Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak Gemuruh dan Badai yang Datang
Pagi itu, fajar menyapa dengan tergesa. Aira terbangun dalam keterlambatan yang melampaui batas toleransi. Tanpa sempat menyentuh hidangan sarapan di meja makan, ia berlari menuruni anak tangga dengan helai rambut yang masih terurai kusut akibat sisiran yang sembarangan.
"Eh, ini sarapannya sudah siap, Aira!" seru Bu Windy begitu melihat putri bungsunya tergesa-gesa.
"Tidak sempat, Ma! Aira sudah sangat terlambat!" sahutnya setengah berteriak seraya menjejalkan kakinya ke dalam sepatu.
"Kamu ini kebiasaan. Alarm hidup bukannya membuatmu terbangun, malah kamu matikan lagi!" tegur Bu Windy menggelengkan kepala.
Tanpa sempat membalas teguran sang mama, Aira bergegas menyambar tangan Bu Windy untuk dicium, mengecup kilat pipinya, lalu melesat keluar gerbang tepat ketika deru sepeda motor pengemudi ojek online yang dipesannya terdengar berhenti di pelataran. Mengingat waktu yang kian mengikis dan sepeda motor pribadinya tengah masuk bengkel, naik ojek online adalah satu-satunya jalan pintas paling rasional ketimbang menanti sopir keluarga menyiapkan mobil.
"Kamu berangkat naik ojek?" tanya Bu Windy dari ambang pintu.
"Iya, Ma! Aira berangkat dulu, assalamu’alaikum!" pamitnya setengah berteriak seraya melambaikan tangan dari balik bahu pengemudi ojek.
Di sepanjang perjalanan, mata Aira tak henti-hentinya bertaut pada jarum jam di pergelangan tangan. Menit-menit yang tersisa terasa begitu mengikis ketenangannya. Biasanya, pintu gerbang yang tertutup bukanlah hambatan berarti baginya, cukup dengan sebungkus rokok sebagai penembus batas untuk satpam sekolah. Namun, nasib buruk seolah sedang mengepungnya. Sudah seminggu ini satpam langganannya mengambil cuti dan digantikan oleh seorang petugas baru yang sangat disiplin serta kebal terhadap segala bentuk kompromi.
"Mati aku kalau sampai terlambat... apalagi sekarang jam pelajarannya Bu Erna," keluh Aira lirih, menyembunyikan wajahnya di balik terpaan angin jalanan.
Ia hanya bisa merajut doa-doa pendek di dalam hati. Berharap pintu gerbang besi itu belum terkunci rapat, atau setidaknya Bu Erna berhalangan hadir tepat waktu.
Sesampainya di depan sekolah, usai menyerahkan helm dan uang tambang, Aira melesat bak anak panah menuju pintu gerbang yang mulai beringsut merapat. Beruntung, meski tungkainya tak begitu panjang, ketangkasan larinya mampu melampaui sisa celah gerbang yang ada.
"Pak! Saya baru sampai, Pak!" lapor Aira terengah-engah di hadapan satpam baru.
Petugas berkumis tipis itu menatapnya dengan gelengan prihatin. "Kamu lagi, Neng? Baru seminggu saya bertugas di sini, sudah empat kali melihat Neng terlambat."
Aira hanya memamerkan cengiran bersalah, lalu kembali berlari melintasi pelataran sekolah menuju koridor kelas. Beruntung, bel masuk belum berdentang. Tampak beberapa siswa masih asyik bersenda gurau di teras kelas, dan beberapa lainnya berkumpul merapat memainkan gim di ponsel mereka.
Langkah Aira terhenti di depan pintu kelas. Napasnya memburu, dadanya kempas-kempis, dan bulir keringat mulai membasahi pelipisnya. Namun, ada kelegaan kecil yang membuncah setidaknya ia selamat dari jerat hukuman terlambat.
"Aira? Kamu habis bertarung di mana?" tanya Zara terbelalak begitu melihat penampilan sahabatnya yang kusut.
"Astaga... capek sekali! Aku lari maraton dari gerbang depan sampai ke sini, Zara..." ujar Aira menyandarkan tubuhnya di daun pintu.
"Astaga, untuk apa pakai lari-lari segala?"
