Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng yang Sobek di Panggung Kebenaran
Dinding-dinding kaca Grand Ballroom Adhitama Tower memantulkan kemewahan yang menyilaukan mata. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya keemasan, menimpa ratusan tamu undangan kelas atas—mulai dari jajaran menteri, investor asing, hingga konglomerat papan atas ibu kota. Suara denting gelas kristal dan alunan musik simfoni lembut memenuhi ruangan, menciptakan selubung kedamaian palsu di atas panggung sandiwara yang amat busuk.
Baskoro Adhitama berdiri di tengah-tengah ruang utama, memegang gelas sampanye dengan senyum penuh percaya diri. Tuxedo hitam buatan penjahit terbaik Italia membungkus tubuhnya yang tegap, memancarkan aura seorang penguasa tunggal kerajaan bisnis bernilai ratusan triliun rupiah. Di sampingnya, Tania berdiri dengan keanggunan yang tiada tara. Gaun malam hitam berkilau yang membalut tubuhnya menawan setiap pasang mata, sementara bros mawar hitam di dadanya menyerap cahaya lampu bagaikan batu permata misterius. Dea berdiri di sisi lain Tania, mengenakan gaun putih perak.
Namun, di balik polesan riasan wajah yang sempurna, dada Dea terasa bagaikan dihantam bongkahan es. Setiap kali tangan Baskoro mendarat di bahunya dengan elusan lembut yang berpura-pura penuh kasih sayang, perut Dea mual. Rasa jijik dan sakit hati membakar seluruh rongga dadanya. Pria yang berdiri di sampingnya ini, pria yang selama ini ia panggil "Ayah" dan ia kagumi seluruh hidupnya, adalah sosok yang telah memberi perintah untuk meracuni ibu kandungnya sendiri secara perlahan hingga tewas kedinginan di atas ranjang.
Bagaimana bisa seorang manusia tersenyum begitu manis kepada anak yang ibu kandungnya telah ia bunuh? batin Dea, matanya memerah menahan tangis yang membendung di pelupuk mata. Tania yang merasakannya perlahan menyentuh jemari Dea, menggenggamnya erat di balik lipatan gaunnya, menyalurkan kekuatan tanpa kata-kata.
"Para hadirin yang saya hormati," suara pembawa acara bergema melalui pengeras suara ruangan, memecah keriuhan. "Tiba saatnya kita mendengarkan sambutan utama dari Chief Executive Officer Adhitama Group, Bapak Baskoro Adhitama, sekaligus pengumuman penting mengenai masa depan warisan keluarga Adhitama."
Tepuk tangan riuh membahana di seluruh ruangan. Lampu sorot utama langsung mengunci sosok Baskoro saat ia melangkah menuju podium utama di atas panggung megah. Kamera-kamera dari puluhan media nasional dan internasional langsung menyorot wajah sang CEO.
Baskoro membetulkan letak mikrofonnya, menatap seluruh hadirin dengan tatapan wibawa yang terlatih puluhan tahun.
"Selamat malam, para sahabat, mitra bisnis, dan rekan-rekan media yang saya cintai," buka Baskoro dengan suara berat yang menenangkan. "Malam ini adalah malam yang sangat emosional bagi saya. Setelah melalui masa-masa kelam akibat kehilangan almarhumah istri saya, Diana, Tuhan memberikan saya berkah yang tak terhingga. Putri tunggal saya, Dea, telah kembali ke pelukan saya. Dan malam ini, saya berdiri bersama istri baru saya, Tania, wanita luar biasa yang telah membawa kembali kehangatan di rumah kami."
Baskoro menoleh ke arah Tania dan Dea, mengisyaratkan keduanya untuk naik ke atas panggung. Sorotan lampu bergerak mengikuti langkah Tania dan Dea. Di sudut ruangan, Paman Hendra, Bibi Rika, dan Siska duduk menegang dengan wajah pucat pasi. Mereka tahu malam ini adalah malam eksekusi harta, namun mereka tidak tahu siapa yang sebenarnya akan disembelih.
"Sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada mendiang Diana dan komitmen kami untuk masa depan," lanjut Baskoro, suaranya terdengar begitu dramatis hingga beberapa tamu wanita mengusap air mata terharu, "malam ini saya meresmikan pembentukan Diana-Tania Foundation, sebuah yayasan kemanusiaan dengan dana awal sebesar ten triliun rupiah. Yayasan ini akan mengelola seluruh aset peninggalan klan keluarga Diana secara transparan."
Seorang petugas keamanan berjas rapi melangkah ke panggung memegang sebuah wadah beludru berisi tablet pemindai biometrik berspesifikasi tinggi.
