" Tolong keluarkan saya darisini...!! Saya mau keluar... Tolong bukain pintunya....!! " Triakan
keras Heru salah seorang eks pekerja pabrik garmen yang berlokasi di sentra industri terkemuka tak satupun ada yang merespon.
Entah tujuannya apa ia berkunjung ke area gudang yang sudah lama tutup akibat krisis yang berkepanjangan. Gudang kimia yang dulunya merupakan salah satu pabrik textile
terbesar yang pernah menyerap tenaga kerja
mencapai ribuan orang itu, kini tinggal nama saja karena sudah di alihfungsikan menjadi gudang penyimpanan zat kimia kain, sangat berbahaya bagi manusia . Gudang itu sendiri dulunya merupakan pabrik Garment terbesar yang pernah ada di negeri ini. Dan sekarang keberadaan gudang itu sendiri terbengkalai, tidak terawat sebagai mana mestinya. Kotor dan berdebu serta sebagian beberapa mesin operatornya banyak yang berkarat. Namun dibalik itu pun gudang kimia yang letaknya tak jauh dari deretan pabrik pabrik lainnya banyak menyimpan misteri kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martin deBs Komarudin1670, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posisi Robin semakin terjepit
" Emangnya darimana, Mas....? " Tanya seorang
kurir itu mengejutkan Robin tiba-tiba. Pria itu lalu berusaha menghilangkan rasa kecewanya karena mendengar Jawaban dari pelayan warung yang jauh dari harapannya. Robin coba bersikap wajar melihat kurir itu bertanya pada dirinya.
" Saya dari pinggiran kota, Mas.... " Jawab Robin simpel tidak muluk-muluk lalu mengangkat gelas minumnya dan menghabiskan sisa air minumnya yang tinggal beberapa tegukan.
" O..... Lumayan juga jauhnya ya.... " Kata kurir itu sambil mengambil kopi yang baru diberikan pelayan warung itu.
" Ya, begitulah, Mas..... Sebenarnya saya dulu
udah pernah kesini.....Tapi belum ada komplek
perumahan itu....." Kata Robin coba membuka obrolan dengan pria yang masih belum mau membuka jaket parasutnya tersebut. Karena suasana memang masih terlalu dingin untuk melepaskan jaket mirip olahraga itu yang dari modelnya sudah mulai kuno . Agak dekil dan kumal pula karena mungkin juga jarang dicuci.
" Mas benar..... Dulu di sebrang itu memang ada
perkampungan tapi gak terlalu banyak rumah
juga disitu.... Saya tau karena pernah tinggal
di perkampungan itu juga..... " Ucap pria kurir itu sambil menghirup kopinya yang masih agak panas. Robin kaget pula mendengar tuturan orang kurir tersebut. Apa mungkin dirinya kenal sama Heru? Tapi demi menghilangkan rasa penasarannya, Robin coba bertanya tentang temannya yang sudah lama menghilang itu.
" Oh, kalo gitu apakah mungkin mas kenal
sama orang yang bernama Heru....? " Tanya
Robin penasaran dengan pernyataan pria kurir
surat surat tersebut. Pria itu berpikir sejenak setelah mendengar pertanyaannya Robin yang dianggapnya aneh. Tak lama lalu menoleh Robin yang seperti gak sabar menunggu jawaban yang pasti dari kurir tersebut.
" Emang Mas siapanya Heru.....?? " Kata pria kurir itu balik bertanya. Mendengar Jawaban yang membuat Robin sedikit tenang dari rasa penasarannya itu lalu dijawab dengan antusias pula oleh Robin.
" Saya bekas teman kerjanya dulu di pabrik.... Ucap Robin bersemangat. Namun sebaliknya pria kurir yang tidak berbeda jauh usianya sama Heru sahabatnya itu justru bingung dan termenung.
" Emang Mas benar-benar gak tau kabar dari
Heru....?? " Nadanya pelan namun penuh arti yang dalam untuk bisa dimengerti. Wajah Robin kini perlahan menjadi aneh. Lalu menjawab pertanyaan pria kurir itu ikut ikutan pelan juga.
" Belum.....Emangnya ada apa dengan Heru...? "
Jawab Robin penuh dengan perasaan dan tiba tiba bisa tenang sikapnya. Pria kurir itu lalu menghela nafasnya atas ketidaktahuan Robin mengenai kabar yang sudah terlalu lama soal Heru sahabatnya itu.
" Heru sudah lama sekali menghilang... " Jawab
pria kurir itu membuat Robin terkejut luarbiasa hingga salah satu benda yang yang tengah di genggamnya tanpa disadari terlepas jatuh.
Pria kurir yang dihadapan Robin pun ikut ikutan menjadi kaget pula melihat sikap Robin kayak gitu. Dan menjadi pertanyaan pria kurir itu juga melihat keadaan Robin yang seperti orang kehilangan tongkat ditangannya.
