NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 - RAPAT PARA TETUA

Sinar matahari siang yang menembus celah gorden tebal perlahan mengusik tidur Kael. Pria itu mengernyitkan dahi, matanya terbuka pelan menyesuaikan cahaya. Hal pertama yang dia rasakan adalah sensasi kaku dan denyutan nyeri yang ngilu banget di bahu kanannya.

Kael refleks mau mengubah posisi duduknya, tapi gerakannya langsung terhenti begitu dia ngerasain ada beban lumayan berat yang menimpa kaki kirinya.

Pria itu menunduk. Napasnya sempat tertahan sejenak.

Valeria masih tertidur pulas di atas karpet berbulu tebal, dengan kepala yang bersandar nyaman di lutut Kael. Wajah sang ratu mafia yang biasanya sedingin es kini kelihatan sangat damai, polos, dan... cantik banget. Rambut *ponytail*-nya udah berantakan, beberapa helainya jatuh menutupi pipinya.

Kael diam mematung. Dia bahkan berusaha nahan napasnya biar dada dan kakinya nggak banyak bergerak, takut ngebangunin wanita itu. Ingatan tentang kejadian semalam waktu Valeria ngejahit lukanya tanpa bius langsung berputar di kepalanya. Kael bener-bener ngerasa jadi pria paling brengsek karena ketiduran dan ngebiarin bosnya tidur di lantai kayak gini.

Tapi jujur aja, ngelihat Valeria sedekat ini bikin hati Kael rasanya mau meledak.

Tangan kiri Kael perlahan terangkat. Jari-jarinya yang besar dan kasar karena sering pegang senjata, bergerak ragu-ragu mendekati wajah Valeria. Dengan gerakan super pelan yang nyaris nggak nyentuh kulit, Kael menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu ke belakang telinganya.

Tepat saat itu juga, bulu mata Valeria bergerak pelan. Wanita itu melenguh kecil, lalu perlahan membuka matanya.

Kael buru-buru menarik tangannya kembali ke pangkuan secepat kilat, memasang wajah kaku andalannya seolah nggak terjadi apa-apa.

"Ugh... leherku kram semua," keluh Valeria dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Wanita itu mengucek matanya sebentar, lalu mendongak menatap Kael yang udah duduk tegap kayak patung.

"Pagi, Nyonya. Maafkan saya karena ketiduran dan membiarkan Anda tidur di lantai," ucap Kael penuh rasa bersalah.

"Jam berapa sekarang?" tanya Valeria cuek, mengabaikan permintaan maaf Kael. Dia memegang pinggiran sofa dan menarik tubuhnya buat berdiri, sedikit meringis karena pinggangnya pegal.

Kael melirik jam tangan mahalnya. "Jam sebelas siang, Val."

"Hah?! Jam sebelas?!" pekik Valeria kaget. Matanya langsung melotot lebar. "Kenapa kamu nggak bangunin aku?! Rapat sama para tetua bangka itu jam satu siang kan?!"

"Anda butuh istirahat, Val. Saya berniat membatalkan rapat itu. Kesehatan Anda lebih penting daripada mendengarkan ocehan kakek-kakek itu," jawab Kael tenang, sama sekali nggak ngerasa bersalah.

"Kamu gila! Kalau aku batalin rapat hari ini, mereka bakal mikir aku takut atau lagi melemah gara-gara insiden di pelabuhan kemarin," omel Valeria sambil berkacak pinggang.

Tatapan Valeria lalu turun ke arah bahu Kael. Nggak ada rembesan darah baru di perbannya. Syukurlah jahitannya aman.

"Kamu istirahat di sini aja. Biar Bastian yang ngawal aku ke ruang konferensi," perintah Valeria mutlak.

Mendengar nama Bastian disebut, raut wajah Kael langsung berubah gelap. Pria itu memaksakan diri buat berdiri. Meski wajahnya sempat meringis menahan sakit, postur Kael tetap tegap menjulang di depan Valeria.

"Bastian hanya otot tanpa otak. Dia tidak peka membaca situasi," tolak Kael tajam. "Saya yang akan mengawal Anda, Val. Rapat tetua hari ini pasti akan sangat panas setelah berita kematian Marco dan serangan Viper tersebar. Anda butuh bayangan Anda."

"Kael, bahumu itu baru aku jahit tadi subuh! Kalau kamu banyak gerak, jahitannya bisa robek lagi. Jangan batu deh!" bentak Valeria judes, matanya menatap garang.

