NovelToon NovelToon
Mantan Tuan Muda

Mantan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

umpan baru

Pagi hari di area kubikel lantai tiga PT Golden kembali berjalan dengan kesibukan meja masing-masing. Namun, fokus Rico sama sekali tidak berada pada monitor komputer di depannya. Ambisinya yang berkobar sejak kemarin malam membuatnya tidak bisa menahan diri untuk mencari sekutu. Dia kembali menggeser kursi berodanya ke arah Budi.

"Bud... pikirin cara dong, supaya aku bisa mendekati Ibu Mita," bisik Rico dengan nada mendesak, menatap rekan kerjanya itu dengan penuh harap.

Budi yang sedang mengetik laporan bulanan langsung menghentikan jari-jarinya di atas papan ketik. Dia menoleh dengan tatapan lelah sekaligus heran. "Aduhhh, Co... Co... kan sudah Intan bilang kemarin. Misimu itu sudah seperti orang yang mau naik ke bulan! Mustahil," keluh Budi, mencoba menyadarkan sahabatnya dari kegilaan itu.

Rico tidak menyerah. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang penuh siasat.

"Eh, Bud... pikirin baik-baik. Kalau semisal aku berhasil dan jadi suaminya Ibu Mita, otomatis aku jadi pemilik perusahaan ini, kan? Nah, kalau itu terjadi, kamu juga bakal ikut naik jabatan jadi kepala divisi atau bahkan direktur operasional," kata Rico mengajukan penawaran yang sangat menggiurkan.

Mendengar janji manis dan iming-iming kekuasaan tersebut, Budi pun langsung terdiam seribu bahasa. Untuk beberapa detik, otaknya pun mulai bekerja keras, membayangkan kenyamanan jika penawaran Rico benar-benar menjadi kenyataan. Namun, setelah beberapa saat melamun, hati kecilnya masih saja menyangkal dan menolak mentah-mentah misi yang dianggapnya tetap mustahil itu. Kasta mereka terlampau jauh di bawah.

Di tengah keheningan canggung di antara kedua pria itu, langkah kaki beritme terdengar dari arah belakang.

"Nih," kata Intan tiba-tiba, yang menyodorkan satu map berkas laporan baru tepat ke hadapan wajah Rico. "Bawa sana berkas revisi ini ke ruangan idolamu."

Mata Rico seketika berbinar terang melihat map di tangan Intan. "Kebetulan!" seru Rico dengan penuh semangat yang kembali membumbung di dalam dadanya. Dia langsung menyambar map tersebut seolah itu adalah benda paling berharga.

"Intan... kamu benar-benar penyelamatku hari ini!"

Intan yang melihat tingkah laku Rico hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dahi berkerut gemas.

"Nih anak makin hari makin parah aja tingkat halunya..." kata Intan sedikit mengomel, merasa lucunya obsesi rekan mereka.

Mega yang sejak tadi memperhatikan dari meja seberang hanya tersenyum tipis sembari merapikan beberapa dokumen kerjanya. "Haha, biarin aja dia dengan obsesinya itu, Tan," kata Mega menyahut santai dengan nada menggoda. "Toh, kalau nanti dia pas berjalan terus kesandung batu yang keras, baru dia bakal nyadar dari mimpinya," lanjut Mega memberikan perumpamaan yang menohok.

"Benar juga, biar kapok!" timpal Intan.

Langsung saja kedua karyawati baru itu cekikikan bersama, menertawakan langkah kaki Rico yang berjalan dengan sangat percaya diri dan penuh semangat menuju lift VIP. Mereka berdua, beserta Budi yang hanya bisa geleng-geleng kepala, sama sekali tidak mengetahui bahwa "batu keras" yang diumpamakan oleh Mega tidak berada di jalanan,

Siang hari setelah pulang dari klinik dokter kandungan, suasana di dalam mobil sedan mewah yang melaju membelah jalanan kota terasa begitu hangat. Bayu fokus di balik kemudi, sementara Mita duduk di sebelahnya sembari sesekali melihat beberapa dokumen proyek di tabletnya. Sebelum mampir ke kantor pusat PT Golden, Mita menoleh, menatap suaminya dengan pandangan yang sedikit ragu namun manja.

"Sayang... semisal aku memantau lokasi proyek di luar kota, apa kamu ngasih izin?" kata Mita membuka percakapan, meminta restu yang tulus dari lelakinya.

Bayu melirik sekilas ke arah istrinya melalui spion tengah sebelum kembali fokus pada jalanan di depan. "Emang harus kamu sendiri yang turun ke lapangan?" tanya Bayu tenang.

Mita hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

Bayu sedikit mengernyitkan dahinya, merasa ada yang tidak biasa. Karena setahu Bayu selama empat bulan mereka menikah dan hidup bersama, istrinya itu hanya bekerja di dalam kantor pusat saja. Mita hampir tidak pernah pergi jauh untuk urusan kerja semenjak fokus pada program kehamilan mereka.

Namun, melihat raut wajah suaminya yang berubah serius, Mita pun bercerita untuk memberikan kejelasan. Dia menjelaskan bahwa sebelum mereka menikah dulu, dia memang sangat sering mengunjungi lokasi proyek-proyek barunya di berbagai daerah demi memastikan semua investasi perusahaannya berjalan lancar tanpa ada kecurangan. Dan dalam setiap perjalanan dinas itu, dia tidak pernah pergi sendirian.

"Kalau perginya sama Vani sih enggak apa-apa," kata Bayu memberikan keputusan setelah mendengar penjelasan tersebut. Dia tahu betul bahwa Vani, sang sekretaris pribadi Mita, adalah wanita profesional yang selalu mendampingi istrinya dengan sangat baik.

Mendengar penekanan nama sekretarisnya dari mulut Bayu, senyuman menggoda seketika terukir di bibir manis Mita. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat ke arah kursi pengemudi.

"Cemburu nih...?" goda Mita dengan binar mata yang jenaka, sengaja ingin memancing reaksi posesif dari suaminya.

Bayu tidak menolak atau berkelit dari godaan tersebut.

Sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya, dia merasa cemburu adalah hal yang sangat wajar. "Kalau iya cemburu, kenapa?" kata Bayu dengan nada suara yang dalam dan penuh karisma, mengakui perasaannya secara jantan tanpa ada rasa gengsi.

"Yah... enggak apa-apa sih," kata Mita sambil mengibaskan rambut panjangnya yang wangi ke belakang dengan gaya anggun yang memikat. Jauh di lubuk hatinya, ada kebahagiaan besar yang membumbung mendengar pengakuan jujur suaminya.

"Cuma merasa spesial aja... Hahaha!" tawa renyah Mita pecah, merasa sangat dicintai karena seorang pria seperti Bayu ternyata bisa mengkhawatirkannya sampai sejauh itu.

Setelah tawa Mita mereda, Bayu kembali merapikan posisi kemudinya saat mobil mulai memasuki area parkir VIP gedung kantor pusat PT Golden.

"Berapa lama?" tanya Bayu memastikan waktu kepergian istrinya.

"Paling cuma dua hari kok, Sayang," jawab Mita lembut.

"Setelah urusan di sana selesai, aku pasti langsung pulang cepat dan fokus lagi bersamamu di rumah."

"Baiklah, dua hari. Jangan lebih," kata Bayu mengunci izinnya dengan sebuah senyuman hangat, sebelum mematikan mesin mobil. Mereka berdua bersiap turun untuk menuju ruang kerja utama di lantai teratas, sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam gedung tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!