"Aku hampir terlambat! Apalagi sekarang jamnya Bu Erna. Aku takut disuruh berdiri di luar kelas lalu ketinggalan materi bimbingan," cerocos Aira dengan napas yang masih naik turun.
Zara menghela napas halus. Ia mengambil selembar tisu dari tasnya, mengusap peluh di kening Aira, lalu dengan telaten merapikan helai-helai rambut sahabatnya yang berantakan bagai usai menerjang badai.
"Mendekati ujian sekolah baru takut terlambat. Kemarin-kemarin ke mana saja, Aira?" sindir Zara lembut, meski jemarinya tetap telaten merapikan kerah seragam Aira.
"Justru karena sudah mau lulus, aku ingin jadi siswi teladan di saat-saat terakhir! Masa-masa SMA tidak akan pernah terulang lagi setelah kita berpisah nanti," balas Aira, meski napasnya masih tersengal.
Zara bangkit berdiri, menyodorkan botol minumnya kepada Aira sebelum melangkah menuju tempat sampah di samping pintu kelas. Karena dahaga yang membakar tenggorokan, Aira meminum air putih hangat milik Zara kebiasaan sahabatnya yang selalu membawa air hangat ke sekolah.
Di ambang pintu, Bayu baru saja melangkah masuk bersama Panji dan beberapa teman laki-laki lainnya. Ia hampir berpapasan dengan Zara yang baru saja membuang tisu. Sepersekian detik, pandangan mereka bertaut tajam sebelum Zara memalingkan wajah dan memilih merapikan meja guru yang sedikit berantakan.
Sisa ketegangan dari percekcokan mereka kemarin masih mengendap. Zara masih menyimpan rasa kecewa atas keangkuhan Bayu yang enggan mendengarkan nasihat, sementara Bayu merasa gusar karena menganggap Zara terlalu mencampuri urusannya dengan Aira.
"Woi, Aira! Habis tawuran di mana kamu?" cetus Bayu lantang, menatap Aira yang sibuk mengipas-ngipas wajahnya dengan buku tulis.
"Aku habis tawuran melawan waktu, Bayu!" sahut Aira sewot.
"Terlambat lagi?"
"Hampir! Untung bel sekolah belum berbunyi," jawab Aira.
Bayu terkekeh sinis. "Makanya, kalau malam itu digunakan untuk tidur, bukannya bergadang menonton drama tidak jelas."
"Kok kamu tahu kalau semalam aku menonton drama?" tanya Aira mengusut hidungnya yang mendadak gatal.
"Tahu, lah! Orang seperti kamu itu hidupnya tidak jauh dari hal-hal berbau drama persis seperti kehidupan nyatanya yang penuh dengan drama," cemooh Bayu tertawa leluasa.
Merasa terhina, Aira mengayunkan bukunya, memukul lengan Bayu cukup keras. Ketika Aira memasang kuda-kuda hendak melayangkan pukulan susulan, Bayu melompat cepat, berlari memutari barisan meja kelas. Aira yang tersulut emosi segera mengejarnya, bertekad mendaratkan pukulan telak.
Namun, di tengah aksi kejar-kejaran yang konyol itu, malapetaka mengintai. Bayu yang berlari kencang tanpa menoleh ke depan menabrak tubuh Zara yang tengah berdiri di dekat meja guru. Benturan keras itu membuat Zara kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembap. Pelipisnya menghantam sudut meja kayu yang runcing sebelum tubuhnya terhempas ke lantai.
BRAK!!!
"Zara!!!" teriak Aira histeris.
Suasana kelas mendadak hening seketika. Zara terduduk meringkuk sembari memegangi dahinya, sementara Bayu mematung di tempat, napasnya tertahan oleh rasa terkejut. Aira melesat menghampiri sahabatnya. Matanya membelalak horor tatkala melihat cairan merah pekat mengalir deras dari balik sela-sela jari Zara, membasahi kerudung putihnya.
Zara merintih kesakitan, terisak pelan sembari menutup matanya yang terasa berat.
"Bayu! Cepat bantu bawa Zara ke UKS!" jerit Aira panik.
