NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:870
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Pagi Terakhir sebelum pulang

Carlo bangun pukul empat lewat dua puluh lima, lima menit lebih awal dari janjinya.

Ia tidak tahu apakah itu karena gugup atau karena ayam jantan di halaman tetangga berkokok seolah sedang menyaingi alarm. Ia hanya tahu bahwa di bale-bale depan gubuk, tempat ia dua malam ini tidur beralaskan tikar, udara pagi terasa dingin dan manis, dan langit masih berwarna biru tua dengan sisa bintang di sebelah timur.

Ia membasuh muka di pancuran bambu, mengenakan kemeja putih sederhana yang dilipat rapi Bu Rukmini semalam, lalu mengambil gayung dan ember dari samping pintu. Kebun sayur di sisi gubuk tampak gelap dan basah oleh embun. Ia mulai menyiram dari barisan kangkung, pelan-pelan, sebelum matahari naik.

"Jam empat tiga puluh," bisik sebuah suara dari ambang pintu. "Aku sudah menghitung."

Carlo menoleh. Andien berdiri di sana dengan kain jarit dan kebaya kerja tua, rambut masih digelung seadanya, mata setengah terbuka. Di tangannya ada dua gelas wedang jahe yang mengepul.

"Aku lima menit lebih awal," protes Carlo.

"Saya tahu. Saya bangun jam empat dan mengintip dari celah dinding." Andien tersenyum geli sambil menyodorkan gelas. "Mas menyiram bayam terlalu banyak. Nanti akarnya busuk."

"Hari ini kamu akan jadi istriku, dan yang pertama kamu lakukan adalah mengoreksi cara menyiramku?"

"Kebiasaan lama." Andien menyesap tehnya, matanya berkilat nakal. "Lagi pula, baru nanti siang. Pagi ini saya masih Dien dari Karang Sewu."

Carlo meletakkan gayungnya. Mereka berdiri berdampingan di antara barisan sayur, memandangi matahari yang mulai mengintip dari balik sawah, mewarnai langit dengan jingga dan merah muda yang lembut. Tak ada yang bicara. Tak perlu.

---

Pernikahan itu digelar sesuai tiga syarat.

Di desa, di halaman gubuk yang diperluas dengan tenda-tenda sederhana dari anyaman bambu dan janur kuning. Tak ada ballroom, tak ada karangan bunga dua meter, tak ada orkestra. Hanya tikar-tikar yang digelar di atas tanah, bunga melati yang dirangkai tangan-tangan ibu-ibu desa, dan seluruh penduduk Karang Sewu yang berbondong-bondong datang membawa nasi tumpeng, jajan pasar, dan cerita.

Barisan depan terisi sebagaimana diminta. Laras duduk di sana, mengenakan kebaya putih gading dan rambut tersanggul rendah, di samping ayahnya, Hartono Prameswari, yang tampak kikuk di atas tikar dengan jas yang jelas terlalu mahal untuk acara semacam ini. Di sisi lain, Komisaris Arief bersama istrinya, dan Raka Pradipta dengan kemeja baru yang dibeli sendiri, tampak gugup seperti murid baru di sekolah.

Bu Wati datang naik bus dari kota, membawa sekeranjang kue yang ia buat sendiri. Ia menangis begitu melihat Andien keluar dari gubuk dengan kebaya putih sederhana yang dijahit Bu Rukmini dari kain kenangan mendiang suaminya, kebaya yang sama dengan pernikahan pertama, kini dengan sulaman benang merah dan biru di bagian leher.

"Mbak Dien," bisik Bu Wati terisak. "Cantik sekali."

"Bu Wati jangan menangis, nanti saya ikut."

"Saya sudah ikut dari tadi."

Pak Jamal, si nelayan tua dari penginapan di tepi pantai, juga hadir bersama istrinya. Ia membawa sekantong ikan asin dan mengaku menempuh perjalanan dua hari hanya untuk membuktikan bahwa firasatnya benar. "Sudah kubilang," katanya pada siapa pun yang mau mendengar, "teman yang bawa dua perempuan naik kereta ekonomi itu pasti punya maksud baik."