"Untuk mengesahkan pengalihan legalitas dan pembukaan akses dana hibah ini secara digital," ujar Baskoro sambil menatap Tania dengan mata yang berkilat penuh ketamakan yang tersembunyi, "saya memohon istri saya, Tania Adhitama, untuk meletakkan telapak tangannya di atas pemindai biometrik ini. Mari kita saksikan sejarah baru Adhitama Group!"
Baskoro mengulurkan tangannya, mencoba menuntun telapak tangan Tania menuju kaca pemindai. Di dalam otaknya, Baskoro sudah bersorak gembira. Sekali telapak tangan Tania menyentuh pemindai itu, seluruh brankas rahasia Mawar Hitam di Zurich akan terbuka, dan seluruh dana ratusan triliun rupiah akan berpindah ke rekening pribadinya di bank cangkang Cayman Islands.
Tania melangkah mendekati podium. Matanya menatap pemindai biometrik itu, lalu beralih menatap tepat ke dalam manik mata Baskoro. Tidak ada kepolosan di sana. Tidak ada ketundukan. Yang ada hanyalah kedalaman samudera es yang mengerikan.
Tania tidak meletakkan telapak tangannya di atas kaca pemindai. Sebaliknya, tangan kirinya terangkat perlahan menuju dada kirinya. Dengan satu gerakan ibu jari yang tegas, Tania menekan bagian tengah bros mawar hitamnya.
Bzzzzt!
Suara dengung frekuensi tinggi yang melengking tiba-tiba keluar dari seluruh pengeras suara ballroom, membuat para tamu terperanjat dan menutupi telinga mereka. Lampu-lampu kristal di langit-langit berkedip hebat. Layar LED raksasa berukuran dua puluh meter di belakang panggung—yang tadinya menampilkan logo megah Adhitama Group—sekoyak-koyak tertutup garis-garis static hitam-putih.
"Apa yang terjadi? Teknisi! Perbaiki sistemnya sekarang!" bentak Baskoro, wajahnya berubah panik, suaranya keluar secara tidak sengaja melalui mikrofon.
Namun, sebelum ada teknisi yang bisa mendekati AV booth, layar raksasa itu berubah menjadi hitam pekat. Terdengar suara ketukan papan ketik, lalu sebuah berkas rekaman suara mulai terputar otomatis dengan volume maksimal, mengguncang seluruh isi gedung Adhitama Tower.
“Beri Diana dosis digitalis yang lebih tinggi bulan ini. Dokter pribadi kita sudah kubayar untuk mencatatnya sebagai komplikasi gagal jantung bawaan. Begitu dia mati, sisa saham Mawar Hitam akan jatuh ke tanganku secara otomatis.”
Suara itu... adalah suara Baskoro Adhitama. Jernih, tanpa rekayasa, dan begitu dingin hingga sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
Keheningan yang mencekik seketika melingkupi Grand Ballroom. Gelas-gelas sampanye yang dipegang para investor terlepas dari genggaman, jatuh berkeping-keping di atas lantai marmer. Ratusan tamu undangan membeku. Para wartawan saling pandang dengan mata terbelalak, sebelum akhirnya kilatan cahaya kamera meledak bagaikan badai petir.
Layar raksasa itu tidak berhenti. Berkas-berkas dokumen forensik, hasil otopsi independen, bukti transfer puluhan juta dolar ke rekening dokter pribadi, serta rekaman obrolan rahasia antara Baskoro dan para petinggi sindikat Teratai Merah mengalir deras di atas layar seperti air terjun kebenaran yang menghancurkan.
"Matikan! Matikan layarnya! Siapa yang berani meretas sistemku?!" roar Baskoro, wajahnya yang tadinya tenang kini memerah padam, urat-urat di leher dan dahinya menonjol kaku. Ia menunjuk-nunjuk liar ke arah ruang kontrol di lantai atas. "Pengawal! Amankan ruangan ini! Hentikan rekaman sampah itu!"
Namun tidak ada pengawal yang bergerak. Di sudut-sudut ruangan, para pengawal pribadi Baskoro telah dilumpuhkan secara diam-diam oleh tim intelijen Mawar Hitam yang dipimpin oleh Dirga.
Dea melangkah maju, memotong jarak antara dirinya dan Baskoro. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, merusak riasan cantiknya, namun tatapan matanya memancarkan rasa sakit dan dendam yang telah mencapai puncaknya. Ia menyambar mikrofon utama di podium.
"Kenapa, Ayah?" jerit Dea. Suaranya pecah, bergetar hebat, membawa seluruh duka dan penderitaan anak yang dikhianati oleh darah dagingnya sendiri. Suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan, membuat puluhan kamera televisi yang menyiarkan acara itu secara langsung menangkap setiap detail kehancuran keluarga tersebut. "Kenapa Ayah tega lakukan ini pada Ibu?! Ibu mencintai Ayah! Ibu memberikan seluruh hidupnya, keluarganya, dan kekayaannya untuk Ayah! Kenapa Ayah tega meracuninya sedikit demi sedikit sampai napas terakhirnya terengah-engah di kamar itu?!"