" Kenapa, Mas....?? " Tanya pria kurir itu sedikit aneh melihat sikap Robin yang seperti ada rasa beban yang masih bersarang dihatinya. Robin sendiri ketika ditanya sikapnya kaget seperti itu oleh pria kurir, berusaha untuk tegar dan berusaha menutupi persoalan yang terjadi pada dirinya tersebut.
" Gak pa pa, kok..... Cuma saya kaget aja....
Semenjak pabrik tutup beberapa tahun yang
lalu, saya gak pernah ketemu beliau lagi... .
Dan baru juga mau ketemu , Mas bilang dia
hilang..... Kan saya jadi bingung.... Hilang
karena mati atau ada sebab lainnya....? " Kata Robin mencoba mengoreksi lebih dalam lagi tentang ucapan pria kurir tersebut. Namun pria kurir itu diam sesaat setelah menghirup kopi yang mulai agak hangat itu. Robin jadi ikut ikutan diam, berusaha memahami perasaan orang yang baru di kenalnya itu.
" Saya sendiri juga gak tau.... Cuma terakhir
istrinya bilang , dia mau menegok bekas
tempat kerjanya yang dulu..... Dan saya juga
sempat mendatangi bekas pabriknya dulu.....
Tapi sepi gak ada siapa siapa..... Yang ada
cuma banyak tumbuhan liar di sekitar pabrik
garmen itu.... " Ujar pria kurir itu menuturkan
cerita dari sumber yang ia dapatkan. Robin perlahan coba menganalisis seputar informasi yang ia dapatkan. Sebab kabar lainnya juga begitu, setiap ada yang datang ke bekas lokasi pabriknya, pasti orangnya tidak ada kabar lagi alias hilang entah kemana. Ini sebenarnya ada apa disana ? Sementara bekas pabriknya itu jelas jelas kosong dan status pabriknya pun dalam status pengawasan dari instansi yang berwenang soal menunggak membayar pajak berupa ijin mendirikan bangunan /IMB yang telat beberapa tahun dan perijinan lainnya, sementara pabrik menurut kabar sudah di alihkan fungsinya menjadi gudang zat kimia .
Sampai sekarang pun Robin tidak mengetahui pengoperasian gudang itu seperti apa, sebab Robin masih berfokus pada tuntutan buruh yang seperti kurang di perhatikan nasibnya oleh menejemen perusahaan garmen itu. Jadi boro boro dirinya bisa nyebrang pada masalah lain, sementara persoalan buruh saja belum ada titik terangnya. Ini jelas menjadi dilema buat Robin sendiri. Persoalan dirinya dengan para buruh belum kelar sudah lompat pada persoalan lain, yang ada semakin stress otak Robin itu. Namun timbul rasa ingin taunya Robin terhadap pria yang menekuni pekerjaan kurir itu sejak usaha warung kopinya dirumah gulung tikar.
" Mas ini siapanya Heru ya.... Kok jadi banyak
tau soal Heru... ..? " Tanya Robin dengan nada serius sambil fokus menatap pria kurir yang sebenar sebentar menghirup kopinya. Lama pria itu terdiam kemudian menjawab ucapan yang sedikit mengandung unsur pribadi.
" Saya dan Heru sepupuan..... Ayahnya Heru
adik bapak saya.... Tapi keduanya sudah pada
meninggal ketika saya dan Heru masih pada
sekolah.... " Mendengar pengakuan dari pria yang diketahui bernama Niko itu, Robin pun terkejut. Tidak menyangka kalo ia secara kebetulan bisa ketemu pria kurir yang ternyata
masih ada unsur keluarga dekat dengan Heru.
" Ternyata perjalanan saya gak sia sia..... Bisa
ketemu Mas, yang juga masih keluarga dekat
temen saya......Jadi saya gak perlu repot repot
lagi mencari rumahnya..... " Kata Robin yang dibalas dingin saja oleh pria kurir itu, sebab baru beberapa bulan saja Heru menghilang, istrinya langsung menikah lagi dengan mantan cowoknya yang sempat bubar itu. Kini setelah menikah lagi langsung diboyong suaminya ke luar kota dan mereka menetap disana. Ini jelas sangat menyulitkan Robin keluar dari persoalan yang sedang di hadapinya. Sebab harapannya Robin, dirinya bisa membawa Heru kemudian pria yang sebetulnya sudah tewas itu dapat menjelaskan kalo Robin bukan orang yang seperti dituduhkan Toha cs soal hilangnya teman teman mereka termasuk Heru yang telah dianggap adalah sahabatnya. Dan Heru dapat mematahkan tudingan Toha cs itu terhadap Robin. Harapan tinggal menunggu keajaiban saja untuk bisa lolos dari buruan polisi. Sebab saksi yang menguatkan Robin dari tuduhan Toha tidak pula ditemukan, yakni Heru yang entah kemana menghilangnya. Rencana Robin tadinya akan mendatangi rumah kawannya itu namun menurut pria kurir itu yang merupakan juga sepupunya, bahwa rumah telah dijual istrinya yang menikah lagi dengan pria yang ia juga tidak kenal.