"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 24 Ocean Rainier dan SeaFiora
Neo berdiri di dekat jendela kamar rawat inap. Cahaya matahari musim semi menembus tirai tipis, menyinari ruangan yang dipenuhi aroma khas antiseptik.
Pandangannya beralih ke arah ranjang pasien. Kaia masih terlelap setelah menjalani operasi caesar sekitar tiga jam yang lalu.
Wajahnya tampak pucat, tetapi jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam sebelumnya saat tubuhnya dilanda kontraksi hebat.
Perempuan itu terlihat benar-benar bisa beristirahat sekarang. Selimut putih menutupi tubuhnya hingga dada.
Rambut bobnya sedikit berantakan membingkai wajah yang kini resmi menyandang status sebagai seorang ibu.
Neo mengembuskan napas panjang. Selama Kaia berada di ruang operasi, ia sengaja mengajak Mbak Rini berbicara di ruang tunggu.
Awalnya perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu menolak membuka suara.
Namun Neo terus meyakinkan bahwa dirinya tidak datang sebagai keluarga Meganthara, melainkan sebagai seseorang yang hanya ingin memastikan Kaia benar-benar baik-baik saja.
Akhirnya mbak Rini mulai bercerita sedikit demi sedikit.Neo akhirnya mengetahui seluruh kenyataan yang selama ini disembunyikan Kaia.
Tentang Elio yang tidak pernah membuka hatinya untuk Kaia. Sikap dingin sepupunya itu.Tentang ucapan menyakitkan yang masih terngiang hingga kini.
Dan tentang keputusan Kaia meninggalkan Indonesia.Mengganti identitas, mengubur nama lamanya. Demi menyelamatkan dua nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya.
Neo memijat tengkuknya pelan. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia memang mengetahui Elio menikahi Kaia karena permintaan terakhir Kiara.
Namun ia tidak pernah membayangkan hubungan mereka ternyata sedingin itu. Ia tinggal di Utrecht. Kesibukannya sebagai Wakil CEO Wiyoga Meditech membuatnya jarang pulang ke Indonesia.
Elio pun bukan tipe orang yang gemar menceritakan kehidupan pribadinya. Neo hanya tahu mereka telah menikah, tidak lebih.
Pikirannya melayang jauh pada masa kecilnya sendiri. Ibunya pernah melakukan hal yang sama.Pergi meninggalkan Indonesia. Melahirkan, lalu sama memilih menanggung semuanya sendiri demi anak."
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Tak lama kemudian... Kelopak mata Kaia bergerak pelan. Bulu matanya yang lentik bergetar beberapa kali sebelum akhirnya terbuka perlahan.
Pandangannya tampak kosong beberapa detik. Lalu bergerak mencari sekeliling ruangan. Saat melihat Neo masih berdiri di sana, dahinya mengernyit pelan.
"Neo..." Suaranya serak.
"Kamu... masih di sini?"
Neo tersenyum kecil. "Gimana aku tega ninggalin kamu cuma berdua sama Mbak Rini di negara asing begini?"
Kaia menunduk. Jemarinya perlahan meremas ujung selimut. Bibirnya bergerak pelan. "Neo..."
"Ya?" Neo mendekat, duduk di bangku dekat ranjang.
"Tolong..." Suara itu bergetar. "Jangan bilang apa pun yang kamu lihat hari ini ke Kak Elio." Ia mengangkat wajah, matanya mulai dipenuhi air mata. "Please...."
Neo terdiam, permintaan itu terdengar sederhana. Namun konsekuensinya begitu besar.Di satu sisi... Elio adalah sepupunya sekaligus sahabatnya sejak kecil. Namun di sisi lain... Perempuan yang kini terbaring lemah di hadapannya sedang mempertaruhkan hidup demi melindungi kedua bayinya.
Neo akhirnya mengembuskan napas pelan. Ia mengangguk. "Aku janji."
Air mata Kaia langsung jatuh. "Benarkah?"
Neo tersenyum tipis. "Iya Kaia, aku nggak akan bilang kalau kamu ada di Slovenia." Ia menatap Kaia, bertanya pelan. "Tapi... Kenapa kamu memilih sejauh ini, Kai? Kenapa nggak mencoba bicara baik-baik sama Elio?"
Mata Kaia kembali berkaca-kaca. Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar.