Dan di barisan paling belakang, setengah tersembunyi di balik rombongan ibu-ibu PKK, duduk seorang pemuda kurus bernama Rizal, putra Pak Darto. Ia datang membawa sebuah amplop lecek di tangannya, dan matanya mencari-cari sosok Carlo dengan sorot ragu.

---

Penghulu tua dari desa sebelah memimpin akad tepat pukul sepuluh.

Andien duduk bersimpuh di sisi Carlo, tangan terlipat di pangkuan, kepala tertunduk. Jantungnya berdebar, tetapi bukan debar ketakutan seperti dulu. Ini debar seseorang yang tahu persis apa yang ia pilih, dan mengapa.

"Saya terima nikah dan kawinnya Andien binti Suparman dengan mas kawin tersebut, tunai."

Suara Carlo mantap dari awal sampai akhir, tanpa jeda, tanpa getar, dan ketika dua saksi, Pak Lurah dan Komisaris Arief, berkata serempak, "Sah," tak ada keraguan di mana pun. Seluruh halaman bergemuruh oleh *Alhamdulillah* yang panjang, bercampur tawa dan isak ibu-ibu.

Andien mengangkat wajah. Carlo menatapnya, dan pria itu tidak tersenyum lebar. Ia hanya tersenyum kecil, lembut, jenis senyum yang hanya muncul di wajah seseorang yang akhirnya meletakkan sesuatu yang berat dan tahu ia tak akan memikulnya lagi.

Cincin emas tipis dengan ukiran *Kamu memilih* disematkan di jari manis kiri Andien. Kali ini, tak ada garis pucat di jari siapa pun.

Dari barisan depan, Laras menyeka air matanya dengan sapu tangan dan tersenyum, dan ketika mata mereka bertemu, Andien melihat sesuatu yang mengalir di antara mereka: bukan rasa bersalah, bukan sisa kecemburuan, hanya pengertian sunyi dua perempuan yang telah saling menyelamatkan.

---

Setelah akad, ketika para tamu mulai mengantre di meja makan, Rizal akhirnya memberanikan diri mendekat.

"Pak Carlo."

Carlo menoleh. "Rizal."

"Saya..." Pemuda itu menelan ludah. "Saya tidak tahu apakah boleh datang. Ayah saya... Saya tahu apa yang dia lakukan."

"Kamu boleh datang." Carlo menatapnya lembut. "Kamu tidak bersalah atas apa pun, Rizal. Dan ayahmu juga mendapat kesempatan yang pantas dari hukum."

Rizal mengangguk, matanya basah. Ia mengulurkan amplop lecek itu. "Ini dari Ayah. Dia menulisnya di sel, minta dikirim lewat saya. Katanya, tidak apa-apa kalau Bapak tidak mau membacanya."

Carlo menerima amplop itu dengan kedua tangan. Ia membukanya perlahan. Selembar kertas bergaris, tulisan tangan gemetar dengan huruf-huruf besar yang canggung.

*Den Carlo. Hari ini saya dengar Den menikah. Saya tidak berhak mengucapkan apa pun. Tapi saya doakan. Setiap malam, bukan setiap malam saya mimpi buruk lagi. Sejak Den datang menjenguk dan bilang tidak membenci saya, saya bisa tidur. Terima kasih. Darto.*

Carlo membaca surat itu dua kali, lalu melipatnya dengan hati-hati dan menyelipkannya ke saku dada, tepat di atas jantung.

"Sampaikan pada Pak Darto," katanya pada Rizal, "aku baca. Dan tahun depan, setelah hukumannya selesai, kalau dia mau, tolong sampaikan ada pekerjaan menjaga kebun di Rumah Pulang. Tidak perlu menyetir."

Rizal tak mampu menjawab. Ia hanya menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar.

---

Menjelang sore, ketika para tamu mulai berpencar dan anak-anak bermain kejar-kejaran di antara tikar, sebuah amplop lain tiba lewat tukang pos desa.

Bu Rukmini menyerahkannya pada Andien dengan alis berkerut. "Dari kota. Tidak ada nama pengirim."

Andien membukanya di bale-bale, Carlo di sampingnya. Di dalam, hanya ada secarik kertas dengan tulisan tangan rapi dan tegak bersambung, bukan tulisan pria muda yang gelisah, melainkan seseorang yang telah belajar menulis dengan tenang.

*Bu Andien,*

*Saya tidak tahu apakah Ibu akan membaca ini. Saya hanya ingin menyampaikan terima kasih karena malam itu tidak berteriak, tidak mengancam, tidak menyebut saya monster. Ibu hanya bilang saya masih bernapas, dan itu cukup.*

*Saya sedang menjalani proses hukum dan akan menerima semua yang pantas. Tapi sejak malam itu, untuk pertama kalinya, saya tidak merasa harus membenci siapa pun. Itu hadiah yang tak pernah saya duga akan saya terima dari orang yang paling ingin saya hancurkan.*

*Semoga Ibu dan Pak Carlo bahagia. Semoga rumah itu terus menjadi tempat orang pulang.*

*Bima.*

Andien membacanya sampai selesai, lalu menyerahkannya pada Carlo tanpa kata. Carlo membacanya, dan keduanya terdiam lama di bawah langit sore yang mulai berwarna tembaga.

"Dia akan baik-baik saja?" tanya Andien akhirnya.

"Aku tidak tahu." Carlo melipat kertas itu. "Tapi malam itu dia meletakkan pemantiknya. Itu pilihan pertama yang benar-benar miliknya sendiri."

"Seperti pilihan saya tidak memanggil siapa pun di tepi sungai."

"Seperti itu."

Andien menyandarkan kepalanya di bahu Carlo, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa seluruh kelelahan beberapa tahun terakhir akhirnya diizinkan turun.

---

Matahari hampir tenggelam ketika mereka berdiri di tepi sungai, di tempat yang sama, di bawah rumpun bambu yang sama.

Air mengalir pelan, tenang dan jernih. Tak ada hujan. Hanya suara jangkrik yang mulai bernyanyi, dan sisa suara tawa dari halaman gubuk di kejauhan, tempat para tetangga masih bertahan menikmati tumpeng.

"Mas," kata Andien.

"Iya?"

"Besok kita ke laut?"

"Sesuai janji." Carlo tersenyum. "Maksudku, bukan janji. Sesuai rencana."

"Saya mau Ibu ikut."

"Tentu saja. Dan Bu Laras bilang dia mau titip salam untuk ombaknya." Carlo menggeleng pelan, geli. "Dia juga bilang mau mampir ke Rumah Pulang minggu depan, mencicipi sambal baru."

"Saya mau bikin yang tiga kali lebih pedas."

"Kasihan lidah dokter-dokter itu."

Andien tertawa, tawa jernih yang bergema di antara bambu. Lalu ia menatap sungai, dan suara tawanya perlahan mereda menjadi senyum yang lebih dalam.

"Mas tahu apa yang saya pikirkan?"

"Apa?"

"Dulu saya takut sungai ini. Bapak almarhum bilang jangan percaya kalau malam." Ia menatap air yang berkilau terkena cahaya terakhir. "Tapi justru di sungai ini saya menemukan Mas. Dan di sini juga saya belajar bahwa tidak semua yang gelap itu berbahaya."

"Kadang yang gelap hanya butuh ditolong."

"Dan kadang yang menolong juga butuh ditolong balik." Andien menoleh, menatap suaminya. "Terima kasih, Mas. Untuk menunggu."

"Terima kasih untuk menunjukkan padaku bagaimana cara berhenti lari."

Mereka tak berpelukan. Mereka hanya berdiri berdampingan, bahu bersentuhan, tak ada lagi jarak di antara mereka. Di kejauhan, azan magrib mulai terdengar dari surau desa, dan langit di atas Karang Sewu berubah dari jingga menjadi ungu lembut.

Di balik pohon randu di ujung jalan setapak, Bu Rukmini berdiri sendirian dengan kedua tangan terlipat di dada, memandangi dua sosok yang berdiri di tepi sungai itu.

Ia tersenyum, dan air matanya jatuh, dan ia membiarkannya jatuh.

*Satu rentang tangan,* pikirnya. *Sudah tidak ada lagi.*

---

**TAMAT**

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!