"Saya bisa menahan sakitnya, Val. Tapi saya tidak akan bisa menahan diri kalau terjadi sesuatu pada Anda dan saya tidak ada di sana," balas Kael keras kepala, tatapannya nggak kalah mengintimidasi.

Mereka berdua saling tatap dengan sengit selama beberapa detik. Nggak ada yang mau ngalah. Tapi akhirnya, Valeria mendengus kasar dan memutar bola matanya. Berdebat sama Kael soal keamanan itu sama aja kayak ngomong sama tembok beton. Nggak bakal tembus.

"Terserah kamu! Kalau lukamu robek, jahit sendiri pakai lakban!" sungut Valeria sebal. "Pakai kemeja dan jas warna hitam hari ini. Kalau sampai darahmu merembes, setidaknya warnanya nggak bakal kelihatan mencolok."

Kael tersenyum tipis, sangat tipis. "Siap, Nyonya."

***

Tepat pukul satu siang.

Ruang konferensi di lantai 45 itu terasa luar biasa pengap, padahal AC menyala dengan suhu paling dingin. Asap tebal dari cerutu mahal mengepul memenuhi udara, nyiptain aroma tembakau yang bikin Valeria muak setengah mati.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja bundar besar dari kayu mahoni. Lima orang pria paruh baya yang usianya rata-rata di atas enam puluh tahun duduk mengelilingi meja itu. Mereka adalah para tetua klan. Dulu, mereka adalah rekan seperjuangan almarhum ayah Valeria. Kini, mereka hanyalah parasit yang merasa punya hak untuk ngatur-ngatur klan cuma karena megang saham.

Pintu ganda ruang konferensi terbuka. Valeria melangkah masuk dengan langkah anggun namun mematikan. Hari ini dia memakai gaun *blazer* berwarna hitam pekat dengan aksen emas di bagian kancingnya. Rambutnya dibiarkan tergerai lurus ke belakang. Tatapan matanya tajam bagaikan pisau yang siap menguliti siapa pun.

Di belakangnya, Kael berjalan mengikuti layaknya bayangan yang tak terpisahkan. Pria itu memakai setelan serba hitam tanpa dasi. Wajahnya sedingin es, dan mata elangnya langsung memindai setiap sudut ruangan, mencatat setiap detail dan pergerakan kelima tetua itu. Meski bahu kanannya terasa berdenyut nyeri tiap kali dia melangkah, Kael sama sekali nggak nunjukin kelemahan itu dari postur tubuhnya.

Valeria menarik kursi utama di ujung meja dan duduk dengan santai, sementara Kael berdiri tegap tepat di belakang kanannya, dengan kedua tangan bersedekap ke belakang punggung.

"Tumben sekali Ratu kita datang tepat waktu. Biasanya kau selalu membuat kami menunggu," sindir Tetua Haris membuka percakapan.

Pria bertubuh tambun dengan kepala nyaris botak itu menghembuskan asap cerutunya dengan kasar ke arah tengah meja. Haris adalah tetua yang paling vokal, licik, dan paling benci ngelihat klan dipimpin sama seorang perempuan.

"Kalau aku terlambat, itu artinya aku lagi ngurusin kekacauan yang nggak becus kalian urus, Haris," balas Valeria dengan senyum sinis yang manis banget.

Beberapa tetua lain langsung berdeham canggung, mencoba mencairkan suasana yang baru semenit udah panas.

"Kita langsung ke intinya saja, Valeria," sela Tetua Brata, pria kurus dengan kacamata bulat yang duduk di sebelah Haris. "Kami dengar kabar yang sangat tidak menyenangkan pagi ini. Marco, kepala sektor selatan kita, ditemukan tewas dengan kepala berlubang. Dan yang lebih parah, beredar rumor kalau Klan Viper mulai berani mengklaim wilayah selatan sebagai milik mereka."

"Itu bukan rumor," potong Valeria santai. Wanita itu menyandarkan punggungnya ke kursi dan menyilangkan kakinya. "Mereka ngirim potongan tangan Pak Hendra ke kantorku pagi ini sebagai tanda peringatan."

Sontak kelima tetua itu membelalakkan mata. Wajah mereka kelihatan panik.

"Potongan tangan perwakilan pelabuhan?!" jerit Tetua Haris memukul meja. "Astaga! Ini bencana! Hubungan kita dengan pihak pelabuhan bisa hancur berantakan! Dan kau bilang Klan Viper yang melakukannya? Mereka secara terang-terangan menantang kita perang terbuka!"