Namun Bayu membisu, tubuhnya membeku menatap noda darah yang kian melebar di lantai. Melihat Bayu yang tak bergeming, Aira segera meminta bantuan siswa lain untuk memapah Zara.
"Bayu, kamu tidak apa-apa?" tanya Panji menghampiri sahabatnya yang masih mematung.
Beberapa siswa mendesak Bayu untuk menyusul ke UKS dan bertanggung jawab atas kelalaiannya. Namun Panji menepuk bahu Bayu, "Biar aku saja yang memeriksa keadaan Zara. Kamu di sini saja."
Tanpa menanti jawaban, Panji berlari menyusul rombongan yang membawa Zara menuju ruang UKS.
ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ
Di ruang UKS, panik menyelimuti atmosfer ruangan. Aira menuntun Zara untuk berbaring di atas brankar. Darah tak kunjung berhenti mengalir dari dahi Zara, membendung di jemari tangannya yang gemetar menahan nyeri.
"Panggilkan Pak Farhan! Cepat!" perintah Aira setengah berteriak pada teman-temannya.
Siswa yang mengantar segera berlari keluar mencari petugas kesehatan sekolah. Aira menggenggam erat tangan Zara yang dingin. "Zara, tahan sebentar, ya. Pak Farhan sedang dipanggil."
Zara tak mampu bersuara, ia hanya terisak lirih sembari memejamkan mata erat-erat. Tak lama kemudian, Pak Farhan datang tergesa bersama wali kelas mereka, disusul oleh Panji dan dua siswa lainnya.
"Ada apa ini? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Pak Farhan cekatan.
"Zara tidak sengaja tertabrak dan keningnya membentur sudut meja guru, Pak!" terang Aira dengan suara bergetar.
Pak Farhan meminta Zara melepaskan tangannya. Saat pembalut kasa ditempelkan untuk menekan pendarahan, terlihat luka robek yang lumayan menganga di kening gadis itu.
"Darahnya banyak sekali... Zara tidak apa-apa, kan, Pak?" tanya Aira kian cemas.
Pak Farhan menatap luka itu dengan raut serius. "Lukanya cukup dalam dan robekannya menganga. Saya harus memanggil dokter untuk menjahitnya."
Pak Farhan segera keluar ruangan untuk menghubungi bantuan medis eksternal. Sementara itu, wali kelas mereka menatap tumpah darah di kening Zara dengan wajah memerah menahan gusar.
"Bagaimana bisa jatuh sampai membentur meja seperti ini?" tanya sang wali kelas tegas.
"Tadi... tadi tidak sengaja tertabrak Bayu, Bu. Tapi ini juga salah Aira karena mengejar Bayu di dalam kelas," aku Aira pelan, menundukkan kepala.
"Kalian berdua ini selalu saja membawa masalah! Sekarang lihat, teman kalian yang menjadi korbannya! Setelah ini, kalian berdua ikut Ibu ke ruang kepala sekolah!" omel wali kelas dengan nada tinggi.
"Iya, Bu... Maafkan Aira," bisik Aira pasrah, makin erat menggenggam jemari Zara.
Beberapa menit kemudian, sesosok pria berjas medis lengkap dengan kacamatanya melangkah masuk dengan tergesa membawa tas peralatan dokter. Arkan tiba di sekolah usai mendapat panggilan darurat dari pihak sekolah. Kehadirannya memang kerap diandalkan untuk kasus-kasus medis darurat di sekolah tersebut. Namun, ini kali pertamanya ia harus menangani luka robek yang membutuhkan tindakan penjahitan.
Arkan bergerak cepat dan tenang. Di bawah pendar lampu ruangan, ia membersihkan area luka dan memberikan anestesi lokal. Aira berdiri di sisi brankar, matanya tak pernah lepas dari sosok sahabatnya yang memejamkan mata rapat-rapat. Sesecangkir rasa bersalah membendung di dadanya. Sesekali, Arkan mencuri pandang ke arah Aira, menangkap riak kecemasan mendalam di wajah gadis itu.
Proses penjahitan berlangsung cepat. Luka di kening Zara membutuhkan tiga jahitan sebelum akhirnya ditutup rapat dengan kasa steril.
