Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 Hati yang Saling Mengenali
“Dia benar-benar masih hidup…” Air matanya jatuh lagi.
Namun kali ini rasa sesak di dadanya semakin besar karena semakin jelas putranya memang sengaja menjauh dari mereka.
“Kenapa orang-orang Hendro ada disana? Rumah siapa itu?”
“rumah nyonya Mira Wiratmaja.”
“Dia melindungi tante Mira…”
“untuk sementara waktu, itu informasi yang kami dapat tuan, nyonya.”
Ranti tersenyum pahit sambil menangis.
“Dia bahkan lebih peduli dengan orang lain…”
“Jangan berpikir seperti itu, tante Mira masih bagian keluarga, mungkin saja Arkan mengetahui Hendro menyerang kediaman tante Mira makannya Arkan kesana untuk melindungi tante Mira.
“Mmmm sebenarnya...” Kepala keamanan keluarga terlihat ragu sesaat sebelum mengatakan apa yang sebenarnya mereka temukan.
“Ada apa?”
“Ada seorang perempuan yang seumuran dengan nona Alkina dan kemungkinan besar itu nona... Alkina.” Ucapnya penuh keraguan karena mereka belum bisa memastikan perempuan itu Alkina atau bukan.
Ranti terlihat bersemangat ketika mendengar nama putrinya.
“Apa mungkin Alkina memang tinggal bersama tante Mira dan mungkin saja Arkan ke sana karena Arkan tidak mau Alkina disakiti musuh...”
“Gimana kalau kita ke sana sekarang... aku yakin itu Alkina pa.” Ucap Ranti penuh semangat.
“Jangan...” ucapan Setiawan membuat Ranti marah.
“Kenapa pa? Apa kamu tidak mau menemui putri kamu pa?”
“Bukan begitu... papa merasa ini bukan waktu yang tepat untuk kita ke sana... jika itu memang Alkina, papa tidak mau menganggu dia... papa juga tidak mau dia dalam bahaya.”
“Kamu ngomong apa sih pa... apa kamu pikir aku datang ke sana untuk memarahi dia?”
“Bukan begitu... Alkina sudah sangat kecewa kepada kita, mungkin juga benci... jika kita kesana, itu artinya dia merasa tidak aman lagi karena kita tahu dia ada disana... aku takut Alkina akan pergi dari rumah tante Mira... dan itu bahaya untuk Alkina karena musuh sedang mengincar Alkina... apa kamu mau Alkina kenapa-napa.” Jelas Setiawan panjang lebar.
Ranti pun berpikir bahwa, apa yang suaminya katakan ada benaranya, nyawa anaknya akan berada dalam bahaya jika Alkina pergi dari rumah Mira.
“Bersabar lah sedikit lagi. Setidaknya sampai situasi aman.” Ucap Setiawan.
“Baiklah.” Ucap Ranti tanpa semangat.
Kali ini ia tidak boleh egois, kali ini ia tidak akan menjadi penyebab anaknya terluka lagi.
Sementara itu Hendro mulai benar-benar panik. Ia mondar-mandir di apartemennya dengan wajah pucat.
“Kalau Arkan masih hidup, habis kita!”
Livia juga terlihat ketakutan.
“Kenapa dia nggak muncul dari dulu, kenapa sekarang?”
“Karena dia nunggu waktu yang tepat!”
Tatapan Hendro mulai penuh tekanan.
“Dia nyusun semuanya dari bayangan! Dia sudah menunggu momen ini tiba!”
“Tapi siapa yang menyelamatkan anak itu?”penasaran Livia.
“Aku tidak tahu.” Jawab Hendro.
“seharusnya waktu itu kita pastikan dulu dia tiada.”
“sudah terlambat untuk kita menyesali itu, sekarang kita harus atur rencana baru... kita sudah tidak bisa mengunakan cara lama.”
Sisil duduk diam sedari tadi dengan tubuh gemetar. Apalagi saat mendengar nama Arkan, ada ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia tidak pernah membayangkan keadaan akan berubah sejauh ini. Awalnya semua terlihat mudah.
Ranti membencikan Alkina setelah ia berhasil menyingkirkan penghalang terbesar yaitu Arkan. Keluarga Wiratmaja perlahan menjadi milik mereka namun sekarang semuanya runtuh dan seseorang yang seharusnya mati kembali membawa mimpi buruk.
Malam semakin larut.
Alkina masih belum bisa tidur. Bayangan pria di bawah hujan terus muncul di kepalanya.