"Kak Elio..." suaranya nyaris berbisik. "Nggak pernah menginginkan anak dariku." Ia memejamkan mata. Air mata kembali mengalir ke pelipis.
"Dia pernah bilang, kalau aku hamil... dia sendiri yang akan melenyapkan anak itu."
Suara Kaia pecah di akhir kalimat. Tangannya tanpa sadar bergerak mengusap perutnya yang kini mulai terasa kosong setelah melahirkan.
Neo membeku, rahangnya mengeras. Ia mengenal Elio sejak kecil. Ia tahu sepupunya keras kepala. Namun ia sulit mempercayai Elio benar-benar sanggup melakukan hal seperti itu.
"Menurutku..." ucap Neo hati-hati. "Elio mungkin marah, menyalahkan atas kepergian Kiara. Tapi... sepertinya dia nggak akan setega itu."
Kaia perlahan menggeleng.Tatapannya kembali kosong.Ingatan tentang Elio yang selalu bersikap dingin.
Tatapan datarnya setiap pagi, ucapan-ucapan yang menusuk, semua kembali memenuhi kepalanya.
Lalu... Bayangan lain muncul. Seorang anak kecil yang berdiri sendirian di balik pintu ruang kerja.
Menunggu ayahnya menoleh tapi yang diterima hanya tatapan penuh penolakan.
Kaia menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Aku pernah tumbuh...dengan ayah yang setiap hari berharap aku tidak pernah dilahirkan. Aku tahu rasanya."
Ia menatap Neo dengan mata merah. "Aku nggak akan membiarkan anak-anakku menjalani hidup seperti itu.Mereka bisa tumbuh tanpa seorang ayah... Tapi mereka nggak boleh tumbuh dan merasa dirinya tidak diinginkan."
Neo meraih kotak tisu di atas nakas. Ia menarik beberapa lembar, lalu menyodorkannya kepada Kaia. "Udah..." ucapnya pelan. "Nangisnya cukup."
Kaia menerima tisu itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia mengusap pipinya perlahan, berusaha menghentikan isak yang sejak tadi tak kunjung reda.
Neo menatap perempuan itu beberapa saat, tatapan yang lebih serius. Lalu mengembuskan napas panjang.
"Baiklah, aku nggak akan membocorkan semua ini, pada Elio bahkan pada keluarga Meganthara. Aku akan simpan rahasia ini."
Bahu Kaia yang sejak tadi menegang perlahan mengendur. Namun sebelum ia sempat mengucapkan terima kasih, Neo kembali membuka suara.
"Tapi... Aku punya satu syarat."
Kaia mengangkat wajah.Alisnya saling bertaut. "Syarat?"
Neo mengangguk kecil."Kamu kerja sama sama Wiyoga Meditech."
Kaia terlihat bingung belum mengerti arah pembicaraan pria di hadapannya.
Neo tersenyum tipis. "Aku tahu kemampuanmu. Dulu waktu masih di Indonesia aku pernah lihat salah satu sistem keamanan yang kamu buat.Kamu punya bakat yang bagus. Wiyoga Meditech lagi butuh banyak tenaga divisi digital di wilayah Eropa. Kami butuh programmer dan cybersecurity engineer berkompeten sepertimu."
"Tapi...." Kaia tampak ragu. Neo adalah bagian dari keluarga Meganthara.
"Kamu bisa tetap kerja sebagai freelancer." Potong Neo tenang. "Kerjanya dari rumah seperti kamu dan klien lainnya.Identitasmu tetap memakai nama Asha Calina. Semua kontrak akan aku urus sendiri. Tidak ada satu orang pun di kantor yang tahu siapa dirimu sebenarnya."
Neo berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. "Anggap saja... ini ucapan selamat datang di hidup barumu."
Kaia terdiam cukup lama. Pandangannya jatuh ke kedua telapak tangannya sendiri. Selama ini... Ia selalu hidup sendirian. Menghadapi semuanya sendiri.
Perlahan ia mengangkat wajah. "Terima kasih Neo." Suaranya lirih lantas ia mengangguk pelan. "Baik. Aku mau."
Senyum Neo langsung melebar. "Deal." Ia mengulurkan tangan.
Kaia terkekeh pelan di sela sisa tangisnya. Ia menyambut uluran tangan itu. "Deal."