"Zara... maafkan aku, ya..." bisik Aira penuh penyesalan begitu tindakan selesai.
Zara membuka matanya perlahan, mengukir senyum tipis yang dipaksakan guna menenangkan Aira.
"Aira, ikut Ibu ke kantor sekarang! Dan panggilkan Bayu sekalian!" perintah sang wali kelas memecah keheningan.
Aira menunduk lesu. Ia menatap Zara sejenak sebelum melangkah keluar dengan berat hati, bersiap menghadapi badai hukuman yang menantinya.
Melihat hal itu, Arkan bertanya pada Zara sembari merapikan peralatan medisnya, "Kenapa Aira dipanggil ke kantor?"
"Tadi Aira dan Bayu kejar-kejaran di kelas, Dokter... Lalu Bayu tidak sengaja menabrak saya. Dokter Arkan, bisakah Dokter menyusul Aira? Saya takut dia dijatuhi hukuman berat. Padahal saya tidak apa-apa, dan mereka tidak sengaja," pinta Zara lemah namun penuh kesungguhan.
Arkan menyampirkan tas medisnya di bahu, lalu menatap Zara tenang. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Aira, dia akan baik-baik saja. Lusa, datanglah ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi luka ini. Ingat, jaga agar bekas jahitan tidak terkena air sampai kering."
Usai berpamitan, Arkan melangkah keluar dari UKS, meninggalkan Zara yang hanya bisa menatap punggung sang dokter dengan napas terhela. Ada ganjalan kecil di benaknya bukan hanya soal nasib Aira, melainkan juga rasa kecewa pada Bayu yang bahkan enggan menampakkan batang hidungnya untuk sekadar mengucap kata maaf.
ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ
Di dalam ruang kantor yang hening dan dingin, Aira dan Bayu berdiri bersisian. Di hadapan mereka, Pak Rohim Kepala Sekolah yang terkenal tegas menatap kedua muridnya dengan tatapan tajam membakar.
"Kenapa kalian berdua selalu saja membuat keonaran?" ujar Pak Rohim dengan suara berat menekan. "Saya tidak habis pikir, Ujian Nasional sudah di depan mata, tapi kalian masih sempat-sempatnya bermain-main hingga melukai orang lain!"
Aira menunduk dalam-dalam. Jika biasanya ia bisa menghadapi teguran guru dengan sikap tak acuh atau celetukan santai, kali ini benteng pertahanannya runtuh. Rasa bersalah yang merayapi dadanya begitu mencekik. Meski Bayu yang menabrak, ia tahu dirinyalah pemantik utama dari aksi kejar-kejaran konyol itu.
"Kalian sadar atau tidak? Akibat kelakuan kekanak-kanakan kalian, kawan kalian sendiri yang menjadi korban!" lanjut Pak Rohim tegas.
Di tengah keheningan mencekam itu, pintu ruangan terbuka perlahan. Arkan melangkah masuk, memberi hormat singkat pada kepala sekolah.
"Tunggu sebentar, Dokter Arkan. Saya selesaikan dahulu urusan murid-murid bermasalah ini, nanti baru kita bicara," ujar Pak Rohim diiringi anggukan hormat dari Arkan yang kemudian memilih duduk diam di sofa tamu.
Dari tempatnya duduk, Arkan mengamati sepasang remaja di hadapan meja kepala sekolah. Pandangannya tertuju pada jemari Aira yang saling bertautan erat menandakan kecemasan dan kegelisahan luar biasa dari gadis itu.
"Sebagai hukuman atas tindakan ceroboh kalian, mulai hari ini hingga dua hari ke depan, kalian berdua dijatuhi hukuman skors!" tegas Pak Rohim tanpa kompromi. "Mintalah surat pemberitahuan dari guru Bimbing Konseling untuk diserahkan kepada orang tua kalian masing-masing!"
Keputusan itu menghantam Aira bagai petir di siang bolong. Rasa panik membakar kesadarannya.
"Pak... mohon maaf!" potong Aira memberanikan diri mengangkat wajahnya. "Saya mengaku salah dan siap menerima hukuman apa pun. Tapi tolong, Bayu tidak bersalah penuh dalam hal ini. Semuanya bermula dari saya yang mengejar Bayu, dia tidak sengaja menabrak Zara!"
