Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 orang lain lebih perduli
Meski masih sering termenung, meski matanya masih menyimpan kesedihan setidaknya sekarang ia mulai makan teratur.
Namun Mira tahu luka Alkina terlalu dalam untuk bisa sembuh cepat.
“Kak Alkina,” panggil Rian polos, “Kakak nggak punya mama?” Tangan Alkina langsung berhenti.
Mira spontan menegur pelan. “Rian.”
“Tapi aku penasaran nek…”
Alkina tersenyum kecil meski matanya mulai berkaca.
“A... aku punya mama.”
“Terus kenapa kakak tidak pulang?” Pertanyaan itu membuat tenggorokan Alkina tercekat karena bahkan sekarang ia juga tidak tahu apakah dirinya masih punya tempat untuk pulang.
Di sisi lain, pencarian Ranti mulai membuahkan hasil.
Sore itu asistennya datang dengan beberapa informasi.
“Nona Alkina sempat terlihat di terminal kota dua minggu lalu.”
Ranti langsung berdiri.
“Terus sekarang kalian sudah menemukan tempat tinggal Alkina?”
“Kami masih mencarinya Bu bos...”
“Lanjutkan pencarian, kalian harus secepatnya menemukan Alkina.”
“Baik bu bos.”
Namun sebelum pria itu pergi, ia tampak ragu.
“Bu Ranti …”
“Ada informasi lain?”
“Nona Alkina terlihat sangat kurus di rekaman CCTV.”
Deg.
Kalimat itu menghantam Ranti keras, ia langsung membayangkan putrinya sendirian membawa tas kecil.
Kelaparan, ketakutan, tanpa siapa pun dan tiba-tiba Ranti merasa dirinya seperti penjahat.
Malam itu Ranti kembali masuk ke kamar Alkina, tangannya menyentuh meja belajar kecil yang sudah lama tidak dipakai lalu matanya tertuju pada buku catatan usang di laci.
Ia membukanya perlahan dan isi di dalamnya membuat napasnya berhenti.
Bukan catatan sekolah melainkan tulisan-tulisan kecil Alkina selama bertahun-tahun.
“Hari ini mama memeluk Sisil lagi.”
“Aku juga ingin dipeluk mama, tapi itu hal yang tidak mungkin terjadi.”
“Kalau aku lebih pintar, apa mama akan sayang sama aku?”
“Aku kangen bang Arkan meski sekarang aku sudah tidak bisa bertemu dengannya lagi.”
“Hari ini ulang tahunku. Tapi tidak ada seorang pun yang ingat.”
“Tapi tidak apa-apa. Aku sudah biasa seperti ini.”
Air mata Ranti jatuh membasahi halaman buku itu. Tubuhnya gemetar hebat ia tidak sanggup membaca lebih jauh karena setiap kalimat terasa seperti hukuman untuk dirinya sendiri.
Setiawan yang berdiri di ambang pintu ikut terdiam.
“Aku gagal jadi seorang ibu untuk putri kandung aku sendiri…” bisik Ranti hancur.
perempuan itu benar-benar menyadari satu hal yang paling menyakitkan.
Alkina tidak pergi karena membenci rumah itu.
Alkina pergi karena rumah itu tidak pernah menginginkannya lagi.
******
Pagi itu Mira duduk tenang di ruang tamunya sambil membaca beberapa berkas. Wajah perempuan paruh baya itu terlihat jauh berbeda dari biasanya.
Tidak lagi sekadar nenek sederhana pemilik rumah kecil di pinggir kota. Tatapannya tajam, tenang dan penuh perhitungan.
Di depannya berdiri seorang pria berpakaian rapi.
“Apa informasi ini akurat?” tanya Mira pelan.
“Ya, Bu.” Pria itu menyerahkan map cokelat.
“Saya sudah menyelidiki semuanya tentang Nona Alkina.”
Mira membuka berkas tersebut perlahan dan semakin ia membaca semakin dingin wajahnya.
Riwayat sekolah, catatan rumah sakit, foto-foto lama bahkan laporan dari beberapa tetangga keluarga Wiratmaja.
Semuanya mengarah pada satu hal, Alkina disiksa secara emosional selama bertahun-tahun.
“Anak kandung…” bisik Mira lirih. “Tapi diperlakukan seperti beban, seperti anak tiri.”
Pria itu mengangguk.
“Nona Alkina dikenal sangat pendiam. Beberapa guru sekolah bahkan pernah curiga dia mengalami kekerasan di rumah.”
Mira memejamkan mata sebentar. Hatinya terasa sakit membayangkan seorang gadis kecil tumbuh tanpa kasih sayang.
“Tindakan apa yang mereka ambil sekarang?”
“Bu Ranti sedang mencari Nona Alkina besar-besaran.”
Mira membuka matanya lagi.
“Sudah sejauh mana mereka mencari Alkina?”
“Mereka memakai koneksi bisnis dan orang dalam, pencarian terus diperluas.”
Pria itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Kalau Ibu mau… kita bisa memberi informasi lokasi nona Alkina sekarang juga.”