Tak lama suara ketukan pintu terdengar pelan, membuat keduanya menoleh.
Tok...
Tok...
Tok...
Pintu kamar perlahan terbuka. Mbak Rini masuk lebih dulu. Di belakangnya seorang perawat mendorong dua kereta bayi transparan.
Satu dibedong kain berwarna biru muda. Satunya lagi dibedong warna merah muda.
Langkah perawat berjalan pelan mendekati sisi ranjang.
"Good afternoon, Mrs. Asha. The babies are healthy. Their breathing, heart rate, and temperature are all stable. You may hold them now."
Kaia spontan berusaha bangun. Namun baru sedikit mengangkat tubuhnya, wajahnya langsung meringis menahan nyeri di bekas operasi.
Neo refleks menahan bahunya. "Pelan-pelan aja Kai. Bekas operasinya masih baru."
Perawat membantu menaikkan sandaran tempat tidur hingga posisi setengah duduk. Barulah Mbak Rini mengambil bayi laki-laki lebih dulu.
Dengan hati-hati ia meletakkannya di pelukan Kaia. Begitu tubuh mungil itu menyentuh dadanya...
Air mata Kaia langsung jatuh. Bayi kecil itu masih memejamkan mata. Napasnya pendek-pendek. Sesekali bibir mungilnya bergerak seperti sedang mencari sesuatu.
Jari-jarinya yang sangat kecil perlahan menggenggam telunjuk Kaia. Sekuat tenaga, meski genggaman itu nyaris tak terasa.
Tangis Kaia pecah. "Hai..." Suaranya bergetar. "Sayangnya Mama.... Terima kasih... udah hadir ke dunia."
Mbak Rini ikut menyeka sudut matanya. Lalu mengangkat bayi perempuan.Dengan sangat hati-hati ia membaringkannya di sisi Kaia.
Bayi itu jauh lebih aktif.Kelopak matanya sedikit terbuka. Tangannya bergerak kecil ke udara. Kaia tertawa di sela tangisnya. "Yang ini... aktif banget."
Neo yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa tersenyum. Entah kenapa pemandangan itu terasa begitu hangat.
Tanpa sadar ia melihat wajah yang sangat dikenalnya. Neo memicingkan mata. "Hm... Lucu ya."
Kaia menoleh. "Kenapa?"
Neo menunjuk kedua bayi itu. "Mereka... mirip sekali sama Elio waktu bayi."
Kaia ikut memperhatikan lebih saksama. Ia tak bisa menyangkalnya. Kulit dua bayinya putih bersih, kelopak mata yang sedikit sipit, rambut hitam lurus, bentuk hidung kecil yang tegas.
Bahkan garis wajahnya...Sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan darah keluarga Meganthara.
Neo tersenyum geli. "Kalau Tante Maika lihat pasti langsung nangis bahagia. Dan Sienna pasti udah heboh keliling rumah sambil teriak-teriak karena akhirnya jadi aunty."
Kaia hanya tersenyum tipis.Senyum yang perlahan berubah sendu.
Neo kemudian bertanya pelan. "Kamu udah ada ide kasih mereka nama?"
Kaia mengangguk, matanya tak pernah lepas dari kedua bayi di hadapannya. "Yang laki-laki... Ocean Rainier. Kalau yang perempuan... SeaFiora."
Neo mengulang kedua nama itu pelan. "Ocean Rainier... Sea Fiora..." Lalu ia tersenyum. "Nama yang bagus dan indah."
Beberapa detik kemudian ia kembali bertanya dengan nada hati-hati. "Nggak pakai nama Meganthara?"
Ruangan mendadak hening, Kaia menunduk. Perlahan ia mencium punggung tangan mungil putranya.
Matanya kembali dipenuhi air. "Kak Elio... nggak pernah menginginkan mereka." Ia mengusap pipi bayinya dengan ujung jari. "Kalau ayahnya saja menolak kehadiran mereka... bagaimana mungkin aku memberikan nama keluarganya?"
Ruangan kembali hening, tak ada seorang pun menjawab.Bahkan Neo kehilangan kata-kata. Ia hanya menatap dua bayi mungil itu.
Di dalam hati, ia berharap...
Semoga suatu hari nanti Elio mengetahui, bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang berharga.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