"Lalu apa yang kau lakukan, Valeria? Bersembunyi di balik meja riasmu?!" serang Tetua Brata dengan nada meremehkan.

Di belakang Valeria, rahang Kael langsung mengeras. Urat-urat di leher pria jangkung itu menonjol tipis. Telinganya terasa panas mendengar bosnya direndahkan seperti itu. Tangan kiri Kael yang ada di balik punggungnya mulai mengepal kuat.

Valeria mengangkat satu tangannya dengan tenang, mengisyaratkan para tetua bangka itu buat tutup mulut.

"Jangan panik kayak ibu-ibu arisan yang kehilangan dompet. Kalian memalukan," cibir Valeria dingin. "Klan Viper memang menantang kita. Tapi masalah itu udah aku beresin tadi pagi sebelum kalian bangun dari kasur empuk kalian."

"Beresin bagaimana maksudmu?" tanya seorang tetua lain dengan kening berkerut.

"Aku dan Kael datang ke gudang sektor selatan. Kami menghabisi satu peleton anak buah Viper yang berjaga di sana. Termasuk memecahkan kepala Igor si botak kesayangan bos Viper. Sekarang, sektor selatan kembali bersih," jelas Valeria seolah dia cuma lagi ngomongin soal menyapu debu di teras rumah.

Keheningan total menyelimuti ruang konferensi itu. Kelima tetua saling pandang dengan wajah nggak percaya. Dua orang meratakan satu peleton bersenjata? Itu gila.

Tetua Haris mendengus keras, wajahnya memerah karena merasa diremehkan oleh gadis yang usianya jauh di bawahnya itu.

"Tindakanmu itu sangat gegabah, Valeria! Kau ceroboh!" bentak Tetua Haris menunjuk Valeria dengan cerutunya. "Membantai anak buah Viper secara langsung hanya akan menyulut perang yang lebih besar! Kau bertindak pakai emosi, bukan otak! Ini persis seperti yang selalu kutakutkan!"

Valeria memicingkan matanya. "Emosi? Kalau aku nggak ngeratain mereka sekarang, besok mereka bakal ngelunjak masuk ke markas utama kita. Ketegasan itu namanya, bukan emosi."

"Ketegasan omong kosong!" balas Tetua Haris makin berani. Pria tambun itu berdiri dari kursinya sambil menggebrak meja kayu di depannya. "Klan ini butuh pemimpin yang bisa berpikir strategis dan berkepala dingin! Bukan wanita labil yang mengandalkan kekerasan membabi buta setiap kali merasa tersinggung!"

Napas Kael terdengar sedikit lebih berat di belakang Valeria. Mata pria itu menyipit tajam, mengunci target tepat di dahi Tetua Haris. Udara di sekitar Kael mendadak berubah jadi sedingin es.

Valeria masih duduk tenang, tapi senyum sinisnya perlahan menghilang, digantikan dengan tatapan kosong yang jauh lebih mengerikan.

"Jaga nada bicaramu, Haris," peringat Valeria pelan.

Tapi Tetua Haris udah telanjur kepancing emosi gengsinya. Dia merasa didukung oleh tetua lain yang cuma diam berarti setuju dengan ucapannya.

"Kenapa? Tersinggung?! Ini bukti nyatanya! Kau tidak pantas duduk di kursi itu, Valeria!" teriak Tetua Haris lantang. "Sejak awal, memberikan takhta klan kepada seorang perempuan adalah kesalahan terbesar mendiang ayahmu! Kalian kaum wanita terlalu lembek, terlalu mengandalkan perasaan! Ibumu dulu setidaknya tahu tempatnya sebagai pendamping, bukan sok berkuasa mengatur pria-pria sejati di meja ini!"

*Krek.*

Suara retakan pelan terdengar di belakang Valeria.

Kael tanpa sadar telah meremas sandaran kursi kulit yang diduduki Valeria hingga rangka kayunya di bagian dalam sedikit retak. Kesabaran Kael resmi habis.

Aura membunuh yang luar biasa pekat dan hitam meledak dari tubuh Kael, menyelimuti seluruh ruangan hingga membuat suhu udara terasa anjlok seketika. Kelima tetua di meja itu tiba-tiba merinding hebat, bulu kuduk mereka berdiri serentak. Bahkan Tetua Haris yang tadinya berteriak lantang langsung terdiam kaku, lidahnya mendadak kelu saat matanya nggak sengaja bersitatap dengan mata elang Kael.

