, bahkan untuk hidup mewah!"

"Dua miliar..." Aira berbisik lirih. Kepala terasa berputar. Dua miliar rupiah—angka yang tidak pernah terbayangkan olehnya, harga yang ditawarkan untuk membeli masa depannya.

Ia menoleh ke arah ranjang. Tampak ibu Aira mencoba menggerakkan jemarinya, matanya berkaca-kaca seolah memohon pada Aira untuk tidak melakukannya, menggelengkan kepala pelan dengan sisa tenaga yang dimiliki. Air mata ibunya menetes di sudut mata.

Aira mendekati ibunya, menggenggam jemari yang gemetar itu. Ia tahu betul, jika ia menolak, ayahnya tidak akan segan-segan menghentikan semua bantuan medis. Ibumu akan mati, dan mereka akan dilempar ke jalanan tanpa punya apa-apa.

Masa depannya, cita-citanya menjadi seorang arsitek, impian masa mudanya... semuanya harus ditumbalkan malam ini.

Aira mengusap air mata di pipi ibunya dengan lembut, lalu berbalik menghadapi ayahnya dan Lina dengan tatapan yang kini mengeras, meski dadanya hancur berkeping-keping.

"Kalau Aira setuju..." suara Aira bergetar hebat, namun tegas.

"Ayah harus berjanji, uang dua miliar itu langsung ditransfer ke rekening khusus pengobatan Mama, dan Tante Lina tidak boleh menyentuh sepeser pun uang itu."

Lina mencibir pelan, tapi Hendra tersenyum puas. "Bagus. Itu baru anak Papa. Sekarang mandi, pakai gaun yang sudah disiapkan di kamar utama, dan jangan bikin malu!"

Malam harinya, ruang makan utama rumah keluarga Hendra tampak jauh lebih megah dari biasanya. Di ujung meja makan panjang, seorang pria duduk dengan postur tegap.

Pria itu mengenakan kemeja charcoal yang tergulung rapi hingga siku, menunjukkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Wajahnya tegas dengan rahang tajam, alis tebal, dan mata hitam pekat yang dingin menatap sekeliling.

Wajahnya tampan dengan kematangan pria berusia 39 tahun—elegan, berwibawa, namun memancarkan aura intimidasi yang membuat siapa saja enggan menatap matanya terlalu lama.

Dialah Arka Danuartha.

Di pangkuannya, duduk seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun yang mengenakan jas kecil berwarna biru tua. Anak itu memiliki mata bulat yang jernih, namun wajahnya tampak cemberut dan tangannya meremas kemeja ayahnya erat-erat.

"Papa... Elano mau pulang... tempat ini jelek," bisik anak kecil itu dengan suara menggemaskan, cukup keras untuk terdengar oleh Hendra dan Lina yang langsung memasang senyum kaku.

"Sabar, Elano. Sebentar lagi," jawab Arka dingin, mengusap kepala putranya dengan lembut—satu-satunya kehangatan yang terpancar dari dirinya malam itu.

Suara langkah kaki ragu-ragu terdengar dari arah koridor.

Arka mendongak. Di sana, berdiri seorang gadis dengan gaun hijau pastel sederhana.

Rambut cokelat gelapnya terurai lembut, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Meski gaun itu tampak sedikit kebesaran dan tanpa perhiasan mewah, wajah polos tanpa riasan berlebih itu memiliki kecantikan alami yang mencolok.

Mata gadis itu membengkak sedikit—jelas baru saja menangis—namun dagunya terangkat kaku mencoba bertahan.

Langkah kaki Aira terhenti beberapa meter dari meja makan. Tatapannya tak sengaja berbenturan langsung dengan mata hitam pekat milik Arka Danuartha.

Udara di ruang makan itu mendadak terasa makin dingin. Aira meremas jemarinya di balik lipatan gaun, menyadari bahwa mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!