Bayu menoleh, menatap Aira dengan raut tak percaya. Gadis yang kerap ia ajak bertengkar itu justru pasang badan untuk melindunginya.
"Tidak, Pak! Saya yang salah!" potong Bayu tak mau kalah. "Saya yang menghampiri dan memprovokasi Aira terlebih dahulu hingga dia kesal. Dan memang saya yang kurang hati-hati saat berlari hingga menabrak Zara."
Pak Rohim dan wali kelas mereka saling melempar pandang, terkejut melihat kedua murid yang biasanya saling tuduh itu kini justru bersikeras menanggung beban kesalahan sendirian.
"Cukup! Tidak ada guna kalian saling membela!" pangkas Pak Rohim dingin. "Kalian berdua sama-sama bersalah. Ini adalah peringatan keras terakhir untuk kalian. Jika sampai tersandung masalah lagi, jangan salahkan Saya jika ijazah kalian ditahan!"
Ancaman itu menutup rapat perdebatan. Aira dan Bayu tertunduk pasrah.
Arkan yang menyimak dari sudut ruangan merasa dadanya ikut terenyuh. Baru kemarin gadis itu berbagi tentang impian dan harapannya tentang masa depan, namun kini langkahnya harus terganjal oleh hukuman skorsing hanya beberapa pekan sebelum kelulusan.
"Renungkan kesalahan kalian baik-baik," pungkas Pak Rohim seraya bangkit dan menghampiri Arkan untuk membicarakan urusan administrasi kesehatan sekolah.
Wali kelas mereka melangkah mendekat dengan helaan napas berat. "Ibu sungguh tidak mengerti jalan pikiran kalian. Kamu, Bayu, sebagai ketua kelas seharusnya memberi teladan! Dan kamu, Aira... nilai akademismu selalu masuk sepuluh besar, tapi kenapa tingkah lakumu masih saja seperti anak laki-laki yang tak sabaran?" keluhnya seraya berbalik menuju ruang BK untuk mengambil surat pemberitahuan orang tua.
ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ ଓ ଘ
Suasana di koridor luar kantor terasa sangat membeku ketika mereka berdua menerima amplop surat dari wali kelas.
"Baru kali ini... sepanjang aku sekolah, aku mendapat hukuman skors," gumam Bayu menatap amplop putih di tangannya dengan tatapan kosong.
"Kau pikir aku sering?" sahut Aira pelan, suaranya bergetar. "Ini pertama kalinya bagiku... dan aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya pada Mama."
"Bayu... kita ke UKS sekarang. Temui Zara," ajak Aira memecah kecanggungan.
"Ka-kamu saja yang duluan... Aku belum siap melihat Zara. Aku takut dia marah," aku Bayu terbata-bata.
"Enak saja! Kamu yang membuat dia celaka! Cepat, kita harus minta maaf dan bertanggung jawab!" jerit Aira seraya menarik paksa lengan kemeja Bayu.
Meski enggan dan dirayapi rasa bersalah yang membuncah, Bayu tak mampu menolak dorongan kuat Aira yang memaksanya melangkah menuju ruang UKS.
Namun, ketika mereka menjejakkan kaki di UKS, ruangan itu telah kosong. Petugas memberi tahu bahwa Zara telah diantar pulang oleh pihak sekolah. Bayu menghembuskan napas lega secara refleks sebuah reaksi yang justru menyulut kembali amarah Aira.
"Kamu malah bernapas lega?" cetus Aira dengan mata menyalang.
"Bukan begitu... Aku cuma belum siap," lirih Bayu.
"Bayu! Sahabatku terluka parah sampai harus dijahit! Dan kamu masih bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa hanya karena alasan 'tidak sengaja'?" cecar Aira, suaranya bergetar menahan tangis kekecewaan. "Di mana hati nuranimu, Bayu? Kerudung dan seragamnya penuh darah! Apa kamu memang sengaja menabraknya karena dendam soal percekcokan kalian kemarin?"
"Aira! Jangan menuduh sembarangan tanpa bukti!" bentak Bayu tak terima.
