NovelToon NovelToon
Dendam Yang Salah (Sang Bos)

Dendam Yang Salah (Sang Bos)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:311
Nilai: 5
Nama Author: shkira

Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.


pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.

SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 19

Ana berlari menghampiri sang sopir yang terluka parah.

Ares menghajar kedua berandalan itu sendiri. Namun ia lengah ketika salah satu berandalan mengeluarkan pisau ingin menusuk nya.

Hansen yang menyadari anak buah nya dalam bahaya. Ia langsung turun tangan menyerang berandalan itu dengan satu tendangan yang membuat nya langsung tersungkur tak berdaya.

Sekali lagi ana meminta Pada Hansen agar ia membantu nya membawa sang sopir ke rumah sakit.

Hansen kembali menuruti permintaan Ana, tanpa sepatah kata pun yang ia ucapkan, ia meminta Ares untuk membawa sang sopir ke rumah sakit mengunakan mobil keluarga satria.

Ketika melihat Ares membawa sang sopir masuk ke mobil, Ana berniat mengikuti nya namun langkah nya di hentikan oleh Hansen.

"Kamu ikut dengan ku!" Ucap nya menatap dalam. Lalu membawa paksa ana masuk kedalam mobil.

"Hansen, aku harus tahu kondisi nya!"

"Ares akan mengurus nya!"

"Tapi.."

Ana tertegun ketika Hansen tiba-tiba menerkam bibir nya.

Ia mencoba mendorong namun tangan nya di tahan.

Ana hanya bisa pasrah ketika Hansen melumat bibir nya beberpa kali sebelum ia menggigit Hansen, sebab ia tidak juga melepaskan nya.

Hansen menyeka bibir nya yang terluka, ia menatap penuh rasa rindu pada Ana.

"Aku merindukan mu!" Peluk nya,

"Hansen, tolong lepaskan aku!"

"Aku sangat merindukan mu, Ana!"

Ana terdiam muram "Satu tahun lalu, kita sudah memutuskan semua nya. Kita tidak ada hubungan lagi!" Ucap Ana, kalimat nya menyakiti.

" ya, kita sudah mengakhiri satu tahun lalu, kamu lupa dengan apa yang aku katakan dulu!"

Ana tertegun diam, ia ingat bahkan sangat ingat kalimat yang di ucapkan Hansen.

Ia tertunduk takut meremas ujung baju nya. Tidak tau apa yang haru ia katakan untuk menepis semua nya.

Hansen menatap datar Ana "kali ini ke ujung dunia pun, aku bisa menemukan mu!" Ancam nya.

"Hansen.."

"Kamu hanya punya dua pilihan, tetap di sisi ku atau terus lari hingga kamu lelah!"

Ana tertunduk takut Dengan ancaman gila Hansen. Kali ini ia benar-benar terjebak.

Pada akhirnya ia menyesal telah kembali ke kota.

Situasi nya saat ini seakan ia yang bersalah.

Ana mencoba untuk bicara baik-baik pada Hansen, ia sangat paham dengan sifat nya yang keras, ia ingin bisa terbebas tanpa harus dalam kesulitan "Dengar Hansen, kita.."

"Aku tidak butuh alasan apapun, Kamu hanya punya dua pilihan! Putuskan sekrang!" Tekan nya.

Ana mengepal jengkel dengan sikap Hansen yang tidak mau mendengarkan. "Cukup, Kita tidak bisa bersama lagi, aku sudah menikah!" Ucap nya bohong.

Hansen tertegun diam, sorot mata nya tajam menatap pada Ana, hingga membuat nya tertunduk takut.

"Buktikan jika itu benar!"

Ana takut untuk membantah namun ia harus membuat Hansen menyerah, "Tidak ada yang perlu di buktikan!" Balas Ana, meraih pintu mobil yang ternyata terkunci.

"Hansen, biarkan aku keluar!"

Hansen mengabaikan ucapan ana, ia menghidupkan mobil nya melaju cepat menuju mansion.

Ana terus berusaha meminta pada Hansen untuk berhenti. Namun ucapan nya sia-sia tidak di dengar oleh nya

Ana terkejut ketika mobil berhenti di mansion.

Hansen menarik paksa Ana keluar dari mobil membawanya ke lantai tiga.

Menuju kamar nya.

Ia melempar Ana ke atas ranjang,

Ana ketakutan melihat tatapan mata Hansen yang liar, "Hansen, Kamu mau apa?"

Hansen melepas kasar dasi di leher nya lalu menekan tubuh Ana di atas ranjang, "Aku ingin buktikan sendiri jika kamu sudah menikah!"

Ia langsung melumat bibir Ana, menahan tangan dan kaki nya yang berontak, lalu ia melepas paksa baju yang menempel di tubuh ana. Ia mengecup leher nya lalu turun ke dada.

Ana hanya bisa menangis dengan kegilaan Hansen yang memaksa nya melakukan itu.

Hansen dengan tega tetap melakukan nya meski ia melihat Ana menangis putus Asa.

.

.

.

Ana meringkuk atas ranjang menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut, ia menangis Karena pengalaman pertama nya telah di ambil paksa oleh Hansen.

Hansen hanya menatap lurus pada Ana dengan pandangan lega setelah mengetahui Ana masih tidak tersentuh oleh siapa pun setalah satu tahun mereka berpisah.

Hansen duduk di samping Ana ingin membujuk nya agar berhenti menangis. namun tiba-tiba pukulan melayang ke dada Hansen berkali-kali, sebagai melampiaskan kemarahan nya.

"Aku benci dengan mu!" Tangis nya, terus memukul.

Hansen menghentikan pukulan yang sejak tadi terus ia terima, "Aku tidak perduli kamu membenci ku," menahan tangan nya "Kamu akan tetap di sisi ku!" Tegas nya memaksa.

Ana menggigit bibir nya menahan tangis yang terasa akan pecah. "Kamu gila Hansen," ucap nya terisak.

"Ya, aku gila. Satu tahun ini aku benar-benar di buat gila oleh mu!" Tersenyum pahit " aku sudah memberi mu kesempatan, tapi kamu tidak mengunakan kesempatan itu dengan baik!" Ucap nya dingin.

Ana meringkuk menyembunyikan wajah di kedua lutut nya, ia menangis pelan menyesali keputusan nya yang Kembali ke kota.

Hansen tidak tega melihat tubuh ana yang kecil dan lemah meringkuk sedih,

ia memeluk Ana dengan lembut..

Ana tidak menolak atau menepisnya, ia hanya menangis sambil terus mengucap kata benci pada Hansen.

Hansen tidak perduli semua kalimat kasar yang keluar dari mulut Ana, yang ia inginkan hanyalah Ana tetep di sisi nya.

Malam itu Ana berbaring meringkuk membalkangi Hansen, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, memberontak atau melarikan diri bagi nya percuma ,saat ini yang ia pikirkan adalah , takut jika Risa dan kedua orang tua risa menghawatirkan nya, karena sudah lewat 3 jam dari seharusnya ia tiba di kota, tapi ia masih belum kembali.

Ana mengusap air mata nya, ia bangkit terduduk. Hansen ikut beranjak dari tidur nya terlihat waspada, ia takut jika ana ingin melarikan diri dari nya lagi.

Ana menoleh pada Hansen dengan wajah datar, "Aku ingin menemui Om satria dan keluarga nya!" Suara nya terdengar berat setelah menangis.

Hansen tertegun melihat Ana tidak memberontak, bahkan ia meminta ijin pada nya saat ingin bertemu dengan keluarga satria.

"Aku akan mengantar mu!" Ucap nya, beranjak bangun, memakai kemeja nya.

Ana terdiam tanpa penolakan. Ia beranjak dari ranjang mengikuti Hansen keluar, langkah nya tertatih merasakan sakit di bagian sensitif nya.

Hansen menyadari ketika Ana kesulitan saat berjalan, ia langsung menggendong Ana turun tangga hingga ke mobil.

Ia membantu Ana memasang seat belt. Sikap nya sangat perduli pada Ana.

Selama di perjalanan ana terus diam, namun ketika sudah hampir sampai di kediaman keluarga satria ia bicara.

Ana bicara tanpa melihat pada Hansen "Bisakah kamu tetap di luar?"

Raut wajah Hansen seketika curiga "Ana, jangan menguji kesabaran ku!" Ancam nya.

"Aku tidak akan melarikan diri!" Lirih nya, pasrah.

"Aku menolak!" Bantah Hansen. Keluar dari mobil. Lalu membuka pintu mobil di sisi Ana agar ia segera keluar dari mobil.

Ana terdiam ragu, ia cemas jika keluarga satria melihat Hansen di sana akan membuat mereka syok.

Hansen tidak sabar melihat Ana terus diam tak bergeming, ia menarik pelan pergelangan tangan nya lalu membawa nya turun dari mobil.

Ana menahan langkah nya. "Hansen, aku bersumpah tidak akan melarikan diri, Tetap lah di sini!" Ucap nya, dengan raut wajah memohon.

Hansen merasa tidak senang, ia mengabaikan ucapan ana, langkah nya cepat menuju pintu utama keluarga Satria.

Sebelum nya saat mobil Hansen masuk ana melihat ada dua mobil lain yang terparkir di halaman rumah.

malam itu keluarga satria kedatangan tamu yang merupakan calon besan nya. Mereka tidak cemas soal Ana, sebab Ares sudah menangani semua nya.

Keluarga satria tidak menyadari kalau orang yang punya pengaruh besar di kota ada di rumah nya saat ini.

Seorang pelayan berjalan cepat ke arah ruang tamu. Langkah nya terkejar oleh Hansen yang ada di belakang nya.

Belum sempat melapor pada tuan nya. Pelayan itu sudah panik duluan. Ketika kepala keluarga satria dan kedua besan nya beranjak kaget ketika melihat Hansen berdiri di hadapan mereka.

Sejak masuk kedalam rumah Ana terus menyembunyikan diri di belakang punggung Hansen.

Mereka kaget campur panik ketika kedatangan Hansen yang tak terduga.

Om satria mendekat untuk menyapa "Tu..tuan Hansen!" Sapa nya gugup.

Di susul kedua besan nya yang juga sangat mengenal sosok Hansen di dunia bisnis.

"Besan, apa kamu menyinggung tuan Hansen?" Bisik besan laki-laki, panik.

Om satria bingung ketakutan, "Besan, jangan menuduh bersebrangan, mana berani aku menyinggung nya!"

"Jika tidak menyinggung nya, mana mungkin tuan Hansen bisa ada di rumah mu!"

"Dengar aku tidak mungkin menyinggung nya! Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa di sini?"

Mereka bicara berbisik. Tanpa menyadari sikap mereka terus di perhatikan oleh Hansen.

Hansen melirik pada Ana yang masih sembunyi di belakang nya, ia menarik ana keluar agar menunjukan diri.

Om satria dan istrinya tertegun kaget ketika melihat Ana bersama dengan Hansen.

"Ana!"

"om, tante, aku bisa jelaskan, kami.."

Hansen melangkah maju meraih tangan Ana "Aku datang mengantar calon istri ku, berkunjung!" Tegas nya datar.

Mereka semua terbelalak kaget mendengar kalimat Hansen termasuk Ana yang tidak menduga Hansen akan mengatakan hal itu di depan keluarga om Satria.

Tante mei sampai pingsan setelah mendengar kalimat itu.

Ana berlari panik ketika melihat Tante mei pingsan.

Beberpa saat kemudian,

Om satria dan Tante mei, yang sudah sadar dari pingsan nya. Duduk di hadapan mereka dengan raut wajah khawatir dengan Ana.

kedua besan nya sudah pergi karena tidak ingin terlibat dengan sosok Hansen.

Ana terduduk gugup menjelaskan tentang hubungan nya dengan Hansen. Ia berbohong dan tidak mengatakan yang sebenar nya tentang rumitnya hubungan mereka, karena takut Hansen akan mempersulit Om satria dan keluarga nya.

Om satria dan istri nya, tidak percaya dengan apa yang di jelaskan oleh Ana. Namun mereka juga tidak berani terang-terangan mengatakan itu di depan Hansen. Sehingga mereka mencari kesempatan agar bisa bicara pribadi dengan Ana.

Namun mereka tidak punya kesempatan itu mereka sadar jika Hansen terus membuat ana tetap di dekat nya. Sehingga mereka tidak bisa berbuat apapun.

.

.

.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!