Tatapan Kael bukan lagi tatapan seorang pengawal. Itu adalah tatapan malaikat maut yang udah nyiapin seutas tali buat nyabut nyawa. Tangan kanan Kael perlahan terlepas dari punggungnya, meluncur pelan menuju balik jas hitamnya, tepat ke arah gagang pistol Glock-nya.

Valeria langsung menyadari perubahan mematikan dari bayangannya itu. Jantungnya berdegup cepat. Dia tahu persis, kalau Kael udah ngeluarin aura sepekat ini, kepala Haris bakal beneran berlubang dalam hitungan detik. Dan membunuh tetua di ruang rapat terbuka bakal bikin klan hancur dari dalam.

"Kael," panggil Valeria pelan namun tajam.

Wanita itu perlahan mengangkat tangan kanannya, menyentuh pelan punggung tangan Kael yang udah bersiap menarik pistol. Sentuhan lembut nan dingin dari tangan Valeria sukses menghentikan pergerakan Kael di udara.

Valeria lalu menoleh ke belakang, menatap Kael dengan sudut matanya.

"Tenang," bisik Valeria mutlak.

Kael menelan ludah. Rahangnya masih mengeras kuat, tapi perlahan-lahan, napasnya mulai teratur. Perintah Valeria adalah hukum mutlak yang nggak bisa dia langgar. Perlahan, Kael menarik kembali tangannya dari balik jas, menundukkan kepalanya sedikit, dan kembali berdiri mematung. Meski begitu, tatapan matanya tetap mengunci Tetua Haris seolah pria tambun itu adalah mayat hidup.

Setelah memastikan anjing penjaganya kembali tenang, Valeria memutar tubuhnya menghadap meja bundar lagi. Dia berdiri perlahan dari kursinya. Suara gesekan kursi yang ditarik terdengar sangat keras di tengah ruangan yang mendadak hening itu.

Valeria meletakkan kedua tangannya di atas meja, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Tetua Haris dengan jarak yang cukup dekat.

"Dengar baik-baik, kakek tua," desis Valeria sedingin angin kutub. "Satu-satunya alasan kenapa kepalamu belum menggelinding di atas meja ini adalah karena aku masih menghargai secuil keringatmu saat membantu ayahku dulu."

Tetua Haris menelan ludah kasar, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Dia baru sadar kalau dia udah membangunkan monster yang sebenarnya.

"Aku perempuan. Ya. Tapi perempuan inilah yang nyuapin uang ke rekening kalian tiap bulan. Kalau kalian merasa nggak pantas dipimpin sama perempuan, pintu keluarnya ada di sebelah sana," lanjut Valeria menunjuk pintu dengan dagunya santai. "Silakan keluar, cabut saham kalian, dan bersiaplah hidup miskin jadi gembel di jalanan."

Nggak ada satu pun tetua yang berani buka suara. Tetua Brata bahkan sampai nunduk menatap sepatunya sendiri.

"Dan soal Klan Viper," tambah Valeria sambil menegakkan tubuhnya lagi, merapikan kerah *blazer*-nya dengan anggun. "Aku bakal urus mereka dengan caraku sendiri. Kalau ada di antara kalian yang berani campur tangan atau main mata sama mereka di belakangku... aku akan pastikan Kael memotong lidah kalian sebelum kalian sempat berkedip. Mengerti?"

Ruang konferensi itu sunyi senyap. Aura dominasi Valeria benar-benar mencekik leher mereka semua.

"Bagus," ucap Valeria tersenyum manis, senyum yang sama sekali nggak nyampe ke matanya. "Rapat hari ini selesai. Kalian boleh bubar dan kembali minum susu kalian."

Tanpa nunggu balasan, Valeria memutar tubuhnya dan berjalan elegan meninggalkan ruang konferensi. Kael menyusul tepat di belakangnya, tapi sebelum Kael benar-benar keluar dari pintu, pria itu menyempatkan diri menoleh ke arah Tetua Haris.

Kael nggak ngomong apa-apa. Dia cuma menatap Haris dengan tatapan mata yang seolah berkata: *Ucapkan satu kata hinaan lagi tentang Nyonya-ku, dan aku sendiri yang akan menguburmu hidup-hidup.*

Tetua Haris merosot lemas di kursinya begitu pintu ganda itu tertutup rapat, napasnya tersengal-sengal seakan baru aja lolos dari maut.

1
Putra kembar
sangat menegangkan, ceritanya bagus 🤙🏻
Putra kembar
ceritanya bagus, bikin greget dan menegangkan 😍👍
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!