Baskoro menoleh ke arah Dea. Melihat seluruh rencana besarnya yang disusun bertahun-tahun hancur berkeping-keping dalam hitungan detik di depan seluruh media nasional, topeng kesopanan dan keibaan yang dikenakannya selama belasan tahun robek sepenuhnya. Wajahnya terdistorsi oleh kemarahan gila seorang penjahat yang tersudut.
"Mencintaimu?! Mencintai ibumu?!" bentak Baskoro, suaranya menggelegar tanpa rasa penyesalan sedikit pun. Ia tidak lagi memedulikan kamera yang merekamnya. "Ibumu itu wanita bodoh yang egois! Dia menyembunyikan akses Mawar Hitam dariku! Dia membuatku merangkak seperti pengemis di depan keluarga besarnya! Aku yang membesarkan Adhitama Group! Aku yang bekerja banting tulang! Kenapa aku harus tunduk pada warisan darah wanita itu?!"
"Tapi Ibu tidak pernah jahat padamu!" teriak Dea histeris, dadanya naik-turun oleh isak tangis yang menyesakkan. "Dan aku... aku ini anakmu, Ayah! Kenapa Ayah biarkan Paman Hendra menyiksaku?! Kenapa Ayah biarkan aku hampir mati di jalanan?! Kenapa Ayah tidak pernah melihatku sebagai anakmu?!"
Baskoro tertawa—sebuah tawa melengking yang mengerikan dan penuh kebiadaban. "Anak? Kau pikir kau ini apa, Dea?! Kau hanya alat! Kau cuma sampah yang harus kutanggung keberadaannya hanya karena kau membawa separuh genetik Mawar Hitam! Jika ibumu memberikan kunci brankas itu sejak awal, dia tidak perlu mati mengenaskan di atas ranjang itu, dan kau tidak perlu hidup berpura-pura menjadi putri kesayangan!"
Kata-kata itu menghantam Dea bagaikan belati yang ditancapkan tepat di ulu hatinya. Dunia Dea runtuh sepenuhnya. Pria yang selama ini menjadi satu-satunya alasannya untuk bertahan hidup, satu-satunya sosok ayah yang ia rindukan saat kesepian, ternyata memandangnya tak lebih dari sekadar kunci brankas organik. Dea terhuyung ke belakang, kakinya lemas, air matanya menetes tanpa bisa dihentikan lagi.
Baskoro yang telah kehilangan akal sehatnya melangkah maju dengan mata mendelik. Ia mengulurkan tangannya yang kasar, berniat mencengkeram leher Dea untuk menjadikannya sandera di tengah kepungan wartawan. "Ikut aku, Dea! Kau tetap harus membukakan brankas itu untukku!"
"Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu!"
Sebelum jemari Baskoro sempat menyentuh sehelai rambut Dea, Tania melesat dari samping. Gerakannya secepat kilat. Tania menyapu tangan Baskoro dengan teknik tangkisan Silat Harimau, lalu mendorong telapak tangannya tepat ke ulu hati Baskoro dengan saluran tenaga dalam yang terkonsentrasi.
Brak!
Tubuh tegap Baskoro terlempar ke belakang sejauh tiga meter, menghantam podium kayu hingga hancur berkeping-keping sebelum tersungkur di atas panggung marmer. Baskoro terbatuk-batuk hebat, memegangi dadanya yang terasa remuk, menatap Tania dengan mata penuh ketakutan dan ketidakpercayaan.
Tania berdiri di depan Dea, merentangkan tangannya dengan penuh perlindungan. Sorot matanya menyala dengan api dendam klan Mawar Hitam yang akhirnya meledak.
"Dua puluh tahun yang lalu kau menghancurkan keluargaku dan membunuh kakakku, Baskoro," desis Tania, suaranya bergema dingin di tengah kepanikan ruangan. "Malam ini, aku mengambil kembali seluruh hak darah kami. Kerajaanmu runtuh detik ini juga."
Tiba-tiba, lampu seluruh ballroom padam total. Kegelapan gulita menyelimuti ruangan, disusul oleh sirine darurat gedung yang melengking tinggi. Suara kepanikan massa, jeritan para pejabat, dan kekacauan pecah seketika.
Di dalam kegelapan yang pekat itu, sebuah tangan kokoh bersarung tangan kulit menyentuh bahu Tania—Dirga telah tiba bersama tim penyelamatnya. Tania segera memeluk tubuh Dea yang masih terisak lemas, merengkuhnya ke dalam pelukan hangat seorang bibi—seorang ibu sejati yang akan melindungi jiwanya hingga titik darah penghabisan. Panggung kebenaran telah usai, dan perburuan berdarah untuk melarikan diri dari sisa-sisa pengikut Baskoro baru saja dimulai.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor