Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: SHADOW OF THE PAST AND THE THIRD UNSEEN ENEMY
Suara ketukan teratur jemari berbalut sarung tangan kulit hitam berdetak serasi dengan detak jarum jam dinding antik di sebuah ruang kerja tersembunyi. Ruangan itu berada di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit yang menghadap langsung ke arah lanskap gemerlap Jakarta. Di atas meja kayu mahoni yang dipernis gelap, sebuah layar monitor menampilkan rekaman siaran langsung malam puncak Perayaan Ulang Tahun Pratama Corp ke-35.
Layar itu memperlihatkan wajah Aris Pratama yang memeluk hangat Kirana, Leo, dan Maya di bawah hujan kilatan kamera wartawan.
"Pengorbanan... ketulusan... dan cinta sejati," desis sebuah suara berat yang tenang namun dingin membelah keheningan ruangan. Suara itu milik seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan garis wajah tegas dan uban yang terawat rapi di pelipisnya.
Pria itu mematikan layar monitor dengan remote control, lalu menuangkan cairan amber dari botol kristal ke dalam gelas kakeknya. Ia menyesapnya perlahan sebelum menatap sebuah foto hitam-putih tua yang tersandar di sudut meja. Foto itu memperlihatkan tiga orang pria muda bersetelan jas berdiri berdampingan pada era 1980-an: Kakek Hendra muda, Paman Hendrawan muda, dan pria ketiga yang wajahnya telah dicoret menggunakan tinta merah pekat.
"Betapa mengharukannya, Hendra..." gumam pria itu pada foto Kakek Hendra. "Cucu kesayanganmu membanggakan wanita yang kamu hancurkan keluarganya, dan membagikan saham hasil curianmu kepada sebuah yayasan. Kamu pasti berguling-guling di dalam kuburmu melihat bagaimana takhta emas yang kamu bangun dengan darah dan pengkhianatan kini diubah menjadi panggung drama romantis."
Pria itu bangkit dari kursi kulitnya, melangkah mendekati jendela kaca raksasa. Namanya adalah Raymond Brotoatmodjo—sosok pengusaha misterius yang selama dua dekade menetap di Singapura, pimpinan pendiri Brotoatmodjo Holdings, sekaligus pria yang delapan puluh persen kepemilikan asetnya tersembunyi di balik cangkang perusahaan lepas pantai (offshore shell companies).
Namun, dunia bisnis hanya mengenal Raymond sebagai pengusaha rekayasa finansial (financial engineering). Tidak ada yang tahu rahasia tergelap yang disimpan rapat oleh almarhum Kakek Hendra: Raymond adalah adik tiri sekandung Kakek Hendra dari ibu yang berbeda—sosok 'saudara buangan' yang dulu ditumbalkan dan disingkirkan dari struktur silsilah Pratama Corp saat pendirian awal aset perusahaan empat puluh tahun silam.
Dering gawai bersuara khusus bergetar di atas meja. Raymond menekan tombol pengeras suara tanpa berbalik.
"Bagaimana reaksinya di dalam penjara?" tanya Raymond singkat.
"Laporan dari orang kita di LP Cipinang, Tuan Raymond," sahut suara seorang pria di seberang telepon. "Hendrawan sudah menerima amplop foto tersebut. Dia mengenali simbol stempel lilin Brotoatmodjo. Hendrawan terkejut luar biasa karena dia mengira Anda sudah meninggal dua puluh tahun lalu di London."
Raymond tersenyum sinis, sudut bibirnya terangkat membentuk garis kejam. "Hendrawan selalu menjadi pion yang bodoh. Dia mengira dengan menculik anak-anak dan memanfaatkan kemarahan Sheila, dia bisa mengambil alih Pratama Corp. Dia tidak pernah menyadari bahwa saham 40 persen milik Kirana dan saham 50 persen milik Aris hanyalah separuh dari sertifikat modal pendirian Pratama Corp yang sebenarnya."
"Langkah selanjutnya, Tuan?"
"Aris dan Kirana merasa mereka telah memenangkan segalanya. Mereka merasa badai telah berlalu hanya karena Sheila sudah dikurung dan Hendrawan mendekam di penjara," ujar Raymond dingin. "Biarkan mereka menikmati kebahagiaan palsu itu selama beberapa hari. Lalu, serahkan dokumen klaim akuisisi restrukturisasi aset kepada tim hukum Pratama Corp."
"Baik, Tuan."
"Dan satu hal lagi..." mata Raymond menyipit penuh intrik kejam, "Buka berkas rekapan medis almarhum ibu biologis Leo dan Maya delapan tahun lalu. Kirana mengira dia sudah tahu seluruh rahasia kakaknya dari buku harian itu. Kirana belum tahu... tentang klausul donor organ dan penghentian alat pacu jantung yang ditandatangani oleh Kakek Hendra atas persetujuan Aris muda saat kakaknya dalam keadaan koma."
Telepon terputus. Raymond meneguk habis minumannya. "Mari kita lihat, seberapa kuat cinta suci Nyonya Kirana Pratama ketika dia mengetahui bahwa suami yang dipujanya ikut membiarkan kakaknya meninggal lebih cepat demi menyelamatkan reputasi perusahaan."
Keesokan harinya.
Keheningan pagi di Kediaman Pratama menyebarkan kehangatan yang belum pernah ada sebelumnya. Sinar matahari pagi menembus tirai kaca perpustakaan pribadi, membiaskan cahaya ke atas meja kerja tempat Aris dan Kirana sedang duduk berdua memeriksa berkas legalitas pendirian Yayasan Perlindungan Anak dan Wanita Kirana Pratama.
Maya melompat-lompat kecil di atas karpet bulu sambil mewarnai buku gambar, sementara Leo duduk tenang di dekat jendela membaca buku cerita superheronya.
"Mas..." panggil Kirana pelan, jemarinya mengusap draf akta notaris yang baru saja ditandatangani Aris. "Apakah menyerahkan 50 persen saham pribadi Mas Aris ini tidak akan memicu gejolak di dewan komisaris? Aku khawatir para pemegang saham veteran akan protes."
Aris menghentikan ketikannya di laptop, lalu bergeser mendekati Kirana. Pria itu meraih jemari istrinya, mengecupnya lembut dengan tatapan penuh kehangatan yang menenangkan jiwa.
"Biarkan mereka protes, Kirana," jawab Aris tegas. "Selama delapan tahun ini, Pratama Corp berdiri di atas bayang-bayang penderitaan keluargamu. Menyerahkan separuh sahamku untuk yayasan yang kamu pimpin bukan sekadar penebusan dosa Kakek, tapi adalah bentuk komitmenku bahwa harta ini tidak ada artinya dibanding senyumanmu dan kebahagiaan anak-anak."
Kirana menatap mata suaminya. Tidak ada lagi keraguan atau kepalsuan di sana. Tatapan mata dingin yang dulu sering menindasnya kini telah berganti menjadi samudra kasih sayang yang tak bertepi. Kirana menyandarkan kepalanya di dada bidang Aris, membiarkan kehangatan detak jantung suaminya meresap ke dalam sanubari.
"Terima kasih, Mas Aris..." bisik Kirana lirih. "Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun... aku merasa benar-benar memiliki rumah."
"Kalian sedang berpelukan yaaa?" goda Maya yang mendadak berdiri di samping meja kerja sambil menutup matanya dengan kedua tangan kecilnya, tapi jari-jarinya dibuka lebar.
Leo tertawa kecil dari sudut jendela. "Maya, jangan ganggu Papa sama Mama Kirana!"
Aris dan Kirana terkekeh bersama. Kirana merengkuh Maya ke dalam pangkuannya, mencium pipi chubby anak perempuan itu hingga Maya tertawa terpingkal-pingkal. Momen manis keluarga yang dulunya diliputi penolakan dan air mata kini bertransformasi menjadi simfoni kebahagiaan yang sempurna.
Namun, kedamaian itu terganggu ketika gawai kerja Aris berdering. Nama Pak Wijaya tertera di layar.
Aris mengangkat teleponnya seraya memberi isyarat lembut pada Kirana. "Ada apa, Wijaya?"
"Pak Aris..." suara Pak Wijaya di ujung telepon terdengar sangat tegang dan ragu-ragu. "Ada tamu yang menunggu di ruang tamu utama. Pria ini membawa tim pengacara hukum korporasi dari Brotoatmodjo Holdings."
Dahi Aris berkerut mendalam. "Brotoatmodjo Holdings? Ada urusan apa grup investasi Singapura itu datang ke rumah pribadi?"
"Mereka... mereka membawa surat gugatan pembekuan Aset Pratama Corp dan sebuah berkas lampiran otopsi medis tertutup dari Rumah Sakit Medika Utama delapan tahun lalu, Pak," bisik Pak Wijaya dengan nada cemas. "Pimpinan delegasi mereka minta bertemu dengan Pak Aris dan Nyonya Kirana secara langsung."
Darah Kirana seketika membeku. Kata 'Rumah Sakit Medika Utama delapan tahun lalu'—tempat almarhumah kakaknya meninggal dunia—langsung memicu sirine bahaya dalam intuisinya.
Aris menatap Kirana, menyadari perubahan warna di wajah istrinya. Ia menggenggam erat tangan Kirana, menyalurkan kekuatan. "Minta mereka menunggu di ruang tamu. Saya dan istri akan segera turun."
Langkah kaki Aris dan Kirana bergema pelan saat menuruni tangga pualam menuju ruang tamu utama Kediaman Pratama.
Di atas sofa kulit mewah, duduk seorang pria muda bersetelan jas abu-abu Italia berpenampilan dingin. Namanya Erick Brotoatmodjo, putra tunggal sekaligus pengacara utama dari Raymond Brotoatmodjo. Di sampingnya, dua asisten hukum membawa koper besi tertutup.
"Selamat pagi, Presdir Aris Pratama, Nyonya Kirana," panggil Erick berdiri tegak, memberikan penghormatan formal namun tanpa sedikit pun senyuman ramah.
"Langsung pada inti masalahnya, Tuan Brotoatmodjo," ujar Aris dingin, berdiri membentengi Kirana di sampingnya. "Rumah pribadi saya bukan tempat untuk negosiasi bisnis. Apa hubungan perusahaan Anda dengan Pratama Corp dan berkas medis delapan tahun lalu?"
Erick tersenyum tipis—senyuman yang mencerminkan keangkuhan kelas atas. Ia mengisyaratkan asistennya untuk membuka koper besi dan mengeluarkan dua bendel dokumen tebal bermeterai resmi.
"Pertama," Erick menyerahkan dokumen pertama ke atas meja glass. "Ini adalah dokumen Hak Opsi Akuisisi Restrukturisasi Sertifikat Modal Utama Pratama Corp tahun 1986 yang ditandatangani oleh almarhum Kakek Anda, Hendra Pratama, dan Kakek kami, Raymond Brotoatmodjo. Dokumen ini membuktikan bahwa 30 persen saham pendirian yang dipegang keluarga Pratama saat ini adalah milik Brotoatmodjo Holdings secara sah karena pelanggaran klausul akuisisi ilegal lima belas tahun lalu."
Aris membelalakkan matanya, mengambil dokumen tersebut. Sebagai pemegang kepemimpinan tertinggi, ia tahu struktur awal modal perusahaan, namun nama Raymond Brotoatmodjo sama sekali tidak pernah tercatat dalam buku induk aset keluarga.
"Ini tidak mungkin..." desis Aris. "Kakek tidak pernah menyebutkan nama Raymond Brotoatmodjo dalam akta waris!"
"Tentu saja tidak, Tuan Aris," sahut Erick santai. "Kakek Anda menghapus nama Kakek kami dari silsilah keluarga setelah merebut rahasia paten rekayasa teknologi dan memalsukan kebangkrutan perusahaan mitra mereka—yang tak lain adalah perusahaan milik ayah dari Nyonya Kirana."
DEGG!
Kirana melangkah maju, dadanya naik turun terengah-engah. "Apa maksudmu?!"
Erick menatap Kirana dengan pendar keprihatinan yang dibuat-buat. Ia meraih bendel dokumen kedua dari koper besi—sebuah berkas bersampul kuning kusam bertuliskan 'CONFIDENTIAL: MEDICAL DECISION LOG 2018'.
"Dokumen kedua ini... khusus untuk Anda, Nyonya Kirana," ujar Erick dengan suara rendah yang menusuk sanubari. "Anda mengira kakak kandung Anda meninggal murni karena komplikasi kecelakaan lalu lintas delapan tahun lalu, bukan?"
"Jangan bicara sembarangan!" potong Aris dengan bentakan keras, melangkah maju hendak merampas dokumen itu. "Wijaya! Usir orang-orang ini keluar!"
"Buka berkasnya, Nyonya Kirana!" teriak Erick tanpa rasa takut sedikit pun pada ancaman Aris. "Lihat halaman 12! Lihat siapa yang menandatangani persetujuan penghentian bantuan suplai oksigen dan penandatanganan pengalihan hak saham saat kakak Anda sedang dalam keadaan koma!"
Kirana tidak mendengarkan teriakan Aris. Jemarinya yang gemetar hebat merampas berkas kuning itu dari meja.
Dengan napas tertahan dan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya, Kirana membuka halaman demi halaman dokumen medis tersebut. Dan begitu matanya mendarat di baris lembar persetujuan tindakan darurat... dunia Kirana serasa hancur berantakan untuk kedua kalinya.
Di sana, di bawah stempel resmi Rumah Sakit Medika Utama, tertera dua tanda tangan persetujuan tindakan medis penonaktifan alat pacu jantung almarhumah kakaknya delapan tahun lalu.
Tanda tangan pertama milik almarhum Kakek Hendra. Dan tanda tangan kedua... milik Aris Pratama muda.
Kertas di tangan Kirana terlepas, melayang jatuh ke atas lantai pualam yang dingin.
Kirana perlahan memalingkan wajahnya, menatap Aris dengan pendar kehancuran mental, kekecewaan, dan rasa sakit yang mendalam—jauh lebih menyiksa dibanding ribuan makian yang pernah ia terima selama menjadi ibu tiri di rumah itu.
"Mas Aris..." suara Kirana pecah, bergetar bagaikan piringan kaca yang hantam batu. "Tanda tangan itu... Mas Aris yang menandatangani penghentian napas Mbakku?"
Aris terpaku kaku bagaikan patung batu. Wajahnya yang tegap mendadak memucat pasi seputih kertas. Memori kelam delapan tahun lalu saat ia masih seorang pemuda berusia 22 tahun yang ditekan di bawah ancaman Kakek Hendra mendadak mendobrak memorinya secara mengerikan.
"Kirana... dengarkan aku..." suara Aris bergetar hebat, air mata pria itu menetes untuk pertama kalinya di hadapan orang luar. "Waktu itu... Kakek memberitahuku bahwa kakakmu sudah mati otak secara medis... Kakek memaksaku memegang pena itu..."
"CUKUP!"
Kirana menjerit histeris, menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan seraya mundur beberapa langkah menjauhi Aris. Tangisnya pecah membelah ruang tamu utama Kediaman Pratama yang megah.
Sindiran takdir kembali tertawa menggelegar di atas penderitaannya. Cinta suci yang baru semalam ia agungkan, janji kesetiaan yang baru tadi pagi ia rasakan kehangatannya... kini kembali berdiri di atas genangan darah dan pengkhianatan dari pria yang paling ia cintai.
Erick Brotoatmodjo tersenyum dingin melihat pemandangan kehancuran itu dari sudut sofa. Pria muda itu merapikan jasnya, lalu bangkit berdiri.
"Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, Presdir Aris Pratama," bisik Erick penuh racun sebelum melangkah pergi meninggalkan Kediaman Pratama. "Sampai jumpa di pengadilan restrukturisasi aset minggu depan."
Di ruang tamu yang sunyi, Aris berlutut di lantai pualam, mencoba meraih ujung gaun Kirana dengan tangan gemetar. "Kirana... ampunkan aku... tolong ampunkan aku..."
Kirana menatap pria yang kini bersimpuh di kakinya dengan air mata yang merembes deras. Di antara cinta yang mendalam dan dendam darah keluarganya yang kembali menyeruak, Kirana berdiri di persimpangan takdir paling berdarah dalam hidupnya.
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