Cara pria itu berdiri, posturnya, perasaan hangat aneh yang muncul saat melihatnya. Air mata Alkina perlahan jatuh lagi.
“Kalau itu benar bang Arkan …” Ia memeluk lututnya erat.
“…kenapa bang Arkan nggak mau nemuin aku?” Suara gadis itu terdengar begitu kecil.
Begitu sedih dan tanpa ia sadari di luar rumah, sebuah mobil hitam masih terparkir jauh dalam gelap.
Arga belum benar-benar pergi. Pria itu duduk diam sambil menatap jendela kamar Alkina dari kejauhan.
Tangannya menggenggam erat sebuah foto lama mereka berdua dan setelah bertahun-tahun air mata jatuh dari mata Arkan.
Mobil hitam itu masih terparkir dalam gelap.
Meski hujan sudah mulai reda, Arkan belum bergerak sedikit pun. Tatapannya masih tetap tertuju pada jendela kamar Alkina, pandangannya tidak pernah lepas dari jendela kamar adiknya.
Lampu kamar itu masih menyala, artinya adiknya juga belum tidur.
Dadanya terasa semakin sesak.
“Apa dia lihat aku tadi ya…?” Suara Arkan sangat pelan.
Nyaris seperti bisikan kepada dirinya sendiri. Anak buahnya yang duduk di depan memilih diam karena mereka tahu di balik semua kekuatan dan rencana besar yang Arkan miliki, ada satu hal yang selalu membuat pria itu kehilangan ketenangan dan satu hal itu adalah adik kandungnya Alkina.
Sementara dii kamar lantai dua Alkina duduk memeluk selimut sambil terus memikirkan sosok pria tadi.
Alkina tidak bisa tidur sama sekali, bahkan ia memejamkan matanya berharap bisa terlelap namun sosok pria yang ia lihat tadi terus menggangu pikirannya yang mmbuat ia tidak bisa tidur.
Semakin diingat semakin terasa familiarnya lalu perlahan, sebuah ingatan lama muncul di kepalanya. Seorang anak laki-laki berdiri di bawah hujan sambil memayunginya.
“Kalau hujan jangan lari sendiri, dek, bahaya. Nanti kalau kamu jatuh siapa yang bantu kamu.” ucap Arkan saat itu.
“Nanti sakit.” Air mata Alkina langsung jatuh lagi karena bahkan suara dalam ingatan itu terasa sama hangatnya dengan perasaan aneh yang ia rasakan tadi.
Tok, tok, tok
Pintu kamarnya diketuk pelan.
“Alkina?” Mira masuk perlahan sambil membawa susu hangat.
Mira berpikir dengan segelas susu hangat bisa membuat Alkina lebih baik.
“Kamu belum tidur?”
Alkina hanya menggeleng kecil.
Matanya merah. Mira langsung duduk di sampingnya.
“Kamu nangis lagi.” Suara wanita itu begitu lembut.
Dan entah kenapa Alkina tiba-tiba bertanya dengan suara gemetar,
“Kalau bang Arkan sayang sama aku…” Dadanya terasa sesak. “…kenapa dia nggak datang nek?”
Sunyi, Mira memandang gadis itu lama sekali.
Lalu perlahan mengusap air mata di pipinya.
“Karena dia takut.” jawab Mira apa adanya.
“Takut?"
"Takut kenapa nek?”
“Abang kamu takut kamu membencinya.”
Mata Alkina langsung membesar.
“Mana mungkin… mana mungkin aku mampu melakukan itu.” Suara gadis itu pecah.
“Aku tidakak pernah benci bang Arkan…”
Tangisnya kembali pecah, air matanya kembali jatuh membasahi pipinya. Entah sudah berapa lama ia menagis berhenti lalu menangis lagi.
“Selama ini cuma bang Arkan yang selalu baik sama aku nek…” Kalimat itu membuat hati Mira terasa nyeri.
Karena Arkan perlu mendengar semua ini namun pria keras kepala itu justru terus menyiksa dirinya sendiri dengan rasa bersalah.
Padahal Mira sudah berkali-kali meminta Arkan untuk menemui adiknya. Mira sudah berkali-kali mengatakan bahwa Alkina tidak pernah membenci dirinya, bahkan Alkina selalu berharap bisa bertemu dengan Arkan.
Sayangnya ucapan Mira itu tidak bisa membuat Arkan berubah pikiran, ia masih tetap belum mau menemui adiknya