"Lalu kenapa kamu tidak mau menolongnya tadi? Kenapa Panji yang harus mengantarnya ke sini, sementara kamu cuma mematung di kelas?" napas Aira memburu, dadanya kempas-kempis oleh amarah yang bercampur kesedihan.
Bayu mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa bersalah yang menggerogoti dadanya kini bercampur baur dengan rasa tersinggung atas tuduhan Aira.
"Oke! Kalau itu maumu, aku akan datang langsung ke rumah Zara untuk meminta maaf! Puas kamu?!" seru Bayu sengit, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Aira seorang diri.
Aira mematungi punggung Bayu yang menjauh, lalu menghela napas panjang yang terasa menyiksa. Ia melangkah lemah kembali ke kelas untuk menyambar tas sekolahnya.
"Aira... kamu langsung pulang?" tanya Panji prihatin begitu melihat Aira mengemas barang-barangnya.
Aira hanya mengangguk lesu tanpa selera untuk bersuara.
"Bayu ke mana?" tanya Panji lagi.
"Tidak tahu. Lagipula aku tidak paham dengan jalan pikiran temanmu itu," bisik Aira singkat sebelum melangkah keluar kelas dengan bahu meliuk lesu.
Langkahnya menyeret lambat menuju area parkiran. Di sana, di dekat deretan kendaraan, tampak Arkan tengah bersandar pada pintu mobilnya. Pria itu rupanya sengaja menunggu.
Melihat kehadiran Arkan, Aira refleks menunduk, buru-buru mengusap jejak air mata di pipinya. Ia lupa bahwa Arkan menyaksikan seluruh rentetan kemalangan dan kepahitannya hari ini.
"Mau saya antar pulang?" tawar Arkan halus.
Aira menggeleng pelan, lalu mempercepat langkahnya menuju halte bus di luar gerbang. Namun Arkan tidak tinggal diam. Ia segera masuk ke dalam mobil, mengendarainya perlahan menyusuri jalanan, lalu menghentikan kendaraannya tepat di samping trotoar tempat Aira berjalan.
Arkan keluar dari mobil, melangkah menghampiri gadis yang berjalan menyusuri trotoar dengan kepala tertunduk dalam.
"Tidak perlu menangisi hal yang sudah terjadi. Segala sesuatu yang telah berlalu tidak akan bisa diubah kembali," tutur Arkan lembut.
Kalimat itu justru merobohkan seluruh ketahanan diri Aira. Hidung dan matanya memerah sempurna tangisnya pecah seketika di tepi jalan.
"Aira merasa... hari ini Aira dikepung kesialan, Kak," isaknya tersengal-sengal. "Bangun terlambat, berlarian sampai mandi keringat, membuat Zara terluka parah, dan sekarang... sekarang Aira diskors di saat ujian sudah sangat dekat..."
Arkan menatap gadis di hadapannya dengan tatapan penuh keprihatinan.
"Aira cuma takut... kalau Bang Reyhan sampai tahu Aira diskors... Dia pasti akan sangat marah dan kecewa padaku..." bisik Aira di sela isak tangisnya yang kian memilukan.
Tanpa mengumandangkan kata-kata penghakiman, Arkan melangkah mendekat, menarik tubuh kecil yang gemetar itu ke dalam pelukannya.
"Jika kamu mengatakannya dengan jujur kepada Bang Reyhan, dia pasti akan mengerti," bisik Arkan menenangkan, merengkuh kepala Aira di dadanya.
"Kak Arkan tidak mengerti... Bang Reyhan selalu mewanti-wanti Aira agar tidak membuat masalah di sekolah baru. Tapi sekarang... Aira justru diskors. Aira sudah mengecewakan orang yang membiayai sekolah Aira..."
Arkan tak bisa menjawab. Ia tahu Aira merasa bersalah pada dirinya sendiri sekarang. Arkan membiarkan Aira menangis meluapkan kekecewaan dan kesedihan di dalam pelukannya. Arkan mengajak Aira masuk ke dalam mobil dan sengaja mencari jalan lain agar lebih lama sampai ke rumah Aira memberikan waktu seluas-luasnya bagi sang gadis untuk mengurai duka hingga hatinya kembali tenang sebelum mengetuk pintu rumahnya sendiri.
Bersambung__
_____